
Indah melepaskan dekapan Rangga, ia kembali menatap wajah Rangga. Wajah yang akan dirinya rindukan setiap malam, wajah yang tidak akan pernah hilang dari pikirannya.
"Sayang nanti kalau kamu di sana jangan lupa bangun pagi, sholat, mandi, sarapan dan makan teratur ya, aku akan pantau kamu terus di sana," ujar Indah.
"Siap sayang, kebiasaan di rumah akan aku bawa nanti di sana," jawab Rangga tersenyum manis.
"Ya sudah ayo kita pulang, ambil barang bawaan kamu." ajak Indah.
"Masalah itu sudah ada supir yang antar, pokonya hari ini aku ingin senang-senang sama kamu sayang," ucap Rangga membelai pipi Indah.
"Kamu jangan sedih ya, air mata ini yang membuat aku tidak tega meninggalkan kamu," lanjut Rangga.
"Iya sayang," jawab Indah tersenyum. Menutupi kesedihannya.
Jika boleh jujur, dirinya sangat sekali ingin menangis mendengar informasi ini.
"Sekarang kita mau kemana, mumpung aku masih ada waktu sayang," ujar Rangga.
"Kita ke danau aja yuk, tempat biasa," jawab Indah.
"Boleh, ayo pergi sekarang." ajak Rangga lalu beranjak dari tempat duduknya.
Rangga meninggalkan uang di atas meja sebagai bill nya.
Setelah keduanya berada di dalam mobil, kini mobil melaju memebelah jalan raya yang padat, kendaraan beroda empat mengisi di setiao sisi jalan.
"Yah macet lagi," gumam Indah yang tidak sengaja di dengar oleh Rangga.
"Sayang," panggil Rangga sambil membelai Rambut Indah.
"Iya kenapa," jawab Indah lalu menoleh ke arah Rangga.
"Sabar ya," ucapnya.
"Iya sayang," jawab Indah.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya mereka bisa melajukan mobil kembali, ternyata di depan ada kecelakaan yang melibatkan polisi harus turun tangan.
Lama menempuh perjalanan menuju danau, akhirnya mereka berdua sampai di sana. Indah langsung turun tanpa menunggu Rangga lagi, ia berjalan menuju ayunan yang ada di pinggir danau, ayunan yang sengaja di sediakan untuk para orang pacaran atau orang yang lagi jatuh cinta.
Rangga yang melihat senyum bahagia di wajah ini juga ikut senang, ia akan kerja dengan cepat di sana, supaya bisa selesai dan kembali menemui istrinya.
"Sayang," panggil Indah.
"Iya," jawab Rangga yang berjalan menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Sini duduk dekat aku, ada sesuatu yang mau aku bicarakan," ujar Indah.
Rangga hanya mengikuti arahan dari istrinya, ia duduk di samping Indah, di atas karpet yang telah di sediakan.
"Kamu mau bicara apa sama aku?" ucap Rangga bertanya.
"Nanti kalau aku naik kelas, aku mau kamu orang yang pertama memberi aku selamat dan aku mau kamu orang pertama yang bernyanyi untuk aki," pinta Indah kepada suaminya. Untuk beberapa minggu ke depan Indah akan ujian kenaikan kelas, ia harap dirinya bisa menjadi juara kelas kembali.
"Oke siap sayang, kalau masalah itu tanpa perlu kamu minta pasti dan sangat pasti akan aku lakukan," jawab Rangga bersemangat.
"Oh iya, setelah itu kamu harus traktir aku makan sepuasnya," ujar Indah kembali.
"Iya sayang, bila perlu restoran dan pegawainya kita beli," jawab Rangga cengengesan.
"Ihh nggak boleh, nanti kamu genit lagi sama pegawai perempuannya," ujar Indah menunjukkan ekspresi wajah ngambeknya.
"Sayang jangan gitu dong mukanya," ucap Rangga memelas.
"Aku ngga mau lagi di bilang KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga gara-gara aku cubit kamu ya," ujar Rangga.
"Hehe, iya sayang ngga lagi deh pasang muka cemberut," jawab Indah tersenyum.
"Gitu dong senyum, kan tambah manis lagi," puji Rangga kepada istrinya.
Setelah lama berbicara dan tertawa satu sama lain, tibalah saatnya Rangga untuk pergi ke bandara, jadwal keberangkatannya telah tiba, sekarang Indah dan Rangga sedang berada di perjalanan menuju bandara, semua yang akan di bawa oleh Rangga telah berada di sana. Hanya dirinya saja yang masih ada di jalan.
Tiga puluh menit berkendara menuju bandara, Rangga dan Indah langsung turun dan mencari tempat di mana barang yang akan Rangga bawa.
Terdapat sekretaris pribadi keluarga Luis yang tengah menunggu kedatangan Rangga.
"Selamat sore Tuan," sapa sekretaris yang bername tag Julio.
"Sore," jawab Rangga dengan ekspresi dinginnya.
"Apa semua sudah lengkap?" tanya Rangga.
"Siap sudah Tuan, semua keperluan telah di siapkan," jawab sekretaris Julio.
"Baik terima kasih, jadwal keberangkatan kita kapan?" tanya Rangga kembali.
"Siap dua puluh menit lagi Tuan," jawab sekretaris Julio.
Rangga mengajak istrinya duduk di salah satu kursi yang telah di sediakan, tampak di sana Rangga mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas nya.
"Sayang angkat rambut kamu." perintah Rangga.
__ADS_1
Tanpa membantah Indah langsung mengangkat rambutnya, seketika Rangga langsung memasang kalung yang ia beli tadi saat mau ke bandara.
"Cantik," puji Rangga.
Indah melihat kalung yang di pasang oleh Rangga di lehernya, desain yang elegan, kilauan kecil yang membuat mata silau saat melihat.
"Bagus banget sayang, terima kasih," ujar Indah lalu memeluk erat tubuh Rangga.
"Sama-sama sayang, aku mau kamu pakai kalung ini kemana saja, jamgan pernah di lepas sampai nanti aku pulang," jelas Rangga lalu mengacak-acak rambut Indah.
"Iya sayang, akan aku pakai selalu," jawab Indah tersenyum.
Terdengar suara untuk keberangkatan menuju australi, Rangga langsung di panggil oleh sekretaris pribadinya untuk mempersiapkan diri.
"Tuan, pesawat kita akan berangkat," ucap sekretaris Julio.
"Baik," jawab Rangga.
Rangga langsung berdiri dari tempat duduknya, memeluk Indah erat dan bekali-kali mencium seluruh wajah Indah, setelah itu ia langsung berjalan cepat menuju lobi keberangkatan.
Indah hanya melihat kepergian Rangga, ia tidak bisa berjalan. Hatinya begitu menolak untuk kepergian Rangga, tapi itu sudah menjadi profesinya sebagai direktur utama di perusahaan.
Setelah keberangkatan Rangga, Indah kembali menuju rumah bersama supir yang membawa barang Rangga tadi, sepanjang jalan Indah hanya melamun.
"Semoga baik-baik aja sayang, aku di sini aku merindukanmu," batin Indah.
Sesampainya di rumah ia langsung menuju kamar dan mengganti pakaian sekolahnya dengan pakaian biasa.
Indah duduk di depan kursi belajarnya, melamun dengan semua yang telah di lewati hari ini.
Tiba-tiba dering hand phone Indah berbunyi, tanda panggilan masuk, ia melihat nama yang tertera di layar hand phone nya, Ternyata Mawar yang menelponnya.
"Mawar, tumben telepon," gumam Indah
Oke guys sampai di sini dulu😍,
jangan lupa like dan vote ya
serta ikuti akun aku.
Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.
SalamManis♡.
Maaf untuk beberapq hari belum bisa update, karena sinyal disini lagi ada.
__ADS_1