
Tidak terasa, Rey telah melalui satu tahun bersekolah di DFS dan menjalin hubungan dengan Princess.
[Sayang, nanti ketemuan di Kafe, ya?]
[Jam berapa?]
[Jam tujuh malam.]
[Oke!]
Isi percakapan antara Rey dengan Princess.
Rey merupakan murid yang pintar, tak ayal ia loncat satu tingkat di DFS. Semakin cepat juga ia akan menjadi seorang pilot, seperti impiannya.
Penampilan Rey pun semakin rapi, mungkin karena kedisiplinannya di DFS yang membentuk pribadinya menjadi lebih rapi, termasuk dalam hal penampilan.
“Rey, malam ini mau ke mana?” tanya Vicky.
“Kepo!”
“Yaelah! Kalau lu mau maen, ajak si Nana dong. Beberapa hari ini gak ketemu, kangen gue,” rengek Vicky.
“Gue mau ketemuan sama Princess, gak ngajak Nana. Lu ke rumah aja.”
“Yaelah, gue masih malu sama nyokap lu, Rey!” elak Vicky.
“Kenapa?”
“Belum sukses.” Vicky terkekeh.
***
Rey membaringkan tubuhnya sejenak untuk meredakan capek dan penat ketika di DFS. Hingga tidak terasa, dirinya tertidur.
“Astaga! Jam berapa ini?” pekiknya ketika ia terbangun dari tidurnya.
Rey melihat pada jam yang tertempel di dinding telah menunjukkan pukul enam sore.
“Wah ... Hampir telat ini!”
Ia langsung bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Bergegas memakai kemeja dan celana jeans beserta sepatu kets.
Dengan cepat, Rey berlari menuruni anak tangga.
“Mau ke mana, Rey?” tanya Nadin.
“Ke Kafe, Ma! Ada perlu,” teriak Rey yang terlihat terburu-buru.
“Hati-hati!” suara Nadin yang terdengar sayup-sayup di telinga Reynand.
Rey bergegas memacu mobil hitamnya menuju Kafe, tempat bertemu dengan Princess. Perjalanan malam ini begitu padat. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul tujuh malam. Itu tandanya Rey telat datang ke Kafe.
“Damn it!”
Dengan terburu-buru, Rey memacu mobilnya setelah lepas dari kemacetan.
Sretttt!
Mobil terparkir di Kafe.
Princess pun terlihat sudah menunggu.
__ADS_1
Rey melangkahkan kaki menuju meja Princess yang sedang menunggunya.
“Abang, kamu ke mana aja?” tanya Princess sambil berdiri ketika melihat Reynand.
“Maaf Princ, gue telat. Tadi macet,” ucap Rey dengan napas terengah.
“Iya, gak papa. Duduklah,” ajak Princess.
Princess pun memesan makanan dan minuman di Kafe itu. Tidak menunggu terlalu lama, akhirnya waitress di sana membawakan pesanan Princess.
“Banyak sekali pesananmu?” ucap Rey.
Princess tersenyum, “Pasti kamu belum makan ‘kan?” lengkungan indah di bibir itu terukir kembali.
Rey hanya tersenyum.
Mereka pun makan malam bersama di salah satu Kafe favorit mereka.
“Bang, boleh minta sesuatu, gak?” ujar Princess di sela makannya.
“Apa?”
“Aku mau, kamu merubah gaya bicaramu padaku.”
“Maksudnya?” Rey mengernyitkan dahi.
“Aku mau, kamu gak usah lagi ngomong gue di depanku,” pinta Princess, “Aku merasa bukan seperti pacar kamu kalau bicaramu seperti itu,” sambungnya.
Uhuk!
Rey terbatuk.
“Duh ... Maaf, sayang! Jadi tersedak gara-gara aku.”
Mata sipit Rey membulat ketika mendengar ucapan dari Princess.
“Kenapa? Ngeliatinnya gitu banget? Gak suka ya, kalau aku panggil sayang?”
Rey hanya tersenyum.
“Hubungan kita kan sudah berjalan lebih dari satu bulan. Wajar dong, kalau aku panggil sayang?” ujar Princess.
“I-Iya, gak papa. Tapi sorry gue, eh aku belum bisa panggil itu ke kamu.”
Princess mengangguk, “Gak masalah.” Ia tersenyum.
Mungkin, ini saatnya aku mencoba untuk membuka lebar pintu hatiku untuk Princess, umpat hati Reynand.
***
Di sisi lain, ada Alexy yang tengah bersiap melakukan perjalanan ke Bandara. Beberapa potong baju pun telah masuk ke dalam travel bag yang cukup besar. Maklum, dia sendiri tidak tahu sampai berapa lama ia akan menetap di Singapura.
Jo sedang bersiap. Ia duduk di depan meja rias dan menyisir rambutnya yang cukup panjang. Tiba-tiba, alexy menutup mata Jovanka.
“Iihhh ... Apa-apaan sih, Mas?” ujar Jovanka sambil memegang jari-jari Alexy yang menutup pandangannya.
“Ada surprise buat kamu!” bisik Alexy di telinga Jovanka.
“Apa?”
“Tapi kamu tutup mata dulu, ya?” pinta Alexy.
__ADS_1
Jo mengangguk.
“Awas! Jangan ngintip, ya?” ujar Alexy.
“Iya!"
Alexy bergegas mengambil kotak berwarna merah yang berisi cincin dan tersemat berlian berwarna biru. Alexy membuka kotak merah itu dan membiarkannya di atas meja rias.
“Buka matanya,” ujar Alexy lembut.
Dengan perlahan, Jo membuka mata. Hingga akhirnya ia tersadar ada kotak kecil berwarna merah yang berisi cincin di dalamnya.
Mata Jo membulat dan mulut Jo menganga, mungkin ekspresi kagetnya.
“Kamu suka?” bisik Alexy.
Jo mengangguk. Lengannya kini melingkar di tengkuk Alexy. Tubuhnya hampir berdempetan dengan Alexy.
Deg!
Debar itu kembali menggema dalam dada Alexy. Terlebih ketika sorot mata mereka saling bertatapan.
Bibir Alexy semakin mendekat hingga akhirnya, bibir Alexy dan Jovanka saling menempel. Alexy merasakan bibir yang lembut, ia seperti menikmati ciuman hangat itu.
Aneh, kenapa hatiku sama sekali tak berdebar ketika Om Alex mencium bibirku? Umpat hati Jovanka.
Alexy pun melepaskan bibirnya, “Ma- Maaf, Jo. Aku tidak bermaksud unt ....” kalimatnya terpotong, karena tangan Jovanka yang menutup bibirnya.
“Gak usah diteruskan. Itu hak Mas, kok,” ujar Jovanka.
Alexy tersenyum dengan wajah yang sedikit memerah.
.
Akhirnya, Alexy diantar ke bandara oleh istri, Papa, Mama, Tante dan ponakannya. Sesampainya di bandara, mereka pun bergantian untuk memeluk Alexy. Pesan-pesan dan tangisan pun telah terurai.
“Hati-hati ya, Mas!” ujar Jovanka dengan netra yang berkaca-kaca.
Alexy mengangguk, “Iya! Kuliah yang pinter, ya? Katanya mau jadi dokter spesialis kanker,” goda Alexy.
Jo tersenyum. Pelukan itu pun terjadi lagi. Mereka seperti tidak ingin terpisahkan.
Cup!
Ciuman hangat tersemat di kening Jovanka sebelum Alexy pergi.
Alexy berjalan menuju pintu pemberangkatan, “Nanti tunggu aku di pintu selamat datang, ya?” pekik Alexy sambil melambaikan tangan.
Hingga tak terasa, Jovanka menitikkan air mata, “Sudah, Nak! 'Kan kami ada di rumah bersamamu,” ujar Nadia, Ibu dari Alexy.
Keluarga Alexy kembali menaiki mobil, begitu pun dengan Jovanka yang ikut serta untuk pulang ke rumah Alexy.
.
Sesampainya di rumah. Jo langsung melangkahkan kaki menuju kamarnya. Dalam kamar yang luas itu, Jo terkenang akan Alexy. Seorang suami yang usianya dua kali lipat darinya, tapi mampu meluluhkan hati, walau belum semua.
Jo mengusap lembut ranjang yang semalam Alexy tiduri. Aroma parfumnya pun masih tercium harum.
"Om, apakah aku mulai sayang sama kamu? Tapi, kenapa ketika Om mencium bibirku, tidak ada degup dalam jiwaku? Semua terasa biasa saja. Apa yang terjadi dengan aku sih?”
Jo membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata indah itu. Ia masih merasa Alexy masih ada dalam kamar bersamanya, karena ia mencium aroma parfum yang biasa Alexy pakai di tubuhnya.
__ADS_1