
Semuanya makan, di sela-selanya selalu ada perbincangan yang di buat, baik itu masalah perusahaan atau masalah anak-anak mereka sekolah.
Beginilah, di setiap keluarga pasti memiliki ciri khas khusus.
Jika di kediaman keluarga Luis itu tidak boleh berbicara saat makan, itu artinya jika ada yang berbicara saat makan sama saja mereka tidak menghormati orang saat makan tersebut, berbeda dengan di kediaman keluarga Mandala, di saat makan ada saja yang mereka bicarakan baik itu penting atau pun tidak.
Setelah acara makan malam selesai, semuanya pergi menuju ruang tamu, di sana sudah ada Tuan Dika beserta istri dan anaknya, begitu juga Nyonya Lira.
"Oh iya tadi Mama kamu bilang masih sekolah, Keyla sekolah dimana Nak?" tanya Tante Vania.
"Aku sekolah SMA Garuda Tan," jawab Keyla.
"Berarti sekolah kamu sama kayak anak Tante," ucap Tante Vania.
"Kamu ambil jurusan IPA atau IPS keyla," ucap Tante Vania.
"Aku ambil jurusan IPA Tan," jawab Keyla.
"Sama dong kayak Rangga, oh iya apa kamu kenal dengan anak Tante?" tanya Tante Vania.
Sejenak Keyla berpikir, ia merasa tidak asing dengan nama Rangga. Apa benar itu adalah Rangga yang di kenal dingin di sekolah dan tanpa di ketahui Rangga memiliki banyak fensnya.
"Rangga dari keluarga Luis bukan Tan?" tanya Keyla.
"Iya sayang," jawab tante Vania.
Tante Vania hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Keyla, ternyata dia tidak tahu jika yang berbicara dengannya adalah dari keluarga Luis.
"Oh kenal Tan, dia di sekolah sangat terkenal dingin, pendiem, sering menyendiri, dan sukar sekali ada teman yang dekat dengan dia," jawab Keyla.
"Sayang," ucap Mama Lira.
"Iya Ma," jawab Keyla.
"Kamu kenal nggak siapa Tante Vania," ucap Mama Lira.
"Kan barusan Keyla kenalan Ma," jawab Keyla.
"Nak, Tante Vania itu dari keluarga Luis dan anak yang kamu bilang tadi itu anak Tante Vania, itu orangnya," ucap Mama Lira sambil menunjuk Rangga.
Keyla sontak kaget, berarti secara tidak langsung dia telah mengatai Rangga, walau dengan cara yang agak sopan.
Rangga hanya diam saat dirinya di bicarakan, emang kenyataannya udah gitu mau bagaimana lagi.
"Maaf Tante aku gak tau," ucap Keyla.
"Gak papa sayang," jawab Tante Vania.
"Key, ajak Rangga ke taman gih, biar kalian gak suntuk mendengar perbincangan kami," ujar Mama Lira.
"Baik Ma," jawab Keyla.
Keyla beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Rangga.
"Ayo," ucap Keyla.
Rangga langsung berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti langkah kemana perempuan ini mengajaknya.
__ADS_1
Sesampainya di taman belakang, Keyla mengajak Rangga duduk di salah satu kursi yang telah di sediakan untuk bersantai.
Mereka berdua duduk berdampingan, hanya saja ada meja di tengah-tengah sebagai pemisah. Tidak ada yang berbicara, keduanya diam.
Keyla berinisiatif untuk mengajak Rangga berbicara, ia ingin tahu benar tidaknya gosip yang mengatakan bahwa Rangga itu orang yang sangat dingin.
"Rangga," panggil Keyla.
Rangga hanya diam, tidak ada respon.
"Kamu kelas sebelas IPA berapa?" tanya Keyla.
"Satu," jawab Rangga.
"Oh iya gitu, aku anak kelas IPA dua, berarti kelas kita gak jauhan," ucap Keyla.
Seperti tadi Rangga hanya diam, ia sangat malas meladeni percakapan ini.
"Apa dia berbicara harus membeli suara," batin Keyla.
"Oh iya Rangga, kamu nanti kalau udah lulus mau kuliah ambil jurusan apa?" tanya Keyla. Keyla sudah habis topik mau berbicara dengan Rangga.
"Bagian management bisnis," jawab Rangga.
"Berarti kamu nerusin perusahaannya Om Luis ya," ucap Keyla.
"Iya," jawab Rangga.
"Besok kan sekolah, aku boleh gak berangkat bareng kamu," ucap Keyla.
"Jadi boleh ya," ujar Keyla.
"Hmm," ucap Rangga. Saat ini ia juga kaku untuk berbicara dengan wanita, ini adalah kali pertamanya ia duduk dan berbincang dengan wanita.
"Oke, nanti besok kamu jam berapa biasanya pergi ke sekolah?" tanya Keyla.
"Enam tiga puluh," jawab Rangga.
"Oke," jawab Keyla.
Saat ini hanya keheningan yang ada, hembusan angin yang menerpa anak rambut Keyla membuat Rangga memandangnya sejenak.
"Cantik," batin Rangga.
Rangga tersadar dari tatapannya terhadap Keyla, ia langsung mengalihkan pandangannya.
"Rangga, aku boleh tanya," ucap Keyla.
"Tanyakanlah," jawab Rangga.
"Kenapa saat kamu di sekolah jarang sekali aku melihat kamu?" tanya Keyla.
"Aku biasanya di perpustakaan," jawab Rangga.
"Pantes aku jarang lihat kamu," ucap Keyla.
"Emang kenapa," tanya Rangga.
__ADS_1
"Gak kenapa-kenapa sih, aku cuma heran aja, di sekolah itu gosip kamu menyebar loh," ujar Keyla.
"Maksudnya?" tanya Rangga yang tidak mengerti.
"Iya, satu sekolah mungkin yang kenal dengan kedinginan kamu dan juga kamu gak pernah dekat sama orang lain atau bergaul sama orang lain dan yang paling mereka tahu kamu itu orangnya irit banget bicara," jelas Keyla.
Rangga menyimak semua yang di katakan Keyla, baginya Keyla gadis yang jujur dan orangnya tidak jaim. Keyla menurut Rangga orangnya apa adanya dan tidak mau menutupi apa yang telah ia dengar.
"Jadi begitu pendapat mereka sama aku," ujar Rangga.
"Iya, tapi ada benarnya juga sih," ucap Keyla.
"Maksud benar apanya," ucap Rangga.
"Benar kalau kamu itu irit bicara, emang kamu bicara berapa harus keluar uang," ucap Keyla, ia ingin memecahkan suasana yang canggung.
"Dasar kamu ya, aku gak beli kalau mau bicara," ucap Rangga sambil tersenyum manis.
Keyla yang melihat senyuman Rangga langsung merah pipinya.
"Kalau tiap hari lihat senyumnya, bisa-bisa diabetes aku," batin Keyla.
"Terus kenapa kalau bicara itu dikit banget," ucap Keyla.
"Gak papa," jawab Rangga.
"Tuh kumat lagi dinginnya," guman Keyla, yang masih bisa di dengar oleh Rangga.
"Kamu tadi bilang apa," ucap Rangga.
"Gak bilang apa-apa kok," ucap Keyla.
"Aku denger ya," ucap Rangga.
"Yaudah makanya jangan dingin jadi orang, biar ada temen jangan sendiri-sendiri terus," ucap Keyla.
"Nanti aku biasaain deh," jawab Rangga.
"Harus itu, boleh kita bicara sedikit sama orang tapi lihat juga kondisinya, kita ini masih perlu orang lain juga Rangga," ucap Keyla.
"Iya Keyla," jawab Rangga.
Ada rasa bahagia di hati Keyla bisa berbicara dengan Rangga, memang benar yang di gosipin oleh sekolah kalau Rangga itu cuek dan dingin, tapi Keyla memiliki niat untuk mengubah sifat dingin Rangga.
Perbincangan lanjut mereka berdua bercanda, saat perlahan-lahan Rangga sudah bisa berbicara lebih banyak, ia mulai merasa nyaman dengan Keyla.
Tanpa mereka sadari, kedua orang tua Rangga dan Keyla melihat kedekatan anak mereka, Nyonya Vania lebih yakin ingin mendekatkan Rangga dengan Keyla.
Oke guys sampai di sini dulu😍,
jangan lupa like dan vote ya
serta ikuti akun aku.
Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.
SalamManis♡.
__ADS_1