
"Baik Tuan,". jawab Bodyguard.
Mereka langsung memabawa Cika dari genggaman Rangga.
"Lepaskan istri saya!" teriak Rangga.
"Tuan Dika, sebaiknya kita bicaraka dengan kepala dingin jangan seperti ini," ujar Dimas.
"Apa kepala dingin, kalian terlebih dahulu yang memulai permainan, lalu untuk apa untuk menghentikannya," ujar Tuan Dika tertawa.
Dika geram dengan sikap yang di tunjukkan Dimas, menurutnya ity sangat tidak pantas di lakukan bagi pengusaha sepertinya.
"Cepat bawa Indah pergi dari sini!" perintah tuan Dika.
"Baik Tuan," jawab Bodyguard.
"Lepaskan! lepaskan!" teriak Cika.
Salah satu bodyguard membekap mulut Cika menggunakan sapu tangan yang sudah di beri obat bius, setelah itu Cika pingsan dan langsung di bawa menuju mobil.
"Lepaskan Cika!" teriak Rangga.
"Kamu tidak ada hak untuk melarang saya," ujar tuan Dika.
"Saya ada hak untuk itu, saya suami sah dari Cika!" teriak Rangga.
Di saat semuanya lengah. Tuan Kenz menyemprotkan gas air mata. Semua yang berada di sana menutup mata dan menahan nafasnya, karena sangat berbahaya jika mengenai mata dan masuk kedalam paru-paru.
Saat itu juga tuan Dika dan tuan Kenz langsung pergi menggunakan kendaraan yang mereka bawa masing-masing.
Cika dibawa menuju rumah tuan Dika, sesampainya dirumah. Ia langsung dibawa menuju kamar.
"Telepon dokter sekarang juga!" perintah tuan Dika.
"Baiklah," jawab tuan Kenz.
Tuan Kenz menghubungi dokter keluarga mereka.
"Ia dalam perjalanan," ujar tuan Kenz.
Dilain tempat, Rangga dan tuan Dimas langsung keluar mencari keberadaan Cika.
"Licik sekali dia!" teriak Rangga.
"Cepat kita cari Cika," ujar tuan Dimas.
"Baiklah," jawab Rangga.
Rangga dan papanya membawa mobil dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Alexa, mereka berdua yakin jika Cika pasti di bawa kesana.
Sesampainya di kawasan Alexa, penjagaan sangat ketat. Setiap penjuru di jaga oleh bodyguard.
"Pa, bagaimana ini," ujar Rangga.
"Kamu tenang, kita cari taktik untuk masuk kedalam," ujar papa dimas.
Lina senang karena Indah telah kembali.
"Mas, bagaimana Indah bisa di temukan?" tanya Lina.
"Ceritanya panjang, untuk sekarang kita harus menjaga Indah," ujar Dika.
"Kenapa?" tanya Lina.
"Didepan ada tuan Luis yang ingin membawa Indah," ujar Dika.
"Apa Luis," ujar Lina kaget.
__ADS_1
"Iya, sekarang kamu tetap tenang, jaga Indah!" perintah Dika.
"Baiklah," jawab Lina.
Tuan Dika dan Tuan Kenz pergi keluar, ia ingin tahu seberapa besar nyali Tuan Luis.
"Pa, telepon Mama, cuma mama yang bisa membantu kita," ujar Rangga.
"Baiklah," jawab papa Dimas.
Dimas menelepon Vania.
Sambungan telepon terhubung.
"Assalamualaikum Ma," salam Dimas.
"Waalaikumusalam Pa, ada apa," tanya Vania.
"Sekarang Mama pergi ke kawasan Alexa, suruh supir yang mengantar," ujar Dimas.
"Ada apa? kenapa Mama harus kesana?" tanya Vania bingung.
"Cepat Ma, nanti Papa jelaskan," ujar Dimas.
"Baiklah," jawab Vania.
Mama Vania langsung pergi menuju kawasan Alexa, ia membawa mobil sendiri dengan kecepatan tinggi.
Vania adalah mantan pembalab mobil yang pensiun karena menikah dengan Dimas. Dimas tidak lagi menyuruh Vania untuk balapan lagi.
Lima belas menit waktu yang di tempuh Vania menuju kawasan Alexa. Sesampainya disana.
Vania turun, ia langsung menghampiri mobil Rangga.
"Rangga," ujar mama Vania.
"Mama," ujar Rangga kaget.
"Buka pintu mobil!" perintah mama Vania.
Rangga menekan tombol on untuk membuka pintu.
Mam vania masuk dan duduk di kursi belakang.
"Ada apa ini?" tanya Vania.
"Cika sudah ada ditangan Dika," ujar Dimas.
"Bagaimana bisa, apa kalian lengah menjaganya!" teriak Vania.
"Ma tenanglah," ujar Rangga menenangkan mamanya.
"Kalian tahu penjagaan rumah Alexa sangat ketat," ujar Vania.
"Lalu apa yang harus kita lakukan," ujar Rangga.
"Papa," ujar Vania meminta persetujuan Dimas.
"Baiklah Ma, Papa izinkan," jawab Dimas.
"Tekan tombol biru yang berada di samping kamu Rangga!" perintah mama Vania.
"Untuk apa Ma," jawab Rangga.
"Cepat laksanakan," ujar mama Vania.
Rangga menekan tombol yang berwarna biru di samping tempat duduknya, ia juga tidak tahu apa fungsi tombol tersebut.
__ADS_1
Setelah menekan tombol itu, semua senjata keluar dari tempat persembunyian.
"Wow," batin Rangga kagum akan mobil yang dia pakai saat ini.
"Pa ambil senjata yang biasa papa gunakan, dan kamu Rangga, pakai yang ini," ujar mama Vania.
Setelah memberikan senjata satu persatu, mama Vania menyusun strategi untuk masuk kedalam rumah Alexa.
"Kalian paham," ujar mama Vania.
"Sangat paham Ma, kalau begitu ayo sekarang," ujar Rangga bersemangat, ia tidak menyangka jika mamanya sangat ahli dalam menyusun strategi.
"Rangga, kamu jangan gegabah, perhatikan setiap gerak-gerik musuh.
"Baik Ma," jawab Rangga.
"Dengarkan aba-aba yang di berikan Mama baik Papa," ujar mama Vania.
"Baik Ma," jawab Rangga.
Rangga, Papa Dimas dan Mama Vania telah keluar dari mobil, mereka berpencar dan langsung mengambil posisi masing-masing.
"Kekanan bagian selatan," ujar mama Vania melalui earphone.
"Baik," jawab Rangga dan papa Dimas.
Di dalam rumah, Dika dan Kenz melihat dari kamera pergerakam yang dilakukan keluarga Luis. Mereka sangat kaget saat mengetahui jika yang ikut bermain adalan Vania.
"Tuan Dika, kau mengetahui wanita itu," ujar tuan Kenz menunjuk layar monitor.
"Sangat, aku sangat mengenalinya, dia adalah Vania. Mantan pembalap mobil internasional sekaligus mantan mafia," ujar Dika.
"Ada hubungan apa dia dengan keluarga Luis?" tanya tuan Kenz.
"Kita lihat saja, sampai dimana kemampuan mereka," ujar tuan Dika.
Dika kaget saat mengetahui Vania ikut bermain dalam rencana ini, Dika sangat mengenal betul sosok Vania. Mafia perempuan yang sangat di takuti.
"Rangga, pergi kebagian selatan," ujar mama Vania.
"Baik Ma," jawab Rangga.
Semuanya telah berada di posisi yang telah di atur. Aksi tembak menembak pun terjadi, semua bodyguard yang ada di depan rumah telah tewas ditangan Vania.
"Wow amazing," ujar Rangga.
"Bukan saatnya untuk berbicara seperti itu Rangga, cepat langsung menuju pintu utama!" seru mama Vania.
"Baik Ma," jawab Rangga.
"Pa pergi kebagian barat di sana ada celah untuk masuk," ujar mama Vania.
"Baik Ma," jawab papa Dimas.
Sedangakan Vania naik menuju tempat dimana tuan Dika dan tuan Kenz memantau mereka.
Ia menggunakan tali untuk naik kesana, adrenalin yang selama ini disimpan terulang kembali.
Tuan Dimas sangat khawatir dengan tindakan yang di lakukan istrinya. Ini adalah salah satu yang ditakuti Dimas saat Vania kembali seperti dulu.
Oke guys sampai di sini dulu😍,
jangan lupa like dan vote ya
serta ikuti akun aku.
Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.
__ADS_1
Untuk episode ini sampai ke berapa nanti nama Indah sementara di ganti jadi Cika Felisa ya teman teman.
SalamManis♡.