Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
100. Salah sangka


__ADS_3

Mentari hangat masuk melalui jendela kamar hotel yang terbuka. Kebetulan, kamar tidur Rey dan Jo berhadapan dengan taman. Di mana pada saat itu sedang musim gugur.


Rey dan Jo menikmati sepotong roti bakar dan minuman hangat yang disediakan oleh pengelola hotel. Menikmati sarapan pagi bersama hangat sang mentari dan semilir angin pagi ini membuat mereka bersemangat. Terlebih, setelah malam itu. Di mana Rey memiliki seluruh tubuh dan hati Jovanka.


Jo melangkah mendekati jendela kamar hotel dan memandang sekeliling taman yang hampir semuanya tertutup oleh bunga sakura yang berguguran berwarna merah muda, begitu cantik.


Jo menyanggah dagunya lalu bibir merah mudanya tersenyum membuat Rey ingin mengetahui apa yang telah membuat istrinya tersenyum.


Rey bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati Jovanka. Rey melingkarkan tangannya di perut langsing Jo dengan dagu yang bertengger di pundak kanan sang istri.


"Liat apa, sih?" bisik Rey yang membuat Jo terperanjat.


"Eh, kamu, Rey. Ngagetin aja," jawab Jo dengan pipi merona.


"Kenapa? Kaget, ya?" ucap Rey dengan bibir mengecup hangat pipi Jo.


"Iya lah."


"Tapi suka, kan?" goda Rey yang tidak henti mengecup pipi istrinya, bahkan bibirnya terus mengecup pada bagian leher membuat Jo sedikit melenguh.


"Sa––yang, jangan seperti ini, aku––"


Melihat ekspresi Jovanka yang seperti itu bukannya membuat Rey berhenti. Lelaki itu malah meneruskannya aksinya hingga lenguhan-lenguahan itu terucap berkali-kali di bibir merah muda istinya. Terlebih, ditambah ekspresi mata Jo yang terpejam dan bibir yang digigitnya membuat Rey semakin bersemangat untuk mencumbu.


"Mau lagi?" tanya Rey nakal.


"Ini masih sakit, Sayang."


"Enggak bakal. Aku akan lebih pelan dan bikin kamu relax, Sayang."


Tanpa ada kata, Rey menutup jendela dan gorden lalu menggendong istrinya. Tangan Jovanka melingkar di tengkuk Rey, sementara kedua matanya tidak lekang memandangi wajah tampan yang telah menjadi suaminya.


Perlahan, Rey membaringkan tubuh Jovanka di atas tempat tidur.


Sepertinya hampir setiap orang itu mempunyai watak serakah. Bayangkan saja, rambut mereka saja masih basah dan kini hendak mengulang hal yang sama. Apa lagi kalau bukan menikmati surga dunia?


***


Keduanya saling melepas senyum ketika menyadari aktivitas mereka telah usai. Namun, tubuh polos mereka masih menempel seperti perangko.


Rey membenahi anak rambut Jo yang terlihat berantakan lalu menyelipkannya di telinga Jo. Sedangkan Jo sedang asyik-asyiknya memainkan jemari pada tubuh Rey yang sedang bertelanjang dada.


"Aku suka caramu memperlakukanku, Sayang," ucap Jo terdengar malu-malu dengan bibir yang tertoreh senyum.


"Udah gak sakit, kan?"


"Masih. Tapi bisa jauh lebih relax."


"Mau aku bikin relax lagi?"


Rey suka sekali menggoda Jo. Terlebih ketika pipinya menjadi ranum oleh segala ucapan dari Reynand.

__ADS_1


"Idih ... belum juga mandi," elak Jo tampak malu-malu.


"Gak usah mandi. Toh kita masih seperti ini," ucap Rey sambil melirik pada tubuh Jo yang masih memeluk erat.


Jo menyadari kalau dirinya tengah disindir, dengan cepat dia melepaskan pelukannya lalu memunggungi Reynand.


Rey tersenyum melihat tingkah istrinya. Bukannya menjauh, Rey malah menciumi punggung Jovanka.


"Reeeyyy ...·" desah Jovanka.


Bibir Reynand kembali tersenyum. Dia merasa menang dari istrinya ketika Jo melenguh seperti itu. Dia memeluk Jovanka masih dalam selimut yang hangat.


Mereka tertidur pulas.


*


Menikmati surga dunia hingga akhirnya sang mentari telah berada tepat di atas sana. Rey terbangun lebih dulu lalu turun dari ranjang yang membara karena ulah mereka berdua. Lelaki itu segera mandi.


Tiba-tiba Jo merasa aneh dengan tubuhnya. Betapa kagetnya wanita cantik itu karena ternyata selimut yang menghalangi tubuh polosnya telah tergeletak di lantai. Perbuatan jahil siapa lagi kalau bukan Reynand?


Wanita itu langsung menutup bagian intim lalu segera beringsut untuk meraih selimut yang cukup jauh dari kasur.


Mata Jovanka membulat ketika mendengar pintu toilet yang terbuka. Dia pun mendongak, "Rey?" gumam Jo yang masih di atas tempat tidur.


Rey tersenyum ketika melihat Jo dengan posisi tengkurap lalu tangan yang mencoba meraih selimut yang agak jauh dari kasurnya.


"Mau ambil ini, Sayang?" tanya Rey masih bercanda. Dia meraih selimut itu lalu memegangnya.


"Siniin!" pinta Jo sedikit merengek.


"Apa pun yang kamu mau, yang penting siniin dulu!"


"Beneran, ya?" Rey memastikan.


"Iya."


"Yakin?"


"Yakin."


"Enggak bo'ong?" Rey masih menggoda sebelum selimut itu dia berikan pada Jovanka.


"Rey?" Mata Jo mendelik kesal.


"Hahaha ... iya, iya, Nona."


Rey berjalan lalu menutup tubuh istrinya oleh selimut yang dia bawa. Kini, tubuh polos itu telah tertutup oleh selimut berbahan cukup tebal.


"Udah, kan?" tanya Rey ketika wajah mereka saling bertatap.


"Belum."

__ADS_1


"Belum?" tanya Rey dengan mata makin menyipit.


Jo mengangguk.


"Kamu yakin, masih mau lanjutin?"


"Bukan itu!"


"Lalu?"


"Aku belum mandi!" Jovanka beringsut lalu turun dari kasur dengan selimut yang masih melekat di tubuhnya. Sedangkan Rey tersenyum melihat aksi Jovanka siang itu.


Seharian mereka menghabiskan waktu dalam kamar. Hallaahh! Dasar pengantin baru. Rela perut lapar demi menikmati surga dunia. Bukan nyicip namanya, tapi nagih karena tidak dilakukan sekali saja.


Jo sudah cantik mengenakan dress putih motif bunga dengan lengan pendek sedangkan panjang dress memayung yang masih menutupi lutut.


"Yank," panggil Rey.


"Iya," jawab Jovanka yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Aku mau––" Belum juga Rey menuntaskan ucapannya, Jo langsung menyela.


"Apa? Masih mau itu? Jangan deh, Sayang. Nanti over dosis," jawab Jo sekenanya.


Rey mengangkat satu alisnya ketika mendengar ucapan istrinya yang tidak dia mengerti.


"Maksudnya?"


"Kamu mau main itu, kan?" ucap Jo dengan pipi memerah.


"Aku mau makan, Sayang. Perutku lapar dan cacing udah berdemo ketika nunggu kamu mandi."


Jo terlihat semakin malu karena apa yang ada dalam pikirannya tidak sama dengan apa yang diinginkan Reynand. Ternyata dia salah sangka.


"Aku kira, kamu mau it–tu," jawab Jo terbata.


Lagi-lagi Rey tersenyum melihat Jo yang tentu saja masih polos di hadapan Rey walau usianya satu tahun di atas Reynand.


Rey kembali mendekat lalu meraih handuk itu dari tangan Jo. Kini, mereka berdua saling bertatap dan Rey memegang dagu runcing Jo.


"Terima kasih," kata Rey dengan sungguh-sungguh.


"Untuk apa?" jawab Jo yang terlihat menelan saliva dengan susah payah.


"Semuanya."


"Semuanya?"


Rey mengangguk.


"Hatimu, kesungguhanmu, cintamu, kasih sayangmu dan semua hal yang kamu jaga untukku. Aku tidak salah menunggumu, Jo." Rey memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


Jo mendengar detak jantung Rey ketika telinganya tertempel tepat di bagian area detak jantung suaminya.


Tidak ada jawaban dari Jo. Dia hanya memeluk erat tubuh suaminya dan hal itu sudah cukup untuk Rey. Lebih dari jawaban yang dia ingin dengar dari bibir istrinya. Mereka saling berpelukan. Erat.


__ADS_2