
Rey duduk sambil bersandar di headboard tempat tidur setelah tubuhnya merasa lebih baik. Lelaki iu menatap wajah Jovanka, terutama sepasang mata yang mulai berkaca-kaca.
Sepertinya Jo terharu. Batin Rey.
"Sayang, kenapa kamu malah menangis?" tanya Reynand dengan tangan kanan yang mengusap air mata pada sudut mata Jovanka bergantian.
Jo tidak menjawab, air matanya semakin luruh ketika tangan kekar itu mulai mengusap air mata yang hingga basah ke pipi.
"Sayang, jangan menangis. Aku enggak apa-apa, kok." Reynand mencoba menenangkan istrinya. Namun, bukannya berhenti. Jo malah menangis semakin menjadi.
"Huwwaaaa ... pantas baksoku sama sekali enggak pedas," ucap Jovanka ketika menangis. "Kenapa kamu tuker, Rey?"
"Karena aku enggak mau kamu sakit perus, Sayang," ucap Rey yang lalu berkhayal ketika nanti Jovanka akan bersikap manis akan aksi heronya.
Nah ... habis ini, Jo pasti akan memelukku dan mengucapkan terima kasih. Ahh ... aku menunggu hal itu terjadi, batin Reynand yang sedang berkhayal.
'Buk!'
Jovanka memukul paha Reynand.
"Aw! Sakit, Jo." Reynand tersadar dari lamunan. "Kok, malah dipukul?" Rey merasa heran dengan tangan mengusap paha yang baru saja dipukul oleh istrinya.
"Aku kesal sama kamu!"
"Kenapa?"
"Bakso pedas itu udah ada dalam anganku sejak di Jepang sana," ucap Jo begitu kesal.
"Tapi, aku ngelakuin itu semata enggak ingin kamu sakit perut, Jo." Rey mencoba meyakinkan.
"Pokoknya aku kesal!" ucap Jo dengan bibir mengerucut.
Hening.
Tangisnya memang telah terhenti. Namun, bibirnya masih konsisten mengerucut kesal. Kedua tangan yang dilipat di dada, mencerminkan bahwa Jovanka benar-benar kesal.
Waktu telah menunjukkan hampir jam dua belas malam. Rey dan Jovanka masih diliputi dengan keheningan yang menyelimuti.
Rey sedikit menggeser pantatnya dari kasur. Namun, Jovanka malah semakin menjauh.
"Sayang ...." panggil Rey dengan lembut.
Jovanka masih membisu. Setengah mati dia begitu kesal malam itu.
"Marahannya udahan, dong. Masa dua jam kita diam-diam terus? Aku kesepian," ucap Rey sedikit memelas, tapi Jovanka masih membisu.
__ADS_1
"Sayang, baikkan?" Reynand mengangkat jari kelingkingnya di depan wajah Jovanka.
Jo menatap wajah suaminya masih dengan mengerucutkan bibir. Sedangkan Rey tersenyum ketika melihat Jovanka yang sedang marah malah membuatnya semakin gemes.
Aahhh ... aku cium juga, kamu! Rey berucap dalam hatinya.
Jovanka masih kesal, dia bangkit dari kasur lalu berjalan sambil membawa bantal dan juga guling.
"Kamu mau ke mana?" tanya Rey ketika melihat istrinya menjauh.
"Tidur!" ketus Jovanka tanpa melihat wajah suaminya, dia membelakangi tubuh Reynand.
"Tidur di mana? Kenapa enggak di sini bersamaku?" tanya Reynand lagi.
Jovanka tidak menjawab, dia berjalan menuju sofa yang ada di dekat meja kerja Reynand masih di kamar yang sama.
Jovanka membaringkan tubuhnya, memeluk guling lalu matanya terpejam membuat Rey merasa bersalah.
Ya Tuhan ... ternyata aku salah. Padahal, aku hanya ingin Jo baik-baik saja, tapi dia malah marah padaku. Apes bener malam ini. Batin Reynand.
Waktu telah menunjukkan jam dua pagi. Mata Reynand masih terjaga, sedangkan Jovanka sepertinya telah tertidur pulas karena dengkur halusnya telah terdengar.
Rey melihat tubuh Jovanka yang mulai meringkuk, sepertinya dia mulai merasa kedinginan. Perlahan, Rey meraih selimut dan cairan infus. Dia berjalan pelan menuju sofa yang ditiduri oleh istrinya lalu menyelimuti tubuh putih Jovanka.
Rey mengecup kening Jovanka.
Andai hal itu tidak aku lakukan. Mungkin, Jo tidak akan marah. Tapi, lebih baik Jo marah padaku daripada aku melihat dia sakit. Batin Rey yang sudah terbaring di kasur, tetapi matanya masih lekat menatap istinya yang sudah terlelap di sofa.
***
Jovanka terbangun, dia kaget dengan alarm yang berbunyi cukup kencang di atas meja kerja Reynand. Wanita itu pun meraih beker lalu mematikannya.
"Rupanya udah jam setengah lima pagi," gumam Jo. Dia mengusap wajah lalu mengikat rambut panjangnya.
Mata Jo membulat ketika menyadari ternyata dari semalam dia mengenakan selimut. Padahal, seingatnya dia hanya membawa satu bantal dan guling tanpa membawa selimut ke sofa yang dia tiduri.
Jo mengangkat pandangannya lalu melihat ke ranjang. Di sana ada suaminya yang masih tertidur meringkuk memeluk bantal.
"Rey?" ucap Jovanka begitu pelan ketika melihat suaminya.
Jovanka bangkit dari sofa berwarna cream lalu berjalan menuju ranjang di mana suaminya masih terlelap dengan selimut yang dia bawa.
Jo menyelimuti hangat tubuh Reynand. Dia melihat cairan infus itu yang ternyata tinggal sedikit. Jovanka segera mengganti cairan itu dengan botol yang baru. Dia duduk di tepi ranjang, memandang wajah suaminya. Sesungguhnya, Jo merasa bersalah ketika malam itu. Namun, egonya mengalahkan rasa menyesal yang ada dalam dirinya.
Jo bangkit dari tepi ranjang lalu melangkah. Baru saja wanita itu tiga kali melangkah, Reynand memanggil namanya.
__ADS_1
"Rey?" gumam Jovanka ketika mendengar suaminya memanggil namanya. Namun mata Reynand masih terpejam. "Sepertinya dia ngelindur," ucap Jo dengan seulas senyumnya.
Hati Jovanka senang tatkala melihat sang suami seperti itu. Di dalam mimpi saja, namanya selalu di sebut. Apalagi ketika sadarnya?
Jo bergegas ke dapur, di sana sudah ada Nadin dan juga asisten rumah tangga mereka.
"Sayang? Udah bangun?" ucap Nadin kala melihat Jovanka yang masuk ke dapur.
Jovanka tersenyum. "Udah, Ma. Nana belum bangun?" tanya Jovanka.
"Udah, dia sedang mandi, Sayang," jawab Nadin yang cukup membuat pipi Jovanka memerah karena malu. Padahal, Nadin sama sekali tidak bermaksud seperti itu.
"Maaf, Ma. Jo kesiangan," ucap Jo malu-malu.
"Wajah atuh, Neng. Namanya juga pengantin baru, ya Nya?" goda asisten rumah tangganya.
Nadin hanya tersenyum pun dengan Jovanka. Padahal, malam tadi tidak ada ritual pengantin baru. Yang ada Jovanka merajuk pada Reynand.
"Jo bantu apa, nih?" Jovanka mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kamu siapin aja sarapan ini ke meja makan, ya Sayang," titah Nadin lembut.
"Baik, Ma." Jo mulai menata menu sarapan ke meja makan.
Ketika Nadin berjalan menuju kamarnya, dia melihat Jovanka yang sedang menata sarapan pada tempat yang berbeda.
"Sayang, kenapa itu dipisah?" tanya Nadin heran.
"Ini buat Rey, Ma. Rey sepertinya sarapan di kamar. Dia kurang enak badan, semalam BAB terus, tapi sekarang sudah membaik, kok. Makanya Jo bawain aja ke kamarnya. Boleh, kan, Ma?" tanya Jovanka.
"Boleh, Sayang. Tapi keadaan Rey baik-baik saja, kan?"
Jo mengangguk.
"Baik-baik, kok, Ma. Sekarang sudah hampir normal. Rey enggak mengalami dehidrasi, kok. Semalam Jo kasih infusan."
"Oh ... syukurlah, Mama lega karena menantu Mama itu Dokter. Mama mandi, ya?" ucap Nadin yang berlalu pergi setelah Jo mengangguk.
Jo membawa sarapan pagi untuk Reynand. Dia menapaki anak tangga lalu menaruh makanan yang dibawanya di atas nakas.
"Rupanya kamu masih, tidur," gumam Jo ketika melihat Rey yang masih anteng dengan mata terpejam.
"Rey, Sayang." Jovanka membangunkan suaminya. "Sarapan dulu, yuk?" Lagi, Jo mencoba membangunkan.
Namun, tidak ada reaksi apa-apa dari Reynand.
__ADS_1
"Rey?" Mata Jovanka membulat ketika tangannya di tempelkan pada kening Reynand yang ternyata suhu tubuhnya panas tinggi.