
Indah berjalan memasuki kamar mandi, dan dia mulai membersihkan dirinya.
Setelah selesai membersihkan diri, Indah mengganti pakaiannya dengan baju tidur.
Setelah mengganti bajunya, Indah berjalan mendekati kasur king sizenya. Ia tidak jadi mau belajar, karena matanya sudah tidak tahan lagi.
Dan Indah pun telah tertidur, menuju alam mimpi🤗.
Pagi harinya, seperti biasa aktivitas yang di lakukan, yaitu sarapan pagi, tapi kali ini Ayah Indah ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.
"Indah sini sayang," kata Dimas.
"Iya kenapa Ayah," jawab Indah.
"Malam nanti, kita akan mengadakan pertemuan keluarga calon suami kamu, jadi nanti kamu siap-siap ya," kata Dimas sambil tersenyum.
Bagaikan di sambar petir, segitu cepatnya Ayah akan menikahkannya, dengan orang yang dia tidak tau sama sekali, siapa yang akan menjadi suaminya nanti.
"Hmm Iya Ayah," Indah menjawab dengan mata sendunya.
"Kamu jangan sedih ya sayang," kata Dimas membelai rambut anaknya
"Iya, nggak sedih Indah Yah," jawab Indah. Tetap tersenyum walaupun air matanya sudah berada di pelupuk, dan siap meluncur kapan saja yang Ia mau.
"Yaudah kita sarapan, nanti kesiangan lagi," ajak Ibu Indah.
"Iya bu," jawab Indah.
Indah Tidak memakan makanannya, ia hanya mengaduk-aduknya saja, dia masih memikirkan pertemuan nanti malam.
"Indah sayang," panggil Ibu.
"Sayang," panggil ibu sekali lagi.
"Eh iya, Bu ada apa," jawab Indah terkejut.
"Kenapa makanannya gak di makan hmm?" tanya Ibu Indah dengan lembut.
"Nggak papa kok bu, Indah udah kenyang," jawab Indah.
"Beneran udah kenyang, dari tadi kamu belum makan Ndah," kata Ibu.
"Iya Bu bener kok," jawab Indah dengan senyumnya.
"Hm Kalo gitu, Indah berangkat sekolah dulu ya Bu, Ayah takut telat nantinya." kata Indah beranjak dari kursinya.
"Assalamualaikum wr.wb," salam Indah.
"Hati-hati sayang. Waalaikumusalam wr.wb," jawab Ibu Indah.
"Lina tau bahwa anaknya tu tengah sedih, memikirkan pertemuan nanti malam, ia kenal betul, Indah adalah orang yang ceria, dan dia masih begitu tegar di hadapan orang tuanya, walaupun di hatinya ingin sekali menangis," batin Ibu Indah sedih.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Dimas.
__ADS_1
"Aku nggak papa kok," jawab Lina tersenyum.
"Yaudah, Mas berangkat dulu ya, hati hati di rumah," kata Dimas lalu mencium kening Lina.
"Iya kamu juga hati hati di jalan," kata Lina sambil mencium tangan suaminya.
"Iya sayang, Mas berangkat dulu ya. Assalamualaikum wr.wb," salam Dimas.
"Waalaikumusalam wr.wb," jawab Lina.
Setelah semuanya pergi tinggalah Lina. Sendiri di rumah, dia akan pergi untuk ke butiq temannya, ia akan membelikan gaun untuk pertemuan nanti malam yang akan di berikan kepada Indah.
"Bik Sri," panggil Lina kepada pelayan.
"Iya Nyonya," jawab Bik Sri.
"Bik saya mau keluar sebentar, jika ada yang mencari bilang saja ada keperluan ya," kata Lina.
"Iya baik Nyonya," jawab Bik Sri.
Lina pergi menggunakan mobilnya sendiri, sudah lama sekali dia tidak membawa mobil semenjak, ide untuk menghilang dan menyelamatkan diri dari para musuh bisnis yang mengintainya.
Indah di dalam mobilnya, tidak bisa lagi menahan kristal putih yang sudah lama ia tahan, krital putih itu meluncur tanpa aba aba, sesak di dadanya semakin menjadi, Indah menangis sekencang-kencangnya di dalam mobil.
"Apa aku salah sudah menerima perjodohan ini? apa aku harus bicara kembali bahwa aku menolaknya?".
Tapi,
Aghhhhh ...,
"Pernikahan ini saja atas dasar terpaksa, lalu apa akan berjalan dengan baik," batin Indah, dengan berderai air mata yang belum berhenti.
Sesampainya di sekolah Indah memarkirkan mobilnya. Indah harus terima dan mungkin ini sudah takdirmu.
"Jangan pernah melawan takdir tapi hadapi, dan berdamilah dengan takdir" batin Indah memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Sebelum Indah turun dari mobil, Ia mengelap sisa-sisa air matanya, ia tidak mau nanti di introgasi oleh temennya, yang super duper kepo, siapa lagi kalo bukan Mawar.
Setelah memastikan tidak ada lagi sisa air mata, Indah turun dan tidak sengaja, pandangan dia bertemu dengan pandangan Kak Veli yang saat itu juga. Baru turun dari motornya.
Beberapa detik berikutnya, Indah tersadar dan langsung menunduk.
Indah berjalan begitu saja melewati Kak Veli yang jelas-jelas berada di depannya, tanpa menyapa, Indah berjalan dan sikap Indah membuat Kak Veli khawatir, jika terjadi sesuatu dengan Indah.
"Indah, tunggu, Ndah," panggil Kak Veli, sambil berlari menyusul Indah.
Tidak di hiraukan Indah panggilan dari ak Veli, ia terus berjalan dan sampai akhirnya, ada sebuah tangan kekar yang memegang pergelangan tangannya, dan membawa Indah ke roothof. Ya tangan tersebut adalah tangan Kak Veli, Sesampainya di atas
Kak Veli langsung mendekap Indah, tanpa di sadari Indah menangis di dada bidang Kak Veli, ia menangis sampai tersedu sedu.
"Menangislah jika itu membuatmu tenang," kata Kak Veli.
Indah masih menangis, menurutnya nyaman berada di dekapan Kak Veli, dan sampai menit berikutnya. Indah sadar dan langsung menjauh dari dekapan Kak Veli.
__ADS_1
"Maaf Kak," kata Indah menunduk.
Kak veli mendekati Indah dan ia memegang pundak Indah.
"Kamu kenapa, coba cerita?" tanya Kak Veli.
"Aku nggak papa kok Kak," jawab Indah tetap memaksakan senyum.
"Nggak papa gimana, liat nih ingusmu nempel di baju Kakak" kata Kak Veli ingin mencairkan suasana.
Indah melihat ke arah baju Kak Veli, ternyata benar, ada ingusnya yang menempel sewaktu menangis tadi.
"Aduh bikin malu aja dah gua," batin Indah menutup mukanya.
"Kenapa itu mukanya di tutup hmm?" tanya Kak Veli.
"Maaf kak," kata Indah.
"Iya Gak papa kok, anggap aja kenang-kenagan dari kamu," ucap Kak Veli tersenyum.
"Kenang-kenagan gimana, itu jorok kak," jawab indah
"Walau jorok, kan dari kamu juga aku ikhlas kok," jawab Kak Veli dramatis.
"Ih Kak, gak bagus kali aktingnya," kata Indah.
"Oh Gitu ya, heheh," jawab Kak Veli cengengesan.
"Ndah tatap kakak!" perintah Kak Veli
"Apapun masalah kamu, dan sebesar apa pun masalahnya, jangan kamu pendam sendiri, ceritakanlah ke Kakak, Kakak siap kok untuk mendengarnya," kata Kak Veli serius.
Tanpa terasa kristal bening itu pun jatuh kembali, tanpa di beri perintah dari yang punya, Indah sangat terharu, dengan sikap yang di tunjukkan Kak Veli terhadapnya.
"Terima kasih ya kak," itulah kata yang terucap dari bibir Indah.
"Iya sama-sama," jawab Kak Veli.
"Boleh Kakak peluk kamu lagi?" tanya Kak Veli.
Indah hanya menganggukan kepala tanda boleh.
Tanpa ada aba-aba kak veli memeluk Indah.
Oke guys sampai di sini dulu😍
jangan lupa like dan vote ya
serta ikuti akun aku.
Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu
like dan vote dari kalian ya😊.
__ADS_1
SalamManis♡.