Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 67. Jenazah


__ADS_3

“Bang, bangun! Rey? Dengar Mama tidak?”


Nadin berseru yang disertai dengan ketukan pintu kamar.


“Iya, Ma!”


“Bangun, Sayang! Sudah jam tujuh. Bukannya jam sembilan kamu harus kerja?”


Nadin mengingatkan.


“Iya, Ma. Rey mau mandi,” jawab Rey dalam kamar.


Rey bangkit dari tempat tidur. Ia mengingat-ingat, ternyata semalam dirinya tidak memimpikan Jo atau siapa pun. Ia menghela napas panjang dan menghempaskan dengan kasar. Kesal mungkin.


Ia berjalan ke kamar mandi. Guyuran air itu telah menyejukkan tubuh Rey yang memang basah dengan keringat.


Rey meraih handuk dan berjalan ke depan pintu lemari. Ia mengambil seragam kerjanya dan mulai memakinya. Terlihat semakin tampan di usia sembilan belas tahunnya.


Rey bergegas membawa ransel dan menuruni anak tangga untuk sarapan dengan Mamanya. Karena Rhiena sekarang sudah disibukkan dengan ospek di kuliahnya.


“Makan, Sayang!” ajak Nadin.


Rey hanya menyeruput susu coklat panas dan beberapa potong kue yang ada di atas meja.


“Loh ... Kok makannya cuma itu?”


“Iya, Ma. Keburu-buru, oh iya Nana sudah berangkat?” tanya Rey.


“Sudah dari tadi pagi.”


“Ya udah, Rey berangkat ya, Mam?”


Rey pun bangkit dari tempat duduk dan mencium pipi sang Mama. Memang kebiasaan dari dulu, baik itu Rhiena ataupun Reynand kalau berpamitan dengan cara seperti itu. Tak ayal, hubungan ketiganya sangat dekat.


Melesat dengan mobil hitamnya menuju bandara. Ternyata Rey sudah ditunggu teman-teman yang menjadi rekan kerja di bandara.


“Tumben, sepertinya masih sepi,” ujar Rey pagi itu ketika di depan pintu kantor yang masih tertutup.


“SURPRISE!!!” seru rekan kerja Reynand.


Rey terkejut sekaligus terharu oleh surprise yang dibuat oleh rekan kerjanya.


Wajah yang terlihat syok, kini berubah menjadi senyum simpul di bibirnya.


“Selamat, Bro!”


“Selamat, Rey. Semoga semakin sukses!”


“Cepet ketemu jodoh ya, Rey! Lu the best, dah!”


Luncuran berbagai doa yang terlontar dari bibir rekan kerjanya. Rey terharu mendapat semua itu. Di tempat kerja yang belum genap satu tahun, ia mendapatkan perhatian yang luar biasa dari keluarga keduanya di bandara.


“Thank’s semuanya. Jujur gue gak tau harus balas dengan cara seperti apa ke kalian. Pokoknya thank’s banget!”


Rey merapatkan kedua tangannya dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.


“Apa-apaan ini? Siapa yang mengizinkan membuat acara seperti ini?!” ujar Captain Ardi, wajahnya sangar. Mungkin ia marah.


Semua Pilot, Co-Pilot, Pramugara dan Pramugari tertunduk melihat Captain Ardi yang datang dengan wajah marah dan suara yang terdengar tegas juga lantang.


“Ini tempat kerja, bukan Kafe yang boleh mengadakan acara seperti ini!”


Hening.


Semua taruna dan taruni di sana hanya tertunduk tidak dapat mengangkat wajahnya.


“Ide siapa ini?” tanya Captain Ardi dengan suara menggelegar bagai petir.


Semuanya tertunduk, tidak ada yang menjawab.


Bruk!


Captain Ardi menggebrak meja.


“Saya tanya satu kali lagi. Ide siapa ini?!!!”


“Ini ide Rey, Cap! Maaf,” ujar Reynand karena ingin menyelamatkan teman-teman yang lain.


“Rey? Kamu itu anak baru! Kalau mau ngadain surprise party, di rumah! Kamu ikut ke ruang kerja saya dan ini juga peringatan buat kalian semua!”


Captain Ardi berlalu pergi setelah marah-marah di depan seluruh taruna dan taruninya.


Ceklek!


Captain Ardi masuk dengan diikuti oleh Reynand di belakangnya.


“Duduk!” ujar Captain Ardi.


“Siap, Cap!”


Rey pun duduk di kursi berhadap-hadapan dengan Captain Ardi yang hanya terhalang oleh meja.


“Rey?”

__ADS_1


“Siap, Cap!”


“Kenapa kamu melakukan hal tadi di kantor? Apa kamu tahu, konsekuensi untuk taruna/taruni yang membikin keributan di tempat kerja?”


“Siap, tidak Cap!”


“Kamu bisa dipecat oleh maskapai!”


Deg!


Jantung Rey seakan hendak melompat dari tempatnya. Bagaimana mungkin ia dipecat, ini saja bukan salah dia. Tapi, Rey memilih menutupi sedari awal. Mau tak mau, Rey harus bersedia mempertanggung jawabkannya.


Hening.


“Kamu siap menerima hukuman?” ujar Captain Ardi memecah keheningan dalam ruangan itu.


Rey terdiam. Dalam hatinya berkecamuk dengan berbagai spekulasi.


“Siap, Cap!” dengan suara lantang, Rey pun menyanggupinya.


“Termasuk, apabila kamu dikeluarkan dari maskapai?” ujar Cap. Ardi.


Rey mengangguk, “Siap, Cap!”


“Baiklah, tunggu sebentar.”


Captain Ardi bangkit dari kursinya dan mengambil sebuah amplop berwarna putih untuk Reynand.


Dengan degup yang semakin kencang, Rey hanya bisa pasrah. Seumpama ia dikeluarkan dari maskapai, walau menjadi seorang pilot itu merupakan cita-citanya dari kecil.


“Ini!”


Captain Ardi memberikan amplop putih itu.


Rey menerimanya dan matanya melirik ke arah Captain Ardi.


“Buka lah!” titahnya.


Dengan tangan yang gemetar Rey membuka amplop berwarna putih itu. Keringat mengucur dari dahi dan punggungnya.


Yaelah, pupus sudah cita-cita gue jadi pilot! Gerutu dalam hati Reynand.


Rey mendapati selembar kertas yang bertuliskan “SELAMAT ULANG TAHUN, REY! DOA KAMI SEMUA MENYERTAIMU. SUKSES SELALU ANAKKU! From : Captain Ardi.”


Di sana juga terselip bar tiga strip yang biasa dipakai di bahu pilot.


“Ini maksudnya apa, Cap?” ujar Reynand, masih dengan tangan bergetar.


“Kamu naik pangkat, Rey. Dari Cardet menjadi Senior First Officer /strip tiga,” papar Captain Ardy.


“Selamat ya, Nak! Kamu memang seorang taruna yang hebat. Tak ayal, kamu loncat satu tahap.”


Captain Ardi memeluk dan menepuk pundak Rey.


“Jadi, Rey?”


Netra Rey berkaca-kaca tak kuasa menahan haru yang terjadi hari itu.


Captain Ardi mengangguk, “Iya. Kamu menjadi seorang pilot sekarang di usia sembilan belas tahun.”


AAAAAA!


Pekik hati Rey berteriak karena teramat bahagia.


“Kenapa kamu mangap-mangap?” tanya Captain Ardi.


Rey tersenyum, “Teriak dalam hati, Cap!”


Captain Ardi tak kuasa menahan tawa karena tingkah taruna baru yang menurutnya absurd.


Yahh ... Namanya juga senang. Berbagai macam cara orang mengekspresikannya, wajar!


***


Kediaman rumah Nadin sudah ramai dikunjungi oleh pelayat yang menunggu jenazah dari Singapura.


Keluarga Jovanka juga sudah standby di sana. Wajah-wajah sedih terlihat di rumah kediaman Alexy.


Wiw ... Wiw ... Wiw ....


Suara sirene ambulans yang memasuki pekarangan rumah keluarga Alexy. Peti itu diturunkan dan di masukkan ke rumah, sebagai penghormatan dan perpisahan dengan keluarga sebelum dikebumikan.


Seketika, ruangan yang tadinya hening karena menunggu jenazah tiba-tiba menjadi ramai dengan tangisan yang tumpah ruah dari kedua keluarga.


“Alexy!” pekik Nadia seraya memeluk peti jenazah.


Nadia ditenangkan oleh orang-orang yang ada di sana.


“Sabar ya, Jeng? Ikhlaskan, biar Alexy pergi dengan tenang,” ujar salah satu pelayat.


“Pa? Jo mau liat wajah Mas Alex untuk yang terakhir kalinya,” pinta Jovanka pada Michael.


“Papa rasa gak usah, Jo. Kamu gak bakal kuat,” jawab Michael.

__ADS_1


“Kenapa, Pa?”


“Wajah Alexy sudah tidak dapat dikenali, bagian tubuh lainnya juga sudah tidak utuh,” ujar Michael.


Tes!


Air mata Jovanka luruh di pipi putihnya.


“Jo enggak peduli, Pa! Pokoknya Jo ingin melihat wajah terakhir dari Mas Alexy, suami Jo!” pekiknya.


“Ya sudah. Silakan,” ucap Michael yang tak bisa melarang.


Peti kayu itu di buka perlahan oleh beberapa orang pria. Terlihat sudah jasad yang telah terbungkus kain berwarna putih. Walau hati Jovanka ragu, ia membuka perlahan penutup di bagian wajah suaminya.


“Hah?”


Jovanka menutup mulutnya, tak kuasa menahan tangis ketika melihat wajah Alexy yang telah hancur. Air matanya terasa kering kala itu. Pandangannya mulai menghitam dan akhirnya Jovanka jatuh pingsan.


“Jo, bangun! Bangun, Sayang!”


Mamanya mencoba menyadarkan Jovanka.


“Ini, Jeng!”


Nadia memberikan minyak angin pada Meli, Ibu dari Jovanka.


“Makasih!”


Meli langsung menempelkan botol minyak angin itu di hidung Jovanka. Tidak berselang lama, Jovanka pun tersadar dari pingsannya.


Seketika air mata itu kembali menetes, “Mas Alex, Ma!” ringkiknya.


“Sabar ya, Nak? Sabar, Sayang!”


Meli memeluk erat tubuh putrinya yang sudah tidak berdaya karena terlalu syok.


Hingga beberapa saat, akhirnya jasad Alexy pun bersiap dikebumikan oleh warga yang ada di rumah itu. Mereka hendak menutup peti kayu itu karena Jenazah akan segera dimakamkan.


“Tunggu dulu!” pekik Jovanka.


Jo bangkit dari dekapan sang Mama. Ia kembali mendekati peti jenazah Alexy. Lagi, Jo melihat wajah suaminya yang sudah tidak dapat berbentuk.


Air mata itu kembali mengalir deras. Rasa kecewa, sedih, menyesal telah berbaur menjadi satu dalam diri Jovanka saat ini.


“Mas? Kenapa Mas tinggalin Jo? Katanya Mas sayang sama Jovanka? Hiksss ....” suara tangisnya mulai menghilang.


“Sudah ya, Jo? Kasihan, Alex harus segera dikebumikan,” ujar Michael.


“Tapi, Jo masih kangen sama Mas Alex, Pa!” dengan suara parau.


“Doakan dan ikhlaskan ya, Jo? Semoga Alex dapat tempat yang paling baik di surga,” ujar Michael.


Jo mengangguk dan mengikhlaskan Alexy pergi untuk selama-lamanya.


Semua orang pergi mengantarkan jenazah Alexy ke liang lahad. Begitu pun dengan Jovanka, walau ia tidak kuat, ia tetap mengikuti rombongan yang membawa jenazah suaminya.


Terlihat sudah galian tanah untuk menguburkan jasad suaminya. Warga mulai menurunkan jenazah yang sudah rusak itu dengan perlahan ke liang lahat.


Gubrak!


Lagi, Jovanka pingsan ketika ada di pemakaman.


“Jo? Bangun, Sayang!”


Lagi-lagi Mamanya mencoba menyadarkan Jovanka dari pingsannya.


Tapi tak berselang lama, setelah Alexy sudah dikuburkan, Jo kembali tersadar.


Jo melihat jasad suaminya telah terkubur oleh tanah dan taburan bunga mawar dan beberapa buket bunga dari rekan-rekan dokternya. Beberapa orang dokter juga mengikuti prosesi penguburan Alexy, termasuk Emillia yang merupakan sahabat karib dari Alexy.


Semua warga telah kembali ke rumahnya, begitu pun dengan dokter-dokter yang telah kembali ke rumah sakit. Tinggallah keluarga Alexy, keluarga Jovanka dan Emillia yang masih berada di depan pusaran Alexy.


“Nak, semoga kamu damai di sana. Doa Mama selalu menyertaimu. Hidupmu sudah abadi di sana,” ujar Nadia yang tak lain Ibu dari Alexy.


Keluarga Alexy telah pulang, begitu pun dengan Emillia yang harus kembali bertugas di rumah sakit. Tinggallah Jo berserta keluarganya.


“Sayang, pulang, yu?” Ajak Meli.


Jo menggeleng.


“Kenapa, Sayang?”


“Jo masih ingin di sini, Ma!” dengan suara lirih.


Hening.


“Pa, gimana?” tanya Meli pada Rendy, suaminya.


“Kasih Jo waktu, Ma. Mungkin ia masih ingin di depan makan suaminya,” ujar Rendy.


“Tapi ....”


“Sudahlah, percaya sama Papa. Jo akan baik-baik saja,” jawab Rendy.

__ADS_1


“Baiklah, Jo. Mama dan Papa pulang dulu. Jangan terlalu lama ya, Nak?” ujar Meli.


Jo mengangguk.


__ADS_2