
"Ya sudah kita ambil yang ini, apa kamu mau beli yang lain lagi?" tanya Rangga kepada istrinya.
"Nggak, ini aja udah, ayo sekarang kita ke kasir buat bayar," ujar Indah lalu menarik tangan Rangga.
"Pelan-pelan sayang," ucap Rangga yang melihat tingkah Indah seperti anak kecil.
"Heheh," ujar Indah cengengesan.
Indah menyerahkan boneka yang dia pilih kepada mbak kasir, lalu Rangga mengeluarkan kartu debit untuk membayar boneka yang istrinya beli.
Setelah membayar, Rangga dan Indah keluar dari toko tersebut, mereka akan pulang ke rumah, Indah membawa boneka menuju parkiran mobil, sedangkan Rangga membawa alat-alat sekolah yang dibeli oleh Indah tadi.
"Sayanh bonekanya letakkan di belakang aja ya," ujar Rangga.
"Awas hati-hati ya," jawab Indah lalu memberikan boekanya kepada Rangga.
Pertama Rangga meletakkan alat-alat sekolah Indah terlebih dahulu, lalu baru meletakkan boneka yang ukuran besar di jok belakang.
"Sudah," ucap Indah.
"Iya, silahkan tuan putri," ujar Rangga membukakan pintu mobio untuk Indah.
"Terima kasih sayang," ujar Indah.
Itulah kebiasaan yang biasa Rangga lakukan kepada Indah, selalu saja melakukan hal-hal sederhana yang membuat Indah senang.
"Sayang seperti biasa," ujar Rangga yang biasa mengingatkan menggunakan sabuk pengaman.
"Sudah sayang, sekarang kita pulang dan beritahu sama Mama dan Papa masalah pertemuan antara Ibu dan Ayah aku," ujar Indah mengingatkan Rangga.
"Hampir aja lupa aku," ujar Rangga menepuk jidatnya.
"Tuhkan, untung saja aku ingetin," ucap Indah tersenyum.
"Iya sayang," ujar Rangga lalu mencium kening Indah.
Rangga dan Indah pulang ke kediaman keluarga Luis, mereka akan menyampaikan kepada Mama dan Papa masalah pertemuan nanti yang pastinya akan membahas masalah pindahan mereka.
Perjalanan menuju rumah telah sampai, Indah dan Rangga keluar dari mobil sambil membawa barang belanjaan mereka.
"Sayang aku mau ke dapur dulu ya, mau minum," ujar Indah.
"Iya sayang, sini bonekanyq biar aku yang bawa ke kamar," ucap Rangga.
"Hati-hati ya sayang," ucap Indah.
Indah dan Rangga berpisah di depan tangga, Rangga melanjutkan perjalanannya menuju kamar dan Indah pergi ke dapur.
"Mama," ucap Indah yang melihat Mama Vania sedang berada di dapur membantu masak.
"Ada kamu sayang," ucap Mama Vania yang masih sibuk dengan masakannya.
"Banyak banget masaknya," ucap Indah.
__ADS_1
Indah melihat ada berbagai macam jenis masakan yang dimasak dan ada beberapa juga yang belum dimasak.
"Iya Nak, nanti malam ada rekan bisnis Papa yang mau datang," ujar Mama Vania yang masih sibuk dengan alat masaknya.
"Oh teman bisnis Papa," ujar Indah beroh ria.
"Kalian sudah pulang," ujar Mama Vania bertanya.
"Baru saja kami sampai, Ma," jawab Indah.
"Ya sudah sana ke kamar kamu bersih-bersih dulu, setelah itu bantuin Mama ya masak disini," jelas Mama Vania meminta bantuan Indah.
"Siap Ma," jawab Indah dengan semangat empat lima.
"Kmau ini," balas Mama Vania tersenyum melihat tingkah Indah.
Indah berjalan menuju kamar, sesampainya di kamar Indah tidak melihat Rangga.
"Kemana Dia," gumam Indah.
Ia melihat sekeliling kamarnya untuk mencari Rangga, Indah berjalan menuju kamar mandi, kamar ganti pakaian dan yang terakhir Indah pergi menuju rotoof yang berada di kamarnya, ternyata Rangga sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.
"Sayang," panggil Indah menghampiri Rangga.
"Iya," jawab Rangga lalu meletakkan ponselnya di atas meja yang telag di sediakan.
"Kamu lagi apa disini,?" tanya Indah langsung duduk di samping Rangga.
"Nggak lagi apa-apa, cuma menikmati udara sore ini aja," jawab Rangga menyilahkan anak rambut Indah.
"Belum, aku masih nungguin kamu," jawab Rangga tersenyum hangat kearah Indah.
"Aku mandi duluan ya, soalnya Mama minta bantuan aku untuk masak di dapur," ucap Indah.
"Emang pelayan kemana, sampai-sampai Mama sama kamu yang masak," ujar Rangga mengerenyitkan dahinya.
"Pelayan ada di dapur, tapi cuma membantu Mama untuk mengambilkan sesuatu saja, selainnya Mama semua yang masak," jelas Indah yang melihat tadi.
"Emang ada acara apa sampai harus Mama yang masak," ucap Rangga bertanya kepada Indah.
"Mama bilang nanti ada rekan bisnis Papa yang mau datang," jawab Indah.
"Rekan bisnis, siapa?" ujar Rangga membatin.
"Kalau begitu aku mau mandi dulu ya, pasti Mama udah nungguin dari tadi," ucap Indah lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Ehh tunggu sebentar," ucap Rangga sambil mencekal pergelangan tangan Indah.
"Ada apa sayang," jawab Indah membalikkan badannya.
"Kiss dulu sayang, hari ini kamu tidak memberikan aku vitamin," ucap Rangga dengan nada manja.
"Kamu ini udah besar juga," ujar Indah tersenyum lalu mencium pipi kanan, pipi kiri, dahi dan yang terakhir di bibir Rangga.
__ADS_1
"Gimana? masih kurang," ujar Indah sengaja menggoda Rangga.
"Masih sayang, bahkan sangat-sangat masih kurang," jawab Rangga cengengesan.
"Kamu mau terakhir ini lihat aku," ucap Indah.
Seketika Rangga ingat dengan janjinya kepada mertuanya, kalau mereka berdua belum boleh melakukan hubungan suami istri.
"Hehe, nggak kok udah cukup kok yang tadi," ujar Rangga cengengesan.
Indah sudah tau kemana arah bicara Rangga yang mengatakan dirinya masih kurang, tapi apalah boleh buat mereka sudag janji belum melakukannya sebelum Indah lulus sekolah.
"Ya sudah aku permisi ya sayang," ujar Indah lalu berjalan masuk kembali kekamar.
Indah melakukan ritual mandinya yang bisa dibilang cepat, ia mandi tidak seperti wanita lain yang lama banget di kamar mandi.
Setelah mandi Indah memakai pakaian santainya lalu turun kebawah menuju dapur, yang sudah dibilang Mama Vania untuk meminta bantuan kepada Indah.
Sesampainya di dapur, Indah melihat Mama Vania masih sibuk berkutat di dapur, ia berjalan mendekati Mama Vania.
"Ma," panggil Indah.
"Eh kamu sudah selesai mandinya Nak," jawab Mama Vania.
"Sudah Ma, sekarang apa yang harus Indah bantu," ujar Indah bertanya.
"Tolong kamu kupas bawang merah, bawang putih, cabai rawit sama cabai merah ya, setelah itu blender sayang," jelas Mama Vania.
"Oke Ma, siap," ujar Indah.
Indah mengambil bahan-bahan yang dijelaskan oleh Mama Vania, ia mengupas bawang merah dan bawang putih beberapa saja, lalu Indah mengambil cabai dan mebuang tangkainya.
Setelah itu, Indah mengambil blender untuk menghaluskan ketiga bahan ini, setelah beberapa menit. Bumbu halus telah selesai, Indah memberikannya kepada Mama Vania apa yang di perintahkannya tadi.
"Ma ini sudah selesai," ucap Indah lalu memberikan bahan tersebut.
"Terima kasih sayang," jawab Mama Vania tersenyum kearah Indah.
"Setelah ini apa lagi Ma yang bisa Indah bantu," ujar Indah.
"Tolong kamu rebus air Nak," ucap Mama Vania sambil meberikan ceret.
"Baik Ma," jawab Indah dengan semangat.
Indah mengisi ceret tersebut dengan air lalu meletkkannya di atas kompor gas.
Oke guys sampai di sini dulu😍,
jangan lupa like dan vote ya
serta ikuti akun aku.
Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.
__ADS_1
SalamManis♡.