
Indah dan Rangga saling membantu satu sama lain, Rangga mengkuti apa yang di katakan Indah untuk meletakkan barang-barang yang ia bereskan.
Di sela-sela saat beres-beres, Rangga selalu saja mengganggu Indah dengan jahilan-jahilan yang ia buat, walau begitu Indah juga senang.
Waktu menunjukkan pukul 16:00 WIB, Rangga dan Indah telah selesai membereskan barang-barang mereka, sekarang Indah dan Rangga duduk di lantai kamar.
Mereka berdua kelelahan setelahnya, Indah dan Rangga duduk saling bertolak belakang.
"Capek juga ya," ujar Indah.
"Kata kamu nggak bakalan capek kalau sama aku," timbal Rangga.
"Itu tadi sayang, tapi kalau sekarang aku capek," jawab Indah.
"Sini nanti aku pijitin," ujar Rangga langsung mengganti posisi duduknya menghadap ke arah Indah.
"Nggak usah sayang, kamu juga pasti capek kan," jawab Indah menolak Rangga.
"Ya sudah, kalau begitu aku mandi duluan ya, kamu seperti biasa mandi di kamar tamu ya sayang," ucap Indah.
"Iya sayang, setelah mandi kita saling pijit ya, soalnya sakit-sakit badan aku," ujar Rangga.
"Oke sayang siap," jawab Indah.
Indah dan Rangga bangkit dari tempat duduk mereka dan mengambil handuk untuk mandi serta pakaian ganti.
Malam hari, Indah dan Rangga tengah sibuk melihat-lihat rumah yang minimalis, saat setelah mandi tadi sore, Rangga dan Indah berbincang-bincang.
"Sayang," ucap Rangga memanggil Indah
"Iya kenapa," jawab Indah lalu mendekati Rangga yang sedang duduk di sofa kamar.
"Aku punya ususlan sama kamu," ujar Rangga membelai rambut Indah.
"Usulan apa?" tanyanya.
"Bagaimana kalau kita beli rumah sendiri, untuk kita tinggal berdua sayang," ucap Rangga memberitahu usulannya.
"Maksud kamu kita beli rumah sendiri," balas Indah.
"Iya sayang, aku gak mau kita masih bergantung sama Mama dan Papa, aku mau memulai bisnis baru dan itu dengan kamu," ucap Rangga membelai pipi Indah.
"Aku setuju sama usulan kamu," ujar Indah menyetujui usulan suaminya untuk memilih tinggal berdua.
"Baiklah nanti malam kita bicara ini sama Mama dan Papa ya," ucap Rangga.
"Iya sayang," jawab Indah.
__ADS_1
Itulah perbincangan sepasang suami istri ini, yang memiliki rencana untuk hidup mandiri.
"Sayang ini bangus kayaknya," ujar Indah sambil menunjukkan ipadnya.
"Mana lihat," jawab Rangga mendekati Indah.
"Nih, sederhana, minimalis dan kayaknya masih asri deh sekitar rumahnya," ujar Indah menjelaskan rumah yang ia temui di internet.
"Coba kamu lihat harganya, kalau harganya sesuai langsung kamu hubungi aja orangnya," jawab Rangga. Rangga tahu jika Indah orangnya tidak suka yang namanya bermewah-mewah.
"Tapi kamu nggak mau lihat yang lain lagi, ini hanya usulan aku aja sayang," balas Indah.
"Nanti aku lihat-lihat yang lain juga, setelah itu baru kita lihat perbandingannya," jawab Rangga.
"Oke," ucap Indah.
Rangga dan Indah sibuk dengan dunia internetnya, mereka berdua sama-sama mencari rumah yang tepat untuk mereka tinggali.
"Sayang, lihat-lihat ini bagus kayaknya," ujar Indah menunjukkan kembali rumah yang ia lihat.
"Bener bagus ini, coba cek lokasinya!" perintah Rangga.
"Lokasinya nggak jauh dari sekolah aku," jawab Indah.
"Kalau begitu kamu hubungi nomor yang tertara di sana, nanti kita cek tempatnya ya," ujar Rangga.
"Baik sayang," jawab Indah.
"Ya sudah ayo sekarang kita kebawah." ajak Indah beranjak dari tempat duduknya.
Rangga dan Indah berjalan menuruni anak tangga satu persatu, mereka berjalan menuju ruang makan dan benar di sana sudah ada Mama dan Papa yang tengah makan.
"Mama, Papa," panggil Indah.
"Eh ada kalian," ujar Mama Vania kaget.
"Hehe, Iya Ma," jawab Indah. Langsung duduk di kursi makan bersampingan dengan Rangga.
"Ya sudah makan aja dulu, nanti aja jelasinnya setelah makan," ujar Mama Vania.
"Baik Ma," jawab Indah.
Indah langsung mengambilkan nasi dan lauk untuknya dan Rangga, mereka berempat makan dengan keheningan, dentingan sendok yang mengisi suara meja makan.
Setelah makan Indah, Rangga dan kedua orang tua mereka berjalan menuju ruang keluarga.
"Kalian sudah lama sampainya?" tanya Mama Vania.
__ADS_1
"Lumayan Ma, kami berdua dari tadi siang sudah di rumah," jawab Rangga.
"Kenapa nggak telepon Mama atau Papa kalau mau ke sini," ujar Mama Vania.
"Lupa Ma, soalnya tadi ke sini buru-buru juga," jawab Indah sambil memperlihatkan gigi rapinya.
"Kamu ini, masih muda udah pelupa aja," ujar Mama Vania sambil tersenyum.
"Ma ada yang mau Rangga dan Indah bicarain sama Mama dan Papa," ucap Rangga yang ingin membahas masalah rumah tadi.
"Kalian mau bicara apa sama Mama dan Papa, sepertinya serius banget," jawab Mama Vania.
"Jadi gini Ma, Rangga sama Indah mau beli rumah, kami berdua mau hidup mandiri tanpa campur tangan kalian," ujar Rangga mengungkapkannya.
"Maksud kalian, kalian berdua mau tinggalin rumah ini," ucap Mama Vania.
"Bukan begitu Ma, Rangga sama Indah juga sudah memiliki rumah tangga, kami nggak mau merepotkan Mama dan Papa," ujar Rangga memperjelas.
"Kata siapa kalian merepotkan, malahan Mama dan Papa senang kalian berada di sini, benerkan Pa," ujar Mama Vania meminta Pendapat suaminya.
"Iya sayang, kenapa kalian mau pindah. Cukup di sini aja, lagian Rangga kamukan harus nerusin bisnis Papa," jawab Papa Dika.
"Tapi Rangga mau, Rangga itu bisa menghasil uang sendiri dari kerja keras Rangga Pa, selama ini Rangga hanya tau minta aja sama kalian, untuk ini Rangga mohon sama Mama dan Papa untuk ijinin Rangga dan Indah hidup berdua dan mandiri," jelas Rangga, ia sangat paham untuk mendapatkan jawaban iyq dari kedua orang tuanya itu hal yang sangat sulit.
"Tapi tetap saja Mama nggak setuju kalian berdua tinggalin rumah ini," jelas Mama Vania dengan mimik wajah serius.
"Ma," ucap Indah.
"Mama Indah mohon ya, ijinin Indah dan Rangga untuk tinggal di rumah baru kita nanti," ucap Indah dengan nada yang lembut. Ia tahu situasi saat ini sedang panas.
"Tapi kenapa sayang kalian harus membeli rumah lagi, sedangkan rumah kita masih ada di tempat-tempat lain," ujar Mama Vania.
"Tapi kita mau belajar Ma, bagaimana menikmati hasil uang sendiri," jawab Indah tersenyum hangat ke Mama Vania.
"Baiklah kalau begitu keputusan kalian, Mama ijinin kalian untuk tinggal berdua dengan satu syarat," ucap Mama Vania. Ia juga tahu bagaimana rasanya bergantung hidup masih dengan orang tua.
"Syaratnya apa Ma?" tanya Indah.
"Kalian harus tinggal di apartemen saja," jawab Mama Vania.
Rangga hanya diam, ia sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan Mamanya ini.
Oke guys sampai di sini dulu😍,
jangan lupa like dan vote ya
serta ikuti akun aku.
__ADS_1
Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.
SalamManis♡.