
Jo menaruh air minun yang masih penuh di atas meja makan.
“Tan, Jo permisi!” Jo berlalu pergi tanpa pamit kepada Reynand.
“Kok buru-buru, Jo?” tanya tante Emi.
“Iya. Jo lupa kalau ada PR yang harus dikerjakan.” Jo berkilah.
“Oo,” jawab tante Emi singkat.
Jo melangkahkan kaki ke arah pintu. Rey hanya menatap Jo yang pergi dengan terburu-buru.
‘Jo kenapa lagi? Apakah Ia cemburu?’ ucap Rey dalam hati.
“Ya udah, Rey. Dilanjut aja kasih les buat Nourma,” ucap tante Emi sebelum masuk dalam kamar.
Rey kembali melanjutkan memberikan materi les untuk Nourma. Hati Rey teringat kepada Jo yang tadi terlihat terburu-buru.
Melihat Nourma masih mengerjakan materi yang Rey berikan. Ia mengambil hand phone yang ia letakan di atas meja. Ia menggeserkan layar hand phone dan mencari nama Vicky.
‘Vic, Gue minta nomor hape Jovanka!’ Rey mengirim pesan pada Vicky.
Tak berselang lama. Vicky pun membalas pesan dari Rey dengan memberikan nomor WA Jo pada Reynand.
Selepas azan magrib. Rey berpamitan pada tante Emi dan juga Nourma.
“Biar Saya antar, Rey!” ujar tante Emi.
“Gak usah Tan, makasih. Rey ada perlu, mau ke rumah teman.”
“Ya udah, Saya antar ke rumah temen Kamu,” ucap tante Emi lagi.
“Makasih, Tan. Gak usah, Tante temani Nourma aja, kasihan Nourma kalau ditinggal,” sanggah Reynand.
“Ya udah, hati-hati, ya!”
Rey tersenyum.
Rey membereskan buku-buku ke dalam tas dan bergegas melangkahkan kaki menuju pintu depan.
Rey berjalan kaki menuju rumah Jovanka yang jaraknya agak jauh dari rumah tante Emi.
Tepat di depan pintu gerbang rumah Jovanka. Kaki Rey terhenti dan mengirim pesan singkat untuk Jo.
‘Jo, Gue tunggu Lu di pintu gerbang!’
Send.
Read.
‘Ini siapa?’ Jo membalas pesan.
‘Rey,’ Reynand membalas.
Dalam kamarnya yang luas. Jo terlihat kaget, ketika mengetahui yang mengirim pesan adalah laki-laki yang ia sukai.
Dengan cepat, Jo membuka lemari dan memilih baju yang akan membuat penampilannya cantik ketika bertemu dengan Reynand.
Satu baju yang telah Jo pilih. Mini dres yang tidak terlalu pendek, sesuai dengan yang Rey sukai. Tampak sederhana dan tidak terlalu seksi.
Pikirannya tersadar ketika Jo berdiri di depan cermin.
“Lah ... Kan, Rey cuma ngajak ketamuan di depan pintu gerbang. Kenapa Gue harus tampil cantik kek orang mau kondangan, sih?” gerutu Jovanka.
Jo meninggalkan kamar yang acak-acakan oleh beberapa potong pakaian. Jo melangkahkan kaki dan membuka handle pintu.
Jo menuruni anak tangga dan melewati ruang keluarga yang masih kosong tanpa penghuni. Jo keluar dalam rumah dan membuka pintu gerbang.
“Lama banget?” tanya Reynand sambil mengangkat alis.
“Mau ngapain Lu?” Jo malah bertanya dengan nada juteknya.
Rey memperhatikan wajah Jovanka yang seperti sedang kesal padanya.
“Lu kenapa sih, Jo?” tanya Reynand ketika ia melihat rona wajah Jo yang sedang kesal.
“Maksud, Lo?” tanya Jo sinis.
Rey menjadi bingung dengan keadaan ini. Jo selalu bersikap cemburu terhadapnya, padahal Jo bukan pacar Reynand.
Rey membalikkan badan dan melangkahkan kaki, bergerak pergi meninggalkan Jo yang seperti sedang kesal padanya.
Rey berjalan hingga beberapa meter ke depan. Tiba-tiba Jo memanggil namanya.
“Rey!” teriak Jovanka.
Langkah kaki Rey terhenti dengan posisi masih membelakangi Jovanka.
Tepat di samping Rey. Akhirnya Jo mencurahkan hatinya pada Reynand. Entah ini sah atau tidak, tetapi ketika cinta telah menguasai hati. Sudah tak dapat dibendung lagi. Akhirnya semua perasaan Jo terhadap Rey tercurah di malam ini.
“Sebenarnya, Gu-e ....” ucapan Jo terputus.
Rey masih menatap ke depan, walau Jo ada di sampingnya.
__ADS_1
“Gue ....” Masih tepotong, lidah Jo terasa kelu untuk membuka perasaannya terhadap Reynand.
“Suka sama, Lu!” Joe membuang napas, lega.
Rey menoleh ke samping kiri yang tengah berdiri gadis yang telah berani mengungkapkan perasaannya itu.
Rey tersenyum.
Jo semakin heran melihat Rey yang tengah tersenyum. Apakah itu artinya perasaannya sama dengan ku? Atau kah itu penolakan untukku? Suara hati Jo berkata.
“Apa arti dari senyum, Kamu, Rey?” Jo memandang wajah Rey yang tersenyum penuh misteri.
Rey menggenggam kedua tangan Jovanka dan memandangnya lekat, hingga Jo membuang muka karena merasa malu, terus dipandangi oleh Reynand.
Rey memegang dagu Jo dan mengarahkan pandangan Jo ke arahnya. Sehingga kini mereka telah saling bertatapan.
Rey melihat mata hitam yang seperti gelisah menunggu jawaban dari mulutnya. Jovanka tak kuasa menatap, tatapan mata Rey yang semakin tanjam melihat ke arahnya. Lagi-lagi Jo hampir membuang pandangannya.
“Jo,” ucap Rey lembut.
Jo mengarahkan pandangannya ke arah Reynand.
“Lu yakin dengan ucapan barusan?” Rey bertanya memastikan.
“Apa Kamu gak merasa, Rey? Ketika Kamu dekat dengan tante Emi. Hati Aku cemburu! Hati Aku sakit!”
“Maaf kalau selama ini Gue gak peka terhadap Lu, Jo!”
Jo tertunduk. Dalam hatinya ia berkata, apakah ini adalah suatu penolakan?
“Gue juga menyayangi Lu, Jo!” jawab Reynand.
Jo mendongak. Matanya kini telah berkaca-kaca. Jo menahan tangis haru kebahagiaan yang ia rasakan malam ini di pinggir jalan.
“Jadi, Kamu?” Jo masih ingin memastikan jawaban Reynand.
“Iya! Gue bukan cuma suka sama Lu, Jo. Tapi, Gue sayang sama Lu!” pungkas Reynand.
Seketika, air mata Jo menetes tatkala ia mengedipkan matanya.
Rey mengusap air bening yang jatuh di pipi Jovanka.
“Udah! Jangan menangis!” Rey mengusap dan sedikit mengacak rambut Jovanka.
Jo tersenyum.
“Tapi ....” kata Jo kembali terputus.
“Kenapa lagi?” tanya Reynand.
“Tergantung!” jawab Rey.
“Maksudnya?” Terlihat ekspresi bingung pada rona Jovanka.
“Kalau Gue putus dari, Lu. Why not?” Rey mengangkat satu alis.
“Masa sih mau?” tanya Jo.
Rey tersenyum.
“Menikahi Dokter Janda, dong?” ucap Jo.
“Hahaha ....” Rey tertawa.
“Ish! Kamu, ni! Jangan tertawa!” ucap Jo.
***
Rey menghempaskan tubuhnya di atas kasur lantainya. Sesekali ia tersenyum ketika memandang langit-langit kamar. Ia membayangkan kejadian yang tadi, dimana Jovanka telah mengutarakan perasaannya. Ketika Jo mengatakan cemburu melihat Rey berdekatan dengan tantenya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Suara pintu diketuk dengan suara yang makin mengencang.
Rey membukakan pintu kamar. Terlihat sosok Vicky yang sedang berdiri di depan kamarnya.
“Kenapa, Lu?” tanya Reynand.
“Gue diputusin sama Desi," ujar Vicky
“Kok bisa?” tanya Reynand.
“Entah,” ucap Vicky lesu.
“Ya udah. Jangan galau gitu, Bro! Laki kok galauan.” Rey tersenyum.
Vicky membisu. Masih di depan kamarnya Reynand. Ia hanya berdiri seperti sudah tidak ada gairah untuk menjalani hidup.
“Gue lagi sayang-sayangnya sama Desi, tapi Dia malah mutusin Gue! Salah Gue di mana coba?” Vicky menggerutu kesal.
“Udah. Kita nyari makan, yok? Pasti, Lu belum makan pan?” ucap Rey.
Rey masuk dalam kamar. Ia masih mengenakan kaos oblong yang didobel dengan sweater dan celana jeans pendek di bawah lutut serta sandal jepit.
__ADS_1
Vicky yang biasanya cerewet masalah pakaian, sekarang tak banyak berkomentar. Vicky lebih diam ketika ia sedang patah hati seperti sekarang.
Mereka berjalan di tengah keramaian Kota Bandung dengan menggunakan motor FU.
“Lu mau makan apa?” tanya Reynand.
“Serah!”
“Kek liat cewek lagi ngambek kalau denger jawaban Lu, Vic!” Rey terkekeh.
“Heleh! Kayak udah punya pacar aja, Lu!” ucap Vicky sambil menoyor kepala Rey yang ditutup dengan helm.
Rey memarkirkan motor di depan rumah makan yang sederhana.
“Kenapa berenti di sini?” tanya Vicky.
“Duit Gue gak cukup kalau ke restoran, Kuya! Udah, yang penting Lu makan, rewel banget Lu! kek Emak-Emak!”
Reynand dan Vicky memesan makanan. Ketika menunggu makanan terhidang di atas meja. Vicky masih terlihat galau.
Apakah putus cinta itu menyakitkan? Hingga Vicky yang cerewet kek mulut cewek bisa sediam itu, hingga larut dalam lamunan. Terbesit dalam hati Reynand.
Semua menu makan dan minuman yang dipesan telah datang dan pelayan rumah makan itu menyediakan di atas meja mereka.
Entah karena Vicky belum makan atau memang ia ingin menyembunyikan perasaan galaunya. Vicky makan dengan lahapnya.
Reynand hanya tersenyum melihat tingkah temannya yang sedang patah hati itu.
“Pelan-pelan, nanti keselek, Lu!” ucap Rey sambil meneguk air putih dalam gelas.
Vicky tak menggubris. Ia melanjutkan makanan yang ia pesan. Sesekali ia menyeruput es jeruk dan mengusap keringat dengan lengannya.
“Ayok balik!” Ajak Vicky.
Rey tidak banyak bicara. Ia memberikan waktu kepada temannya yang sedang kesal karena telah diputuskan oleh pacarnya yang bernama Desi.
Kursi di dorong ke belakang dan mereka meninggalkan meja makan setelah membayar uang makan.
Langkah kaki mereka kini menuju pintu dan keluar dari rumah makan sederhana itu. Tepat di seberang jalan. Terlihat restoran yang mewah, sorot mata Vicky sangat tajam ketika melihat restoran itu.
“Desi?” ucap Vicky spontan.
“Lu kenapa?” tanya Rey heran.
“Itu Desi, Rey!” Telunjuk jari Vicky menunjuk ke restoran mewah itu.
Banyak sekali customer yang sedang makan di restoran itu. Namun, Vicky masih melihat sosok Desi yang tengah makan bersama seorang cowok yang usianya jauh di atas Vicky. Langkah kaki Vicky terayun ke seberang jalan.
“Mau ke mana, Lu?” ujar Rey yang mengejar Vicky.
.
“Jadi, ini alasan Lu ninggalin, Gue?” Vicky terlihat kesal ketika melihat mantan yang baru saja memutuskannya kini tengah asyik makam dengan lelaki lain.
“Aku bisa jelasin!”
Terlihat Desi menarik lengan Vicky. Membawanya menjauh dari sosok laki-laki yang jauh lebih dewasa itu.
“Sorry, Vic. Aku memang menyayangimu tapi ....” ucapan Desi terpotong.
Terlihat sorot mata Vicky semakin tajam melihat mata mantan kekasihnya itu.
“Aku dijodohkan dengan Dimas,” terucap dari mulut mungil Desi.
“Kenapa Lu mau?” tanya Vicky.
Desi membisu.
“Gue sayang, Lu Des. Gue mohon, balik lagi sama Gue, ya?”
Desi masih membisu.
Lengan Desi digenggam Vicky seraya memohon agar Desi bisa meninggalkan cowok itu dan memilihnya kembali.
Namun, Desi malah menghempaskan lengan Vicky yang sedang menggenggamnya.
“Lepasin!” ujar Desi.
Mata Vicky membulat ketika melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh mantannya itu.
“Gue yang lebih milih Dia dari pada Lu! Karena ia lebih mapan. Sedangkan, Lu? Kita masih seumuran. Gue belum tau, kelak Lu akan menjadi apa? Gue memilih yang lebih pasti!”
Bagai petir di siang bolong ketika mendengar ucapan dari mantannya itu. Dengan kaki yang gontai, Vicky pergi meninggalkan Desi. Sudah cukup jelas pengakuan dari Desi yang membuat hatinya terluka dengan alasannya.
Rey yang sedari tadi menunggu Vicky di atas motornya, mengernyitkan dahi melihat ekspresi kecewa pada Vicky.
Vicky naik ke jok belakang.
“Balik, Rey!” Perintah Vicky dengan nada lemas.
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁