
Rangga sengaja tidak mengeluarkan seluruh tenaganya, ia ingin melihat sekuat apa istrinya ini untuk mengalahkan dirinya.
Akhirnya Indah memenangkan perlombaan tersebut, Rangga tersenyum senang melihatnya.
"Yeay aku menang," ujar Indah berteriak senang.
"Yah aku kalah," balas Rangga pura-pura sedih.
"Hehe, berarti kamu harus turuti apa kemaua aku ya," ucap Indah dengan nada yang genit.
"Kamu jangan goda aku ya," jawab Rangga.
"Sama suami sendiri genitnya, nggak kenapa-kenapa kan," balas Indah tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kalau kamu seperti ini, aku nggal tenang untuk pergi nanti." jawab Rangga cemberut.
"Aku kayak gini sama kamu aja sayang, mana berani aku sama orang lain," jawab Indah. Lalu mencium pipi kanan dan pipi kiri Rangga.
"Hmm iya deh, awas aja ya kamu genit-genit nantinya," jawab Rangga memberi peringatan.
"Iya sayang," jawab Indah tersenyum manis.
"Ya sudah ayo kita bersih-bersih, kamu temenin aku ke toko buku ya," ujar Indah.
"Siap buk bos," jawab Rangga memberi hormat.
"Kamu ini," balas Indah.
Rangga dan Indah naik dari dalam kolam menuju ruang ganti, ingat ya! mereka berdua menggunakan tempat yang berbeda.
Setelah bersih, keduanya berjalan menuju kamar untuk bersiap-siap.
Malam tiba, desir angin malam yang berhembusan membuat suasana malam terasa lebih nyaman. Indah dan Rangga telah lebih dulu pamit untuk keluar, mereka sudah diberi izin oleh Mama Vania dan Papa Dika untuk keluar malam ini.
Seperti tujuan awal, Rangga dan Indah pergi ke toko buku. Indah ingin membeli beberapa buku novel dan pelajaran.
Setelah semuanya telah lengkap, Indah dan Rangga pergi menuju restoran. Mereka ingin mengisi perut mereka yang kosong.
Rangga memesan makanan untuk dirinya dan Indah, selama menunggu Indah lebih fokus pada buku novel yang dia beli.
Makan malam telah selesai, Indah dan Rangga bergegas untuk pulang ke rumah, waktu juga sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Sesampainya di rumah, keadaan rumah sepi.
"Mungkin semuanya sudah tidur," ujar Indah.
Rangga hanya mengangguk, Ia dan Indah berlalu saja menuju kamar.
Di kamar Rangga terlebih dahulu membersihkan tubuhnya, sedangkan Indah masih meletakkan buku yang dia beli tadi ke atas rak buku.
Secara bergantian, keduanya telah selesai membersihkan tubuh mereka masing-masing. Keduanya telah terlelap menuju alam mimpi.
__ADS_1
"Kak Veli," ujar Indah.
"Aku rindu, kamu jangan pergi," ujar Indah.
Indah mengigau di dalam tidurnya, Rangga bangun saat mendengar istrinya memanggil mantan sumaminya sendiri.
"Sayang bangun," ucap Rangga sambil menepuk pelan pipi Indah.
"Hei, bangun sayang," ucap Rangga membangunkan.
Indah bangun dari tidurnya langsung memeluk Rangga, Indah menangis di dalam dekapan suaminya.
"Kamu mimpi apa," Rangga bertanya.
Indah hanya diam, ia masih sedh dengan apa yang ia dengar dari Kak Veli di dalam mimpinya.
"Menangislah jika itu membuat kamu tenang," ujar Rangga lalu lebih mengeratkan pelukannya.
Sepuluh menit lebih bertahan di posisi yang sama, tangis Indah mulai reda. Ia sudah mulai tenang. Rangga yang masih setia mengelus pelan rambut Indah untuk menyalurkan ketenangan.
Setelah merasa tenang, Indah melepaskan pelukannya. Rangga menghapus sisa air mata yang menempel dipipi Indah.
"Sayang," ucap Rangga membelai pipi Indah.
"Iya," jawab Indah dengan nada lesu.
"Kamu mimpi apa?" tanya Rangga yang penasaran. Samapai-sampai membuat istrinya nangis sesegukan.
"Ya sudah kamu lanjut tidur lagi," balas Rangga.
Indah kembali merebahkan dirinya, ia masih ingat apa yang ada dalam mimpinya, Rangga sedari tadi memperhatikan Indah. Ada rasa sedih saat melihat mata istrinya yang tidak berhenti mengeluarkan air.
Rangga mengelus pelan rambut Indah, Indah hanya diam dengan perlakuan Rangga. Saat ini ia butuh sekali ketenangan.
Setelah merasa tenang, Indah kembali tidur. Ia ingin melupakan mimpinya tentang kak Veli.
"Apa yang Indah mimpikan sampai-sampai dia begitu sedih," gumam Rangga yang masih setia mengelus pelan rambut Indah.
Rangga pun ikut terlelap, ia juga merasa ngantuk dan menyusul istrinya menuju alam mimpi.
Pagi hari menyapa, hari ini tidak seindah biasanya, Indah hanya diam. Sedari bangun tidur ia hanya diam, tidak ada kata-kata yang ia lontarkan.
Rangga hanya diam menanggapinya, ia tahu mungkin masih memikirkan apa yang istrinya mimpikan semalam.
Pagi ini Indah tidak sarapan, ia langsung saja berjalan menuju mobil. Mama Vania dan Papa Dika sedikit bingung dengan sikap yang di tunjukkan Indah.
"Rangga, istri kamu kenapa?" tanya Mama Vania.
"Nanti Rangga jelasin ya Ma, Rangga pergi dulu ya. Assalamualaimum," pamit Rangga langsung menyusul Indah di dalam mobil.
Mobil melaju menuju sekolah Indah, di dalam mobil pun tidak ada yang berbicara. Indah hanya diam, pandangannya hanya pokus ke depan.
__ADS_1
"Sayang," panggil Rangga.
"Iya kenapa," jawab Indah.
"Kamu baik-baik aja," ujar Rangga sambil mengenggam tangan Indah.
Hanya di balas senyuman, ia tidak minat sama sekali untuk menjawab pertanyaan Rangga.
"Ya sudah, kamu nanti jangan lupa sarapan ya di kantin. Tadi kamu nggak sarapan, kamu juga nggak bawa bekal hari ini," ujar Rangga. Ia begitu perhatian kepada Indah masalah kesehatan.
"Iya," jawab Indah.
Sesampainya di sekolah, Indah turun begitu saja, ia sama sekali tidak ada semangat untuk sekolah hari ini.
Saat ini Indah pergi menuju rootoof sekolah, di sana adalah tempat ia dan kak Veli bersatu. Tempat yang banyak kenangan.
Indah berdiri di sana, tepat dimana ia dan Kak Veli berpelukan. "Kak Veli, aku rindu," gumam Indah.
Tanpa perintah, air mata itu terjun bebas membasahi pipi Indah. Ia hanya membiarkan kristal bening itu mengalir.
Setelah lama berdiri di sana, Indah kembali ke kelas. Masih ada hal yang harus di kerjaka selain meratapi kepergian seseorang.
Dari kejauhan seorang pria memperhatikan Indah, ia sangat yakin jika wanita yang bernama Indah adalah teman masa kecilnya.
"Akan ku cari tahu siapa dia," ujar pria tersebut membatin.
Sesampainya di kelas, Indah hanya duduk diam. Pikirannya saat ini masih terpaku pada Kak Veli.
Jam pertama telah di mulai, Indah tidak pokus mengukuti pelajaran hari ini. Materi yang di sampaikan hanya lewat begitu saja.
Jam istirahat, kali ini Indah tidak pergi ke kantin, dia hanya diam di dalam kelas.
"Indah," panggil salah satu siswi perempuan.
"Iya kenapa," jawab Indah memaksakan senyumnya.
"Ayo kita ke kantin bareng," ajaknya.
"Kamu aja ya, aku lagi males mau ke kantin," tolak Indah secara halus.
Yang ingin Indah lakukan hanya diam dan menangis, tidak ada lagi yang ingin dia lakukan selain kedua itu.
Oke guys sampai di sini dulu😍,
jangan lupa like dan vote ya
serta ikuti akun aku.
Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.
SalamManis♡.
__ADS_1
Maaf untuk beberapq hari belum bisa update, karena sinyal disini lagi ada