
Rangga pergi keluar menemui dokter yang merawat perempuan tadi dan dia menghampiri ruangannya Yang tertulis di depan pintu terdapat nama Dokter Dafa
Rangga langsung memasuki ruangan tersebut, dan dia melihat seseorang yang memakai jas putih, tengah sibuk melihat berkas berkas yang terdapat di atas mejanya.
"Selamat siang dokter," saoa Rangga.
"Iya siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter.
"Saya mau tanya, perempuan yang di rawat di ruangan VVIP Melati namanya siapa?" tanya rangga.
"Oh sebentar," jawab Dokter Dafa.
Dokter dafa mengambil arsip atas nama Cika Felisa.
"Namanaya Cika felisa," ujar dokter Dafa.
"Oh baiklah terima kasih," jawab Rangga.
"Maaf ada perlu apa Anda menanyakannya," ujat dokter Dafa.
"Saya Rangga Luis, dan Mama saya memerintahkan saya untuk menemaninya," ujar Rangga dengan raut wajah dinginnya.
Mendengar marga Luis, dokter Dafa terkejut dan ia langsung bangkit dan membungkukan badannya tanda hormat.
"Maaf Tuan atas kelancangan saya," ujar dokter Dafa meminta maaf.
"Tidak masalah, saya permisi," ujar Rangga.
"Maaf, mari saya antar," kata dokter Dafa.
"Tidak perlu, lanjutkan saja semua pekerjaanmu," ujar Rangga.
"Baik tuan," jawab dokter Dafa.
Rangga keluar dari ruangan dokter Dafa, dan dia senang, karena telah mengetahui nama perempuan tadi, senyum tipis selalu terukir di wajahnya.
Tidak tahu kenapa, dia senang sekali bertemu dengan wanita yang akan di nikahkan bersamanya.
Rangga memasuki ruangan Cika, dia melihat Cika lagi melamun, dan makanan yang dia beli tadi, belum sama sekali di pegang, semuanya masih utuh.
"Cika kok belum makan," panggil rangga
"Cika," panggil Rangga lagi.
Cup ...,
Rangga mencium pipi Cika, dan dia tersenyum melihat ekspresi kaget dari Cika
"Ihh main nyosor-nyosor aja kayak angsa, belum muhrim juga udah di mesumin terus," ujar Cika kesal.
"Biarin salah sendiri, gak jawab panggilan aku tadi," ujar Rangga tidak mau kalah.
"Emang kamu panggil aku, kapan?" tanya Cika kikuk.
"Dua tahun yang silam," ujar Rangga ngasal.
"Ihh nyebelin banget sih," ujar Cika cemberut.
"Jangan di gituin dong muka sama bibirnya, nanti aku nyosor lagi," ujar Rangga tersenyum.
"Hoh, oh oke nggak gitu lagi deh muka sama bibir aku," kata Cika, kaget seketika merubah ekspresi wajahnya.
"Kamu kenapa belum makan?" tanya Rangga.
__ADS_1
"Kamu liat gak tangan aku," ujar Cika.
"Iya aku liat," jawab Rangga.
"Itu tau," jawab Cika acuh.
"Terus hubungannya sama makan apa?" tanya Rangga bingung.
"Ihh kok lelet banget sih nangkepnya, kamu kan CEL masa iya, seorang presdir gak cerdas," sindir Cika.
"Iya aku nggak ngerti sayang," ujar Rangga dengan mudahnya memanggil sayang.
"Tangan aku masih kaku buat di gerakin, jadi gak bisa untuk makan, kecuali kamu yang suapin aku, kemarin aja Mama suapin aku makan," jelas cika
"Hoh, Mama berarti gak main-main ini ma perjodohannya" batin Rangga kaget.
"Sini aku suapin," ujar Rangga
"Nah gitu dong, calon suami idaman," ujar Cika langsung mencium pipi Rangga.
Rangga kaget, ini kali pertamanya dia di cium wanita lain selain Mama nya, seperti ada yang aneh di tubuhnya, jika bersentuhan dengan Cika.
Rangga menyuapi Cika dengan telaten dan sangat hati-hati, ia memperhatikan semua gerak gerik Cika saat makan, satu kata yang keluar dari mulutnya "Cantik".
Melihat Rangga menyuapinya makan, Cika sangat senang dia tidak akan mau berpisah dengan Rangga. Menurutnya Rangga adalah pria yang baik dan sangat bertanggung jawab.
Setelah menyuapi Cika makan, sekarang giliran Rangga makan, dari tadi perutnya sudah bunyi minta di isi kayaknya.
"Aku makan dulu ya," ujar Rangga.
"Iya, makan di sini aja," kata Cika.
"Iya," jawab Rangga.
Rangga yang merasa dirinya di perhatikan hanya diam, dia membiarkan Cika memperhatikannya. Toh nanti mereka akan tinggal satu rumah bahkan satu kamar jika sudah menikah, dan Rangga akan mulai belajar membuka hati untuk Cika, dia tidak mau terjebak di masa lalu yang menyakitkan, Rangga ingin tahu semua apa, yang Cika sukai dan apa yang tidak di suakai.
Setelah makan, Rangga membuang bekas makanan, mereka berdua ke dalam tong sampah. Yang telah di sediakan di luar kamar.
"Rangga," panggil Cika.
"Iya kenapa," jawab Rangga. Duduk di samping ranjang yang telah di sediakan kursi.
"Aku mau pulang, bosen aku di sini bau obat semua, lagian aku juga udah agak mendingan kok," ujar Cika menunjukkan puppy eyesnya.
Rangga gemas dan langsung mencubit kedua pipi cika.
"Ihh kok malah di cubit sih, sakit tau," kata Cika mengusap usap pipinya, yang di cubit Rangga dan dapat di pastikan pipinya merah.
"kamu mau pulang?" tanya Rangga.
"Iya aku mau pulang," jawab Cika.
"Yaudah tunggu bentar ya, aku telpon Mama sama Papa dulu, terus nanti aku mau bicara sama dokter apa kamu boleh pulang atau belum," ujar Rangga.
"hmm iya, udah sana telpon Mama. Biar Mama bisa bujuk dokter nya untuk bisa aku pulang," ujar Cika senang.
"Iya bawel bentar," ujar Rangga tersenyum.
"Aku gak bawel ya," sanggah Cika.
"terus apa?" tanya Rangga.
"Tau ah gelap," jawab Cika kesal.
__ADS_1
"Terang sayang ini nggak gelap," ujar Rangga menunjukkan deretan giginya.
"Udah sana telpon Mama, biar bisa pulang" ujar Cika. Sudah males meladeni debat dengan Rangga, ujung-ujungnya aku juga yang ngalah.
"Siap tuan putri," ujar Rangga, memberi hormat layaknya seperti upacara bendera.
Rangga mencari kontak Mama nya dan langsung menelponnya.
Panggilan terhubung.
"Assalamualaikum Ma," ujar Rangga.
"Waalaikumusalam iya kenapa nak?" tanya Mama Vania.
"Ma, Cika mau pulang, katanya bosen di sini bau obat semua," ujar Rangga.
"Yaudah kamu izin dulu sana sama dokter Dafa, Cika boleh pulang atau belum," kata Mama Vania.
"Oh iya Ma, terima kasih," ujar Rangga.
"Masih tau ya nanti, jika Cika di perbolehkan pulang, nanti Mama sama Papa nyusul kesana," kata Mama Vania.
"Iya ma siap," jawab Rangga.
"Udah dulu ya Ma. Assalamualaikum," salam Rangga.
"Iya waalaikumusalam," jawab Mama Vania.
Panggilan terputus.
"Gimana Rangga boleh ga kata Mama?" tanya Cika.
"Nanti, aku mau temui dokter Dafa dulu boleh belum kamu pulangnya," kata Rangga.
"Hmm iya," jawab Cika.
"Nanti kalo belum di bolehin, jangan sedih ya, pasti nanti kamu pulang" kata Rangga mengusap rambut Cika.
"Iya," jawab Cika.
"Yaudah aku mau ke ruangan dokter Dafa dulu, kamu di sini aja jangan kemana mana!" peringat Rangga.
"Iya sayang," jawab Cika.
Cup ...,
Rangga mencium pucuk kepala Cika.
Rangga keluar menuju ruangan dokter Dafa, lain halnya di kediaman Luis, Nyonya Vania sangat heboh, dengan telpon yang dia terima barusan dari Rangga.
Oke guys sampai di sini dulu😍
jangan lupa like dan vote ya
serta ikuti akun aku.
Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu
like dan vote dari kalian ya😊.
Untuk episode ini sampai ke berapa nanti nama Indah sementara di ganti jadi Cika Felisa ya teman-teman.
SalamManis♡.
__ADS_1