Menikah Muda Karena Terpaksa

Menikah Muda Karena Terpaksa
Bab 128


__ADS_3

Rangga langsung mematikan teleponnya, ia bergegas kembali mengambil kunci mobil.


Ya Rangga pergi menuju sekolah Indah, ia tidak ingin jika Indah sedih nanti mendegar kabar ini.


Rangga membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, karena jalanan masih sepi dan kendaraan belum banyak yang lalu lalang.


Sesampainya di sekolah, Rangga langsung menuju ruang kepala sekolah untuk membawa Indah, Rangga juga tau jika dirinya bisa tidak izin untuk membawa Indah.


Sesampainya di sana, Rangga langsung saja masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Selamat pagi," ujar kepala sekolah menyaoa Rangga.


"Pagi," jawab Rangga dingin.


"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu," ujar kepala sekolah bertanya.


"Saya izin membawa Indah untuk hari ini," ucap Rangga to the poin.


Kepala sekolah merasa tidak asing dengan pria yang ada di hadapannya, ia begitu mengenal pria tersebut.


"Maaf apa Tuan bernama Rangga," ujarnya bertanya.


"Saya," balas Rangga.


"Maaf Tuan, saya tidak begitu fokus jika itu dirimu," ujar kepala sekolah langsung bangkit dan memberi salam hormat.


"Tak apa, saya mengerti," jawab Rangga masih dengan sifat cueknya.


"Baik, kalau begitu mari saya antar menuju kelas Indah," ajak kepala sekolah.


Rangga hanya mengangguk tanda iya, Rangga berjalan mengikuti kepala sekolah menuju kelas Indah.


Berhubung waktu sudah menunjukka jam pelajaran, sesampainya di depan kelas Indah. Kepala sekolah langsung masuk dan menghampiri guru yang sedang mengajar pada saat itu.


"Selamay pagi Bu Diana," sapa kepaka sekolah.


"Pagi Bu, ada yang bisa saya bantu," jawab Ibu Diana.


"Ada yang ingin saya sampaikan kepada salah satu siswi di kelas ini, boleh minta waktunya," ujar kepala sekolah.


"Boleh Bu, silahkan," jawabnya.


"Pagi Anak-anak," sapa kepala sekolah.


"Pagi Bu," jawab mereka bersamaan.


Indah hanya diam, ia memilih memikirkan keberangkatan suaminya besok. Apa ia siap?


Bimbang itulah yang di rasakan Indah saat ini


"Indah," panggio kepala sekolah.


"Saya Buk," jawab Indah.

__ADS_1


"Mari ikut Ibu." ajak kepala sekolah.


"Baik Buk," jawab Indah, lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mengiringi kepala sekolah.


Rangga sedari tadi menunggu di depan ruang kelas Indah, ia duduk di sana sambil memainkan ponselnya.


"Tuan Rangga," ucap kepala sekolah.


Rangga segera memasukkan kembali hand pone nya ke dalam saku celana.


"Ya," jawab Rangga.


"Rangga," batin Indah.


"Ini siswi yang Bapak maksud?" tanya kepala sekolah.


"Iya," jawab Rangga menunjukkan muka dinginnya.


"Kalau begitu saya pamit," ucapnya lalu menunduk tanda salam hormat.


"Terima kasih," ujar Rangga.


"Sayang," panggil Rangga langsung mengubah ekspresi wajahnya.


"Kamu ngapain ke sini," ujar Indah bertanya kepada suaminya.


"Ayo ikut aku sekarang." ajak Rangga langsung menarik tangan Indah.


Indah hanya diam mengikuti Rangga dari belakang, ia sendiri tidak tahu apa maksud kedatangan Rangga.


"Kita mau kemana?" tanya Indah kepada suaminya.


"Nanti kamu tahu ya sayang," jawab Rangga tersenyum.


"Hm."


Hanya itu yang Indah ucapkan, ia sendiri bingung dengan kedatangan tiba-tiba suaminya, dan langsung mengajak keluar.


Sesampainya di suatu tempat yang sepertinya sudah di hias secantik mungkin dan telah di tata rapi.


Rangga dan Indah berjalan menuju tempat tersebut, Indah kagum dengan pemandangan yang di suguhkan, sungguh membuat mata siapa saja takjub dengan keindahannya.


"Sini sayang." ujar Rangga. Yang hanya di balas anggukan kepala oleh Indah.


"Kamu yang siapain semua ini?" ujar Indah bertanya.


"Iya sayang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu," jawab Rangga tersenyum hangat kearah Indah.


"Tapi sebelum itu, aku ingin kamu tersenyum manis ke arah aku," pinta Rangga.


"Ha! maksud kamu? bukannya kamu sering lihat senyum Aku setiap hati sayang," ujar Indah kaget dengan permintaan Rangga kepadanya.


"Jadi begini sayan," ujar Rangga sambil menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Iya," jawab Indah.


"Sore ini aku akan pergi ke luar negri, untuk mengurua masalah perusahaan di sana," ucap Rangga menjelaskan.


Indah diam, dirinya sendiri tidak tahu harus bicara apa, di satu sisi itu adalah pekerjaa Rangga yang tidak bisa di tinggalkan dan di sisi lain apa dirinya sanggup jika berjauhan dengan Rangga.


"Sayang," panggil Rangga mendekatkan kursi mereka.


Indah hanya diam, berat bagi dirinya untuk memberi izin, ia juga tidak bisa ikut karena akan ada ujian akhir semester yang mau tidak mau harus ia laksanakan.


"Kamu di sana berapa hari?" tanya Indah.


"Paling lama satu bulan, tapi aku akan kerja dengan cepat. Supaya bisa pulang lebih cepat," jawab Rangga.


Tidak ada hujan yang turun, namun pipi Indah basah dengan air matanya sendiri.


"Kamu jangan sedih sayang," ujar Rangga lalu mendekap tubuh Indah.


"Aku takut kamu di sana kenapa-kenapa, aku takut jika kamu di sana akan menemukan wanita yang lebih baik dari aku," ujar Indah sambil menangis sesegukan.


"Huts, sayang kenapa kamu berpikiran seperti itu, walau bagaimana pun kamu adalah orang paling cantik di mata aku. Kamu berdoa ya semoga nanti aku di sana baik-baik aja, nanti aku setiap jam akan menelpon kamu atau mengirim kamu pesan. Ingat hand phone kamu harus aktif terus ya, aku yang akan khawatir di sana nanti kalau kamu ngga kasih kabar sama aku," ucap Rangga panjang lebar.


"Kapan kamu akan ke bandara?" ucap Indah bertanya.


"Satu jam lagi aku akan ke bandara, kamu nanti kamu akan ikut mengantar," jawab Rangga.


"Mama sama Papa sudah tau tentang ini," ujar Indah bertanya kembali.


"Mama sama Papa sudah tau, mereka pasti sudah mengurus semuanya," jawab Rangga.


Indah melepaskan dekapan Rangga, ia kembali menatap wajah Rangga. Wajah yang akan dirinya rindukan setiap malam, wajah yang tidak akan pernah hilang dari pikirannya.


"Sayang nanti kalau kamu di sana jangan lupa bangun pagi, sholat, mandi, sarapan dan makan teratur ya, aku akan pantau kamu terus di sana," ujar Indah.


"Siap sayang, kebiasaan di rumah akan aku bawa nanti di sana," jawab Rangga tersenyum manis.


"Ya sudah ayo kita pulang, ambil barang bawaan kamu." ajak Indah.


"Masalah itu sudah ada supir yang antar, pokonya hari ini aku ingin senang-senang sama kamu sayang," ucap Rangga membelai pipi Indah.


"Kamu jangan sedih ya, air mata ini yang membuat aku tidak tega meninggalkan kamu," lanjut Rangga.


"Iya sayang," jawab Indah tersenyum. Menutupi kesedihannya.


Jika boleh jujur, dirinya sangat sekali ingin menangis mendengar informasi ini.


Oke guys sampai di sini dulu😍,


jangan lupa like dan vote ya


serta ikuti akun aku.


Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.

__ADS_1


SalamManis♡.


Maaf untuk beberapq hari belum bisa update, karena sinyal disini lagi ada.


__ADS_2