Menikah Muda Karena Terpaksa

Menikah Muda Karena Terpaksa
Bab 134


__ADS_3

“Terkadang persahabatan pasti harus ada yang berkorban, harus ada yang mengalah, harus ada yang siap kehilangan untuk mempertahan persahabatan tersebut.”


Penjaga toko melihat kalung yang dibawa oleh Indah, ia mengamati secara detail kalung tersebut.


“Tunggu sebentar ya,” ujarnya kepada Indah, dan dibalas anggukan kepala oleh Indah.


Rangga masih melacak keberadaan Indah, karena Indah mengganti kalung yang ia berikan kepada sang istri, sebagai alat pelacak.


“Kamu dimana sayang,” gumamnya.


“Saya mengetahui siapa yang pernah memesan kalung ini, tapi mungkin dia sudah lupa.” ujarnya.


“Dia laki-laki muda, dan dia pernah bilang kalau kalung itu untuk anak perempuanya. Dia juga bilang jika anaknya bernama Mawar, maka dari itu yang mengukir kalung dengan bentuk bunga Mawar,” jelas penjaga toko kepada Indah.


Indah terdiam, ia masih mencermati kalimat yang diucapkan oleh penjaga toko.


“Tidak mungkin orang itu adalah Papa Mawar, ahh tidak mungkin. Bagaimana bisa seorang Ayah tega membunuh anaknya sendiri,”batin Indah.


“Nona,” ujar penjaga toko yang melihat Indah melamun.


“Ah iya, terima kasih Mbak,” ujar Indah, lalu bergegas keluar dari toko tersebut.


Rangga menemuka Indah yang baru saja keluar dari dalam toko tersebut, ia baru saja ingin berhenti. Namun Indah lebih dulu masuk kedalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan penuh.


Rangga kaget dengan kecepatan Indah saat membawa Mobil, ia tidak pernah menyangka jika Indah yang polos bisa membawa mobil dengan kecepatan yang bahkan tidak menjamin keselamatan.


Untungnya Rangga juga seseorang yang ahli dibidang kemudi, jadi dia bisa menyeimbangi kecepatan yang digunakan Indah, menurutnya untuk seorang Rangga Indah membawa mobil sangat cepat dengan standart wanita membawanya. Satu lagi menambah kekaguman Rangga kepada Indah.


“Aku harus pergi kerumah Mawar, untuk memastikan apa benar Papanya yang menyekap kami berdua,” gumam Indah yang tatapannya masih terfokus jalan.


Setibanya di depan rumah Mawar, seperti biasanya. Ada satpam yang selalu berjaga di pintu gerbang dan beberapa bodyguard.


“Pak,” panggil Indah.


“Eh ada Non Indah,” jawab Pak satpam lalu membuka gerbang.


“Mawar ada Pak?” tanya Indah. Seolah-olah tidak terjadi sesuatu kepada sahabatnya tersebut.


“Waduh Bapak ngga tau Non, coba Non masuk kedalam. Soalnya Bapak udah lama ngga lihat Non Mawar di rumah,” jelas Pak Satpam.


“Ah baik Pak. Terima kasih,” jawab Indah lalu kembali masuk kedalam mobilnya.


Ia menjalankan mobil masuk menuju perkarangan rumah Mawar, karena sudah hapal. Indah memarkirkan mobilnya ditempat khusus parkirannya.


Rangga yang mengikuti Indah dari belakang heran melihat sang istri pergi kerumah ini.


“Kenapa dia pergi kesini, apa ada sesuatu.” Gumam Rangga.


Rangga tau rumah ini adalah orang menyekap istrinya dan temannya yang meninggal disana.


Rangga turun dari mobil dan berjalan menuju satpam penjaga.


“Permisi Pak!” ujar Rangga.


“Iya den,” jawab Pak satpam sopan.


“Saya boleh masuk,” pinta Rangga.


“Maaf ada keperluan apa ya?” tanya Pak satpam sopan. Karena sudah ada aturan dari rumah, jika seseorang tidak dikenal dan ingin masuk tanpa ada kepentingan, penjaga berhak mengusir mereka.


“Saya ingin menemui pacar saya,” jawab Rangga.


“Pacar? Aden ini pacarnya Non Mawar?” tanya Pak satpam lagi.


“Ah bukan Pak, saya pacarnya perempuan yang baru saja masuk ke dalam,” jawab Rangga.


“Oh Non Indah, ya sudah bawa masuk mobilnya dan parkir di sebelah mobil Non Indah,” ujar Satpam dengan ramah dan mempersilahkan Rangga masuk kedalam.


Indah masuk begitu saja kedalam rumah Mawar, karena sudah terbiasa masuk tanpa permisi.


“Ada kamu Indah,” ujar Mama Mawar yang sedanh bersantai di ruang keluarga.

__ADS_1


“Iya Tan,” jawab Indah, lalu menghampiri Mama Mawar.


“Mawarnya ada Tan?” tanya Indah.


“Di kamarnya mungkin, kamu naik aja kesana,” jawab Mama Mawar.


“Hah, bahkan orang tua Mawar sendiri tidak mengetahui dimana keberadaan putri mereka,” batin Indah sedih.


“Oh iya tan, Indah keatas dulu ya. Salam kalau ada Om,” ujar Indah yang beranjak menuju kamar Mawar.


Setibanya disana, Indah masih mengamati isi kamar Mawar yang banyak menyimpan poto mereka berdua yanv tertempel di dinding. Tanpa di sengaja Indah menemukan surat yang mungkin sudah lama tergeletak disana.


Isi surat.


Halo Ma, Pa.


Mungkin saat kalian baca surat ini Mawar udah ngga ada lagi didunia ini, Mawar pasti udah jauh banget pergi. Sampai-sampai siapapun tidak bisa menemukan Mawar.


Mama sama Papa sehatkan?


Mawar harap kalian berdua sehat.


Untuk Mama, terima kasih udah mau nerima Mawar dengan banyak kekurangan. Mawar sayang banget sama Mama, kalau Mama baca surat ini. Mawar minta banget Mama lagi dalam keadaan bahagia ya, karena Anak yang selalu mengganggu Mama udah tenang banget. Mawar sayang sama Mama.


Papa, Mawar tau kalau Papa sayang banget sama Mawar, biarpun Papa marah sama Mawar, Mawar tetep sayang sama Papa. Maafin putri kecil papa yang belum bisa jadi kebanggaan Papa.


Papa Mawar bahagia banget, karena cinta pertama Mawar adalah papa, hehe.


Pa masih inget ngga saat Papa bilang kalau Mawar itu anak yang baik, tapi itu udah lama banget saat Mawar masih kecil.


Papa juga pernah bilang kalau Mawar akan selalu jadi anak kebanggan Papa, rasanya seneng banget Mawar dengarnya.


Papa, jangan nangis ya kalau baca surat ini. Kalian adalah orang tua terbaik yang Mawar punya.


Tapi maaf Pa, Mawar tanpa sengaja mendengar percakapan papa dengan seseorang melalui telepon kalau papa berencana untuk membunuh Indah.


Mawar ngga bisa diem aja Pa, makanya Mawar menyusun semua rencana ini. Supaya papa tau dan papa mnegerti bagaimana kehilangan seseorang yang sangat berharga.


Untuk Mama dan Papa, terima kasih sudah membesarkan putri kecil yang sangat kalian nantikan waktu dulu kehadirannya.


Mawar sayang kalian berdua, Love you Ma, Pa.


Indah menangis membaca isi surat Mawar, dirinya tidak menyangka jika Mawar sudah mengetahui semua ini.


Flashback.


Pagi hari setelah Mawar mandi, dan ia berencana untuk mengajak Mamanya pergi shopping. Karena sudah sangat lama dia tidak pergi bersama Mamanya.


“Baik, jangan sampai ada celah untuk musuh mengetahui rencana kita. Saat dia pergi kebandara, besoknya kita mulai rencana,” ujar seseorang.


“Bunuh dia tanpa jejak, pastikan Indah mati dalam keadaan yang mengenaskan,” ujar Papa Mawar.


Diluar pintu, Mawar tidak sengaja mendengar percakapan Papanya dengan seseorang. Mawar yakin nama wanita yang disebut adalah Indah, sahabatnya.


“Rencana apa lagi kali ini Pa.” Batin Mawar menangis melihat dirinya sendiri yang malu untuk menampakkan wajahnya didepan Indah.


Mawar yang disuruh Mamanya untuk memanggil Papa, buat Makan bersama. Tapi tanpa disengaja pula Ia harus mendengar hal yang tidak sepatutnya dirinya tau.


“Pa, Papa,” teriak Mawar diluar pintu.


“Nanti saya telepon lagi,” ujarnya langsung menutup telepon.


“Iya sayang,” jawab Papa Mawar lalu membuka pintu.


“Pa, ayo makan. Udah ditungguin Mama,” ujar Mawar


tersenyum. Seolah-olah dirinya tidak mendengar apa yang dibicarakan Papanya.


“Oke ayo kita kesana sekarang,” ajaknya sambil merangkul bahu anak kesayangannya.


Setelah makan bersama, Mawar bergegas menuju kamar dan menyusun rencana supaya Indah tidak dapat ditemukan.

__ADS_1


“Hmm apa yang harus aku lakukan,” gumam Mawar sambil berjalan mondar mandir dikamarnya.


Ide terlintas di dalam pikirannya.


“Papa, Mawar sayang banget sama Papa dan Mama. Tapi Mawar ngga bisa diam jika Papa yang berniat membunuh Indah.


Mawar menulisakan surat yang dirinya tujukan kepada kedua orang tuanya, dan meletakkan diatas meja belajarnya.


Mawar mengemasi pakaiannya, ia berencana untuk tinggal dirumah Indah.


Malam tiba, saatnya ia meluncurkan rencanaya. Seolah-olah itu terjadi begitu saja.


Sampai pada saat mereka disekap, Mawar telah menyadari jika ada seseorang yang mengawasi mereka.


Flashback off.


Indah masih menangis terisak, tapi matanya tertuju pada kalung yang dirinya pegang saat ini. Kalung itu sama persis dengan kalung yang berada didekat Ranjang tidurnya.


Indah menghampiri kalung tersebut, dan memperhatikan persamaan dan perbedaan keduanya.


Ternyata dibagian Mawarnya, terdapat poto Mawar saat kecil. Poto itu sengaja ditempel didalam kalung supaya tidak hilang.


“Lalu kalung ini?” gumamnya.


Yaps, Mawar membuat kalung tiruan agar tidak menaruh curiga kepada Papanya. Mawar tau betul jika kalung yang didesain oleh Papaya hanya ada satu didunia ini.


Indah turun kebawah dengan membawa surat yang dibuat oleh Mawar.


“Tante, Om belum pulang?”tanya Indah yang masih menuruni anak tangga satu persatu.


“Kayaknya belum deh, ada apa emangnya?” tanya Balik Mama Mawar.


“Ngga papa kok Tan,” jawab Indah cengengesan.


“Mawarnya ada dikamar,”tanya Mama.


“Ngga ada Tan, mungkin dia lagi diluar,”balas Indah.


“Hoh anak itu. Padahal udah gede masih aja main-main.” Ujarnya kesal.


“Oh iya Tan, nanti Ndah balik lagi kesini,” ujar Indah yang langsumg pamit.


Rangga sengaja hanya menunggu didalam mobil, sambil memberi intruksi kepada sekretarisnya yang ada di Australi untuk menghendel semua kerjaannya, Rangga masih ingin menyelamatkam suaminya.


Karena untuk saat ini, meninggalkan Indah sendirian adalah hal yang tidak bisa dirinya lakukan.


Indah berjalan menuju mobil yang dia parkir, saat melihat mobil yang ada disebelahnya. Dirinya kaget, ia faham betul siapa pemilkm mobil ini.


“Sayang ada apa? Kenapa bisa kamu disini? Kamu masuk bagaimana?” ujar Indah dengan pertanyaan yang beruntun.


“Ayo sekarang mau kemana lagi, aku ikutin,” jawab Rangga yang sama sekali tidak menanggapi pertanyaan awal sang istri.


“Ngga mau kamu belum jawab pertanyaanku,” ujar Indag cemberut.


“Nanti aku jelasin, sekarang ayo keluar dulu dari sini,” ujar Rangga.


Indah masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya keluar dari perkarangan rumah Mawar.


Taman adalaha tempat sasaran utama mereka berdua. Indah memarkiran mobilnya disusul oleh Rangga.


Mencari posisi duduk yang nyaman, untuk mereka berbicara.


“Jadi bagaimana bisa kamu masuk kesana?” pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Indah.


“Ya aku Cuma bilang, kalau kamu pacar aku,” jawab Rangga santai.


Indah masih menatap Rangga dengan tatapan intimidasi, ia masih tidak percaya bagaimana bisa Rangga mengikuti.


Oke guys sampai di sini dulu😍,


jangan lupa like dan vote ya

__ADS_1


serta ikuti akun aku.


Tolong jangan jadi pembaca aja, bantu like dan vote dari kalian ya😊.


__ADS_2