Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 37. Surprise Untuk Vicky


__ADS_3

Rey terdiam di balkon kamar. Menatap mobil merah yang melesat dari rumahnya.


Sebenarnya, Princess itu wanita yang baik, anggun dan juga cantik. Tetapi, kenapa aku seperti tidak bisa membuka pintu hati untuknya? Apakah perasaanku terlalu kuat untuk Jovanka? umpat hati Rey.


“Bang!”


Suara Nana mengagetkan lamunanku.


Rey menoleh dan menatap wajahnya, “Kenapa, Na?” tanya Rey pada Rhiena.


“Abang tolak Princess?”


Rey terdiam.


“Kenapa? Apa Princess kurang cantik? Kurang baik? atau kurang apa sih, Bang?” cerocos Rhiena.


Rey menggeleng.


“Lalu? Jawab, Bang!”


Rhiena memandang netra Rey tajam.


Hening.


“Bang, kalau Abang mau move on dari pacar Abang yang dulu, mestinya kasih kesempatan untuk Princess! Abang tidak akan pernah tau Princess seperti apa, kalau Abang sendiri belum mau membuka hati untuknya. Pikirkan ucapan Nana, Bang! Demi masa depan Abang!”


Rhiena berlalu pergi.


.


Cahaya jingga telah tenggelam berganti dengan pekatnya malam, tanpa ada cahaya bulan atau pun bintang yang menerangi. Semuanya terasa kelam.


Rey masih berdiri di balkon kamar, menikmati hilir angin yang mengembus badan. Kakinya masih kokoh berdiri dan netra itu masih tajam memandang jalanan yang mulai sepi.


“Rey, kenapa belum tidur?” Nadin bertanya.


Rey membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan dengan Nadin.


“Belum ngantuk, Mam!” jawab Reynand.


“Besokan sekolah, Nak? Tidurlah!”


“Iya, Mam. Bentar lagi. Mama sendiri, kenapa belum tidur?” balas Reynand.


“Mama baru saja selesai mengerjakan pekerjaan kantor, Sayang!”


“Ya udah, Mama tidurlah. Bentar lagi, Rey juga tidur kok.”


“Iya, jangan terlalu malam, Rey!”


Rey mengangguk, sedangkan Nadin berlalu dan masuk ke dalam kamarnya.


Ya Tuhan, kenapa jalan cinta kami menjadi seperti ini? Kenapa tidak seindah seperti harapan kami? Sesungguhnya, apa rencana-Mu untuk kami? Tanya hati Reynand.


Malam semakin larut, udara semakin dingin menembus tulang. Rey akhirnya masuk dalam kamar dan membaringkan tubuh jangkung itu di atas ranjang.


Klik!


Lampu kamar pun telah mati.


***


“Bang! Bangun! Abang!” pekik Rhiena sambil mengetuk pintu sangat kencang.


Rey kaget dan langsung membukakan matanya. Ia bangkit dari tempat tidur dan langsung berlari untuk membuka pintu kamar itu.


“Nana? Ada apa?” tanya Reynand.

__ADS_1


“Bang! Antar ke mini market, Nana lupa beli kue ulang tahun buat Kak Vicky!” ujar Rhiena.


Rey membukatkan matanya, “Pagi-pagi bangunin Abang, hanya untuk minta anter beli kue buat Vicky?”


Rhiena mengangguk, “Pliss!” dan ia merapatkan kedua tangannya, sembari memohon.


“Malas!” elak Reynand.


Rey hendak menutup pintu. Tapi, Rhiena menahan dengan sekuat tenaga, agar pintu kamar itu tidak terturup.


“Abang! Pilssssss!” rengek Rhiena.


Rey hanya mendengus, kesal karena adiknya telah membangunkannya pagi-pagi buta, hanya untuk dimintai mengantarkan dirinya membeli kue.


Rey berbalik dan melangkahkan kaki ke dalam kamar.


“Abang mau ke mana?” ujar Rhiena dengan suara yang sudah melemah.


“Ngambil sweater!”


Rhiena tersenyum.


Rey mengambil sweater dan juga kunci mobil yang ada di atas nakas. Mereka menuruni anak tangga dan bergegas menuju garasi.


Rey dan Rhiena pun masuk dalam mobil hitam itu dan melesat menuju mini market 24 jam.


Srettt!


Mobil terparkir di depan mini market. Rhiena ke luar dari dalam mobil. Sedangkan Reynand masih duduk di jok mobil sambil menyenderkan punggungnya.


“Bang! Ayok turun!” pinta Rhiena.


“Enggak, ah! Abang di sini aja.”


“Aaabbbaannggg!” rengek Rhiena.


Rey membuang napas kesal lalu membuka pintu mobil dan mengikuti Rhiena dari belakang.


“Bang, lucu yang mana?”


Rhiena menunjukkan dua kue ulang tahun untuk perbandingan.


“Terserah!”


“Aabbaannggg!” kembali, Rhiena merengek seperti anak kecil.


“Yang ini!”


Rey memilih ngasal.


“Oh ... Gimana kalau yang ini?” Rhiena mengangkat satu kue lagi.


“Kalau punya pilihan sendiri, kenapa juga harus tanya Abang?” keluh Reynand.


Rhiena tertawa, “Ya maap, Nana gak bawa duit. Minta duit, Bang!” ujar Rhiena sambil mengulurkan satu tangannya.


“Ya Tuhan, Abang suruh turun cuma buat bayarin kamu doang? Pemalakan, ini!”


Lagi, Rhiena hanya tersenyum.


Rhiena berjalan menuju kasir dan segera membayar kue yang ia ambil. Setelah selesai, Nana langsung mengajak Rey ke tempat Vicky.


“Ya Tuhan, Na! Ini masih jam empat pagi, si Vicky mana mungkin udah bangun?” tanyaku kesal.


“Plisss ... Nana mau kasih surprise, Bang! Makanya, Nana mau gangguin tidurnya dia,” ujar Rhiena.


“Yakin? Sebelum kamu gangguin tidur Vicky, kan orang pertama yang kamu ganggu itu Abang!” pekik Reynand.

__ADS_1


“Maaf deh, Bang! Nana cuma mau kasih hadiah aja buat kak Vicky.”


Akhirnya, walaupun di awal sempat tidak mau. Akhirnya Rey mengikuti permintaan dari Rhiena. Mereka pun masuk dalam mobil, tak lupa kue, lilin dan korek api, ikut masuk dalam mobil.


Melesat di pagi buta, menuju kontrakan Vicky hanya untuk memberikan kue ulang tahun, seperti hal yang sia-sia bagi Rey. Bagaimana tidak? Rey merasa istirahatnya diganggu hanya untuk menemani adiknya untuk memberikan kue dan mengucapkan selamat ulang tahun.


Sesampainya di kontrakan Vicky, mobil hitam itu pun masuk karena pintu gerbang memang tidak pernah dikunci. Entah alasannya apa?


“Ayok ke luar!” ujar Rhiena yang masih duduk di jok mobil.


“Males, Na! Kamu aja deh. Itu kan pacar kamu, bukan pacar Abang!” elak Reynand.


“Takut Abang. Ayok anter Nana!” pintanya sedikit merengek.


Hhuuufff ....


Kembali, Rey menghempaskan napas dengan kasar. “Ya udah, ayok!”


Rey ke luar dalam mobil, begitu pun dengan Rhiena yang mengeluarkan kue beserta lilin dan korek apinya.


Mereka melangkahkan kaki menuju kamar Vicky.


Tok ... Tok ... Tok ....


Pintu kamar diketuk.


“Siapa?” suara Vicky dari dalam.


“Abang, nyalain lilinnya,” pinta Rhiena seraya berbisik. “Ini Nana, Kak!” Rhiena menjawabnya.


Lilin sudah dinyalakan di atas kue dan pintu pun terbuka, terlihat mata merah pada Vicky, sepertinya ia sangat masih mengantuk.


Kita senasib, Vic! Digangguin ketika asyik tertidur lelap oleh Nana! pekik hati Reynand.


“Happy brith day, Kak Vicky!” ujar Rhiena tanpa basa-basi.


“Nana? Iya, Na. Makasih, ya?” ujar Vicky.


Vicky memeluk Rhiena di depan mata Reynand.


Ehem!


Rey pura-pura batuk. “Katanya mau tunggu sampai halal?” ledek Rey pada Vicky.


Dengan sedikit malu, Vicky pun melepaskan pelukaannya dan tersenyum malu pada Reynand.


“Gitu, dong! Met ultah deh, Bro!” Rey memeluk dan menepuk pelan punggung Vicky.


“Iya, thank’s ya, Bro! Lu emang calon kakak ipar yang baik!” ujar Vicky sambil tersenyum lebar.


“Ya udah, tiup lilinnya, ya?” ujar Rhiena.


Akhirnya, lilin yang berwarna merah tua pun dinyalakan, lalu ditiup oleh Vicky.


Lagi, Vicky hampir saja memeluk Rhiena.


Mereka bertiga akhirnya menghabiskan waktu pagi buta ini dengan memakan kue ulang tahun punya Vicky.


Sang surya pun telah memancarkan warna jingganya dengan indah. Bahkan, sinar itu pun telah memberikan mereka kehangatan.


“Kak, balik dulu, ya?” pamit Rhiena pada Vicky.


“Ya udah. Nanti inboxan lagi ya, Na?” ujar Vicky.


“Iya!”


Akhirnya, Rey dan Rhiena kembali pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam. Rey dan Rhiena harus kembali sekolah.

__ADS_1


__ADS_2