Menikah Muda Karena Terpaksa

Menikah Muda Karena Terpaksa
Bab 136


__ADS_3

“Kadang manusia bisa menahan kuat rasa sakit. Namun tidak dengan ancaman yang ada didepannya”.


Rangga sungguh kaget mendengar kabar tersebut, Rangga sendiri mwngetahui siapa mereka dan bagaimana cara kerja mereka.


Karena dari kalangan pembisnis, mereka tidak bisa jauh dari dunia Mafia. Mafia adalah kekuatan seorang pembisnis agar sukses.


“Papa tau dari mana kabar ini?” tanya Rangga yang panik.


“Tidak lama tadi, terdengar suara pistol yang diluncurkan keudara. Papa yakin jika itu adalah perjanjian lagi antara keluarga Efos dan orang yang menyekap menantu Papa,” jawabnya dengan mimik wajah serius.


Karena menurut mereka, jika seorang pembisnis sudah melibatkan keluarga Mafia. Mereka sudah tahu bagaimana akhirnya.


“Baik Pa. Rangga akan jauh lebih hati-hati untuk menjaga Indah, Rangga pastikan Indah tidak akan kenapa-kenapa!” ujarnya dengan tegas.


“Papa ingin kamu mengatur strategi kedepanya, untuk berjaga-jaga. Supaya saat mereka melancarkam serangan kita bisa mengelak.” perintahnya. Papa Rangga sendiri akan mengatur rencana dengan beberapa anggota mafia lainnya.


Ya walaupun tidak sekuat Efos, tapi dirinya yakin bisa membantunya dalam menyusun rencana.


“Baik Pa, akan Rangga pikirkan matang-matang semua ini. Papa jangan khawatir Rangga yakin Indah bisa jaga dirinya,” jawab Rangga dengan tegas. Setelah melihat keahlian istrinya hari ini, Rangga bisa sedikit tenang jika Indah berada diluar jangkauannya.


“Biar bagaimanapun kamu adalah suaminya, jadi kamu yang berhak bertanggung jawab atas semua ini,” jelas Papa yang memberi semangat kepada anaknya sebagai kepala keluarga.


“Baik Pa, Kalau begitu Rangga pamit dulu. Takut Indah nyariin,” timpal Rangga yang ingin segera menemui istrinya.


“Bersikaplah sesantai mungkin didepannya. Jangan tunjukkan raut wajah panikmu,” tukas Papa Rangga.


“Siap Pa,” jawab Rangga yang langsung pergi dari ruang kerja.


Hari telah berganti. Pagi ini sangat damai di kediaman Rangga dan Indah, sepasang suami istri muda yang telah sah menikah secara hukum dan agama.


“Ahh aku telat,” teriak seseorang yang mengusik pagi yang damai.


“Jam berapa sekarang,”. Ujar Rangga yang masih setia diatas sofanya.


Indah seperti kilat lari masuk kedalam kamar mandi, karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 7 pagi.


Rangga yang melihat jam. Dengan santainya menarik kembali selimut, ia akan pergi kekantor sekitar jam 9 nanti.


Lima menit adalah waktu yang cukup singkat untuk Indah membersihkan tubuhnya, ia langsung memakai seragam sekolahnya dan turun kebawah dengan terburu-buru.


“Sayang aku berangkat,” teriak Indah sebelum menutup pintu kamarnya.


Indah berlari menyusuri satu persatu tangga, karena Mama dan Papa mertuanya sudah bilang kalau hari ini mereka ada jadwal keluar kota, jadi sebelum jam 7 pagi mereka sudah meninggalkan rumah.


“Ahh sial,” teriak Indah dengan sepatu yang dia pakai robek.


Ia kembali ketas mengambil sepatu yang sempat dia beli bersama Mawar, butuh waktu 5 menit untuk kembali kekamarnya.


Biasa orang kaya, kekamar aja butuh 5 menit, berarti kalau naik, terus turun lagi jadi 10 menit. Hahaha itu kekamar atau kehalte, lama banget.


Dengan nafas yang terengah-engah. Indah berlari kembali menuju parkiran mobilnya. Ia sendiri akan melajukan mobil seperti kemarin, karena jika dirinya telat datang untuk ujian. Tidak ada harapan untuk mendapatkan juara pertama lagi.


“Oke Indah tenang, kita bakalan jadi pembalab dadakan dulu untuk hari ini. Oke tarik nafas,”.


Tanpa pemberitahuan lagi, Indah sudah menancapkan gas dengan kecepatan tinggi. Satpam yang berjaga didepa rumah, langsung kaget saat melihat mobil mobil Nona mudanya melaju seperti pembalap handal.


“Serius itu Non Indah,” ujar Pak satpam sambil mengelus dada, dia masih kaget demgan kejadian beberapa detik lalu.


Karena masih pagi, jalan raya masih cukup sepi. Karena para pekerja kantor belum ada yang berangkat dari rumah mereka. Indah dengan leluasa menguasai jalan raya.


Jarak dari rumah kesekolah yang biasa membutuhkam waktu cukup lama, namun hari ini hanya dalam waktu 5 menit Indah telah sampai diparkiran sekolah.


Untung saja para murid sudah berada diruangan ujian masing-masing. Jadi tidak akan ada kehebohan karena melihat cara Indah mengendarai mobil.


Setelah memarkirkan mobilnya, Indah kembali berlari menuju ruangan ujian sebelum guru pengawas masuk, karena jika sudah ada. Ia tidak akan bisa mengikuti ujian tersebut.


Keberuntungan masih berpihak kepada dirinya, kali ini guru yang mengawas ruangan Indah ujian belum datang, karena dijalan lumayan macet.


“Pagi anak-anak,” ujar seorang guru laki-laki yang memasuki ruang ujian.


“Pagi Pak,”jawab mereka serentak.


“Berhubung Ibu Sulis mengalami kendala dijalan, jadi bapak yang menggantikan untuk sementara,” ujar guru tersebut yang diketahui bernama Siregar.

__ADS_1


“Sekarang simpan semua alat tas kalian dan buku-buku yang ada. Sisakan pena dan pensil serta penghapus diatas meja!” perintahnya kepada siswa.


Semua murid meletakkan tas mereka didepan dan telah bersiap untuk ujian pertama mereka.


Waktu ujian terus berjalan, untuk ujian pertama belum ada kesusahan yang mereka alami. Semuanya berjalan dengan lancar.


Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 1 siang, waktunya pulang. Berhubung ujian, jadi pulang sekolah lebih awal.


Banyak juga yang dari mereka bersenang-senang setelah melepas kepenatan mereka karena bertarung dengan soal-soal ujian hari ini.


Indah tidak berencana untuk pulang kerumah. Ia ingin menyusun ulang rencananya, ia langsung melajukan mobil menuju villa yang ada didalam hutan. Menurut jaraknya, dari sekolah lebih jauh jaraknya dari tempat Mawar kemarin.


“Halo sayang,” jawab Indah.


“Kamu dimana?” tanya Rangga yang masih berada dikantor.


“Aku mau kevilla,” jawab Indah yang masih fokus pada jalan raya.


“Aku ikut,” ujara Rangga.


“Eh kamu kan masih kerja,” jawab Indah sontak.


“Ngga, sebentar lagi aku selesai. Tunggu aku,” ujar Rangga yang langsung menutup teleponnya.


“Eh ehh. Tutt... Tut... Tuut..”


Belum selesai Indah berbicara, Rangga lebih dulu menutup teleponnya. Indah lalu melajukan mobilnya kearah kantor Rangga, tidak mungkin jika Rangga mengingat jalan menuju Villa.


Sesampainya disana. Indah memarkirkan mobilnya diparkira karyawan. Saat masuk kedalam, banyak pasang mata yang melihat Indah dengan tatapan sinis.


“Siapa dia,”.


“Kok ada anak sekolahan disini,”.


“Ponakkan bos mungkin,”.


“Cantik,”.


“Anak sekolah mana, cantik banget,”.


“Lihat-lihat dia masuk lift khusus,”.


“Siapa sih wanita itu,”.


Saat bersamaa lift terbuka. Ternyata sudah ada Rangga yang berada didalam lift. Rangga kaget jika Istrinya akan kekantornya.


Tanpa malu, Rangga langsung merangkul bahu Indah, ia berjalan bersama melewati karyawan yang sedang bekerja.


“Wah wah lihat,”.


“Kenapa bisa dia dekat sama Boss,”.


“Jalang,”.


“Plakkkk...., plakkk...”.


Suara tamparan yang terdengar kencang mengenai pipi kanan dan pipi kiri seseorang karyawan.


“Jika tidak tau, lebih baik Anda diam.” ucap Indah sambil menunjuk wanita yang mengatainya Jalang.


Karyawan tersebut sangat malu dengan kejadian tadi, dirinya tidak menyangka jika suaranya terdengar dengan Indah.


Karyawan tersebut yang diketahui bernama siska ingin menampar balik pipi Indah, namun dengan cepat tangannya dicekal oleh Indah. Tangan kotor ini, jangan sesekali mengenai pipi saya. Jika tidak tangan Anda patah saat ini juga.


Dari kejauhan Rangga hanya mempehatikan apa yang istrinya perbuat. Bahkam satpam yang bertugas tidak berani untuk memisahkan, karena Rangga menatapnya dengan tatapan tajam.


Semua karyawan disama kaget dengan kejadian tersebut. Mereka masih menebak siapa wanita berserag sekolah yang berani membuat kekacauan dikantor ini.


Rangga mendekati Indah. “Sayang ayo!” ajaknya untuk pergi.


“Untuk kalian. Jika adik saya datang kesini, jangan sampai saya mendengar perkataan yang tidak pantas. Dan kamu! Mulai saat ini saya pecat,” ucap Rangga dengan tegas.


“Kembali ketempat kerja kalian masing-masing,” ujar Rangga yang memberikan tatapan tajam.

__ADS_1


Semua karyawan menundul takut. Mereka tidak ada yang berani menatap langsung. Siska masih menangis karena perbuatan yang tidak disengaja olehnya.


Indah dan Rangga menuju parkiran yang berbeda, Indah pergi menuju mobil yang ada diparkiran karyawan. Setelah keduanya telah masuk mobil masing-masing.


“Sayang,” teriak Indah dari dalam mobilnya.


“Apa,” jawab Rangga yang baru saja memberhentikan mobilnya tepat disamping mobil Indah.


“Mau taruhan,” ajak Indah senang.


“Astaga, nih bini gue bener-bener,” batin Rangga yang tidak bisa menyangkal kebiasaan baru istrinya.


“Ayo,” jawabnya semangat.


“Yang kalah harus beliin mobil keluaran terbaru,” ujar Indah yang tanpa dosa.


“Setuju,” jawab Rangga yang tanpa berpikir panjang mengenai taruhannya.


“Oke. Siapa sampai lebih dulu ke villa dia yang menang,” ujar Indah dengan semangat.


“Siapa takut.” Jawab Rangga menunjukkan senyum manisnya.


“Ngga mempan ya,” ujar Indah yang tidak mempan dengan senyuman maut Rangga.


“Haishh padahal mau ngebatalin nih taruhan. Kan ga lucu kalo gue kalah sama bini sendiri,” gumam Rangga. Untung tidak sampai didengar oleh istrinya.


“Oke. Kita mulai,” teriak Indah.


“3...., 2...., 1....,”.


Mobil Indah dan Rangga melaju dengan kecepatan tinggi. Banyak karyawan yang melihat aksi boss mereka.


“Wahhh keren adiknya boss,”.


“Gilaa, gilaa. Bisa-bisanya tuh cewek,”.


“Adiknya atau Abangnya yang bakalan menang,”.


Begitulah lontaran-lontaran kalimat yang keluar. Mereka tidak menyangka jika Boss mereka sangat exited terhadap adiknya.


Rangga dan Indah masih tetap fokus kearah jalan. Mereka tela memasuki kawasan hutan tempat dimana villa Indah berada.


Kecepatan mobil Indah dan Rangga stabil, walau terasa cepat namun bagi mereka itu bukanlah apa-apa. Kali ini Rangga yang memimpin balapan, akan sangat terluka batinnya jika ia kalah dari istrinya. Kemampuan Indah mengendalikan stir tidak diragukan lagi.


Dugaan Rangga salah, kemampuan mereka berdua ternyata sama. Kemarin hanya sebagian kecil yang istrinya perlihatkan kepadanya.


“Kelebihan apa lagi yang akan kamu tunjukkan sayang,” gumam Rangga yang masih fokus dengan jalan.


Ketika jarak mereka hampir dekat, Indah mencoba mendahui Rangga dengan menambah kecepatan mobilnya.


Alahasil Indah berhasil mendahuli suaminya. Ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh.


“Haishhh,” geram Rangga yang kaget saat Indah mendahuluinya.


“Maaf sayang, tapi istrimu tidak akan kalah,” ujar Indah menunjukkan senyum kemenangannya.


Indah lebih dulu sampai divilla, dan disusul oleh Rangga. Setelah memarkirkan mobil masing-masing.


Rangga tampak memasang raut wajah masam, dirinya tidak menyangka akan kalah dengan istrinya.


“Sayang mobil baru besok,” ujar Indah yang tampal senang.


“Oke. Besok pagi didepan sudah ada mobil yang kamu minta,” ujar Rangga dengan tatapan memelas.


“Oke,” jawab Indah meninggalkan Rangga.


“Bahkan denga tatapan seperti ini, dia tidak terpengaruh,” ujar Rangga dengan nada memelas.


“300 Milliar. Besok akan hilang seketika,” gumamnya kembali.


Oke guys sampai di sini dulu😍,


Jangan lupa like dan vote ya

__ADS_1


Serta ikuti akun aku.


Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.


__ADS_2