
Semuanya telah berada di posisi yang telah di atur. Aksi tembak menembak pun terjadi, semua bodyguard yang ada di depan rumah telah tewas ditangan Vania.
"Wow amazing," ujar Rangga.
"Bukan saatnya untuk berbicara seperti itu Rangga, cepat langsung menuju pintu utama!" seru mama Vania.
"Baik Ma," jawab Rangga.
"Pa pergi kebagian barat di sana ada celah untuk masuk," ujar mama Vania.
"Baik Ma," jawab papa Dimas.
Sedangakan Vania naik menuju tempat dimana tuan Dika dan tuan Kenz memantau mereka.
Ia menggunakan tali untuk naik kesana, adrenalin yang selama ini disimpan terulang kembali.
Tuan Dimas sangat khawatir dengan tindakan yang di lakukan istrinya. Ini adalah salah satu yang ditakuti Dimas saat Vania kembali seperti dulu.
Vania telah sampai diatas, ia langsung menggunakan pintu yang tidak terkunci.
"Hai Tuan Dika," ujar Vania menunjukkan senyum devilnya.
"Hai, apa kabar," ucap Tuan Dimas cuek.
"Sangat baik," jawab Vania.
"Aku tidak menyangka jika kamu masih ahlu dalam hal ini," ujar Tuan Dimas
"Sudahlah, ini hanya hal biasa," jawab Vania.
Lina masuk kedalam kamar yang dibuat khusus monitor.
"Mas," panggil Lina.
"Sayang, kamu kenapa kesini," jawab Dimas
"Indah sudah sadar, lalu siapa dia," ujar Lina menunjuk Vania.
"Apa kau tidak mengenalinya?" tanya Dimas.
"Sama sekali tidak," jawab Lina.
"Sudahlah nanti menjelaskan semuanya, sekarang bagaimana keadaan Cika," ujar Vania.
Tanpa aba-aba, Vania langsung menerobos melewati Dimas dan Lina, ia berjalan menuju tempat Cika.
Sesampainya dikamar Cika, Vania langsung menghampirinya.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya mama Vania.
"Aku baik-baik aja Ma," jawab Cika.
Cika belum bisa mengingat, karena dokter dulu pernah bilang, Cika mengalami amesia permanen, jadi sampai kapan pun dia tidak akan ingat tentang masa lalunya.
Lina, Dimas dan Kenz langsung menyusul ke kamar Cika, sebelum itu semuanya anak buah Dimas sudah diperintahkan untuk tudak mencegah Rangga dan Tuan Dika masuk.
Sesampainya dikamar Cika, betapa sakit hatinya Lina melihat anak kandungnya berada dipelukan wanita lain, Lina menangis ia langsung memeluk Dimas.
__ADS_1
Dimas membiarkan interaksi antara Cika dan Vania berlangsung, ia sudah mengetahui jika Cika belum bisa mengingat masa lalunya.
Mendapat respon baik dari Dimas, tanpa membuang-buang waktu, Rangga dan Tuan Dika langsung masuk, ia mencari titik dimana Vania berada.
Setelah mengetahui dimana mamanya berada, Rangga langsung naik menuju lantai tiga, di mana di sana adalah kamar Indah.
Rangga berlari menaiki tangga, ia langsung saja menerobos ke dalam kamar Indah.
Rangga memeluk Cika, ia sangat khawatir saat istrinya di bekap oleh anak buah Tuan Dimas.
"Kamu tidak kenapa-kenapa sayang, apa ada yang sakit," ujar Rangga.
"Aku tidak apa-apa, hanya saja kepala ku sangat sakit," jawab Cika.
"Sekarang kita kedokter ya," ajak Rangga.
"Kita dimana?" tanya Cika.
"Kamu ada di rumah sayang," jawab Lina. Berjalan mengahampiri Indah.
"Maaf kamu siapa?" tanya Cika.
"Ini Ibu Nak, apa kamu lupa sama Ibu," ujar Lina menangis, ia tak kuasa menahan air mata. Saat mengetahui jika Indah tidak mengingatnya.
"Ibu," ujar Cika.
"Iya Nak, aku Ibumu," jawab Lina.
"Maaf ibu saya sudah meninggal," jawab Indah.
"Maaf Tante jika saya lancang, Cika belum bisa mengingat masa lalunya," jawab Rangga.
"Lalu apa hubungan kamu dengan anak saya," ujar Lina meninggikan intonasinya.
Dimas langsung menghampiri istrinya, ia sudah tahu betul jika Lina marah akan sulit untuk dikendalikan.
"Ma tenanglah," ujar Dimas langsung memeluk Lina.
"Maafkan saya, sebenarnya Cika adalah istri saya. Kami telah resmi menikah," jawab Rangga.
"Saya tidak pernah merestui jika Indah menikah dengan kamu, ini artinya kalian memanfaatkan situasi, dan pernikahan ini atas dasar terpaksa," jawab Lina emosi, ia sangat tidak terima jika Indah telah menikah tanpa restu orang tuanya. Sebab bagaimana pun, Indah masih tetap istri sah Velito Kenz.
Cika kaget saat mendengar kata terpaksa yang di lontarkan Lina, seketika Cika merasakan pusing yang sangat hebat.
"Au, Ma sakit, sakit sekali kepala aku," ujar Cika memegang kepalanya.
"Kamu kenapa sayang," ujar Vania.
Semua orang mengalihkan perhatian kepada Cika, mereka khawatir dengan keadaan Cika.
"Indah, sayang kamu gak papa," ujar Lina yang langsung menghampiri Cika.
"Ini sakit sekali," ucap Cika.
Seketika, bayangan-bayangan wajahnya muncul di saat dia berada di rootoff sekolah, bayangan tentang ia menangis menumpahkan segala kesedihanya, karena menerima perjodohan atas dasar terpaksa.
Cika melihat dimana, ia menggunakan kebaya berwarna putih, ia menikah dengan seorang pria, tetapi bukan Rangga.
__ADS_1
Cika mengingat di mana, di suatu tempat ia berbicara kepada seorang pria, bahwa Indah menerima pejodohan dengan terpaksa, lalu dengan keyakinan yang kuat pria tersebut akan membuatnya jatuh cinta.
Semua orang khawatir, mereka membaringkan Cika, detik berikutnya Cika pingsan.
Dokter keluarga Kenz telah tiba, ia langsung saja memeriksa keadaan Cika.
"Bagaimana Dok?" tanya Lina.
"Dia baik-baik saja, apa dia mengalami amesia?" tanya Dokter.
"Iya Dok, ia mengalami amesia," jawab Rangga.
"Sepertinya ingatan dia akan segera pulih, karena tadi saat saya mengecek ada satu memori yang dia ingat," ujar Dokter.
"Tapi Dokter, bukannya istri saya mengalami amesia permanen," jawab Rangga.
"Awalnya saya juga ingin mengatakan hal tersebut, tetapi saat saya memeriksa kembali ada hal yang membuat dia mengingat masa lalunya, apa dari kalian ada yang sengaja atau tidak sengaja mengatakan kata yang membuat dia sakit kepala?" tanya Dokter.
Semua anggota keluarga mengingat setiap perkataan yang mereka lontarkan, mereka tidak yakin jika hanya dengan satu kata bisa membuat Indah pulih ingatannya.
"Saya hanya menyebutkan kata merestui dan terpaksa, apa dengan kata itu bisa membuat memorinya ingat kembali," ujar Lina.
"Bisa jadi, mungkin di masa lalunya, Indah pernha mengalami kesedihan paling hebat dengan kedua kata tersebut," jawab Dokter.
"Bisa jadi sayang," ujar Dimas.
"Maksud kamu?" tanya Lina.
"Apa kamu tidak ingat saat kita menjodohkan Indah dengan Veli, Indah pernah bilang jika ia menerima perjodohan tersebut dengan terpaksa," jawab Dimas.
"Mungkin, dengan itu memori masa lalu Indah terpengaruh, karena pengaruh besar dengan pernikahan yang ia terma secara terpaksa masih membekas di hatinya, walaupun dia amesia, dengan begitu otak langsung merespon cepat," jelas Dokter.
Lina dan Dimas sangat senang mendengar penjelasan tersebut, mereka akan kembali melihat Indah yang dulu.
"Lalu apa dia akan mengingat semuanya?" tanya Rangga.
"Iya, respon cepat otak yang membuat dia mengingat segalanya," jawab Dokter.
"Baiklah saya permisi, nanti akan saya buatkan resep obat untuk pengihilang rasa sakitnya," ujar Dokter.
"Baik Dok, terima kasih," ujar Dimas.
"Iya sama-sama," jawab Dokter.
Dokter keluar dari kamar Indah, ia langsung menuju rumah sakit.
Oke guys sampai di sini dulu😍,
jangan lupa like dan vote ya
serta ikuti akun aku.
Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.
Untuk episode ini sampai ke berapa nanti nama Indah sementara di ganti jadi Cika Felisa ya teman teman.
SalamManis♡.
__ADS_1