
Drrtttt!
Gawai di atas nakas bergetar. Rey membuka matanya.
Klik!
Ia memijit lampu tidur.
Seketika, kamarnya berubah menjadi terang. Rey melihat jam yang tertempel di dinding. Waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari.
“Princess?”
Netra sipit itu sedikit membulat dan Rey langsung menyentuh layar ponsel yang sudah ia genggam.
[Rey, temui aku di depan sekolah, sepulang sekolah nanti!] pesan dari Princess.
[Oke!]
Send.
Pesan terkirim.
“Ada apa, ya?”
Rey sempat heran, tidak biasanya Princess mengirim pesan sepagi ini.
Tetapi ia tidak terlalu memikirkannya. Karena walau Princess itu kekasihnya, tapi dalam hati Reynand masih terukir sebuah nama. Jovanka, cinta yang tak bisa dilupakan.
Rey kembali tertidur, hingga tak terasa, alarm kini telah membangunkannya.
“Jam lima!”
Rey turun dari ranjang dengan mata yang sedikit terpejam, masih sangat perih karena terbangunkan pesan dari seorang gadis yang kini menjadi pacarnya.
Byur!
Satu gayung air telah menyadarkan Rey dari rasa kantuknya. Ia segera menuntaskan ritual mandi paginya dan bergegas memakai seragam DFS (Deraya Flying School) yang memang seperti seragam pilot.
Rey menuruni anak tangga setelah semprotan parfum menembus kulit dadanya. Wangi maskulin kini tercium kuat.
“Em ... Wangi banget, Bang?” goda Rhiena.
“Biasanya juga kek gini, Na!”
“Enggak, wanginya beda.”
“Emang Abang ganti merek parfum.”
“Pantes,” jawab Rhiena sambil mengolesi roti dengan selai coklat.
“Na, biar Abang antar kamu ke sekolah, ya?" ujar Reynand.
“Kenapa?”
Rhiena mengernyitkan dahi, karena sekolahnya dengan Rey berbeda arah.
“Sepulang sekolah, Abang ada perlu sama Princess.”
“Cieeee ... Abang janjian sama Princess? So sweet!”
Tangan Rhiena mencangkup wajahnya sendiri.
“Princess yang ngajak ketemuan,” ujar Reynand.
“Tumben, minta ketemuan di sekolah. Ada apa, ya?”
Mata Rhiena mendelik ke atas seperti sedang memeikirkan sesuatu.
“Entah!”
Setelah mereka sarapan sambil mengobrol. Mereka pun berangkat ke sekolah. Sengaja Rey berangkat lebih pagi, karena harus mengantarkan Rhiena ke sekolahnya.
Ceklek!
Pintu mobil kiri dan kanan terbuka.
Rhiena dan Rey masuk ke dalam mobil. Mereka meluncur dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya, mobil Reynand sampai juga di pinggir gerbang sekolah adik kembarnya.
Sudah cukup banyak siswa yang datang di sekolah itu. Rey dan Rhiena ke luar dari mobil.
“Na? Kenalin dong cowoknya!”
“Iya, Na. Boleh dong kita tau namanya.”
Dan masih banyak lagi celetukan dari teman-teman sekolahnya.
Rey hanya tersenyum.
“Apaan sih? Ini tuh, Abang gue!” jawab Rhiena.
“Wow! Kita boleh daftar dong jadi Kakak ipar lu, Na?” goda salah satu siswi.
“Kalau mau dektin Abang gue, baik-baikin dulu adeknya hahaha ....” tawa Rhiena pecah.
“Hiss! Ngomong apa sih, Na?” ujar Reynand.
Rhiena tersenyum, “Ya udah, Abang ke sekolah, gih! Nanti kesiangan,” titah Rhiena.
Rey masuk ke dalam mobil, sedangkan siswi yang tadi masih mengerumuni Rhiena. Mereka penasaran dengan sosok pria yang disebut sebagai kakaknya.
***
“Selamat, Rey! Saya yakin, dalam waktu dekat ini, kamu sudah mengantongi surat izin menerbangkan pesawat. Kamu bisa menjadi seorang pilot!” Captain Wahyu menepuk pundak Reynand.
“Tapi, usia saya masih muda, Cap. Apakah bisa saya mendapatkan izin untuk menerbangkan pesawat?”
Rey mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“Tenang saja. Misalkan kamu terkendala umur, kamu pasti akan mendapatkan posisi sebagai Co-pilot.”
.
Selesai sudah jam penerbangan hari ini. Rey pun melesat mengendarai mobilnya menuju sekolah Rhiena, untuk bertemu dengan Princess.
Sreettt!
Mobil terparkir di samping pintu gerbang sekolah.
Rey masih di dalam mobil, karena jam sekolah itu masih berjalan. Ia membuka ponsel dan memutar lagu-lagu sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke kursi mobil.
Seluruh lagu yang ia putar, mempunyai kenangan indah bersama Jovanka. Harinya bertambah resah karena kembali memikirkan Jovanka. Gadis cantik bertubuh kecil yang berhasil mengikat hatinya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Kaca mobil diketuk. Rey terperanjat, netranya kini terbuka dan menatap kaca mobil.
“Princess?”
Rey membuka pintu mobilnya. Tiba-tiba Princess menyerobot masuk ke dalam mobil dan memeluk erat Reynand.
Rey tercengang, karena ia hanya pernah memeluk mesra Jovanka. Tangan Princess melingkar di punggung Reynand, sedangkan Rey hanya mematung ketika pelukan hangat Princess mendekapnya.
Selang beberapa menit, tangan Princess yang sedang memeluk Rey melonggar. Ia mulai melepaskan pelukannya.
“Bang?” terdengar suara lirih dari Princess.
Rey hanya menatap tanpa menjawab apa pun.
“Aku sadar. Kamu tidak pernah benar-benar mencintaiku, oleh sebab itu aku ingin mengakhiri semua ini,” ujar Princess dengan berlinang air mata.
Rey hanya bisa menelan salivanya.
“Keluargaku akan kembali ke Prancis. Karena Papaku ditugaskan di sana,” ujar Princess tertunduk.
“Apa?”
Netra Rey membulat.
Hening.
Princess masih tertunduk dan menangis. Sebenarnya hati Princess begitu berat untuk memutuskan Reynand. Tapi, Princess melihat cinta yang amat besar untuk Jovanka, walau ia tidak pernah berbicara padanya.
“Princ?”
Rey memegang kedua bahu Princess.
“Apa kamu yakin dengan keputusan ini?” ujar Reynand.
Princess mengangguk.
“Aku dapat merasakan cintamu yang amat besar, Bang. Tapi bukan untukku. Aku tau kamu mempunyai rasa sayang yang teramat besar untuk wanita, tapi itu bukan untukku. Aku doakan, semoga kamu dapat meraih cintamu, Bang!”
Princess kembali tertunduk.
Hanya kata itu yang keluar dari bibir Reynand.
Princess mengangguk.
“Tidak ada yang harus dimaafkan, Bang. Ini semua terjadi karena kehendakku. Terima kasih atas waktu yang kamu berikan untukku, kesempatan yang kamu kasih dan ....”
Tangan Reynand membungkam bibir Princess dan ia membenamkan kepala Princess di dadanya.
“Jangan diteruskan, Princ. Aku terlalu malu, tidak dapat membahagiakanmu. Maafkan aku!”
Tangis pun pecah dan air mata itu tertumpah di dada Reynand.
“Biarkan aku menumpahkan rasa ini untuk sekarang. Rasa sayang dan sedih yang aku rasa hari ini. Izinkan aku lebih lama memelukmu, Bang!”
Rey tidak dapat bicara. Ia hanya mengusap kepala Princess.
Sekitar lima belas menit akhirnya tangan yang melingkar di punggung Reynand terlepas.
“Makasih, Bang!” lirih Princess.
Rey mengangguk.
“Kapan kamu berangkat?” tanya Reynand.
“Jam sembilan malam nanti,” jawab Princess.
“Boleh aku meminta sesuatu darimu?”
Princess mengangguk, “Apa?”
Mata sendu itu memandang Reynand.
“Aku ingin menghabiskan waktu siang ini sampai petang bersamamu!” ujar Reynand.
Princess mengangguk.
“Tapi, tunggu Nana dulu, ya? Aku sudah janji menjemputnya,” ujar Reynand.
“Nana udah pulang duluan, Bang. Aku juga udah pamitan sama Nana,” ujar Princess.
.
Rey memacu mobilnya dengan kencang dan memarkirkannya di pinggir pantai.
Ceklek!
Dua pintu mobil terbuka.
Rey dan Princess ke luar dari dalam mobil.
“Sini!”
__ADS_1
Rey mengajak Princess duduk di kap mobil sportnya. Mereka menyaksikan indahnya warna jingga yang hampir tergelincir dan debur ombak yang menerjang batu karang.
“Kenapa kamu ajak aku ke sini?” tanya Princess.
“Karena aku suka pantai.”
“Oh ....”
Pandangan Princess menatap ke laut lepas dan merasakan hilir angin laut yang berembus kencang menyibakkan rambut dan wajahnya.
“Princess ....” ucap Rey tanpa menoleh.
“Iya.”
“Aku boleh minta sesuatu?”
“Apa?”
“Jadilah seperti udara!”
“Maksudnya?”
“Udara dapat dirasakan tapi tidak dapat terlihat. Dia bisa memberikan hidup untuk semua orang.”
Princess mengernyitkan keningnya.
“Ikhlas. Udara memberikan kehidupan pada orang tanpa memandang dia itu siapa. Semoga dengan hati kamu yang ikhlas, suatu saat bisa mendapatkan pasangan hidup yang hatinya seperti kamu, Princ. Aku tau, kamu itu wanita yang baik dan lembut. Maafkan atas segala kekuranganku, Princ ....”
Princess menutup bibir Reynand dengan jarinya, “Jangan diteruskan, aku akan menjadi udara bagi orang-orang di sekitarku, Bang!” Senyum itu terukir indah di bibir Princess.
Tak terasa, sang surya telah tergelincir. Warna jingganya kini berubah menjadi hitam tanpa bulan dan bintang hang menerangi.
Rey kembali memacu mobilnya menuju rumah Princess.
Hati Rey benar-benar merasa bersalah, telah memberikan kesempatan pada wanita lain. Tapi, ia sendiri tidak mampu membuka hatinya untuk Princess.
“Makasih atas hari ini ya, Bang? Aku bahagia.”
Lagi, senyuman itu terkembang dari bibir Princess, setelah mobil terparkir di depan gerbang rumahnya.
Rey pun tersenyum.
Ceklek!
Pincess membuka handle pintu mobil.
“Selamat tinggal, Bang! Semoga kelak aku bisa melihatmu bahagia dengan wanita yang engkau cinta,” ujar Princess.
“Sama!”
“Maksudnya?”
“Semoga kamu juga bisa bahagia dengan lelaki yang begitu menyayangimu.”
Rey dan Princess saling melempar senyuman.
.
Rey kembali memacu mobil, melesat dipekatnya langit malam.
Rasa bersalah yang mendominasi hatinya. Ia memarkirkan mobilnya di tempat yang sepi dan ke luar dari dalam mobil.
“KENAPA SEMUA HARUS SEPERTI INI?”
“KENAPA AKU TIDAK BISA MEMBUKA HATIKU UNTUK WANITA LAIN?”
“BEGITU BODOHNYA ‘KAH, AKU?” teriak Rey.
“Aku telah melukai hati wanita yang mencintaiku! Wanita yang lembut tetapi tidak dapat meluluhkan hatiku, Tuhan!” suaranya mulai melemah.
Jantungnya masih berdebar kencang, kakinya sudah melemah dan ia terjatuh di pinggir jalan. Rey menggenggam kepalanya, sesekali ia mengacak rambut itu dengan kedua tangannya.
Malam semakin larut. Rey melihat jam yang melingkar di tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam.
Rey tersenyum, “Princess telah pergi dariku, kenapa aku menjadi sebodoh ini? Aku telah melepaskan Jovanka untuk lelaki pilihan orang tuannya. Dan kini, aku pun telah melepaskan wanita yang benar-benar mencintaiku! Bodoh!”
Rey masuk ke dalam mobil tapi ia tidak menstater mobilnya. Ia hanya duduk termenung. Ia mengecek ponselnya yang terletak di atas dashboard mobilnya.
“Sial! Hape mati lagi!” pekiknya kesal.
Rey kembali menyandarkan kepalanya di kursi mobil itu dan memejamkan mata.
Tok ... Tok ... Tok ....
Rey terperanjat, ketika ia mendengar kaca mobil yang diketuk.
“Nana?”
Netra Rey membulat.
Rey membuka pintu, “Ada apa?” sambungnya.
“Abang kenapa, sih?” tanya Rhiena.
“Abang mau sendiri, Na!”
“Ya jangan di sini, Bang! Ayok pulang! Abang sudah bikin Nana khawatir! Mana hape gak aktif lagi!” cerocos Rhiena.
“Hape Abang lowbatt, Na.”
“Kenapa tidak pulang kalau hape lowbatt?”
“Abang baru tau.”
“Alasan! Ayok pulang! Atau Nana akan telepon Mama?” ancam Rhiena.
“Iya, Abang pulang! Tapi gak usah telepon Mama. Nanti Mama khawatir, Na!” ujar Reynand.
__ADS_1
Rhiena mengangguk. Lalu, mobil mereka melesat kembali pulang.