
Princess menggandeng tangan Alexy dengan mesra. Tapi, ada yang aneh dengan bentuk tubuhnya. Perutnya sedikit membuncit.
“Nana?” sapa Princess ketika melihat Rhiena yang sedang menunggu kue pesanannya.
“Princess?”
Rhiena tak kalah kaget, matanya membulat lalu menyipit seketika ketika melihat perut Princess.
Princess tersenyum ketika melihat pandangan Rhiena yang seperti heran melihat perutnya.
“Perutmu kenapa?”
Benar saja. Rhiena bertanya tentang perut Princess yang membesar.
Princess tersenyum, “Aku hamil, Na.”
“Hah? Hamil? Kapan kamu nikah?” ujar Rhiena heran.
“Aku udah tujuh bulan nikah dan usia kandunganku sekarang dua puluh minggu. Oh iya, kenalin, ini suamiku.”
Princess mengenalkan suaminya.
“Alexy.”
Dia mengulurkan tangan.
“Rhiena.”
Mereka berjabat tangan.
“Berarti, usia kandunganmu sekitar lima bulan, ya?”
Rhiena masih penasaran.
“Iya, masuk ke enam bulan,” jawab Princess.
Rey menghampiri Rhiena, bermaksud untuk mengajaknya pulang karena Rey harus segera istirahat agar esok hari tubuhnya fit untuk bekerja.
“Na, ayo balik!” ujar Rey yang membuat mata Princess terbelalak.
“Rey?” sapa Princess.
Sedangkan Alexy berusaha mengingat lelaki ini. Karena ia pernah melihat lelaki ini. Ya, ia mengingatnya setelah beberapa detik ketika memandang wajah pria tampan itu.
“Sayang, Mas minta waktu bicara sebentar. Rey? Bisakah kita bicara di luar?” ujar Alexy yang telah mengingat wajah Reynand.
Tanpa menjawab, Rey ngeloyor ke luar dari toko kue meninggalkan Princes dan Rhiena sedangkan Alexy ikut mengekor dirinya.
Rey berdiri tepat di bawah pohon besar yang ada di pinggir jalan.
“Mau ngomong apa?” ujar Rey dengan pandangan ke jalan.
“Aku mau minta maaf,” ujar Alexy.
Rey tidak menjawab. Ia masih dengan posisinya, melihat ke jalan dan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana.
“Kamu benar-benar mencintai Jovanka ‘kan?” tanya Alexy.
“Untuk apa lu tanya?”
Rey merasa sedikit kesal.
“Aku sengaja menceraikan dia, agar bisa kembali bersamamu!”
“Alasan!” Rey menatap tajam mata Alexy. “Lu itu pengecut!” Telunjuk Rey mengarah ke wajah Alexy.
“Maksudnya?”
“Kalau lu tidak pengecut, lu ceraikan dulu Jovanka. Bukan malah menikah dulu dengan Princess, yang akhirnya akan membuat hati Jovanka lebih sakit!”
__ADS_1
“Jo tidak pernah mencintaiku, Rey. Dia terlalu menyayangimu.”
“Dari mana lu tau? Tetap saja cara lu salah!”
“Fine! Aku tau, caraku salah! Aku siap kalau suatu saat dibenci oleh Jovanka dan orang-orang di sekitarnya. Tapi, ini sudah menjadi keputusanku. Banyak hal yang kamu tidak tau dariku.”
Rey menggeleng. Hatinya tetap menyalahkan Alexy yang membuat hati Jovanka terluka. Padahal, dengan Alexy menceraikannya. Ia memberikan peluang besar untuk Rey agar bisa mendekati Jovanka. Walau Alexy mengambil keputusan dengan cara yang salah.
“Aku menikahi Princess karena hutang budi. Dia yang merawatku ketika aku koma, setelah sadar aku amnesia dan tidak dapat berjalan. Princesslah yang merawatku dengan sabar. Dari situ, tumbuh benih cintaku padanya, terlebih orang tuannya telah meninggal dunia.”
“Apa pun alasan lu, di mata gue tetap salah!”
Alexy mengangguk, “Aku tau. Karena aku pun menyadarinya, maaf!”
“Lalu, kenapa lu tetap melakukan itu?”
“Percayalah, Rey. Aku melakukan hal itu untuk kebaikan kita semua. Aku bisa hidup bahagia dengan Princess yang tulus mencintaiku dan kamu mendapatkan Jovanka walaupun statusnya sebagai janda. Yang perlu kamu tau, aku tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengan Jovanka!”
“Apa?”
Mata Rey membulat.
Alexy mengangguk, “Karena hal itu yang membuatku sadar. Kalau Jo benar-benar menyayangimu. Ia tetap menjaganya miliknya untukmu. Aku tau, Jovanka sangat mencintaimu. Sorot matanya penuh cinta ketika melihat kamu menyanyi di pesta pernikahan kami dulu. Aku kira, dengan menjalin rumah tangga denganku, lambat laun hati Jo akan terbuka dan menerimaku. Jo memang baik, ia menjadi istri yang baik dan menurut sama suaminya. Tapi satu hal, ia tidak pernah memberikan hakku sebagai seorang suami, itu karena ia belum bisa moveon dari kamu, Rey!” Alexy bercerita.
Hening.
Pikiran Rey berkecamuk.
Ya Tuhan ... Sebesar itukah cinta Jo terhadapku? Ia rela berdosa terhadap suaminya, hanya untuk menjaga kesuciannya untukku.
“Rey?” sahut Alexy.
“Aku mohon, jaga baik-baik Jovanka. Jangan memandang ia dengan status janda. Karena itu hanya sebuah status untuknya. Percayalah, ia masih sempurna. Aku kini telah bahagia, terlebih Princess sekarang tengah hamil. Satu hal harapanku, semoga kalian juga cepat bisa hidup bersama. Walau aku tau, caraku salah aku menikah dengan Princess sebelum menceraikannya. Semoga kalian hidup bahagia selamanya.”
Alexy berlalu pergi, sedangkan Rey tetap mematung di pinggir jalan. Tidak berselang lama, Rhiena menghampiri Rey yang masih berdiri di pinggir jalan.
Rey terperanjat, lalu memandang wajah adik kembarnya. Tak ada ucapan dari bibir Rey, ia langsung menuju ke mobilnya lalu masuk dan diikuti oleh Rhiena, adik kembarnya.
**
Rey berjalan gontai menaiki anak tangga. Ia mendorong pintu kamar lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya memandang ke langit-langit kamar berwarna putih.
Tuhan ... Entah aku harus senang atau sedih mendengar prahara rumah tangga Alexy dan Jovanka dulu. Sebagai lelaki, aku sangat bahagia mendengar pengakuan itu dari Alexy. Tapi, kalau aku menempatkan diri sebagai Alexy, betapa terluka hatinya yang hidup bertahun-tahun tapi tidak pernah mendapatkan kasih sayang dan haknya sebagai suami. Entah. Ujar Rey dalam hati.
Memang, selama dua tahun Alexy membina rumah tangganya dengan Jovanka tapi, selama itu juga Alexy tidak pernah menuntut Jo untuk melayaninya. Ia menunggu keikhlasan Jovanka. Selang dua tahun membina rumah tangga. Alexy harus ke Singapura untuk bertugas di sana. Selama lebih dari dua tahun mereka terpisah, sampai tersiar kabar Alexy telah meninggal dunia. Entahlah, mungkin ini sudah takdir. Manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang mengatur segalanya. Terkadang, apa yang menurut kita baik, belum tentu baik di mata-Nya.
***
Siang ini, Nadin mengutus karyawannya untuk datang ke apartemen Rendy untuk mengurus beberapa berkas dan menandatangani kesepakatan antara perusahaan dengannya.
Nadin mengangkat telepon dan menghubungi salah satu staf terbaiknya.
[Heru, ke ruangan saya sekarang!]
Nadin menutup teleponnya.
Tidak berselang lama, pintu kantornya ada yang mengetuk.
“Masuk!” jawab Nadin dari dalam ruang kerjanya.
“Siang, Bu?” ujar lelaki seusia putranya. Walaupun masih muda, Heru merupakan salah satu staf terbaik di perusahaan Nadin.
“Siang, silakan duduk.”
Heru pun menarik kursi yang ada di depan meja kerja Nadin.
“Her, kamu ke apartemen Pak Rendy, ya? Nanti saya kasih alamatnya.”
“Pak Rendy Bandung? Bukannya perusahaan beliau sudah pindah tangan ya, Bu?”
__ADS_1
“Iya. Dia sekarang ada di Jakarta. Saya ingin dia mengurus perusahaan baru kita. Ini alamat dan berkas yang harus ditandatangani.”
Nadin memberikan Alamat apartemen Rendy.
“Baik, Bu. Ada lagi?”
“Cukup, hanya itu saja.”
“Baik, Bu. Permisi?”
Heru berdiri dan membawa dokumen yang diberikan oleh Nadin, bos di perusahaan itu.
.
Tok ... Tok ... Tok ....
Pintu apartemen Rendy diketuk.
Meli membuka pintu. Terlihat lelaki muda berpakaian rapi dengan wajah tampan yang membawa tas selempang hitam.
“Permisi, Bu?” sapa Heru.
“Siang. Cari siapa, ya?” ujar Meli.
“Pak Rendy nya ada? Saya Heru, staf kantor Nadin grup.”
“Oh ... Utusan Bu Nadin. Ada kok, suami saya. Sebentar, ya? Mari, silakan duduk dulu.”
Meli membuka lebar pintu apartemennya.
Heru duduk di sofa dan Meli memanggil suaminya yang berada dalam kamar. Tidak berselang lama. Rendy ke luar dari dalam kamar, kini ia sudah dapat berjalan walau masih menggunakan tongkat.
“Pak Rendy?”
Heru berdiri ketika melihat Rendy yang sedang berjalan ke arahnya.
Rendy tersenyum. Silakan, duduk saja, Nak!”
Heru tersenyum dan Rendy pelan-pelan duduk di sofa itu.
“Ada apa, ya?” tanya Rendy.
“Maaf, Pak. Sebelumnya saya perkenalkan diri, nama Saya Heru. Saya salah satu staf Ibu Nadin. Ini, Pak. Saya diutus Bu Nadin untuk memberikan berkas ini pada Pak Rendy untuk ditandatangani. Diperiksa dulu saja, kalau ada yang tidak mengerti bisa langsung bertanya pada saya.”
“Baiklah.”
Rendy meraih berkas yang diberikan oleh Heru. Ia membaca dengan teliti, lalu menandatanganinya.
“Ini, hanya satu ini saja?”
“Iya, Pak. Hanya ini. Baiklah, saya pamit dulu ya, Pak? Selamat siang!”
“Siang!”
Heru pun berlalu pergi. Senyum bahagia mengembang di bibir Rendy. Ia merasa bahagia hari ini.
“Loh ... Tamunya ke mana, Pa?” ujar Meli yang membawa secangkir kopi dan camilan.
“Udah kembali ke kantor. Hanya minta tandatangan Papa saja, ia kan harus kembali bekerja.”
“Oh ... Ya sudahlah ....”
Meli kembali membawa cangkir yang berisi kopi ke dapur.
Rendy terus belajar berjalan. Terapinya sudah dihentikan karena ia merasa sudah bisa belajar sendiri, semuanya sudah membaik.
Rendy berjalan melewati foto Jovanka yang terpasang di dinding. Ia memandang haru pada foto yang berukuran cukup besar itu. Ia mengusap foto putrinya dengan lembut. Matanya pun berkaca.
Maafkan Papa, Nak. Gara-gara Papa, bertahun-tahun kamu hidup menderita karena harus berdampingan dengan orang yang kamu tidak cinta. Ternyata, anggapan Papa selama ini salah. Papa harus bagaimana untuk menebus rasa bersalah Papa sama kamu, Jo? Apakah Papa harus memberikanmu restu untuk menikah dengan laki-laki pilihanmu, Nak? Suara hati Rendy yang diiringi dengan air yang menetes di pipinya.
__ADS_1