
"Kalian sabar Nak! Papa akan bantu kalian untuk keluar dari permainan mereka," batin Dimas.
Cika telah selesai mandi, sekarang Cika tengah memakai baju yang akan dia gunakan untuk pergi ke bandara.
"Sayang," panggil Rangga. Sambil memeluk pinggang ramping Cika.
"Iya, kenapa hmm?" tanya Cika.
"Maaf jika aku memberi tahu kamu secara mendadak, aku tidak tega membangunkan kamu," ujar Rangga.
"Sudahlah Kamu tidak salah, seharusnya akulah yang salah. Karena semalam telah mengabaikan kewajibanku sebagai istri," jawab Cika.
"Itu tidak masalah, aku juga lihat. Kelelahan wajahmu?" ujar Rangga.
"Iya," jawab Cika.
Cika berjalan menuju meja rias, di sana dia akan memake up dirinya.
"Kamu bisa sayang menggunakan make up?" tanya Rangga.
"Aku juga gak tau," jawab Cika.
"Yasudah pakailah bedak bayi dan liptin yang pernah kamu pakai," ujar Rangga.
Merasa semuanya telah selesai Rangga dan Cika turun kebawah, mereka ingin pamit kepada orang tua Rangga.
Sesampainya di bawah, Tuan Dika dan istri telah menunggu.
"Ma, Pa," panggil Rangga.
"Kalian sudah siap Nak!" seru mama Vania.
"Iya Ma, kami sudah siap," jawab Rangga.
"Kalian hati-hati dijalan ya," ujar mama Vania.
"Iya Ma, kalau begitu kami pamit dulu. Assalamualaikum," salam Rangga.
"Iya Nak. Waalaikumusalam wr.wb," jawab orang tua Rangga.
Cika hanya diam, didalam hati ada perasaan yang mengganjal.
"Ada apa dengan perasaanku," batin Cika.
Rangga dan Cika memasuki mobil yang akan mengantar mereka ke bandara.
"Semuanya sudah siap Pak?" tanya Rangga kepada pak Ujang.
"Semuanya telah siap Tuan, hanya tinggal berangkat saja," jawab pak Ujang.
"Baiklah, sekarang kita berangkat," ujar Rangga.
"Ayo sayang," ajak Rangga kepada Cika.
"Sayang," panggil Rangga.
"Cika, sayang," panggil Rangga sekali lagi.
"Ha, iya kenapa," jawab Cika kaget.
"Ayo sekarang kita berangkat," ujar Rangga.
"Ayo," ujar Cika.
Cika dan Rangga telah berada di mobil.
"Pak sekarang," ujar Rangga.
"Baik Tuan," jawab pak Ujang.
__ADS_1
Perjalanan menuju bandara pribadi dari keluarga Luis hanya memakan waktu tiga puluh menit.
Sesampainya dibandara, sudah ada petugas yang membawa semua barang Rangga dan Cika.
"Pilot Rayhan telah tiba?" tanya Rangga kepada salah satu petugas.
"Sudah Tuan," jawab Petugas.
"Baiklah," ujar Rangga.
Sepanjang perjalanan Cika melamun, ia tidak tahu ada apa dengan dirinya.
"Apa akan terjadi sesuatu," batin Cika.
"Kamu kenapa sayang," tanya Rangga sepanjang jalan menuju pesawat.
Tiba-tiba, terdapat helikopter yang mendarat, semua orang melihat helikopter tersebut.
Rangga mengamati setiap inci bagian helikopter, ia tidak menemukan adanya tanda kepemilikan Luis.
"Siapa yang berani mendaratkan helikopter disini!" teriak Rangga.
"Maaf Tuan kami tidak mengetahui," jawab Pramugari.
Cika kaget akan teriakan Rangga, ia melihat helikopter yang mendarat, lalu turunlah seorang pria paruh baya, namun masih memiliki kharisma yang sangat kuat.
Rangga kaget saat melihat siapa yang mendaratkan helikopter tersebut, dia adalah Tuan Kenz.
Rangga kenal betul siapa Tuan Kenz, ia adalah pemilik perusahaan mobil terbesar se-Asia.
"Selamat pagi menjelang siang Tuan muda Luis," sapa Tuan Kenz.
"Selamat siang," jawab Rangga.
Ia masih heran kenapa Tuan Kenz bisa masuk ke area pribadi keluarga Luis.
"Apa kabar, apa anda kaget dengan kedatangan saya," ujar tuan Kenz.
"Aku kesini hanya ingin bersenang-senang, dan kau bilang, kenapa bisa helikopter ku bisa masuk, itu hak yang mudah," jawab Tuan Kenz.
"Maaf kami ada urusan, permisi," ujar Rangga.
"Kenapa buru-buru sekali, ayolah bermain sebentar," ujar Tuan Kenz sambil tertawa.
Di bagian dalam bandara, sudah ada Tuan Dika yang mengambil alih. Tuan Dika masuk menggunakan mata-mata yang dia suruh untuk bekerja di bandara keluarga Luis.
"Rangga siapa dia?" tanya Cika.
"Dia pengusaha sayang," jawab Rangga.
"Indah apa kamu tidak mengenali mertuamu?" tanya tuan Kenz.
Rangga kaget mendengar kata mertua, begitu juga dengan Cika, ia tidak kalah kaget mendengar nama Indah.
"Maaf ada hubungan apa anda dengan istri saya?" tanya Rangga.
"Apa! istri," ujar Tuan Kenz.
"Iya, dia istri saya. Apa anda mengenalinya," ujar Rangga.
"Iya saya sangat mengenalnya," jawab tuan Kenz.
Rangga sangt panik, ia tidak tahu mau berbuat apa.
"Ada apa ini, kenapa semuanya melihat seperti itu," batin Rangga, melihat semua petugas bandara.
"Kami harus pergi, maaf meninggalkan anda," ujar Rangga langsung menggandeng tangan Cika menuju pesawat.
Duar ...
__ADS_1
Duar ...
Duar ...
Terdengar suara pistol yang di tembakkan keudara.
"Selangkah lagi anda membawa putri saya, tamat riwayat kau!" teriak tuan Dika.
Rangga dan Cika berhenti, Rangga sangat mengenali siapa pemilik suara tersebut.
"Rangga ada apa ini, siapa mereka," ujar Cika ketakutan.
"Tenanglah," jawab Rangga.
"Tuan muda Luis, Rangga setia Luis, pri tampan yang terkenal arogan dan tempramen bisa di kendali dengan satu wanita," ujar tuan Dika.
"Maaf saya tidak ada urusan dengan anda," jawab Rangga.
"Kau tidak punya urusan dengan saya. Tapi, kami yang mempunyai urusan dengan saya," jawab Tuan Dika.
"Maaf Tuan siapa?" tanya Cika.
"Bahkan kamu tidak mengenali ayah Nak," batin tuan Dika sedih.
"Apa kamu tidak mengenali ayah Nak!" seru tuan Dika.
"Ayah, maaf orang tua saya sudah lama meninggal, dan kalian ada apa datang kemari?" tanya Cika.
Cika kaget dengan pria yanh mengaku sebagai ayahnya.
"Apa kamu tidak ingat dengan Ayah Indah," ujar Tuan Dika.
"Sudahlah Tuan, dia tidak mengetahui siaoa anda, kami ada urusan permisi," ujar Rangga.
Tuaan Dimas datang, dia mengetahui jika Rangga dalam bahaya, Dimas segera menuju bandara menggunakan mobilnya.
"Tuan Dimas," ujar tuan Dika.
"Tuan Dika," ujar tuan Dimas.
"Senang berjumpa dengan anda, maaf saya tidak bisa terlalu lama mengikuti permainan kalian," ujar tuan Dika.
Papa Dimas memberi kode kepada Rangga untuk segera pergi, Tuan Dika telah mengetahui gerak-gerik yang di perlihatkan Rangga.
"Selangkah anda bergerak, bandara ini akan hancur," ujar tuan Dika menatap tajam Rangga.
"Cepat bawa Indah!" perintah tuan Dika kepada salah satu mata-matanya yang bertugas. Ia adalah bodyguard yang bekerja di bandara Luis.
"Baik Tuan,". jawab Bodyguard.
Mereka langsung memabawa Cika dari genggaman Rangga.
"Lepaskan istri saya!" teriak Rangga.
"Tuan Dika, sebaiknya kita bicaraka dengan kepala dingin jangan seperti ini," ujar Dimas.
"Apa kepala dingin, kalian terlebih dahulu yang memulai permainan, lalu untuk apa untuk menghentikannya," ujar Tuan Dika tertawa.
Dika geram dengan sikap yang di tunjukkan Dimas, menurutnya ity sangat tidak pantas di lakukan bagi pengusaha sepertinya.
Oke guys sampai di sini dulu😍,
jangan lupa like dan vote ya
serta ikuti akun aku.
Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.
Untuk episode ini sampai ke berapa nanti nama Indah sementara di ganti jadi Cika Felisa ya teman teman.
__ADS_1
SalamManis♡.