
Ponsel di tangan Jovanka bergetar.
Davin dan Jovanka melihat ke arah ponsel, perdebatan pun terhenti.
“Mas Alex!”
Netra Jo membulat.
“Angkatlah, malah dipelototin!” sambar Davin.
“Bener ‘kan? Suamiku mau pulang?”
Giliran Jovanka yang tersenyum penuh kemenangan.
“Iya, kalau pulang. Kalau kagak, jam tangan baru milik gue, ya?”
Davin memainkan alisnya.
“Ish! Udah diem! Mau kangen-kangenan ini!” Jo tersenyum.
“Heleh!”
Jovanka menyentuh layar ponsel itu. Sengaja ia load speaker agar Davin bisa mendengar perbincangan mesra mereka.
“Halo, Mas.”
Dengan suara lembut.
[Jo, maaf. Aku gak bisa pulang hari ini. Tiba-tiba aku disuruh membantu klinik di sini yang kekurangan orang. Sebagai Dokter, aku gak bisa protes. Karena itu sudah menjadi sumpahku. Aku bersedia ditempatkan di mana pun,] terang Alexy dalam telepon.
Netra Jovanka membulat, ada raut kecewa di wajahnya. Sedangkan Davin menutup mulutnya, sebenarnya dirinya sudah tidak sanggup menahan tawa.
[Sayang, kamu gak marah ‘kan?]
ujar Alexy dalam telepon.
Jovanka menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan, “Enggak kok, Mas! Ya udah, Mas baik-baik di sana. Jo mau kuliah dulu, bye!”
Telepon pun terputus.
“Hahaha ... Milik gue!” ujar Davin ketika telepon sudah ditutup, “Mane?” Tangan Davin terulur.
Jovanka pun terpaksa memberikan jam tangan seharga lima juta untuk lelaki songong itu.
“Asyikkk! Sering-sering ya, khilaf kek gini? Gue suka gaya khilaf lu, Jo!”
Davin tersenyum menyebalkan.
“Ya udah. Kamu ‘kan sebentar lagi mau wisuda. Anggap saja itu hadiah dan rasa syukur aku,” ujar Jovanka.
“Uluhhh ... So sweet banget sih kata-kata lu, Jo? Padahal gue gak sweet ke elu! Thank’s, ya?” Davin kembali tersenyum.
“Iyalah! Kan, setelah kamu lulus. Gak ada lagi orang nyebelin! Aku terbebas dari makhluk rusuh kayak kamu!” Jo berlalu pergi.
Jo, lu ‘tuh ngingetin gue sama seseorang! Semangatnya, cerianya. Lu mirip banget sama dia! Umpat hati Davin yang melihat Jovanka pergi meninggalkannya.
***
Di sisi lain ada Reynand yang tengah sibuk menyelesaikan jam terbangnya. Hari-harinya disibukkan dengan sekolah penerbangannya.
Hingga tak terasa, jam sekolah telah berakhir.
“Rey, saya salut sama kamu. Semangat dan kepribadianmu mirip dengan saya waktu masih muda. Semoga kamu berhasil ya, Rey!” ujar Captain Wahyu.
“Makasih, Cap! Tapi, Rey belum jadi apa-apa.”
“Iya, tapi saya yakin. Selepas dari sini, kamu langsung direkrut oleh salah satu maskapai di sini. Karena, kamu itu siswa yang paling menonjol prestasinya di sini.”
Rey tersenyum.
“Ya sudah, saya permisi. Putri saya pasti sudah menunggu,” ujar Captain Wahyu.
“Iya, Cap! Hati-hati!”
.
Rey memacu mobil hitamnya dengan kecepatan tinggi. Tapi, tiba-tiba ada gadis menyeberang tanpa melihat kanan dan kiri. Rey langsung menginjak rem, seketika mobil pun terhenti.
“Mati, gue!”
Jantung Rey berdebar kencang saat itu. Gadis itu pun sepertinya tidak kalah syok. Terbukti, kue yang ada di tangannya sampai terhempas dan jatuh.
Ceklek!
Rey ke luar dari mobil.
“Kamu gak papa?” ujar Rey pada gadis itu.
“Gak papa.”
Tangan gadis itu gemetar. Rey bisa melihatnya dengan jelas.
“Mari, duduk dulu di kursi? Sepertinya kamu syok,” ujar Rey.
Rey mengajak gadis itu duduk di kursi kayu pinggir jalan. Mobil pun sudah terparkir di sisi jalan. Rey mengambil air mineral yang ada di mobilnya.
“Nih, minum. Gue belum meminumnya, masih baru kok!” ujar Reynand sambil menyodorkan botol air mineral pada gadis itu.
Gadis itu meraih botol air mineral yang ada di lengan Reynand, “Thank’s, ya?” ujar gadis itu, lalu ia pun meminumnya.
Rey mengangguk.
__ADS_1
Gadis ini mirip banget sama Jovanka, umpat Rey dalam hati.
“Maaf, ya? Gue gak sengaja,” ujar Reynand.
“Gak papa. Bukan salah Kakak kok. Tadi aku jalan tidak melihat kanan dan kiri,” ujar gadis itu.
“Nama lu siapa?” tanya Reynand.
“Adara,” ujar gadis cantik itu.
“Gue Reynand, panggil saja Rey. Oh iya, kue lu jadi rusak. Biar gue ganti, ya?”
“Gak usah, tidak apa-apa, Kak,” tolak gadis cantik itu.
“Pliss ... Kalau kek gini, gue jadi merasa salah banget sama, lu!” ujar Reynand.
Hening.
“Ayolah. Gue gak bakal ngapa-ngapain lu kok di mobil,” ujar Rey.
Seketika gadis itu tersenyum, “Siapa juga yang mikir seperti itu? Toko kuenya udah tutup kak,” ujar Adara.
“Yang lain ‘kan banyak! Gue tau kok tempat kue yang enak. Nyokap suka beli di sana,” ujar Reynand.
“Oh, ya?”
Netra Adara membulat.
Rey mengangguk.
“Ya sudah, aku ikut Kakak,” jawab Adara.
Rey dan Adara masuk ke dalam mobil dan melesat ke salah satu toko kue langganan Nadin, Mama dari Reynand.
Srett!
Mobil terhenti di sebuah toko kue yang cukup besar.
“Di sini, Kak, tempatnya?” tanya gadis yang bernama Adara.
“Iya, ayok turun!” ujar Reynand.
Rey dan Adara masuk ke dalam toko kue itu. Mata Adara terbelalak ketika melihat banyak sekali kue dengan beraneka warna, bentuk dan ukuran di dalam sana.
“Mau yang mana?” tanya Rey.
Adara masih memilih.
“Kira-kira, hadiah buat Papa yang mana, ya?” celetuk Adara.
“Papamu menyukai apa?” tanya Reynand.
“Papa seorang Captain pilot dan mengajar di DFS,” ujar Adara.
“He’em! Kakak kenal?” ujar Adara tanpa menoleh, matanya masih sibuk memilih kue.
“Ya kenal, lah! Gue kan diajarin sama Capten Wahyu,” jawab Rey.
“Waahhh ... Gak nyangka, malah ketemu sama anak didik Papa!” Adara tersenyum.
Apa yang di maksud Capten Wahyu itu Adara? Kalau iya, berarti Adara itu putrinya Cap Wahyu, dong? Umpat hati Rey.
Adara masih memilih kue yang mau ia beli dan akhirnya, ia memilih kue brownis yang berukuran sedang, dengan tampilan yang memukau.
“Mbak, saya mau yang ini!”
Adara menunjuk kue yang ia mau.
“Silakan. Bayarnya langsung di kasir ya, Mbak!”
Adara mengangguk dan berlalu pergi ke kasir. Ia merogoh uang yang ada di saku celana jeansnya.
“Udah, biar gue aja yang bayar. ‘Kan tadi gue yang bikin kue lu jatuh,” ujar Reynand.
***
Rey melesat menuju rumah, setelah Adara memilih untuk naik taksi. Ia tidak ingin merepotkan Reynand, alasannya. Sepanjang jalan, Rey teringat akan sosok gadis yang bernama Adara.
“Tuhan, apakah hatiku telah terbuka untuk wanita lain? Tetapi, kenapa harus wanita yang seperti Jovanka, yang bisa membuatku bergetar. Kenapa bayang-bayang Jovanka selalu menghantuiku? Aku rasa, ini hanya perasaan sementara, karena Adara begitu mirip dengan Jovanka."
Tak terasa, kini mobilnya sudah memasuki gerbang rumahnya. Ia bergegas turun dan langsung naik ke kamar.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka.
Rey langsung menyimpan ransel dan bergegas ke kamar mandi.
Tubuhnya berasa segar setelah mandi sore itu. Rey membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata.
“Adara?”
“Kenapa sosoknya terlihat ketika aku memejamkan mata?”
“Tuhan, jangan Kau siksa aku dengan bayangan Adara yang seperti Jovanka!”
Tok ... Tok ... Tok ....
Rey kaget ketika pintu kamarnya ada yang mengetuk. Rey bangkit dari tepat tidur dan membukakan pintu.
“Abang, Mama telepon. Nih!”
__ADS_1
Rhiena memberikan ponselnya pada Reynand.
Rhiena kembali ke kamar dan Rey mengangkat telepon dari Mamanya.
[Halo, Rey?]
[Iya, Ma? Mama apa kabar?]
[Baik, kalian di rumah gak berantem ‘kan, selama Mama di Bandung?]
[Enggaklah, Ma! Emang kita anak kecil apa?]
[Oh iya ... Mama sampai lupa. Kalau anak-anak Mama sudah punya pacar.]
[Hem ... Mulai deh, ngomongnya ke mana-mana.]
[Rey, Mama ketemu gadis cantik. Ia calon dokter. Mama mau deh, punya menantu kaya dia!]
[Yaelah, Ma! Mama nelpon Rey cuma buat ngomongin orang?]
[Hahaha ... Iya, Mama lupa, kalau anak laki-laki Mama enggak suka ngomongin orang.]
Rey dan Mamanya berbincang di telepon, cukup lama. Mereka menumpahkan rasa rindunya karena beberapa hari ini mereka terpisah.
[Ma? Kenapa Mama telpon ke nomor Nana?]
[Nomor ponselmu gak aktif, Sayang!]
[Masa, sih?]
[Cek aja!]
Akhirnya telepon ditutup ketika ponsel milik Rhiena juga sudah lowbatt.
“Na! Hapemu lowbatt!” pekik Reynand.
***
Dalam gelapnya malam, Rey berusaha memejamkan mata. Hatinya selalu merindukan Jovanka. Tapi, ia sadar diri. Jo sudah menjadi milik orang lain.
Hampir dua tahun, Rey dan Jovanka tidak pernah bertemu atau pun hanya sekedar berbalas pesan singkat. Walau mereka masih saling menyimpan nomor kontak. Rey tidak ingin rumah tangga Jo berantakan, walau dalam hatinya sungguh tersiksa.
Rey membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Angannya terbang entah ke mana. Ia mencoba memejamkan mata, tetapi selalu gelisah.
“Tuhan ... Kenapa aku menjadi gelisah? Apakah karena aku telah mengecewakan Princess? Atau ‘kah karena pertemuanku dengan Adara yang membuatku kembali mengingat Jovanka?”
Rey menghela napas panjang dan menghempaskannya perlahan, berharap hatinya menjadi tenang. Tapi, itu semua sia-sia, tidak ada yang terjadi pada dirinya. Malah, hati yang semakin merindu akan kehadiran Jovanka.
“Jo! Kenapa gue gak bisa move on dari, lu? Gue udah coba, Jo! Plisss! Jangan siksa gue!” pekik Reynand di atas tempat tidur.
Rey bangkit dari tempat tidur menuju meja belajarnya. Ia mengeluarkan kertas dan memegang bolpoin di tangannya. Tangannya mulai menggoreskan tinta di atas keras putih dengan ungkapan hati yang sedang ia rasa.
ΦΦ
Dulu ….
Ragamu berada di sampingku.
Aku mengira, ragaku dan ragamu akan menjadi satu.
Tapi, aku salah.
Karena engkau telah melangkah dengan yang lain.
Ku tata hidup yang berkeping
Aku merasa sendiri.
Sunyi dan sepi, selalu mengikutiku.
Seolah, mereka abadi dalam jiwa,
kosong tanpa ada kamu.
Apakah di sana kau mengingatku?
Di sini, aku selalu terbayang cantik wajahmu.
Mesra dan hangat dekapanmu.
Kasih, walau kau telah milik yang lain.
Hatiku selalu mengingatmu.
Adakah kau merindukanku?
Beribu bait indah tak mampu menggambarkan rasa hati.
Jiwa kosong tanpa penghuni.
Akankah ada yang mampu mengetuk hatiku?
Setelah hati ini 'tlah terisi oleh indah kenangan bersamamu.
Jovanka.
Satu nama, yang tetap abadi dalam hati.
ΦΦ
Reynand Adam.
__ADS_1
~Zank Lee~