
“Abang!”
Suara kencang beserta pelukan hangat dari sang adik.
“Eh! Malu, Na. Diliatin banyak orang,” ujar Reynand.
“Biarin! Paling mereka anggap kita sepasang kekasih,” jawab Rhiena yang masih memeluk Rey, kakak yang ia rindukan.
“Itu yang bikin Abang susah dapat pacar!”
Rhiena melepaskan pelukannya.
“Kan ada Princess yang suka sama Abang. Abang aja yang terlalu pemilih. Coba Abang pandang Princess, kurang apa coba? Dia cantik, punya tinggi badan yang bagus bak seorang model. Sesuailah, Ibunya memberikan nama untuknya!” ujar Rhiena panjang lebar.
Rey menatap datar setelah mendengarkan segala ucapan dari adik kembarnya, yang menurutnya seperti bualan yang tak berarti. Karena hatinya masih terikat pada Jovanka.
“Udah?”
“Apanya?”
“Promosiin temanmu!”
“Ish! Abang, nih!” Lengan Rhiena menyenggol Reynand. “Ayo, pulang! Mama udah masak masakan kesukaan Abang!” sambungnya.
“Gak bawain?”
“Bawain apa?”
“Ranselnya Abang.” Rey terkekeh.
“Bawa, sendiri!”
Rhiena melangkahkan kaki meninggalkan Reynand.
“Nana! Tunggu!”
.
Mereka pun menaiki mobil sport warna hitam milik Reynand.
“Eh, pake mobil Abang gak minta izin!”
“Yaelah, mobil Nana lagi di bengkel, Bang! Siapa tau Abang kangen sama mobil Abang. Makanya Nana bawa mobil ini,” elak Rhiena.
"Alasan!"
Rhiena tersenyum.
Mobil melesat cepat menuju rumah megah di pusat kota. Perjalanan macet yang disertai bunyi klakson motor dan mobil, menjadi sambutan selamat datang dari kota itu untuk Reynand.
Hingga akhirnya, mobil hitam itu sudah terparkir di halaman rumah mereka. Rey dan Nana membuka handle pintu mobil. Pintu rumah pun terbuka, terlihatlah wanita paruh baya yang masih cantik di depan netra mereka.
“Rey!”
Wanita paruh baya itu berlari dan memeluk putra yang ia rindukan.
“Kamu baik-baik saja kan, Sayang?” ujar wanita paruh baya itu.
Rey mengangguk. “Rey, baik-baik saja, Mam.” Rey mencium kening sang Mama.
“Em ... Kalau Bang Rey udah pulang, Nana pasti di sisihkan deh!” keluh Rhiena yang berada di sisi mereka.
“Apaan, sih! Sini kamu!”
Rey menarik lengan adiknya dan kini, mereka bertiga berpelukan dalam satu dekapan laki-laki jangkung itu.
Tampak sudah kerinduan mereka bertiga untuk berkumpul. Padahal, waktu lalu pemandangan seperti ini sangat sering terlihat. Terutama ketika Mama dan Papanya pulang dari kantor. Rey dan Nana berlari saling mendahului untuk mendapat dekapan hangat dari kedua orang tuanya. Kini, Rey lah yang dapat mendekap Mama dan si adik kembar dalam dekapan hangatnya.
“Ayo, masuk! Mama sudah menyiapkan menu makanan favorit kalian berdua,” ujar sang Mama mengajak putra dan putrinya masuk dalam rumah.
Mereka pun melenggang memasuki rumah mewah itu.
Ceklek!
Pintu itu pun terdorong masuk.
Langkah kaki sang Mama mengarah ke ruang makan, yang disertai dengan langkah kaki dari dua anak kembar yang telah tumbuh menjadi dewasa.
Banyak sekali menu makanan beserta minuman yang bermacam-macam, telah tersaji di atas meja dan mereka mulai menikmati makan siang yang hangat bersama canda dan tawa dari ketiganya.
.
Rey melangkahkan kaki, masuk ke dalam kamarnya setelah selesai makan. Ia mendorong pintu dan merebahkan tubuh jangkungnya di atas ranjang besar. Nyaman!
Bola matanya memutar ke segala arah, semuanya masih tampak sama. Tidak ada yang berubah sedikit pun, semua barang masih terletak di tempat yang semula.
“Akhirnya gue balik ke rumah ini lagi.”
Rey menghempaskan napasnya.
Matanya terpejam, mungkin lantaran capek di perjalanan atau bahkan karena masalah cinta yang berakhir tanpa hati tak menginginkan?
__ADS_1
Apakah cinta itu akan kembali?
Apakah hatinya yang sunyi dabat kembali berseri?
Banyak sekali pertanyaan yang bergelayut dalam diri Reynand hingga akhirnya ia tertidur siang itu.
***
Di sisi lain, ada Jovanka yang sudah mengurus berkas untuk kampus. Ia bahkan sudah diterima disalah satu kampus di kota Bandung. Sesuai dengan keinginannya, ia masuk di jurusan kedokteran.
Apakah aku ke kost Rey, ya? Umpat hati Jovanka.
Tapi, apakah pantas? Aku kini sudah menjadi istri orang lain. Tapi aku masih penasaran, kenapa Rey meninggalkanku?
Semua pertanyaan itu bergelayut dalam hati Jovanka.
Akhirnya, Jo memutuskan untuk mendatangi kost Reynand. Ia melesat menggunakan mobil ke kost Reynand. Tidak berselang lama, akhirnya Jo telah sampai di halaman kost itu.
“Sepi,” ucap Jovanka yang masih dalam mobil.
Ceklek!
Jo membuka handle pintu mobil. Langkah kakinya menuruni mobil itu dan ia mendekati kamar Reynand.
“Kok digembok, pintunya?” keluh Jovanka.
Ceklek!
Pintu kamar sebelah terbuka. Siapa lagi kalau bukan Vicky yang nongol di balik pintu itu?
“Kak Jovanka?” Mata Vicky membulat, melihat Jovanka berada di depan kamar Reynand, sahabatnya. “Kakak mau apa?” sambung Vicky.
“Aku, em ... Aku, mau ketemu sama Rey, Vic. Rey nya ke mana? Kok pintunya digembok?” tanya Jo dengan malu-malu. Mungkin, karena ia merasa sudah menjadi istri orang lain.
“Rey sudah berangkat, Kak!”
“Ke mana?”
“Dia sudah balik ke rumahnya, di Jakarta,” terang Vicky.
“What?”
Netra Jo mulai berkaca-kaca.
“Vic, boleh ngomong sebentar, gak?” ujar Jovanka.
“Boleh, mari, di kursi depan aja, Kak!” ajak Vicky ke depan teras kost-nya.
“Vic, pasti kamu tau rumah Rey di Jakarta!” Tanpa basa-basi, Jo langsung bertanya pada Vicky.
“Engak, Kak! Mana saya tau, saya belum perah main ke rumahnya,” elak Vicky.
“Jangan bohong!”
“Ngapain saya bohong? Untungnya buat saya apa?” elak Vicky lagi.
“Beberapa kali aku telpon Rey, kenapa nomornya gak aktif-aktif? Kamu tau nomor baru Reynand?”
Vicky menggeleng.
Huuffttt ... Dasar bodoh! Vicky kan temannya Reynand, mana mau ia bercerita tentang sahabatnya padaku? Umpat hati Jovanka.
Akhirnya, Jo memilih untuk menemui sahabatnya, Salsa. Kebetulan, esok hari Salsa juga akan berangkat ke Jakarta untuk kuliah di sana.
“Ya sudah, makasih ya, Vick! Aku permisi!” ucap Jovanka.
“Iya, hati-hati, Kak!”
Kembali, Jo melesat menggunakan mobilnya menuju kediaman rumah Salsa. Waktu baru menunjukkan pukul dua siang. Dengan agak terburu-buru ia mengemudikan mobilnya dengan cukup kencang.
Ting ... Tong ....
Jo memijit bel rumah Salsa.
Ceklek!
Pintu rumah pun terbuka oleh asisten rumah tangga di sana.
“Non Jovanka? Mari masuk, Non!”
Ajak asisten rumah itu. Ia sudah mengenal Jovanka, tak ayal asisten rumah tangga itu langsung menyuruh Jovanka masuk dalam rumah.
“Salsanya ada, Bi? Om sama Tante pada ke mana?” tanya Jo ketika melihat keadaan rumah yang sepi.
“Ada, di atas lagi beres-beres baju, Non. Kalau Tuan sama Nyonya, masih di luar rumah,” terang asisten rumah tangga itu.
"Ooo ...."
Jo diantarkan menuju kamar Salsa yang berada di lantai dua.
“Sa!” panggil Jo yang disertai dengan ketukan pada pintu kamarnya.
__ADS_1
“Masuk aja!” jawab Salsa dari dalam.
Pintu itu pun didorong, dan Jo masuk dalam kamar itu. Netranya melihat baju-baju yang berserakan di atas ranjang. Salsa terlihat sedang mengemas baju yang berserakan itu satu persatu.
Salsa mendongak, “Eh ada pengantin baru!” ledek Salsa.
“Dih! Apaan sih!” jawab Jovanka ketus.
“Cerita dong, malam pertama tuh seperti apa? Ciuman? Pelukan atau gimana?” cerocos Salsa.
“Gak ngapa-ngapain!”
“What? Kok bisa? Katanya kalau sudah menikah, bebas mau ngapain aja? Kok kamu malah enggak ngapa-ngapain?”
Salsa mengernyitkan keningnya.
“Pernikahan gue aja terpaksa, karena perjodohan.”
“Tapi, dokter Alex? Apakah ia gak menuntut untuk meminta haknya?”
Jo menggeleng.
“Masa, sih?”
Hening.
“Kok Om dokter gak minta haknya, ya?”
Salsa masih penasaran dan terus bertanya tanpa mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu.
Jo dan Salsa masih mengobrol, sampai tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Gawainya pun bergetar.
Dddrrrttttt!
Jo mengambil gawainya dalam tas. Ia menyentuh dan membaca pesan masuk.
“Om Alex?”
Netra Jo membulat melihat nama yang tertera pada layar gawai miliknya.
[Jo, kamu masih di kampus? Kok belum pulang?]
[Jo lagi di rumah Salsa, Om. Esok Salsa berangkat ke Jakarta, Jo mau habiskan waktu dulu sama dia, sahabat baik Jo.]
[Oke! Hati-hati, ya? Hubungi aja kalau ada perlu.]
Jo melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Akhirnya Jo memutuskan untuk pulang ke rumah.
“Sa, aku balik, ya? Aku bakal kangen banget sama kamu!”
Jo memeluk dan menumpahkan air matanya.
“Sama, Jo. Aku juga bakalan kangen sama kamu, sahabat terbaikku!”
Mereka berpelukan sambil mencurahkan perasaan satu sama lain yang merasa kehilangan.
***
“Dari mana saja kamu, Jo?”
Baru saja Jo membuka pintu rumah. Ia sudah mendapatkan pertanyaan dari sang Mama.
“Jo habis kulaih, Ma,” jawab Jovanka.
“Dari pagi? Sampai jam segini?” ucap Mamanya sambil melihat ke arah pergelangan tangannya, melihat jam.
“Habis dari kampus, Jo ke rumah Salsa dulu, Ma.”
“Jangan bohong!”
Terdengar suara keributan, Alexy pun ke luar dari dalam kamarnya.
“Ada apa sih, Ma? Kok teriak-teriak ngomongnya?” ucap Papanya yang duluan menghampiri Jovanka dan Mamanya.
“Ini, anakmu! Jam segini baru pulang,” ujar Mamanya.
“Ya memang kenapa, Ma?” jawab Papanya Jovanka.
“Sekarang Jo udah punya suami, Pa. Mestinya ia belajar menjadi seorang istri. Ia harus melayani suaminya ketika pulang kerja. Masa suami pulang kerja, istrinya malah lagi di rumah sahabatnya?” keluh Mama Jovanka dengan panjang lebar.
“Jo udah kasih tau Alex kok, Ma, Pa!” Tiba-tiba Alexy ikut menimpali. “Alex rasa, Jo udah cukup baik. Ia memberitahukan keberadaannya pada Alex. Lagia, wajar saja, Ma. Jo mungkin lagi perpisahan sama teman dekatnya karena mereka nanti akan terpisah jarak,” terang Alexy.
“Tuh ... Suaminya saja tidak ada masalah. Sudah, Jo! Kamu makan, ajak suamimu juga. Kasihan, ia sudah nungguin kamu untuk makan bersamamu,” ujar Papanya.
What? Om Alex nungguin aku hanya untuk dapat makan bersama? Maksudnya apa coba? Umpat hati Jovanka.
“Baik, Pa! Ayo kita makan, Om!” ajak Jovanka pada Alexy.
“Jo! Biasain jangan panggil Om sama suamimu!” ujar sang Mama.
Hadeuhhhh! Ribettt bener hidupku ini! Umpat hati Jovanka.
__ADS_1