Menikah Muda Karena Terpaksa

Menikah Muda Karena Terpaksa
Bab 137


__ADS_3

“Kadang kala pura-pura tidak tahu akan membuat diri kita tenang. Walau sebenarnya itu akan menjadi beban pikiran”.


Indah dan Rangga masuk menuju ruang bawah tanah. Tidak dengan kemarin, hari ini sudah ada beberapa pakaian dan makanan yang siap untuk mereka pakai dan makan.


Walaupun mereka menginapa hari ini. Tidak akan kelaparan.


“Sayang, kamu mau makan apa,” tawar Indah.


“Apa aja yang ada,” jawab Rangga yang langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa.


“Oke,” jawab Indah.


Indah hanya memasak mie dan telur. Selagi menunggu Rangga mngeluarkan ponselnya untuk bermain game.


“Apa Rangga suka telur?” Indah bertanya sendiri.


“Sayang,” teriak Indah dari dapur.


“Iya,” jawab Rangga yang masih fokus dengan gamenya.


“Kamu suka telur campur mie ngga?” tanyanya.


“Iya,” jawab Rangga singkat.


Setelah mendengar jawaban dari Rangga. Indah melanjutkan memasak mie dam telurnya.


Rangga yang selesai bermain game langsung mengahampiri istrinya yang masih menata makanan diatas meja.


Tangan kekar yang melingkar dipinggang Indah membuat kaget.


“Ehh, Haishh awas aku lagi kerja ini,” ujar Indah langsung menyingkirkan tangan suaminya.


“Galak banget Bu, PMS.” Timpal Rangga yang cengengesan melihat ekspresi wajah istinya yang malu.


“Masih mau bernafas ngga besok?” tanya Indah dengan tatapan serius.


“Ah oke oke, ngga jahil deh. Janji,”jawab Rangga mengangkat jarinya berbentuk V sebagai tanda janji.


“Ayo makan sayang,” ucap Indah dengan berubah seketika.


“Fiks bini gue PMS. Valid no debat,” gumamnya sangat kecil.


Indah dan Rangga makan bersama. Berbeda dengan rumah utama, mereka makan sambil berbincang-bincang hal yang sangat tidak penting.


“Sayang, kenapa ikan bernafas dengan air?” pertanyaan yang muncul dipikiran Rangga.


“Ada urusannya sama kamu?” tanya Indah dengan wajah juteknya.


“Iya,” jawab Rangga seolah-olah menantang istrinya.


“Tuh ikan kasih kamu uang,” timpal Indah yang tidak mau kalah.


“Ya ngga gitu juga sayang konsepnya,” jawab Rangga yang merasa dirinya kalah debat.


“Makan ya sayang, nanti kalau sudah makan baru bahas yang ngga penting, Oke.” Jelas Indah. Saat ini dirinya masih banyak pikiran dan rencana yang akan ia ubah.


“Iya sayang,” jawab Rangga dengan senyum manis. Namun tidak dihiraukan Indah.


Makan siang telah berlalu. Saat ini Indah masih memikirkan rencana yang akan dia ubah, menurutnya jika hanya mengandalkan rencana itu, kita tidak mengetahui gerak-gerik musuh.


“Sayang, kamu mikirin apa sih? Kayaknya lagi bingung,” tanya Rangga. Yang merebahkan kepalanya dipaha Indah.


Indah hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan dari suaminya.


Rangga yang asik menatap wajah istrinya. Ia masih kagum dan tidak percaya jika istrinya masih anak sekolah yang memiliki banyak rahasia. Mungkin masih ada rahasia lagi yang belum dirinya ketahui.


“Sayang ikut aku,” ujar Indah lalu beranjak menuju ruang monitor.


Rangga hanya mengikuti kemana Istrinya pergi dan ada hal juga yang ingin dia beri tahu kepada Indah.


“Bagaimana kalau kita tinggal disini,” ucapnya.


“Hah!” Rangga kaget mendengar ajakan istrinya.


“Kamu ngga mau?” tanya Indah.

__ADS_1


“Bukannya ngga mau sayang. Tapi aku ngga jamin sama keselamatan kamu,” tukas Rangga. Dirinya tidak yakin bisa mengendalikan hasratnya saat bersama Indah.


“Hah! Maksud kamu gimana?” Indah bingung dengan kalimat yang dilontarkan suaminya.


“Kamu pasti mengerti hubungan suami istri sayang. Laki-laki mana yang sanggup timggal bersama seorang wanita, apalagi jika itu istrinya sendiri.” Jelas Rangga yang tidak memgerti apa yang istrinya pikirkan.


“Hoh!” Indah kaget dengan penjelasan suaminya. Bagaimana bisa dia lupa dengan statusnya. Seketika pipi Indah merah, karena malu telah mengajak Rangga untuk tinggal bersamanya. Walaupun status mereka suami istri, namun ada hal yang bel boleh mereka langgar.


“Ya sudah aku aja yang tinggal disini, ku pulang,” ucap Indah santai.


“Ya, bagaimana bisa aku meninggalkan istriku tinggal di hutan ini,” timpalnya lalu mendekati Indah yang sibuk dengan layar monitor.


“Eh eh kamu mau apa,” ucap Indah kaget saat Rangga mengangkat tubuhnya ke Atas meja.


“Sayang, kamu tanya aku mau apa,” ujarnya dengan nada yang dibuat selembut mungkin.


“Hoh!” Indah memelototkan matanya mendengar kalimat genit yang suaminya lontarkan.


“Muka kamu kenapa hmm.” Ujar Rangga yang masih setia menggoda istrinya.


“Sayang,” panggil Indah. Lalu melingkarlan tangannya di leher Rangga.


“Kenapa hmm,” jawab Rangga yang mengelus pipi Indah.


“Masih satu tahun lagi ya, sabar ya sayang,” ujar Indah. Lalu mencium bibir Ramgga.


Rangga yang mendapat serangan mendadak dari sang istri kaget. Tapi mau bagaimana lagi, Rangga menerima serangan tersebut dengan lihai.


“Bagaimana bisa aku menunggu satu tahun, kalau kamu seperti ini,” batin Rangga yang cemas.


Sepuluh menit sudah, Indah lebih dulu mengakhiri ciuman mereka. Indah menyadari apa yang barusan Ia lakukan sangatlah malu.


“Udah ya, jangan genit-genit lagi.” Ujar Indah yang berusaha menutup rasa malunya.


“Iya sayang,” jawab Rangga lemas. Padahal baru saja dia ingin meminta lebih.


Indah kembali melihat monitor yang terhubung ke pusat kota, ia ingin mencari tahu terlebih dahulu apa yang direncanakan oleh Papa Mawar. Bahkan dia juga ingin tahu dengan siapa ia bekerja sama.


“Sayang ada sesuatu yang ingin aku ceritakan,” ujar Rangga yang duduk disamping Indah.


“Apa,” jawab Indah yang mengalihkan pandangannya ke arah Rangga.


“Bagaimana bisa papa tau,” batinnya bertanya.


“Lalu?” tanya Indah yang penasaran.


“Papa juga bilang kalau orang yang menyekap kamu kemarin meminta bantuan kepada keluarga Mafia.” Lanjut Rangga menjelaskan.


“Siapa mereka?” timpal Indah.


“Keluarga Efos,” jawab Rangga singkat.


“Maksud kamu apa, kenapa kamu cemas mendengar nama mereka,” tanya Indah yang tidak bisa menebak apa yang dipikirkan suaminya.


“Apa kamu tidak tahu mereka siapa?” tanya Rangga yang tidak percaya.


“Memang mereka siapa?”tanya Indah yang sama sekali tidak mengenal mereka.


“Sini,” ucap Rangga. Lalu membuka ponselnya, mencari nama keluarga Efos.


“Sini kamu baca,” perintah Rangga.


Indah membaca semua artikel yang ada, ia mencari apa yang membuat mereka sangat ditakuti.


“Sudah,” ujar Rangga.


“Tapi sayang, diartikel ini tidak ada yang mengetahui siapa pemimpin asli mereka,” ujar Indah.


“Jangan kamu, semua orang yang bergelut di dunia Mafia belum ada yang mengetahui siapa pemimpin Asli mereka,” jawab Rangga yang sama sekali tidal mengetahui siapa pemimpim asli keluarga Efos.


“Lalu? Apa rencana kamu kedepannya?” tanya Indah kembali.


“Kita hanya perlu waspada, karena keluarga Efoa dikenal sadis saat membantu seseorang,” jelas Rangga.


“Kalau waspada kita sudah pasti. Tapi apa ada stategi lain?” tanya Indah. Ia bahkan tidak mengerti jalan pemikiran suaminya.

__ADS_1


Bagaimana bisa seseorang hanya perlu waspada, jika kematiannya saja sudah mengintai.


“Papa bilang akan meminta bantuan keluarga Mafia lain yang kuat. Walaupun tidak sekuat keluarga Efos. Tapi jika kita bersatu, kita bisa mengalahkan mereka,” jelas Rangga. Karena Papa bilang akan menyusun strategi untuk menerima serangan demi serangan yang akan muncul nantinya.


“Oh Oke-oke,” jawab Indah santai. Lalu menyandarkan tubuhnya, hari ini sangat melelahkan untuk berpikir.


“Sayang jangan lupa mobil. Aku tunggu besok pagi,” ujar Indah yang masih mengingat taruhan mereka.


“Kirain lupa setelah aku ceritain ini. Tapi masih aja inget kamu,” jawab Rangga yang mengubah ekspresi dari yang serius menjadi cemberut.


Bagaimana bisa, 300 milliar besok akan melayang begitu saja. Untung sayang sama istri, jadi apa yang dia inginkan bisa dituruti.


Indah dan Rangga pulang kerumah, rencana mereka untuk menginap tidak jadi. Karena ada Papa yang ingin menyusun rencana, tapi mereka tidak lupa dengan rencana yang disusun Indah kemarin. Mungkin bisa membantu mereka nantinya.


Setibanya dirumah, Rangga dan Indah langsung disuruh untuk menemui Papa diruang kerja.


Tok... Tok... Tok...


Ceklek...


“Sini duduk,” ujar Papa.


“Baik Pa,” jawab mereka bersamaan.


“Ada apa Pa? Tumben malem-malem nyuruh kita keruang kerja?” tanya Rangga penasaran.


“Papa mau bahas masalah kemarin, udah kamu ceritain sama menantu Papa?” tanyanya yang masih membahas perbincangan kemarin.


“Sudah di ceritakan Rangga Pa. Lalu apa rencana Papa?” ujar Indah sekaligus ia ingin mengetahui apa yang direncanalan oleh mertuanya.


“Besok kalian berdua ikut papa, ada yang ingin Papa bahas sama kalian dan teman Papa,” ungkapnya.


“Besok? Jam berapa Pa?”tanya Indah.


“Selesai Papa kerja, mungkin nanti jam 8 malam. Bagaimana?” tanya balik Papa.


“Rangga bisa Pa,” jawab Rangga.


“Indah juga bisa Pa,” dilanjutkan oleh Indah.


“Bagus. Besok papa kirim alamat dan kalian datang ke alamat tersebut. Papa tunggu sebelum jam 8, karena ada seseorang yang harus kita sambut,” ujar Papa memberitahu. Ia ingin mengenalkan anaknya kepada anggota mafia yang siap membantu.


“Sekarang kalian naik ke kamar. Bersih-bersih, setelah itu istirahat.” Jelas Papa.


“Baik Pa,” jawab mereka serentak


Indah dan suaminya keluar dari ruang kerja dan memuju kekamar.


“Sayang kira-kira apa yang Papa rencana untuk besok malam?” tanya Indah yang penasaran.


“Iya mana aku tahu, mungkin papa ingin mengajal kita makan malam,” ujar Rangga. Yang langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badannya yamg lengket.


Indah masih berpikir apa yang harus dia lakukan, rencana selanjutnya. Mungkin akan lebih baik jika diringa ikut dalam rencana.


Rangga telah selesai mandi, ia hanya menggunakan handuk sebagas pinggang. Indah kaget dengan dada yang diperlihatkan oleh suaminya, bahkan Ia hanya bisa menutup matanya.


“Sayang kamu kenapa?” tanya Rangga yang belum memgetahui tinglah istrnya yamg mendadak gugup.


“Pakai baju sayanggg. Haishh,” teriak Indah. Ia bahkan baru mengetahui jika Rangga memiliki tubuh yang bagus.


“Aku suami kamu sayang, masa iya masih malu,” ujar Rangga yang melihat aneh Indah.


“Ya walaupun kamu suami aku, tapi aku baru pertama kali melihat tubuh laki-laki dewasa.”ujar Indah yang merasa untuk pertama kalinya mihat tubuh Rangga.


Rangga mendekat ke arah Indah dengan rambut basahnya.


“Sayang, kesini,” pinta Rangga.


Indah yang patuh kepada suaminya berjalan mendekati Rangga.


“Sayang. Aku ngga tau masih ada hal apa lagi yang tidak aku ketahui. Tapi aku mohon jangan ada rahasia diantara kita,” ujar Rangga yang menatap Indah dengan tatapan lembutnya.


Oke guys sampai di sini dulu😍,


Jangan lupa like dan vote ya

__ADS_1


Serta ikuti akun aku.


Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.


__ADS_2