Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 74. Flashback


__ADS_3

Keadaan Alexy berangsur membaik. Ia kini sudah dapat berjalan, luka di kakinya sudah hampir sembuh. Hanya ingatannya yang belum kembali seutuhnya.


“Princ, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Alexy ketika mereka sedang makan malam bersama.


“Iya! Tanya apa, Om?”


“Bagaimana ceritanya, hingga kamu bisa menyelamatkanku waktu lalu? Jujur, aku ingin mendengar cerita itu. Siapa tau bisa mengembalikan ingatanku.”


Princess pun mulai bercerita awal dirinya menemukan Alexy.


**_____


Princess kabur dari rumahnya malam hari. Semalaman, ia hanya berkeliling kota hingga akhirnya mobil terparkir sembarang di pinggir jalan. Ia tertidur karena merasa capek dan kantuk setelah beberapa jam hanya berputar-putar menyusuri jalan. Hingga akhirnya, sekitar pukul delapan pagi ia terbangun dan kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang.


Princess pulang dalam keadaan kesal. Waktu itu, ia mengendarai mobil Papanya dengan kencang. Tapi, laju mobilnya melambat ketika dirinya melihat banyak orang yang berkerumun di pinggir jalan.


“Ada apa ini?” umpatnya dalam mobil.


Ia merasa terganggu dengan orang-orang yang menghentikan laju kendaraannya.


“Stop!”


Beberapa orang memberhentikan laju mobil Princess waktu itu. Dengan terpaksa, ia berhenti.


“Can you take this man to the Hospital? ” ujar salah satu orang di sana.


Entah kenapa, Princess hanya mengangguk, menyetujui permintaan orang yang tidak ia kenal.


Beberapa lelaki membantu mengangkat tubuh lelaki yang sudah tidak sadarkan diri. Princess lalu melesat pergi ke rumah sakit. Kala itu, Princess belum mengetahui kalau orang tuanya juga telah mengalami kecelakaan.


.


“Help me!” pekiknya ketika sudah ada di area rumah sakit.


Tidak menunggu lama, petugas rumah sakit pun datang dengan membawa brankar dorong berwarna hitam. Tubuh Alexy pun dibawa masuk ke ruang UGD setelah berada di atas brankar itu.


Princess panik. Beberapa kali ia menghubungi Papanya untuk meminta pertolongan, walau pada saat itu ia masih kesal pada Papa dan Mamanya.


“Sial! Nomor Papa tidak aktif lagi!”


Princess pun mencoba menghubungi nomor Mamanya. Sialnya, nomor Mamanya pun tidak aktif.


Tuhan ... Aku harus bagaimana? Umpat Princess dalam hati.


Tiba-tiba seseorang berseragam putih memintanya untuk mengisi data pasien, karena tidak ditemukan identitas pada lelaki itu.


Princess pun menceritakan pada pihak rumah sakit, ia hanya dimintai tolong oleh warga untuk membawa lelaki itu ke rumah sakit. Dia tidak mengenalnya, jadi ia menuliskan data diri sementara saat itu.


Akhirnya, Princess disuruh ke ruangan dokter untuk memberitahu keadaan si pasien.


“Excuse me!” ucap Princess sambil mengetuk pintu.


“Please come in!” jawab seseorang dari dalam ruangan.


Princess mendorong pintu lalu masuk ke dalam ruangan itu. Tiba-tiba, Princess keceplosan menggunakan bahasa Indonesia saat itu.


“Gimana keadaan pasien, Dok? Ups, sorry. I mean ....” katanya terpotong oleh ucapan si dokter.


“Kamu orang Indonesia?”


Tiba-tiba dokter itu berbicara dalam bahasa Indonesia.


Princess mengangguk, “Dokter bisa bahasa Indonesia?”


“Tentu saja, walau tidak terlalu lancar. Baiklah saya akan memberitahu keadaan pasien saat ini,” ujar sang dokter.


Dokter itu mulai menceritakan keadaan Alexy yang koma. Ada luka di kepalanya hingga kemungkinan besar ia akan mengalami amnesia, parahnya ia akan mengalami geger otak seumpama ia sadar. Karena, sangat kecil kemungkinan untuk lelaki itu bertahan hidup dan luka di tubuhnya yang cukup parah, terutama di bagian kaki.


“Saya kira, penjelasan kali ini cukup. Nanti saya kabarkan lagi ketika sudah melakukan pemeriksaan lanjutan,” ujar si dokter.


“Terima kasih, Dok. Kalau begitu saya permisi, selamat pagi,” ujar Princess, kala itu waktu menunjukkan pukul sembilan pagi.


Princes ke luar dari dalam ruangan itu. Ia berjalan gontai menuju ruang UGD.


Dddrrrttt!


Ponsel dalam tas kecil Princess bergetar. Ia segera meraih ponsel itu.


“Nomor siapa ini?”


Ternyata, nomor tidak dikenal yang menghubungi. Akhirnya Princess menggeser layar ponsel itu.


[Halo? Siapa ini?] jawab Princess dalam telepon.

__ADS_1


[Kami dari Singapore General Hospital (SGH), mengabarkan bahwa ada data pasien atas nama Tuan Mark dan Nyonya Monica berada di rumah sakit ini. Apakah Anda mengenalnya?]


Loh ... Ini kan SGH. Berarti rumah sakit ini, umpat hati Princess.


[Iya, itu orang tua saya. Kenapa ya, Sus?]


Si penelepon akhirnya mengabarkan bahwa data atas nama Mark dan Monica telah meninggal dunia karena kecelakaan mobil yang masuk ke dalam jurang. Kini, jasad mereka berada di rumah sakit itu.


Seketika, kaki Princess lemah. Ia terduduk di kursi stenlis yang berada di salah satu sudut rumah sakit.


Penyesalan.


Itu yang Princess rasakan. Di mana dirinya sedang bertengkar dengan orang tuanya sebelum akhirnya azal menjemput mereka.


Ia mematung. Pandangannya mulai kabur dan pikirannya mulai terbang entah ke mana.


“Engak, enggak! Kamu kuat Princess!”


Ia menyemangati dirinya sendiri agar tetap sadar.


Princess bangkit dari kursi stenlis itu dan berjalan menuju pusat informasi yang ada dalam rumah sakit. Ia menanyakan di mana orang tuanya. Hingga akhirnya Princess ditunjukkan pada salah satu ruangan yang menyimpan jenazah kedua orang tuanya.


Ia membuka tubuh yang telah ditutup oleh kain putih dan terlihatlah wajah Papa dan Mamanya.


“PAPA! MAMA!” pekiknya waktu itu.


Untungnya, ia didampingi oleh seorang suster. Tubuh Princess terkulai hingga akhirnya jatuh pingsan.


.


Princess tersadar ketika ia sudah berada di ranjang kecil rumah sakit. Kepalanya pusing tapi kondisi lainnya baik-baik saja. Karena ia hanya syok pada saat itu. Ia kembali ke ruang jenazah orang tuanya dan mengurusi pemakaman mereka.


Princess tampak syok dengan kejadian ini. Tapi dirinya sadar, kalau ia hanya hidup seorang diri di sana. Ia teringat dengan lelaki yang sedang koma di rumah sakit. Princess bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaannya.


Setibanya di rumah sakit, ia berjalan gontai ke ruangan ICU karena si pasien sudah dipindahkan ke sana.


Ceklek!


Princess membuka pintu.


Ia melangkahkan kakinya ke tempat pembaringan lelaki yang usianya jauh di atas dirinya.


Ia memperhatikan wajah tampan walau lelaki itu sedang tidak sadarkan diri.


Princess terus menjaga Alexy. Bahkan, setengah dari harta peninggalan Papanya sudah habis terjual untuk membiayai hidupnya dan rumah sakit orang yang tidak ia kenal.


Kenapa Princess rela menjual harta peninggalan Papanya?


Karena, dari awal sudah ada debar pada hati Princess.


Princess dan pihak rumah sakit pun tidak mengetahui identitas si pasien karena tidak ada pengenal yang ia bawa, saat itu hanya tubuhnya yang dibawa ke rumah sakit. Tidak ada identitas sama sekali.


Hingga akhirnya, di tiga bulan dalam perawatan rumah sakit, akhirnya Alexy sadar dari koma.


**____


“Itu ceritanya, Om. Aku menemukan Om Alexy agak jauh dari jurang, sebelum tempat di mana orang tuaku jatuh ke dalam sana. Apakah Om ingat kejadian waktu itu?” tanya Princess pada Alexy.


Alexy mencoba mengingat.


Hening.


Tiba-tiba kepalanya terasa sakit, “Awww!” Alexy memegang kepalanya.


“Om kenapa?”


“Kepalaku sakit ketika mencoba mengingat kejadian waktu itu,” jawab Alexy, yang masih memegang kepalanya.


“Ya sudah, jangan dipaksakan, pelan-pelan saja, Om. Princess antar Om ke kamar, ya?”


Alexy mengangguk.


Princess membantu Alexy memapahnya untuk masuk dalam kamar.


“Om, istirahat dulu. Oh iya, minum obatnya dulu ya, Om?”


Princess segera mengambil obat lalu memberikannya pada Alexy.


“Princess tinggal, ya? Biar Om bisa istirahat,” ujar Princess yang bangkit dari ranjang.


Princess ke luar dari kamar Alexy. Sedangkan Alexy mengingat apa yang terjadi pada saat itu, hingga akhirnya ia tertidur. Mungkin pengaruh dari obat yang barusan ia minum.


.

__ADS_1


“Princess!”


Alexy memanggil dan mengetuk pintu kamar Princess malam itu.


Ceklek!


Pintu kamar pun terbuka.


“Ada apa, Om?” tanya Princess.


“Aku, sudah ingat! Aku ingat kejadian itu, Princ!”


Alexy memeluk tubuh tinggi wanita itu, mungkin ia senang karena sedikit memori ingatannya telah kembali.


“Sorry!”


Alexy melepaskan pelukannya.


“Gak papa, Om!” ujar Princess malu-malu. “Coba ceritain, Om?” sambungnya.


Alexy dan Princess menuju sofa ruang keluarga. Mereka duduk bersebelahan dan Alexy mulai menceritakan hal yang ia ingat sebelum kecelakaan.


“Aku memang belum sepenuhnya mengiat jati diriku. Tapi, aku sudah mengingat tragedi kecelakaan yang membuatku sampai koma. Kalau boleh tau, apakah mobil yang orang tuamu tumpangi itu berjenis APV warna silver?” Alexy bertanya. Ia lupa dengan nomor mobil itu, tapi dirinya menyebutkan nama agen mobil travell itu.


Princess mengangguk, “Iya. Lalu?”


“Waktu itu aku juga ikut dalam rombongan mobil travell. Tapi, di tengah perjalanan. Ada seorang penumpang yang memberhentikan mobil kami. Ia pun naik ke mobil kami dan ternyata ia seorang pencopet. Ia menodongkan senjata pada sopirnya dan menyuruh kami untuk memberikan semua barang berharga yang kami punya, terutama dompet. Aku orang pertama yang memberikan dompet itu pada si penodong, kemudian disusul yang lainnya. Si sopir masih melanjutkan perjalanan, dengan pistol yang diarahkan pada kepalanya oleh si penodong. Entah apa yang terjadi, sepertinya mobil mengalami kerusakan pada remnya. Aku memutuskan untuk lompat dari dalam mobil. Habis itu aku tidak sadarkan diri. Itu yang kuingat, setelah itu. Aku tidak tau nasib mobil itu.”


“Berarti Om menjadi penumpang mobil itu juga?” tanya Princess.


Alexy mengangguk.


“Ya udah, kita ke agen travellnya saja. Minta bantuan agar menghubungi keluarga Om Alex. Minimal, di sana ada data diri Om Alexy,” saran Princess.


Alexy menggeleng, “Enggak, Princ!”


Aku tidak ingin jauh dari kamu! Umpat Alexy dalam hati.


“Kenapa?”


“Biarkan aku mengingat siapa diriku dengan sendirinya. Aku tidak ingin merasa asing di tengah keluargaku sendiri,” elak Alexy.


“Ya sudah, itu terserah Om Alex saja. Semua keputusan Om Alex, Princess dukung!”


Padahal, sebenarnya aku juga takut kehilangan kamu, Om. Tapi, aku ikhlas kalau suatu saat kamu akan meninggalkanku, umpat hati Princess.


“Ya sudah, lanjut tidur gih! Maaf aku sudah ganggu,” ujar Alexy.


“Iya, gak papa. Aku malah seneng bisa ngobrol banyak sama Om Alex. Om, boleh aku minta sesuatu?” ujar Princess.


“Iya, minta apa?”


“Aku mau panggil Om dengan sebutan Mas. Boleh?”


Princess menggigit bibir bawahnya, menandakan sebenarnya ia merasa ragu untuk menanyakan hal itu.


“Em ... Boleh gak, ya?”


Hening.


Princess menunggu keputusan Alexy.


“Gak boleh keknya!” ujar Alexy menahan tawa.


Bibir Princess meruncing, ia merasa kecewa.


“Tapi bo’ong!”


Alexy mencubit hidung Princess.


“Maksudnya?”


Princess menyipitkan matanya, merasa heran.


“Kamu boleh panggil aku dengan sebutan, Mas.”


Mata Princess membulat ia merasa tidak percaya, tapi tak dipungkiri hatinya merasa senang kala itu, “Makasih!”


Princess memeluk Alexy erat.


Deg!


Hati Alexy kembali bergetar. Debar jantungnya semakin kencang ketika Princess memeluknya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2