Menikah Muda Karena Terpaksa

Menikah Muda Karena Terpaksa
Bab 122


__ADS_3

Semuanya makan malam bersama, seperti biasanya Indah mengambilkan makan untuk sang suami.


Setelah makan malam bersama, Indah izin ke kamar mandi. "Semuanya Indah permisi dulu ya," ujar Indah.


"Mau kemana sayang," balas Rangga.


"Aku mau ke kamar mandi dulu ya," jawab Indah.


"Mau aku temenin nggak," ujar Rangga menggoda Indah.


"Boleh, kalau Ayah izinin," ujar Indah, lalu melirik sang Ayah.


"Heheh, nggak kok aku bercanda aja, Yah," ujar Rangga cengengesan.


Semuanya berjalan ke ruang tamu, di sana juga telah di siapkan cemilan dan minuman untuk mereka mengobrol nanti.


"Apa kabarnya, Jeng," ujar Jeng Lina.


"Alhamdulilah kami baik-baik saja," jawab Jeng Vania.


"Kabar Jeng Lina dan Tuan Dimas, bagaimana?" tanya balik Jeng Vania.


"Seperti yang kalian lihat, kita juga baik-baik saja," jawab Jeng Lina.


Indah kembali dari kamar mandi menuju ruang tamu, sesampainya di sana ia langsung duduk di samping Rangga.


"Alahmdulilah," jawab Jeng Vania.


"Oh iya Tuan Dika, Rangga dan Indah bicara sama kita bahwa mereka akan pindah rumah dan tinggal berdua," ujar Tuan Dimas.


"Iya itu benar Tuan," jawab Nyonya Vania.


"Apa kami bisa memberi sanggahan untuk Rangga dan Indah untuk tidak tinggal berdua," balas Tuan Dimas.


"Kalian juga tahukan kalau Indah masih sekolah, saya takut nanti Rangga tidak bisa menepati janjinya," lanjut Tuan Dimas.


"Iya saya mengerti apa yang Tuan Dimas khawatirkan, tapi bagaimanapun mereka sudah memiliki keluarga masing-masing, Rangga juga harus belajar bertanggung jawab kepada istrinya," jelas Tuan Dika.


Tuan Dimas memikirkan kata yang di lontarkan oleh besannya, itu pun masuk akal, jika Rangga masih bergantung kepada orang tua, maka sampai kapan pun akan bergantung kepada orang tua.


"Rangga," panggil Ayah Dimas.


"Iya Ayah," jawab Rangga.


"Apa kamu bisa menepati janji kamu, tidak akan bermain dengan Indah sebelum waktunya," ujar Ayah Dimas dengan nada bicara yang serius.


"Rangga akan menepati janji Ayah, Rangga pasti menjaga Indah sampai waktu itu tiba," jawab Rangga.


Terbesit ada rasa bersalah di hati Indah, ia merasa bersalah karena belum memberitahu kepada orang tuanya kalau dirinya sudah tidak perawan lagi, namun yang membuat hati Indah tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya. Ia takut jika Ayah akan memberi surat cerai kepada Rangga.


"Baiklah kalau begitu, Ayah percayakan Indah kepada kamu, jaga dia nanti," balas Ayah Dimas. Mungkin ini sudah waktunya dirinya melepas Indah sebagai istri dari menantunya.

__ADS_1


"Terima kasih Ayah," jawab Rangga tersenyum.


Kedua keluarga tersebut melanjutkan perbincangannya, mereka semua bersenda gurau. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Tuan Dimas dan istrinya pamit pulang.


"Mohon maaf besan, kami pamit pulang, besok masih ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan," ujar Tuan Dimas.


"Baik, terima kasih telah berkunjung. Sering-seringlah untuk main ke sini, pintu rumah kami terbuka lebar untuk kalian," balas Tuan Dika tersenyum.


"Indah sayang, Ibu pamit pulang dulu ya, Nak," ujar Ibu Lina lalu mencium kening Indah.


"Iya Ibu, hati-hati di jalan ya," jawab Indah.


"Kami permisi, Assalamualaikum wr.wb," pamit Tuan Dimas dan istrinya.


Indah dan Rangga berjalan mengantar orang tua mereka pulang, setelah mobil telah melaju keluar dari kediaman Luis. Rangga dan Indah kembali masuk berjalan menuju kamar mereka.


Malam semakin larut, setelah acara pertemuan tadi Indah dan Rangga langsung saja tertidur setelah mengganti pakaiannya.


Pagi hari menyapa, sang raja pagi telah bersinar menyinari bumi. Di ikuti dengan suara kicauan burung yang merdu. Di dalam ruangan yang luas, sepasang suami istri ini masih terlelap dalam tidurnya. Walaupun cahaya matahari telah masuk melewati celah-celah kamar, tidak membuat mereka untuk bangun dari tempat tidurnya.


"Pelayan," panggil Mama Vania.


"Iya Nyonya," jawab Pelayan.


"Coba cek di atas, apakah Rangga dan Indah sudah bangun, ajak mereka makan siang," ujar Mama Vania.


"Baik Nyonya," jawab Pelayan lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Tuan muda.


Pelayan kembali ke bawah untuk menemui Nyonya besar, sesampainya di taman belakang.


"Nyonya," panggil Pelayan.


"Iya," jawab Nyonya Vania.


"Tuan Muda Rangga dan Nona Indah belum bangun, sudah saya panggil beberapa kali. Namun tidak ada sahutan, Nyonya." jelas Pelayan.


"Ya sudah biarkan saja, kembali bekerja," ujar Nyonya Vania.


"Baik Nyonya, saya pamit bekerja kembali," jawab Pelayan.


Nyonya Vania berjalan menuju ruang kerja, ia ingin membicarakan masalah perusahaan mereka yang ada di luar negri, apa sudah yakin untuk Rangga yang menghendel semuanya.


Di kamar, Indah merasa berat di bagian perutnya, ia mengumpulkan seluruh nyawanya.


"Hoamm," Indah melihat jam yang ada di dinding.


"Astagfirullah, aku kesiangan," ujar Indah.


"Sayang bangun," ujar Indah membangunkan Rangga.


"Hmm masih pagi sayang," jawab Rangga semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Masih pagi apanya, sekarang sudah jam sepuluh sayang, ayo bangun ihh," ujar Indah kembali membangunkan Rangga.


"Ha! jam sepuluh," jawab Rangga kaget.


"Iya sayang, ayo bangun," ujar Indah melepaskan pelukan Rangga.


"Morning kiss dulu," jawab Rangga manja.


"Iya deh," ujar Indah lesu, suaminya ini tidak lupa dengan kegiatan satu ini.


Setelah memberikan morning kiss kepada suaminya, Indah beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


"Kamu mandi di tempat biasa ya," ujar Indah.


"Iya sayang," jawab Rangga.


Keduanya telah mandi, Indah dan Rangga menggunakan pakaian santainya, mereka berdua berjalan menuju meja makan.


Sesampainya di sana, Indah dan Rangga tidak melihat Mama Vania dan Papa Dika.


"Mama sama Papa dimana," ucap Indah bertanya.


"Aku juga nggak tahu, mungkin ada di ruang kerja," jawab Rangga.


"Bisa jadi, ya sudah ayo kita makan," ajak Indah.


"Iya sayang," jawab Rangga.


Setelah makan, Indah kembali ke kamar, ia ingin mengerjakan beberapa tugas yang belum dia selesaikan.


Rangga berjalan menuju ruang kerja kedua orang tuanya, ia ingin menanyakan masalah perusahaan yang di tawarkan oleh Tuan Loren.


Rangga masuk saja ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu lagi, di dalam sudah ada Mama dan Papa yang tengah sibuk melihat layar monitor masing-masing.


"Mama," ujar Rangga yang tengah duduk di sofa.


"Iya Nak," jawab Mama Vania yang tetap pokus kepada pekerjaannya.


"Ma, bagaimana dengan perusahaan yang di bicarakan kemarin, apa Rangga yang akan menghendel semuanya," ujar Rangga bertanya.


"Iya sayang, Mama dan Papa masih ada urusan di perusahaan kita di tempat lain. Untuk ini Mama percayakan kepada kamu," jawab Mama Vania.


Rangga berpikir sejenak, kalau ia pergi. Bagaimana dengan Indah, ia tidak mau jauh-jauh dari istrinya.


Oke guys sampai di sini dulu😍,


jangan lupa like dan vote ya


serta ikuti akun aku.


Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.

__ADS_1


SalamManis♡.


__ADS_2