
Indah lebih dulu selesai mandi di bandingkan Rangga, ia langsung mencari pakaian yang akan dia pakai untuk ke rumah Ayah dan Ibunya.
Indah tidak mau mengubah nama panggilannya kepada orang tuanya, ia sudah terbiasa dari kecil memanggil dengan sebutan Ayah dan Ibu dan sampai sekarang pun panggilan Ayah dan Ibu masih melekat pada dirinya.
Setelah memakai pakaiannya, Rangga telah masuk kekamar dengan menggunakan pakaian rumahnya.
"Kamu sudah selesai," ucap Rangga yang melihat Indah sedang di depan meja rias.
"Sebentar lagi selesai, kita perginya sekarang ya," jawab Indah sambil mengeringkan rambutnya.
"Iya sayang," ucap Rangga, lalu mengambil alih alat pengering rambut yang Indah pakai.
"Eh aku aja sayang," ucap Indah.
"Nggak, aku aja ya," cegah Rangga.
Indah hanya duduk diam di kursi rias, ia melihat Rangga dengan telaten mengeringkan rambut Indah.
"Rambut kamu wangi banget," ujar Rangga sambil mencium rambut Indah.
"Terima kasih sayang, kan aku juga harus bisa dandan saat mau berdua sama kamu," balas Indah.
"Nggak penting kamu harus dandan atau nggak, menurut aku kamu itu udah cantik banget tanpa bantuan make up," jelas Rangga memuji sang istri.
"Terima kasih sayang," jawab Indah tersenyum manis ke Rangga.
"Sama-sama sayang," ucap Rangga.
Rangga telah selesai mengeringkan Rambut Indah, sekarang Indah sedang memakai bedak bayi dan liptins yang biasa dia gunakan.
Rangga dan Indah berjalan menuju luar rumah, mereka memasuki mobil, Rangga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar.
"Ayah ada dirumah sayang," tanya Rangga kepada istrinya.
"Iya, katanya mereka sudah pulang dari kerja," jawab Indah sambil memainkan hand phonenya.
Setelah percakapan singkat tadi, Rangga dan Indah hanya diam, Indah sibuk dengan ponselnya, ia masih mencoba menghubungi Mawar dan Davin, karena nomor mereka berdua masih akrif, yang heran sampai saat ini tidak ada balasan atau jawaban dari keduanya.
Sampailah Rangga dan Indah di kediaman Alexa, Rangga memarkirkan mobilnya di tempat parkir mobil yang di buat khusus di perkarangan rumah Alexa.
"Sayang ayo jalan." ajak Indah lalu menggandeng tangan Rangga.
"Iya sayang," jawab Rangga.
Indah dan Rangga telah masuk ke dalam rumah, Indah dan Rangga berjalan menuju ruang tamu.
"Kemana Ayah dan Ibu," tanya Indah pada salah satu pelayan yang tengah lewat.
"Mereka sedang berada di ruang kerja, Non," jawab Pelayan.
"Terima kasih, Bik," jawab Indah.
__ADS_1
"Bibik lanjut kerja lagi Non, permisi." pamit Pelayan langsung meninggalkan Indah dan Rangga.
"Sayang kita ke ruang kerja Papa yuk," ucap Indah mengajak Rangga.
"Ayo sayang," jawab Rangga.
Indah dan Rangga berjalan menuju ruang kerja Ayah Dimas, di depan pintu, Indah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Assalamualaikum, Ayah, Ibu," salam Indah sambil mengetuk pintu.
Ibu Lina mendengar suara Indah, langsung berjalan membukakan pintu. "Waalaikumsalam sayang," jawab Ibu Lina.
"Ayo masuk, Nak," ucap Ibu Lina.
"Iya Bu," jawab Indah.
Indah dan Rangga masuk ke dalam, mereka duduk di sofa.
"Sayang ada apa kamu ke sini?" tanya Ibu Lina yang telah duduk di sofa.
"Ada yang mau Indah tanyain sama Ibu dan Ayah," jawab Indah.
"Iya kamu mau tanya apa, Nak," ujar Ayah Dimas.
"Yah, aku mau tanya. Mawar sama Devin pindah kemana," ucap Indah menanyakan kedua sahabatnya.
"Sebentar Ayah tanya dulu," ujar Ayah Dimas, lalu mengambil ponselnya yang berada di dalam saku.
Tuan Dimas mencari kontak nomor salah satu staf tata usaha yang bekerja di sana.
Setelah mendapat jawaban, Tuan Dimas langsung mengakhiri teleponnya, ia berjalan kembali menuju sofa tempat Indah dan Rangga.
"Bagaimana Yah?" tanya Indah.
"Sebentar lagi akan dikirim berkasnya melalui e-mail," jawab Ayah Dimas.
"Oh baiklah," ucap Indah.
"Emang ada apa Nak, sampai kamu nanya gitu," ucap Ibu Lina, ia sendiri bingung sampai segitunya mencari keberadaan Mawar dan Davin.
"Ibu tau sendirikan, saat Indah masih berada di bawah, Mawar yang selalu ada di dekat Indah saat itu, Mawar juga yang mau berteman dengan Indah," jelas Indah kepada Ibu Lina.
"Iya Nak Ibu mengerti, tapi bagaimana kamu bisa sekhawatir itu, sedangkan dia saja tidak memberitahu kemana dan apa alasannya dia pindah," ucap Ibu Lina.
"Mungkin Mawar lupa Bu, kan Indah saat itu di beritakan pindah keluar negri," jawab Indah.
"Bisa jadi Nak," jawab Ibu Lina.
"Bagaimana Rangga dengan perusahaan yang sedang kamu ambil alih?" tanya Ayah Dimas kepada menantunya ini.
"Alhamdulillah Yah, semuanya berjalan dengan lancar," jawab Rangga dengan sopan.
__ADS_1
"Ayah selalu dukung kamu," ucap Ayah Dimas.
"Terima kasih Yah," ucap Rangga tersenyum.
Terdengar suara pesan masuk di hand phone Tuan Dimas, mungkin itu adalah e-mail yang dikirim dari sekolah tentang berkas surat pindah dari Mawar dan Davin.
"Sebentar Ayah cek dulu," ujar Ayah Dimas lalu mengecek e-mail yang masuk.
Tuan Dimas membacanya dengan teliti, ia mencari dimana Mawar dan Davin pindah. Setelah membaca semuanya, Tuan Dimas telah menegetahui kepindahan mereka.
"Bagaiman Ayah, dimana Mawar dan Davin pindah," ucap Indah yang tidak sabar mendengarnya.
"Kalau Mawar dia mengikuti orang tuanya pindah tugas di Australia, untuk Davin dia masih di Indonesia, tepatnya di Bandung," jelas Ayah Dimas.
"Ada nomor telepon yang di tinggalkan nggak Yah," ucap Indah.
"Ada Nak, ini nomor telepon orang tua Davin, dan ini nomor orang tua Mawar," ujar Ayah Dimas memperlihatkan hand phone nya kepada Indah.
"Baik Yah," jawab Indah lalu menyimpan nomor telepon orang Mawar dan orang tua Davin.
"Sudah Nak," ujar Ayah Dimas.
"Iya Yah, terima kasih," ucap Indah berterima kasih.
"Sama-sama, Nak," jawab Ayah Dimas tersenyum.
"Ayah, ada yang mau Indah kasih tau sama kalian," ucap Indah, ia ingin memberi tahu jika mereka tinggal di apartamen.
"Iya ada apa sayang," jawab Ibu Lina.
"Indah sama Rangga mau pindah Bu, kami pindah ke apartemen yang berada di dekat kantornya Rangga," jelas Indah kepada kedua orang tuanya.
"Lalu? apa Tuan Dika dan Nyonya Vania menyetujui itu?" tanya Ibu Lina.
"Awalnya Indah dan Rangga ingin membeli rumah Bu, tapi Mama Vania tidak mengizinkan," ucap Indah.
"Kalau tidak beri izin, kenapa kalian harus pindah," ujar Ibu Lina.
"Sebentar Bu, Indah belum selesai bicaranya," ujar Indah cengengesan.
"Lanjutkan," ucap Ibu Lina.
"Awalnya Mama Vania menolak, tapi kami berdua merayunya dan Mama Vania yang menyuruh kita untuk tinggal di apartemen," ucap Indah.
Raut wajah Ibu Lina berubah, sebenarnya Ibu Lina tidak setuju kalau Indah dan Rangga tinggal berdua, begitu juga dengan Ayah Dimas.
Oke guys sampai di sini dulu😍,
jangan lupa like dan vote ya
serta ikuti akun aku.
__ADS_1
Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.
SalamManis♡.