
Setelah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya dokter keluar dengan wajah yang membuat hati cemas.
"Hhmm.. Bagaimana kondisi anak saya dok? baik baik saja kan?".
"Bu Denisa dapat melalui masa kritisnya. Namun tidak dengan bayi nya. Bayinya tidak berhasil kami selamatkan. Kami sudah berusaha sekeras mungkin, namun Tuhan berkehendak lain. Saya ingin tanya, apakah pasien jatuh dengan keras?".
"Iya lumayan kuat dok. Memang ada apa dok?". tanya Keira dengan wajah penasaran sekaligus khawatir.
"Mohon maaf saya harus menyampaikan berita ini, bahwa rahim Bu Denisa terpaksa kita angkat karena benturan yang cukup kuat dan tidak mungkin kita pertahankan demi keselamatan pasien. Keluarga boleh menjenguk tetapi di mohon bergantian ya. Saya permisi dulu". Bu Sukma mendengar penjelasan dokter hanya menangis dalam diam.
"Sabar yaa Bu. Semoga Denisa bisa melewati semua dengan ikhlas".
"Ini karma untuk nya". ucap Bu Sukma kemudian.
"Jangan begitu Bu. Meskipun aku belum bisa memaafkan Denisa tapi dia pernah menjadi teman baik Keira. Ibu juga menyayangi Keira seperti anak ibu sendiri. Mungkin Denisa sedang melakukan kesalahan yang fatal. Semoga Denisa bisa bertaubat setelah kejadian ini. Bukan aku tidak mau memaafkan mereka, tapi masih sangat sulit untuk ku untuk melupakan apa yang mereka perbuat terhadap Keira. Ibu jangan membenci Denisa yaa".
"Yaa Allah nak. Mulia sekali hati kamu. Kenapa Denisa tega menyakiti teman sebaik kamu. Ibu semakin merasa malu nak". Bu Sukma malah semakin tersedu-sedu mendengar ucapan Keira.
"Sudah Bu. Sebaiknya kita lihat keadaan Denisa secara bergantian. Denisa masih butuh banyak waktu untuk istirahat ". ujar mama Siska.
Bu Sukma dan mama Siska sudah selesai melihat dan mendoakan Denisa agar cepat pulih kembali. Kini giliran Keira. Meskipun Keira belum bisa memaafkan Denisa namun Keira ingin melihat kondisi Denisa. Bagaimana pun mereka berdua banyak melewati waktu bersama.
Keira memandangi wajah Denisa. Dia sangat menyesalkan perbuatan teman dekatnya itu.
__ADS_1
"Andai saja lo gak gini sa. Mungkin kita masih baik-baik aja. Cepat sembuh sa, semoga lo cepat sadar. Aamiin".
Setelah berkata demikian, secara mengejutkan ada pergerakan pada tangan Denisa.
Keira langsung memanggil dokter dan ibu nya Denisa.
"Syukurlah pasien mulai siuman. Tetap jaga emosional pasien ya. Saya permisi". Begitu dokter keluar, Bu Sukma mengucap syukur karena putrinya selamat.
"Alhamdulillah nak kamu sudah siuman. Apa yang kamu rasa sekarang?".
"Apa anakku sudah lahir Bu? bagaimana kondisi nya?".
Pertanyaan Denisa membuat semua orang di sana terdiam.
Karena tak dapat jawaban namun Denisa mengerti raut wajah ibu nya sudah memberikan jawaban atas apa yang terjadi pada anaknya.
"Bu, ada apa Bu? anakku selamat kan? aku mau gendong anakku Bu".
"Sudah sa. Lo harus istirahat. Dia sudah tenang di sana. Kita harus ikhlas". ucap Keira kemudian karena melihat Bu Sukma terdiam.
"Diam lo !! anak gue tuh masih ada. Gak kayak anak lo yang sudah m*ti. Anak gue masih hidup sebentar lagi pasti kesini buat minum susu dari gue. Kasihan lo udah suami berpaling, eh ditinggal pula sama anak lo. hahaha".
"Bu, seperti nya Denisa butuh ke psikiater". ucap Keira lagi.
__ADS_1
"Heh.. Gue ini gak gila yaa, suami lo tuh yang tergila-gila sama gue. Hahahaha. Mas Andik anak kita sudah lahir loh, kamu harus kemari. Hahahaha, kita akan punya anak banyak loh".
Suster yang baru saja masuk mendengar ocehan Denisa langsung menenangkan dia.
"Yang kuat yaa Bu, pasti ibu bisa punya anak lagi walaupun bukan dari rahim ibu sendiri. Banyak cara kok Bu, yang penting semangat yaa jangan putus asa". ucap suster sambil menyuntikkan obat pada infusan Denisa.
Sekali lagi Denisa tercekat mendengar ucapan suster.
"Bu, maksud nya apa ya? Rahimku?".
Bu Sukma hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Denisa. Ia tak sanggup cerita yang sebenarnya.
"Hahahaha ibu ada ada aja deh. Aku dan mas Andik itu akan punya banyak anak Bu. Ibu gak perlu khawatir. Biarkan saja dia itu sirik Bu sama aku. Sudah sana keluar, ganggu aja. Anak gue mau kesini sebentar lagi. Hahahaha". Denisa terus tertawa.
Dengan pertikaian nya dengan Andik, kepergian bayi nya yang belum sempat ia lihat serta rahimnya yang tidak bisa di pertahankan membuat psikis Denisa terguncang.
Ia terus memanggil Andik serta bayi nya yang tak akan pernah datang.
Ia juga terus tertawa padahal tak ada yang lucu sama sekali.
Denisa...
Jiwa nya sudah terganggu....
__ADS_1