
Rangga hanya diam, ia tahu mungkin saat ini posisi Veli masih bertahta di hati Indah, ia harus berusaha perlahan-lahan menggantikan posisi tersebut.
Lima belas menit berlalu, Indah telah selesai dengan ritualnya, sekarang Indah telah memakai bajunya hanya ting9gal handuk saja yang masih berada di kepalanya.
"Rangga," panggil Indah.
"Iya sayang," jawab Rangga.
"Katanya tadi kamu mau mandi," ujar Indah.
"Oh iya, apa kamu sudah," ucap Rangga.
"Iya aku sudah sayang," jawab Indah dengan mengguankan kata sayang.
Seketika Rangga kaget dengan panggilan yang di lontarkan Indah, apa ini akan menjadi jalan untuk Indah membuka hati untuk Rangga.
"Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu ya," ucap Rangga.
"Iya, itu handuk kamu ada di lemari yang di samping ya," jawab Indah.
"Iya, eh iya aku pakai baju apa nanti," ucap Rangga bingung. Ia tidak membawa pakaian ganti untuk menginap di sini.
"Nanti aku pinjam baju Ayah aja, kamu gak kenapa-kenapa kan kalau pakai baju Ayah," ucap Indah.
"Iya sayang," jawab Rangga.
"Ya sudah kamu mandi sana, aku mau ke bawah untuk pinjamin baju kamu sama Ayah," ujar Indah.
"Tapi sebelum itu kamu harus ...," ucap Rangga sengaja menggantung ucapannya.
"Aku harus apa sayang," jawab Indah penasaran.
Cupp.
Rangga mencium bibir Indah sekilas dan langsung berlari menuju kamar mandi, ia tidak mau terkena amukan dari Indah karena telah menciumnya secara tiba-tiba.
"Rangga!" teriak Indah.
"Hahahahaha,"
"Awas kamu ya," ucap Indah.
Di dalam kamar mandi Rangga tertawa puas karena berhasil mengerjai Indah.
Indah turun ke bawah menuju kamar orang tuanya, Ia ingin meminjam baju Ayah Dimas, sesampainya di sana Indah mengetuk pintu kamar orang tuanya.
"Assalamualaikum," salam Indah sambil mengetuk pintu.
"Ibu," panggil Indah.
Suara pintu terbuka, Ibu Lina membuka pintu tersebut.
"Ada apa Nak?" tanya Ibu Lina.
"Heheh, itu Bu, Indah mau pinjam baju Ayah untuk Rangga," ujar Indah sambil cengengesan.
__ADS_1
"Oh sebentar ya Ibu ambilin dulu," jawab Ibu kembali masuk kamar.
Indah masih setia menunggu di depan pintu, begitulah peraturan yang di buat, jika tidak di suruh untuk masuk ke dalam kamar jangan melanggar.
Beberapa menit kemudia, Ibu Lina telah membawa sepasang baju dan celana khusu pria.
"Ini Ndah," ujar Ibu Lina sambil memberikan pakaian.
"Terima kasih Bu, kalau begitu Indah mau ke atas dulu ya," ucap Indah.
"Iya sayang," jawab Ibu Lina.
"Oh iya Bu," ujar Indah membalikan badannya.
"Ada apa lagi Nak?" tanya Ibu Lina.
"Ibu masih hutang penjelasan sama Indah tentang Yudha," ucap Indah dengan nada serius.
"Nanti Ibu ceritain semuanya sama kamu ya," ucap Ibu Lina sambil tersenyum, entah bagaimana reaksi Indah nanti setelah mengetahui kebenarannya.
"Baik Bu, Indah pamit dulu," ucap Indah meninggalkan Ibunya.
Indah berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, karena kama Indah berada di lantai tiga, jadi perlu waktu beberapa menit untuk sampai di sana.
Sampailah Indah di depan kamarnya, ia meraih hendel pintu tersebut dan membukanya. Saat masuk ia mendapati Rangga bertelanjang dada, Rangga hanya menggunakan handuk yang melilit sebatas pinggang.
"Astagfirullah Rangga," ucap Indah kaget.
"Heheh," Rangga hanya cengengesan menanggapinya.
"Ini baju kamu," ucap Indah sembari memberikan baju yang ia minta dari Ibunya tadi.
"Aku tadi minta sama Ibu, terus di kasihnya kamu baju ini," jawab Indah.
"Ya sudah aku ke kamar dulu ya mau ganti baju," ujar Rangga beranjak dari tempat duduknya.
Selama menunggu Rangga, Indah mengambil alat pengering rambut, Indah melepaskan handuk yang berada di kepalanya dan langsung saja ia mengeringkan rambutnya.
Rangga keluar dari kamar ganti, ia telah memakai pakaian yang di berikan mertuanya kepada dirinya.
"Sayang," panggil Rangga.
"Iya," jawab Indah yang masih sibuk mengeringkan rambutnya.
"Mau aku bantu." tawar Rangga
"Nggak usah, ini sebentar lagi selesai sayang," jawab Indah.
"Oh oke," jawab Rangga.
Rangga kembali duduk di sofa sembari memainkan gawainya, ia seperti biasa melihat email yang masuk melali akunnya.
Terdapat satu notif pesan yang selalu saja membuat Rangga kesal, ia notif pesan whats App masuk dari Papa Dika.
"Rangga, kamu yang sabar ya, tahan sebentar saja juniormu untuk tidak bermain, Wkwkwk,".
__ADS_1
Itulah isi pesan yang di kirim oleh Papa Dika. Rangga tidak berniat untuk membalasnya, ia tahu jika di balas maka akan menjadi bahan lelucon untuk Papanya.
Indah telah selesai mengeringkan rambutnya, sekarang ia berjalan menuju meja rias, ia hanya menggunakan bedak bayi dan liptins yang biasa Indah pakai. Setelah selesai Indah menuju sofa mendekati Rangga.
"Sayang," ucap Indah.
"Iya kenapa," jawab Rangga dengan ekspresi kesalnya
"Kamu kenapa, kok mukanya kayak kesal gitu?" tanya Indah penasaran.
"Aku gak kenapa-kenapa kok, hanya lagi BT aja sama satu orang," ujar Rangga.
"Siapa?" tanya Indah.
"Bukan siapa-siapa sayang," ucap Rangga lalu mencium kening Indah.
"Kebiasaan kayak Angsa," ucap Indah cemberut.
"Maksud kamu apa kayak Angsa," tanya Rangga yang sama sekali tidak paham.
"Maksud aku kamu itu kayak Angsa suka mai sosor-sosor aja, gak tau situasi," ucap Indah.
"Kalau sama istri sendiri gak kenapa-kenapa mau main nyosor aja kata kamu kan udah sah, jadi bebas mau ngapain," ujar Rangga dengan santainya.
"Yakin bebas mau ngapain aja," ucap Indah.
"Yakinlah, emang ada yang ngelarang," ujar Rangga.
"Kamu lupa sama janji atau aturan yang baru saja kamu sanggupi," ucap Indah mengingatkan Rangga tentang perjanjian tadi.
Rangga dengan spontan teringat dengan peraturan yang di buat oleh Ayah Dimas, bahwa Indah belum boleh di ajak hubungan suami istri setelah Indah lulus sekolah dan aku udah bisa menafkahinya.
Setelah mengingat itu, Rangga kembali lesu, Ia sangat tidal suka dengan perjanjian yabg di buat itu.
"Apa Ayah akan tahu jika kita melakukannya," ucap Rangga.
"Iya, karena Ayah banyak mata-mata, bahkan di kamar ini Ayah memasang CCTV," ucap Indah. Indah hanya mau menakut-nakuti Rangga supaya tidak berbuat lebih jauh.
"Apa kamu yakin, berarti setiap kegiatan kita di dalam kamar di pantau selalu oelh Ayah," ucap Rangga tidak percaya.
"Ya seperti itulah," jawab Indah.
"Lalu bagaimana nanti jika aku bermain sendiri, malu lah aku nanti di lihat sama Ayah," ucap Dimas dengan wajah yang sangat melas.
"Makanya Ayah tahu jika kamu benar-benar menaati peraturan yang dibuat atau tidak," ucap Indah.
Rangga hanya diam, ia sungguh aneh dengan apa yang barusan saja dia dengar,
Sungguh keadaan yang sulit untuk menerimanya.
Oke guys sampai di sini dulu😍,
jangan lupa like dan vote ya
serta ikuti akun aku.
__ADS_1
Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.
SalamManis♡.