
Rey melangkah setelah mobil yang dibawa Salsa melaju pergi meninggalkan kost mereka. Rey mendekati gadis cantik yang tengah berdiri ketika Rey memanggil namanya.
Mata sipit gadis itu terlihat berkaca-kaca tatkala Rey menghampirinya. Pelukan hangat pun terjadi di depan mata Vicky.
Terlihat jelas kerinduan di antara dua insan ini. Vicky bertanya dalam benaknya, ‘Siapa gadis cantik ini? Rey tidak pernah cerita kalau dia punya pacar cantik. Pantesan, Rey tidak mau menjawab tentang perasaannya terhadap Jovanka.’ Vicky menyimpulkan.
Mobil Ferrari Spider warna merah pun terparkir di halaman kost mereka. Rey mengajak Rhiena masuk dalam kamar kost-nya.
‘Anjir! Apa yang akan mereka lakukan? Tapi, bukan urusan Gue juga sih,’ ucap hati Vicky yang berlalu pergi.
.
“Jo, Lu kenapa?” Salsa bertanya kepada Jo yang sedang merengut dalam mobilnya.
“Jo?” panggil Salsa lagi.
Masih hening. Jo masih sibuk dengan lamunannya.
“Jovanka! Lu kenapa sih? Cemburu?” tanya Salsa dengan kencang.
“Paan, sih? Gue gak cemburu!” elak Jovanka.
“Terus?” Salsa mendelik.
“Mau balik, ada tugas yang belum Gue kerjain,” elak Jovanka.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang di tengah padatnya kendaraan di Kota Bandung.
Mobil terparkir di depan gerbang. Salsa langsung pulang karena hari telah larut. Jo masuk dalam gerbang dan masuk dalam kamar.
Jo menghempaskan tubuhnya ke ranjang yang banyak boneka. Jo memeluk boneka beruang di atas kasur.
***
“Rey?” Mata Jo membesar ketika melihat Rey berada di depannya.
Rey tersenyum.
Jo memperlihatkan ekspresi kesal terhadap Reynand, karena ia masih kesal ketika ada gadis yang telah menunggu Rey di teras depan kost-nya.
“Mau ngapain, Lu?” ucap Jo sinis.
“Gue mau jelasin sesuatu sama, Lu.” Ucap Reynand.
“Soal apa? Cewek itu?” Sorot mata Jovanka menyelidik.
Rey menganggukkan kepalanya.
“Buat apa? Gak penting juga bagi Gue!” Jo berkelah dan melangkah. Walau dalam hati terdalamnya, ia penasaran.
Namun, dengan cepat lengan Jovanka ditarik oleh Rey. Netra mereka kini saling bertatapan. Debaran di hati Jovanka semakin kuat, berdetak dengan kencang.
“Gue tau, Lu cemburukan, Jo?” Tatapan netra Rey semakin tajam terhadap Jovanka.
Jo terdiam, tak kuasa melihat mata sipit yang sekarang terlihat melebar dan tajam ketika melihat wajahnya. Debar dada kencang yang tak kuasa Jo sembunyikan.
Hening.
“Jo, sebenarnya, Gue ....” ucapannya terputus.
Jo menatapnya seraya dalam hatinya berharap, ‘Lanjutkan, Rey! Lu mau bilang kalau Lu sayang sama Gue, kan?’ hatinya berucap.
“Gue, sa ....”
GEDUBUK
Jo terjatuh dari ranjangnya.
Jo membuka matanya, melihat ke sekitar kamar dan menggaruk kepalanya.
“Ya Allah, cuma mimpi. Kenapa mesti jatuh dulu sih? Gue belum tahu jawaban Rey juga. Huff.” Jovanka mendengus kesal.
Jo bangkit dari lantai kamarnya dan kembali naik ke atas ranjang. Ia kembali membenamkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar yang berwarna putih bersih.
'Sebenarnya cewek itu siapa?' terbesit dalam hati Jovanka.
Semakin ia berusaha menepis. Semakin terasa rasa sakit yang Jo rasakan.
“Rey, kenapa ada rasa sakit di hati Gue ketika Lu memanggil nama cewek lain? Apakah memang Gue suka sama Lu? Atau kah perasaan Gue malah lebih dari rasa suka?” Jo memeluk erat boneka beruangnya.
Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Jo kembali memejamkan matanya.
Namun, yang terjadi bukan hal yang ia inginkan. Raganya telah capek dengan segala rutinitas disiang hari. Hatinya kini dirundung rasa gelisah. Matanya sulit untuk terpejam. Bolak balik mengganti posisi tidur, tidak membuahkan hasil apa pun. Netra Jo tetap terjaga.
***
“Bang,” ucap Rhiena yang duduk di atas kasur.
“Hem,” Rey berdehem.
“Abang betah tinggal di sini? Di ruangan sempit ini?” Mata Rhiena memandang ke sekeliling kost Reynand.
__ADS_1
“Memang kenapa, Na?”
“Ini jauh banget dengan kamar Abang yang ada di rumah,” pungkasnya.
“Lalu?” Rey menatap wajah adik kembarnya.
“Pulanglah, Bang. Mama juga sudah rindu sama Abang.”
Netra Rhiena berkaca-kaca ketika memandang wajah Reynand, saudara kembarnya.
“Na, jangan kasih tahu keadaan Abang di sini, ya? Abang gak mau Mama jadi cemas. Katakan sama Mama, kalau Abang baik-baik di sini.” Rey menggenggam tangan Rhiena.
“Tapi, Bang ....” ucap Rhiena terpotong.
“Plisss! Abang mohon sama Nana.”
Nana adalah nama panggilan dari Rey untuk Rhiena. Kini, netra Rhiena menatap wajah saudara kembarnya yang sekarang hidup terpisah darinya.
Rey merupakan kakak yang baik di mata Rhiena, ia bisa menjadi figur kakak, sahabat, bahkan seorang ayah semenjak perceraian orang tua mereka. Rey bisa memanjakan Rhiena sehingga ia merasa kehilangan dengan sosok abang sekaligus papa untuknya.
Rhiena mengangguk.
“Tapi, Abang beneran baik-baik di sini, kan?” Rhiena memastikan.
“Iya, Na. Abang baik-baik saja. Malah, Abang mulai nyaman tidur di kamar ini.”
Rhiena tersenyum.
“Kapan Abang pulang jengukin Mama?” tanya Rhiena kepada abangnya.
“Mungkin kalau libur semesteran, Na. Jagain Mama, ya? Kalau ada apa-apa, kasih tau Abang.” Pinta Reynand.
“Iya.”
Malam telah larut. Jam telah menunjukkan pukul dua dini hari. Mata mereka sudah di dera rasa kantuk yang luar biasa selepas membagi cerita tentang kerinduan saudara kembarnya. Akhirnya Rhiena tidur di atas kasur. Sedang Rey memilih tidur di ruang tamu kecil beralaskan tikar plastik.
***
Tok ... Tok ... Tok ....
“Rey!” ucap Vicky sambil mengetuk pintu.
CKLEK
Pintu kost Rey terbuka. Terlihat mata merah dan rambut acak-acakan pada Reynand.
“Habis ngapain, Lu?” tanya Vicky dengan mata menyimpan banyak pertanyaan.
“Ke warteg. Gue mau makan, lapar.” Ajak Vicky.
“Bentar, Gue cuci muka dulu.”
.
Rey dan Vicky jalan kaki menuju warteg yang ada di ujung jalan.
“Rey,” Vicky membuka percakapan.
“Hem.”
“Pacar Lu cantik, ya? Pantesan Lu gak pernah jawab kalau Gue tanya perasaan Lu terhadap Jovanka.”
Rey mendelik.
“Maksud, Lu?” ucap Rey heran.
“Rhiena pacar Lu, pan?”
“Hahaha ... Rhiena itu saudara kembar, Gue!” Rey tertawa mendengar pertanyaan sahabatnya.
“What?” Mata Vicky membulat.
“Iya. Dia adik Gue. Saudara kembar Gue. Kalau di cerita film kartun milik tetangga sebelah berkata, CUMA LEWAT LIMA MINIT, JE’!” Rey kembali tertawa.
Vicky masih belum percaya dengan pengakuan sahabatnya.
“Masa, sih? Kok bisa cantik banget, ya?” tanya Vicky sambil menggaruk kepalanya.
“Ya, iya lah! Lu, liat aja Abangnya kek gini. Gantengnya gak ketulungan, pan?” Rey mengulum senyuman.
“Pretttt! Najis Gue dengernya.” Ucap Vicky yang berjalan semakin kencang.
“Tunggu, Kuya!”
***
Drett ... Drett ....
Gawai Reynand bergetar. Ia merogoh saku celananya dan mengambil benda pipih dalam saku celananya. ‘Nana Calling’
“Siapa lagi tuh, Nana?” Vicky kepo melihat nama pada ponsel Reynand.
__ADS_1
“Ish! Kepo aja sih, Lu! Ssttt! Gue mau angkat telpon!”
‘Iya, Na? Ada apa sayang?’ jawab Rey dari telpon.
‘Abang di mana?’
‘Abang lagi beli makan dulu, sayang. Kelaperan ini.’
‘Oh ... ya udah.”
Tut! Telpon terputus.
Terlihat ekspresi wajah Vicky yang semakin heran dengan Rey sahabatnya. Vicky terus memperhatikan Rey yang tengah tersenyum ketika melihatnya.
“Kenapa Lu senyum-senyum?” tanya Vicky heran.
“Kagak! Lucu liat Lu, Kuya.” Rey kembali cekikikan.
“Nana itu siapa lagi? Hidup Lu penuh dengan misteri!” ucap Vicky mendelik.
“Biarin! Biarlah hidup Gue menjadi misteri wkwkwkw.” Rey tertawa.
“Serah, Lu!” ujar Vicky.
Mereka membeli nasi plus lauk untuk makan. Setelah itu mereka kembali ke kost untuk makan sarapan pagi mereka.
.
Rey, Vicky dan Rhiena makan bersama di kost Rey. Vicky pun berkenalan dengan Rhiena. Selepas sarapan, Rhiena bergegas untuk mempersiapkan kepulangannya ke Jakarta.
“Kak Vicky,” ucap Rhiena.
“Ya!” Vicky melirik.
“Titip Bang Rey, ya?”
“Idihh ... paan sih, Na?” ujar Rey.
“Biarin! Nana sayang sama Abang. Nana gak mau Abang sedih atau sakit gak ada yang perhatiin! Mending Nana titip Abang sama Kak Vicky. Nana percaya Kak Vicky orang yang baik.” Pandangan Rhiena tertuju kepada Vicky.
“Iya, Na. Kakak janji. Jangain Abangnya Nana," ucap Vicky.
Rhiena tersenyum.
Rhiena beranjak berdiri dari lantai untuk mengemas semua barang yang ia bawa.
“Nana pamit ya, Bang? Kak Vicky?” Rhiena tersenyum.
“Iya hati-hati ya, Na!” ucap Rey.
“Hati-hati, Nana. Tenang aja, Abangnya Nana, aman sama Kak Vicky,” ujar Vicky.
Rhiena tersenyum. Ia menuju mobil dan membuka handle pintu mobil. Rhiena menoleh, melihat Kakaknya yang berdiri di teras depan. Rhiena kembali berlari dan memeluk Rey.
Terlihat Rhiena sangat berat meninggalkan kakak yang ia sayangi. Ia merasa kehilangan figur sahabat yang selalu mendengarkan curhatannya. Ia merasa kehilangan figur kakak yang selalu memberi suport untuknya dan ia kehilangan figur ayah yang selalu menasihatinya dengan sabar, walau ia bukan ayah yang sebenarnya. Namun, sosok itu ia dapat dari kakaknya yang tak lain adalah Reynand.
“Abang baik-baik, ya? Nana sayang Abang.” Air matanya membasahi baju Reynand.
“Iya, Na. Udah, jangan nangis lagi. Abang malah sedih kalau liat Nana menangis seperti itu.” Rey mengusap rambut Rhiena.
“Iya.” Rhiena menatap mata kakaknya dan kembali memeluknya erat.
Selang beberapa saat. Pelukan pun di lepaskan oleh Rhiena. Ia tersenyum dan kembali mendekati mobil Ferrari Spider warna merah yang sporty.
Rhiena masuk dalam mobil dan melambaikan tangannya. Cuma hitungan detik, mobil yang dibawa Rhiena telah hilang tak terlihat dari pandangan.
***
“Rey, sebenarnya Lu siapa sih?” Vicky mulai curiga.
“Reynand! Lu lupa, nama Gue Reynand? Mau kenalan lagi ceritanya?” Rey memainkan alis.
“Kali ini Gue serius, Rey!” Mata Vicky menatap tajam.
“He’eleh! Pan tadi Gue udah jawab,” Rey berkilah dan masuk dalam kamar.
“Gue tau, Lu anak orang kaya!” ucap Vicky di luar kontrakan.
“Sotoy!” Rey masih berkilah.
“Gue bisa liat dari mobil yang dibawa Adik, Lu! Jangan bohong sama Gue, Rey!”
Rey membalikkan badan. Matanya kini menatap tajam wajah Vicky.
“Pliss! Jujur sama Gue, Rey kalau memang Lu anggap Gue seorang sahabat.” Pinta Vicky.
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
__ADS_1