Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 56. Mimpi Buruk


__ADS_3

Jo langsung naik ke kamarnya setelah pulang dari Jakarta. Ia menolak untuk diantarkan Davin pada malam itu.


Badannya terasa lelah. Jovanka membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan ia pun langsung tertidur pulas.


.


“Rey!” teriak Jovanka ketika tidur.


Ia terbangun dari mimpi buruknya. Keringat mengucur deras dari punggung dan wajahnya.


“Kenapa aku memimpikan Reynand? Apa karena aku sangat merindukan dia?”


Jovanka mengatur napas yang memburu karena mimpi buruk. Hawa panas malam ini membuatnya semakin gerah. Ia turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke balkon kamar. Hilir angin malam telah menyentuh tubuhnya.


Sejenak, ia menikmati langit malam tanpa bintang. Sang rembulan pun entah bersembunyi di mana. Jovanka merasa gelisah akibat mimpi buruknya.


“Kenapa aku hanya mimpi Reynand? Sedangkan suamiku sendiri, tidak pernah hadir dalam mimpiku.”


Tiba-tiba, pandangan matanya tertuju pada nakas. Di sana ada benda pipih yang menyala.


Jo masuk kamar, lalu meraihnya.


“Mas Alex?” umpatnya.


Jo menggeser layar ponsel itu dan seraut wajah tampan pun terlihat dalam benda pipih tersebut.


[Malam, Sayang! Udah tidur, ya?]


[Udah, Mas. Tapi kebangun.]


[Duh ... Maaf ya, Jo? Aku ganggu tidur kamu.]


[Bukan karena video call Mas kok.]


[Lalu?]


[Udaranya panas, Mas. Aku keringatan.]


[Loh ... Memang AC-nya rusak, Sayang?]


[Enggak, cuma tadi aku lupa nyalain, nih barusan udah aku nyalain, Mas.]


[Oh ... Ya sudah. Kamu istirahat lagi, ya? Maaf aku udah ganggu.]


[Iya gak papa, Mas. Mas?]


[Hem.]


[Kapan pulang?]


Alexy tersenyum, [Belum tau, Sayang. Tapi kalau pulang, sepertinya aku ambil pesawat ke Jakarta, turun di sana.]


[Kenapa?]


[Mau main dulu di Jakarta.] Alexy terkekeh.


[Dasar!]


[Ya udah, katanya mau tidur. Aku juga mau tidurlah.]


[Iya, Mas!]


Tut!


Ponsel mati, menyisakan gambar boneka beruang sebagai wallpaper dalam ponselnya.


“Maaf Mas, aku tadi berbohong padamu. Aku gak mau menyakiti hatimu. Biarlah, aku sendiri yang terluka dalam hubungan ini. Tapi, kebaikanmu sudah membuat hatiku luluh, aku mulai bisa menerima keberadaanmu sebagai suamiku. Tapi, kamu belum bisa mengisi relung di hati ini, Mas!”


Jo menarik selimut, ia sengaja membuka pintu yang mengarah ke balkon kamar terbuka. Matanya masih menatap langit malam di dalam kamar.


Entah jam berapa, Jo tertidur. Ia terbangun ketika terdengar ponselnya tak henti bergetar.


Jo mematikan alarm dalam hand phonenya dan bergegas ke kamar mandi.


Waktu telah menunjukkan pukul enam pagi. Ia bergegas membuka lemari, mengambil baju kemeja dan celana jeans untuk pergi ke kampus.


Pakaian sudah lengkap terpakai. Jo duduk di kursi rias dan mulai memoles sedikit wajahnya dengan make up natural. Semakin fres wajahnya di pagi ini. Ia pun menyisir rambut yang cukup panjang itu dan mengikatnya bak ekor kuda. Terakhir, ia menyemprotkan parfum ke leher dan pergelangan tangan.


Jo membuka handle pintu kamar, kemudian menuruni anak tangga.


“Sarapan dulu, Sayang!” ujar Mamanya yang sudah berada di meja makan bersama Papanya.


“Iya, Ma!”

__ADS_1


Jovanka menghampiri mereka dan duduk di kursi dalam satu meja bersama.


Seperti biasa Jo mengambil roti tawar dan meminum susu coklat hangat sebagai pengganjal perutnya sebelum memulai aktivitas.


“Pa, Ma. Jo ke kampus, ya?” ujar Jovanka setelah selesai sarapan.


“Hati-hati!” ujar Papa dan Mamanya.


Jo melesat ke kampus dengan mobil merahnya. Entah kenapa, hatinya terus teringat Reynand.


“Apa aku telepon Rey aja, ya?”


“Enggak-enggak! Aku udah jadi istri orang!”


“Tapi aku khawatir.”


Jovanka gundah dengan perasaannya saat ini. Di satu sisi, ia ingin mengetahui kabar Reynand saat ini dan di sisi lain, ia sadar kalau dirinya sudah menjadi istri orang lain.


Hingga tidak terasa, perdebatan batin itu membawanya hingga ke kampus. Jo turun dari mobil dan memasuki koridor kampus dan berjalan menuju ruang kelasnya.


Biasanya ada yang menjahiliku, ternyata sepi juga tanpa Davin, umpat hati Jovanka.


Ia merasa sendirian. Ketika ia mulai menerima keberadaan Alexy di sisinya, Alexy malah pergi ke Singapura. Hadirnya sosok Davin yang dapat membuatnya kesal dengan segala tingkah absurdnya tapi dapat membuat Jo tertawa. Ia pun meninggalkannya. Sepi, walau baru satu hari Davin tidak berada di kampus.


Jam kampus pun selesai. Semua teman-temannya sudah membubarkan diri. Sementara Jovanka masih berada dalam kelas. Matanya tertuju pada kelas Davin.


Biasanya Davin terlihat ke luar dari pintu sana, umpat hati Jovanka.


Tak terasa, air bening itu jatuh membasahi meja kampus.


Tuhan ... Kenapa Engkau selalu menjauhkanku dari lelaki yang bisa membuatku tersenyum? Davin yang ngeselin pun, telah hilang. Engkau tidak adil terhadapku! Gerutu hati Jovanka.


Ddrrttt!


Jo terperanjat ketika ponsel yang ia taruh di atas meja bergetar.


Davin, video call ..


Netra Jo membulat ketika melihat nama Davin menghubunginya. Dengan cepat, Jovanka mengusap air mata yang ada di pipi dan mengusap layar ponsel itu.


[Hai ... Jo?]


Sapa Davin melambaikan tangan dari sana. Davin terlibat mengenakan jas putih seperti seragam seorang dokter.


Jo tersenyum.


Jo menggeleng.


[Lalu?]


[Sepi.]


[Haha ... Lu kehilangan gue?]


Jo mengangguk, air matanya menetes.


[Jo? Lu nangis?]


Dengan cepat, Jo mengusap air mata di pipinya.


[Dih ... Ge’er!] elak Jovanka.


Davin terdiam, ia memperhatikan Jovanka dari dalam telepon.


[Gak usah bohong! Walau gue orang yang paling nyebelin menurut lu, tapi gue tau perasaan lu saat ini.]


Hening.


Baik Jovanka dan Davin hanya terdiam, sibuk dengan asumsinya sendiri.


[Jangan nagis lagi ya, Jo? Gue janji, ketika libur rumah sakit. Gue pasti ke Bandung!]


[Janji?]


[Cieee ... Ngarep, tuh?!] goda Davin.


[DAVINNN!]


Seperti biasa, Jovanka teriak kesal dengan mata yang membulat.


[Hahaha ... Ya sudah, gue lanjut nugas, jam istirahat gue udah habis. Jangan nangis lagi, ya? Bye!]


[Davin?]

__ADS_1


[Paan?]


[Thank’s, ya? Kamu udah hibur aku hari ini, bye!]


Jovanka mematikan video call-nya dan bergegas pulang.


Ia melewati koridor kampus, berjalan dengan mata yang terfokus ke tiap titik sudut, di mana Davin selalu menggodanya dengan kejailan yang Davin miliki, yang sok tahu menilai perasaan orang dan hal lain yang terkadang membuat Jovanka kesal. Tapi, di balik semua itu, ada rindu pada hatinya. Sialnya, rindu itu terasa ketika Davin sudah jauh darinya dan entah bisa bertemu lagi atau tidak.


Sementara, Davin juga sudah bekerja di salah satu rumah sakit di Jakarta. Dia memang pintar, tak ayal tidak sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai dokter karena di kampus sering menyabet juara mahasiswa terbaik dengan nilai-nilai tinggi di segala bidang.


***


Satu minggu pun berlalu. Jo memutuskan untuk kembali pulang ke rumah mertuanya. Merasa tidak enak kalau terlalu jauh dari rumah itu. Walau dari Alexy sendiri tidak pernah mempermasalahkannya.


“Ma, Jo berangkat, ya?” tuturnya sambil membawa travel bag di tangannya.


“Iya, hati-hati ya, Sayang? Salam untuk mertuamu. Mama, Papa pasti berkunjung ke sana lain waktu,” ujar Mamanya.


“Iya, Ma.”


Jo memeluk Mamanya. Terasa hangat dan menenangkan apabila berada dalam pelukan Mamanya.


.


Jo melesat menggunakan mobil merah menuju rumah sang mertua. Hingga akhirnya, mobil itu telah sampai di rumah yang besar dan megah.


Ia mengingat ketika awal ia datang ke rumah ini bersama suaminya yang kini masih berdomisili di Singapura.


Mas, aku merasa sendirian di sini! Keluh Jovanka ketika berdiri di depan pintu rumah mertuanya.


Ceklek!


Seketika pintu rumah terbuka.


“Mama!”


Olsend memanggil dan memeluk Jovanka.


“Olsend kangen sama Mama,” sambung anak laki-laki itu.


Jo tersenyum melihat anak lelaki yang berada dalam pelukannya.


“Mama juga kangen sama Olsend, Olsend sehat ‘kan?” ujar Jovanka sambil menatap haru bocah lelaki itu.


“Olsend sehat. Tapi sepi, kalau Mama gaka ada di rumah. Mama, Nenek, Kakek semuanya sibuk di rumah sakit. Om alex yang paling baik ‘pun sudah gak ada lagi di rumah. Ma, Om Alex kapan pulang, sih? Olsend kangen.”


Lagi, Jovanka tersenyum, “Mama juga belum tau Om Alex pulang kapan, Sayang. Ya sudah, kita masuk yuk?”


Bocah itu mengangguk.


“Bi, tolong bawa travel bag ke kamar, ya?” ujar Jovanka pada asisten rumah tangganya.


“Iya, Non!”


Dengan segera, asisten itu membawa travel bag untuk dibawa ke dalam kamarnya. Sedangkan Jovanka asyik bermain bersama ponakan yang memanggil dirinya dengan sebutan Mama.


Olsend pun akhirnya tertidur setelah bermain-main dan melepas rindu pada Jovanka. Jo berjalan ke kamar, pemilik rumah belum ada yang datang satu pun.


Jo merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya memutar ke setiap sudut kamar. Ia teringat akan Alexy, lelaki berusia matang yang kini menjadi suaminya.


Jo membuka kembali lemari bajunya dan mengambil diary berwarna ungu yang ia taruh di dalam lemari miliknya.


Prak!


Ada yang terjatuh ketika Jo mengambil diary ungu itu. Jo segera mengambil benda kecil yang terjatuh.


“Rey?”


Ia mengambil kalung berbentuk hati, pemberian dari Reynand dulu. Jo membuka liontin yang di dalamnya terdapat dua foto. Satu foto dirinya dan di sebelahnya terselip foto berwajah tampan Reynand.


“Rey, kenapa semua orang meninggalkanku? Awal mula, kamu yang ninggalin aku, Mas Alex, lalu Davin. Tau gak sih, Rey? Kalau aku sangat menyayangimu? Kenapa dulu kamu tidak membawaku pergi? Apakah kamu tidak benar-benar menyayangiku? Tapi, kenapa aku merasa kalau hatiku hanya milikmu? Bodoh sekali aku yang tidak bisa melupakanmu!”


Jo membuka sosmednya. Ia melihat status IG dari Salsa tentang foto kenangan mereka sewaktu SMA.


Jo pun menitikkan air mata ketika melihat foto kenangan itu.


“Sa, aku kangen! Aku ingin curhat sama kamu,” umpat Jovanka.


Jo membaringkan tubuh, ponselnya pun ia taruh di atas nakas, lalu memejamkan mata sendu itu, karena terus banyak mengeluarkan air mata kesedihan. Hidupnya terasa sepi ketika awal pernikahannya. Ia merasa jauh dari orang-orang yang ia sayang. Dari orang tua, sahabat, bahkan Reynand. Kekasih yang meninggalkannya ketika Jovanka dipaksa untuk menikah.


Drrtttt!


Ponsel bergetar.

__ADS_1


“Salsa?”


Netra Jovanka membulat ketika melihat nama Salsa menghubunginya.


__ADS_2