Menikah Muda Karena Terpaksa

Menikah Muda Karena Terpaksa
Bab 119


__ADS_3

Rangga keluar dari ruang ganti, ia langsung berjalan menuju ranjang. Rangga melihat Indah yang telah terlelap tidur.


"Kamu cantik, saat kondisi apa pun," ujar Rangga tersenyum ke arah Indah.


"Selamat tidur my wife, I Love You," ujar Rangga lalu mencium kening Indah cukup lama.


Rangga juga ikut merebahkan dirinya di samping Indah, ia juga langsung memejamkan matanya untuk mengikuti Indah menuju alam mimpi.


Pagi hari menyapa, hari ini cuaca tidak mendukung seperti biasanya, cuaca hari ini sangat mendung.


Indah sudah bangun setelah azan subuh, ia seperti biasa menjakankan kewajibannya sebagai umat muslim.


Setelah sholat, Indah membereskan pakaiannya dan pakaian Rangga yang akan mereka pakai hari ini.


Indah berjalan menuju ranjang untuk membangunkan Rangga, itu adalah rutinitas yang harus di lakukan Indah sebagai istri.


"Sayang," ujar Indah lalu mencium Rangga di pipinya.


"Hmm,".


"Sayang ayo bangun, udah mau siang nih, nanti telat loh kamu ke kantornya," ujar Indah membangunkan Rangga.


"Morning kiss dulu sayang," ujar Rangga setengah sadar.


Indah langsung memberikan morning kiss kepada suaminya, ini juga adalah salah satu rutinitas Indah juga supaya Rangga bangun dari tidurnya.


"Terima kasih my wife, aku mau mandi dulu ya," ujar Rangga lalu mencium kening Indah.


Rangga bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi, Indah juga menyiapkan buku yang akan dia bawa untuk hari ini.


Setelah semuanya selesai, Indah dan Rangga turun ke bawah menuju meja makan, tapi kali ini Indah sedari tadi sudah menyiapkan bekal yang akan dia bawa, begitu juga dengan Rangga.


"Pagi Ma, Pa," sapa Indah kepada mertuanya.


"Pagi sayang," jawab Mama Vania.


"Pagi juga Nak," jawab Papa Dika.


"Ma, Pa Indah sama Rangga pergi dulu ya, kami juga bawa bekal untuk nanti," jelas Indah.


"Benar kalian nggak sarapan di rumah," ujar Mama Vania.


"Nggak Ma, hari ini Indah ada ulangan harian dan itu jam pertaman, makanya Indah udah siapin bekal untuk nanti," jelas Indah kepada Mama Vania.


"Oh baiklah, kalian hati-hati ya, Ranggq kamu bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut," ujar Mama Vania memperingatkan.


"Iya Ma, Rangga pamit juga ya," ucap Rangga.

__ADS_1


"Iya syaang," jawab Mama Vania.


"Assalamualaikum," salam Indah dan Rangga bersama.


"Waalaikumusalam wr.wb," jawab Mama Vania dan Papa Dika.


Rangga melajukan mobilnya membelah jalan raya, kendaraan pagi ini


sudah memadati jalanan ibu kota. Banyak para pengendara yang tidak sabar untuk melajukan kendaraan mereka.


Indah di dalam mobil masih sempat untuk belajar, semalam ia lupa kalau hari ini ada ujian, Indah fokus menghapalkan beberapa poin yang ia kira akan masuk ke dalam soal nanti.


"Sayang," panggil Rangga sekilas menoleh kearah Indah.


"Hmm," jawab Indah, ia masih fokus dengan buku yang ada di pangkuannya.


"Ya udah lanjut aja dulu," ujar Rangga, ia tahu kalau istrinya lagi belajar untuk ujian yang akan dia hadapi nanti.


Rangga telah memberhentikan mobilnya di depan gerbang sekolah Indah, Indah belum sadar jika dirinya telah sampai di sekolah. Rangga hanya tersenyum melihat keseriusan Indah dalam belajar.


"Sayang," panggil Rangga sambil mengusap rambut Indah.


"Iya kenapa," jawab Indah menoleh kearah sang suami.


"Kita sudah sampai sayang, kamu nggak mau masuk," ujar Rangga memberitahu.


"Ha! kok kamu nggak kasih tahu aku sih," ujar Indah kalang kabut. Ia langsung memasukkan buku yang dia keluarkan dari dalam tasnya dan berjanjak untuk keluar dari dalam mobil.


Rangga yang melihatnya hanya tersenyum sambil menahan tawanya, ingin sekali Rangga tertawa melihat tingkah Indah saat ini.


"Sayang kok aku gak bisa keluar sih," ujar Indah merengek ke Rangga.


"Hahaha ...," Rangga tertawa sekencang-kencangnya.


"Ihh kok malah ketawa, aku mau masuk ke dalam nanti telat lagi," ujar Indah memanyunkan bibirnya.


"Sayang, kamu lupa gak lepas pengamannya, makanya kamu nggak bisa keluar," ujar Rangga yang masih tertawa.


"Hehe, iya aku lupa," ujar Indah langsung melepaskan sabuk pengamannya dan keluar mobil sambil menutup mukanya.


Saat ini Indah malu dengan tingkahnya yang ceroboh, apa lagi di depan suaminya tadi sunggu itu adalah momen yang malu sekali.


"Kok bisa lupa si Ndah, kenapa coba harus terburu-buru tadi keluarnya, malu sendiri kan," gerutu Indah sepanjang jalan.


Banyak pasang mata yang melihat Indah mengomel-omel di sepanjang jalan koridor, tapi tidak ada satu orang pun yang menegurnya.


Di pertengahan jalan Indah bertemu kembali dengan laki-laki yang kemarin di depan gerbang sekolah.

__ADS_1


"Ndah," panggilnya.


"Eh iya kenapa," jawab Indah.


"Mau ke kelas," tanya laki-laki tersebut.


"Iya," jawab Indah singkat.


"Aku duluan ya," ujar Indah lansung berjalan meninggalkannya.


"Kamu tidak berubah Ndah, masih saja seperti dulu," gumamnya tersenyum.


Sesampainya di depan jelas Indah berhenti sejenak, ia melihat ke arah kursi yang biasa di tempati Mawar dan juga Davin, Indah kembali sedih melihat itu. Biasanya Mawar sudah lebih dulu duduk menunggunya, begitu juga Davin dengan gaya yang cool dia duduk sambil memainkan ponsel yang dia bawa.


Indah masuk dan duduk di kursinya, ia kembali mengeluarkan bukunya untuk belajar beberapa menit, begitu juga dengan siswa dan siswi lain, mereka juga duduk di kursi masing-masing sambil belajar.


Guru yang akan memberikan ulangan nanti bisa di bilang killer, karena setiap dia yang mengawas ujian, tidak ada yang boleh nyontek apa lagi menyiapkan jawabannya.


Suara bel masuk berbunyi, semua murid berjalan menuju kelas mereka masing-masing. Di dalam kelas Indah tengah mengatur nafasnya, ia harap bisa menyelesaikan ulangannya nanti.


Terdengar suara hentakan sepatu, itu sudah di pastikan guru yang akan masuk hari ini.


"Selamat pagi anak-anak," sapa guru yang bername tag Siregar.


"Selamat pagi, Pak," jawab semua murid serentak.


"Baiklah, silahkan masukkan semua yang ada di meja ke dalam tas kalian, lalu letakkan tas kalian di depan, paham," ujar Pak Siregar memberitahu.


"Paham Pak," jawab semua murid.


Semuanya melettakkan tas di depan kelas, setelah semuanya telah selesai. Pak Siregar mengeluarkan kertas ulangannya.


"Kerjakan semuanya dengan teliti, jangan ada yang menyontek atau menyiapkan jawaban, jika itu terjadi kalian semua tidak ada nilai," ujar Pak Siregar dengan nada serius.


"Baik Pak," jawab semua murid.


"Bapak kasih waktu sembilan puluh menit untuk menjawab soal, setelahnya lima belas menit untuk mengumpulkan jawaban kalian," jelas Pak Siregar.


"Baik Pak," jawab mereka sekali lagi.


Semua siswa dan siswi sibuk membaca soal yang di berikan, di dalam kelas tidak ada yang bersuara, hening tercipta. Indah kelihatannya lancar menjawab soal yang di berikan.


Oke guys sampai di sini dulu😍,


jangan lupa like dan vote ya


serta ikuti akun aku.

__ADS_1


Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.


SalamManis♡.


__ADS_2