
Mentari bersinar di pagi hari. Cahayanya menerobos masuk ke lubang-lubang ventilasi kamar. Jo menggeliat tatkala sinar itu mengenai wajahnya, mungkin merasa silau. Ia mulai membuka mata.
“Oh ... Sudah siang ternyata.”
Jo bergegas turun dari tempat tidurnya lalu segera mandi di pagi ini. Setelah usai mandi ia membuka lemari lalu mengambil baju kemeja dan celana jeans panjang untuk berangkat kuliah.
Ia membawa tas dan beberapa buku tebal di tangannya. Jo menuruni anak tangga, di sana sudah terlihat Mama mertuanya yang sudah bersiap untuk kembali bekerja di rumah sakit.
“Pagi, Jo? Ayo, sarapan dulu, Sayang?” ujar Mama mertuanya sambil mengusap mulutnya dengan tisu.
“Mama udah beres sarapannya?” tanya Jovanka.
“Iya, Mama harus segera berangkat ke rumah sakit. Pagi ini akan ada jadwal pasien yang dioperasi,” ujar Mama mertuanya.
“Lalu, Tante Angel ke mana, Ma?”
“Angel sudah berangkat tadi pagi-pagi sekali. Mama berangkat ya, Sayang?”
“Ya udah, hati-hati ya, Ma?”
Mama mertuanya bangkit dari kursi dan mencium pucuk kepala menantunya.
Semua keluarga memperlakukan Jo dengan baik dan penuh kasih sayang. Seumpama orang melihat, mungkin Jo merupakan orang yang paling bahagia, dikelilingi oleh orang-orang yang sayang terhadapnya. Tapi, hatinya tetap terpaut dengan cinta pertamanya yang berakhir tanpa ada yang mengakhiri.
Jo akhirnya berangkat ke kampus dengan mobil merahnya. Ia sudah mulai disibukkan dengan skripsinya di kampus. Banyak sekali tugas-tugas agar ia cepat lulus dan melanjutkan KOAS agar meraih gelar dokter.
Jo mulai mencoba berkonsentrasi, bukan mencoba melupakan keadaan suaminya. Tetapi, ia mencoba untuk memenuhi keinginan suaminya. Agar dirinya bisa lulus dengan nilai terbaik dan dapat mewujudkannya untuk menjadi dokter sesuai dengan cita-citanya.
Kelas pun telah usai, Jo memilih untuk duduk dulu di taman menikmati hilir angin dari pepohonan yang berada di taman kampus.
“Dav, dulu kamu di sini, bersamaku!”
Jovanka melirik ke sampingnya. Bangku kayu berwarna putih ini mempunyai kenangan ketika ia duduk bersama Davin. Orang yang paling mengesalkan.
Drrrttt!
Gawai Jovanka bergetar.
Ia mulai mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal.
[Halo ... Maaf ini siapa, ya?]
[Hai calon dokter cantik!] jawab dari dalam telepon.
[Maaf saya gak punya waktu mendengarkan orang gak jelas seperti Anda! Bye!]
[Eeee ... Jo, Jo! Ini gue, Davin. Jangan dimatiin, ya?]
[Davin? Kamu ganti nomor?]
[Iya, Jo. Gue males banyak nomor yang ganggu di nomor yang lama. Tapi, hand phonenya masih yang lama. Hand phone kenangan dari lu.]
[Belum rusak, tuh hape?]
[Dih ... Jangan, dong! Ini kan kenang-kenangan dari lu. Atau, lu mau beliin lagi buat gue?]
[Dih ... Males banget! Yang ada juga harusnya kamu yang kasih aku, kan yang udah kerja kamu, Dav!]
[Jadi, lu maunya apa? Nanti gue beliin deh, tapi simpen baik-baik kek gue nyimpen barang-barang dari lu, ya?]
[Eh ... Enggak-enggak, aku cuma bercanda.]
Mereka mengobrol cukup lama, hingga Davin memutuskan teleponnya karena sudah harus kembali bertugas.
Jo pun tersenyum ketika sudah mengobrol dengan Davin. Ia memutuskan pulang karena hari mulai sore. Melesat dengan mobil merahnya.
Ceklek!
Jo membuka pintu rumah mertuanya.
Ia menaiki anak tangga dan menyimpan tasnya juga membaringkan tubuhnya di atas ranjang itu.
Ddrrttt!
Ada pesan singkat.
“Davin? Ada apa lagi?”
[Gue cuma mau pastiin, kalau lu udah balik!]
Jo tersenyum membaca pesan singkat dari Davin. Mendapat perhatian kecil dari Davin membuat Jo merasa masih ada yang care pada dirinya.
[Iya. Aku udah balik kok, kamu lagi nugas, kan? Semangat, ya!]
Jo meletakan kembali gawainya di atas nakas. Jo tertidur sore itu karena memang sudah beberapa malam ini dirinya kurang tidur.
Entah sudah berapa lama ia tertidur. Jo terbangun karena mendengar tangis dari Mama mertuanya.
“Ada apa, ya?”
Ia bangkit dari tempat tidur dan menyalakan lampu karena hari sudah gelap. Jo langsung berjalan menuruni anak tangga dan menghampiri suara Mama mertuanya yang sedang menangis.
“Sudah, Kak. Itu semua kan belum pasti,” ujar Angel menenangkan.
Jovanka mendekat.
“Ini ada apa ya, Tan?” tanya Jovanka pada Angel.
“Kak Nadia dapat telepon dari Kak Michael katanya ... Katanya nama Alexy tercatat sebagai penumpang dalam mobil travell yang jatuh masuk jurang, Jo!” ujar Angel dengan susah payah.
“Engga, enggak mungkin! Tante pasti bohong!” ujar Jovanka dengan mata membulat, tidak percaya.
“Iya, Nak. Kata Papamu, nama Alexy tercantum sebagai salah satu penumpang travell itu,” suara lemah dari Mama mertuanya, mencoba menyampaikan pesan dari Michael, Papa mertuanya.
“Enggak! Kalian semuanya bohong! Mas Alex baik-baik saja! Mas Alex hanya sibuk di Singapura, kalian semuanya bohong!!!” pekik Jovanka sambil berjalan mundur lalu berlari menaiki anak tangga, masuk ke dalam kamar.
Ceklek!
Pintu terbuka.
Jeduk!
Pintu ditutup kasar lalu dikunci dari dalam kamar.
“Mas! Mas Alex di mana sih? Jangan bikin Jo khawatir, Mas! Tolong kasih kabar Jo atau pun keluarga yang lain, biar mereka tau keberadaan Mas di mana!”
__ADS_1
Jo menangis sambil memeluk bantal terakhir yang dipakai Alexy tidur.
“MAS ALEXXXX!” raung Jovanka.
Tok ... Tok ... Tok ....
Pintu kamar diketuk.
“Jo! Buka pintunya, Sayang! Ini Mama sama Tante Angel. Buka, Jo!” pekik Mama mertuanya dari luar kamar karena pintunya terkunci.
“Jo, ini Tante Angel. Ini semua belum pasti, Jo. Polisi belum mendapatkan bukti. Mobil travell itu belum ditemukan. Buka, Jo!”
Angel ikut menimpali.
Tapi tidak ada suara dari dalam kamar. Hening seperti tiada kehidupan dari dalam sana. Nadia dan Angel pun menjadi panik, karena tiba-tiba kamar Jovanka menjadi hening, tanpa ada suara yang menyahuti mereka dari dalam kamar.
“Mang! Mang Nono! Sini!” sahut Nadia.
Tidak berselang lama, Nono pun datang, “Ada apa, Nya?”
“Dobrak pintu kamar ini!” titah Nadia menunjuk ke pintu kamar Jovanka.
“Tapi kenapa, Nya?”
Nono bingung dengan perintah majikannya.
“Jangan banyak tanya, dobrak saja pintunya!” titahnya sembari membulatkan mata.
“Ba-Baik, Nya!”
Dengan segera, Nono mengambil posisi, berancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar Jovanka sesuai perintah majikannya.
**BRAK!
*BRAK!
BRAK**!
Nono terus mencoba mendobrak belum juga berhasil.
BRAK!
Akhirnya pintu pun terbuka.
Netra mereka semua terbelalak ketika melihat Jovanka sudah terkapar di atas tempat tidur sudah tidak sadarkan diri.
“Jo? Bangun Jo! Bangun, Sayang!” ujar Mama mertuanya.
Tapi, nihil Jovanka belum sadarkan diri. Angel juga ikut menimpali tapi tidak ada respon dari Jovanka.
“Bentar, Kak. Aku ambilin dulu minyak angin,” ujar Angel dan berlalu pergi.
Suasana menjadi semrawut gara-gara kabar yang mengejutkan dari Papa mertuanya Jovanka. Semua bersedih dan Jovankalah yang paling tidak dapat mengendalikan emosinya.
.
“Mas? Mas Alexy di mana?”
Jovanka mengigau.
Jo mulai membuka matanya. Terlihat mata sendu menatap ke arah Mertua dan Tantenya bergantian.
“Ma? Mas Alex baik-baik saja, kan?” tanya Jovanka dengan suara parau.
Nadia memalingkan wajahnya. Merasa tidak kuat untuk menjawab pertanyaan dari menantunya itu.
“Maaa ....”
Lagi, Jovanka memanggil Mertuanya, meminta kejelasan.
Tes!
Air bening itu meluncur bebas di pipi Nadia, ia benar-benar tidak sanggup mengungkapkan perihal apa yang menimpa putra semata wayangnya itu.
“Tante?”
Belum patah semangat, Jovanka menanyakan pada Angel. Ia terus berusaha mencari kebenaran akan semua ini.
“Iya, Jo.”
“Tolong jawab pertanyaan Jo, Tan!” suara Jovanka mulai menghilang.
“Iya. Tapi kamu harus tenang, kendalikan emosi kamu, jangan seperti tadi. Bisa?” jawab Angel meminta kesanggupan dari Jovanka.
Jo mengangguk.
“Apa yang di katakan Kak Michael memang benar. Kalau travell itu terjatuh ke dalam jurang dan ada nama Alexy dalam data pemberangkatan di travell itu. Tapi, polisi belum menemukan jenazah atau bangkai mobil travell itu. Jadi, kabar tentang Alexy belum dapat dipastikan,”
Angel berusaha menenangkan Jovanka, walau ia juga berpikir sangat kecil kemungkinan Alexy untuk hidup. Tapi, memang semuanya belum terungkap. Mereka hanya bisa pasrah dan berdoa.
***
Rey memacu mobilnya dengan kencang. Ia pulang larut malam. Di perjalanan ia melihat seseorang yang sedang duduk di pinggir jalan dengan sepeda motor yang terjatuh.
Segera, Rey memarkirkan mobilnya lalu ke luar dari dalam mobil. Ia mendekati lelaki yang sedang meringis itu.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Rey pada pria yang sedang duduk di pinggir jalan. Sepertinya ia terjatuh dari motor.
“Kaki gue sakit!” ujar lelaki itu.
“Mana saya lihat?” ujar Rey dengan bahasa yang santun. Mungkin karena ia sudah menjadi seorang pilot dan ia belum mengenal lelaki ini.
“Awww!” pekik lelaki itu sambil mendongakkan wajahnya karena menahan rasa sakit.
Rey pun menoleh ketika lelaki itu memekik dengan suara kencang, “Davin? Kamu Davin ‘kan?” ujar Reynand yang masih mengingat wajah Davin.
“Iya. Lu ...” Davin mengingat-ingat wajah pilot yang ada di depannya itu, “Lu, Rey ‘kan?” sambungnya.
Rey mengangguk.
“Ya sudah, tunggu dulu di sini. Gue akan membawa motor lu ke bengkel, hanya di samping sini kok, gak jauh. Lu masih bisa tahan, gak?” bicaranya telah kembali, karena Rey merasa mengenal lelaki ini.
“Iya, gue masih bisa nahan ‘kok!”
Rey segera mendorong motor Davin yang rusak cukup parah ke bengkel. Setelah itu, Rey mengantar Davin ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan dokter pada kaki yang luka.
__ADS_1
“Tahan, ya?” ujar Rey.
Rey menaruh lengan Davin ke pundaknya. Ia bangkit bersama Davin dan masuk ke dalam mobil.
Rey memacu mobilnya dengan kencang di bawah langit malam, melesat menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Davin langsung dibawa ke ruang UGD. Sementara Rey langsung mengurus administrasi Davin.
Tidak menunggu lama, akhirnya Dokter mempersilahkan masuk. Davin sudah dapat ditemui.
Ceklek!
Rey mendorong pintu UGD. Terlihat wajah Davin sedang meringis, menahan luka yang terasa perih mungkin.
“Gimana keadaan lu?” tanya Reynand.
“Perih, tapi gak seperih kalau ditinggal kekasih.”
Davin terkekeh seperti menghibur dirinya sendiri.
“Yaelah, malah curhat. Lu kenapa sih, Bang?” tanya Reynand.
“Yaelah, panggil saja Davin. Gue tadi mengantuk, jadi gak fokus berkendaraan,” ujar Davin.
“Yaelah, lu kebanyakan begadang kalik?”
“Iya.”
“Pantas."
"Lu gak nanya gitu karena apa?” ujar Davin.
“Haha ... Ya sudah gue tanya, kenapa lu bedang?”
“Bolak-balik Bandung.”
“Ngapain?”
“Ngehibur orang yang spesial dalam hidup gue.”
“Pacar lu?”
“Bukan.”
“Lah, terus?”
“Entah. Gue anggap pacar bukan pacar gue, gua sebut sodara juga bukan sodara gue. Gue anggap dia adik saja kalau gitu,” ujar Davin yang terkesan berbelit.
“Yaelah, ribet banget! Terserah lu aja deh!” Rey tertawa, begitu pun Davin.
Ddrrrttt!
Ponsel Reynand bergetar. Ia merogoh ponsel yang ada dalam saku celananya.
“Mama?”
“Angkat! Lu kek dia aja!” ujar Davin.
“Dia?”
“Adik ketemu gede di Bandung,” ujar Davin terkekeh.
“Owalah ... Ya sudsah, bentar ya, gue angkat telpon dulu dari nyokap,” ujar Reynand.
“Yoh!”
Rey ke luar dari dalam ruang UGD.
[Halo, Ma?]
[Lama sekali angkatnya, Sayang? Kamu di mana? Mama khawatir!]
[Rey lagi temenin Davin di rumah sakit, Ma.]
[Davin? Di rumah sakit?]
[Iya, Davin. Yang dulu bantuin Rey ketika mobil Rey menabrak pohon, yang mengakibatkan Rey pingsan dulu.]
[Oh iya, Mama ingat. Davin kenapa, Sayang? Mama mau jengukin dia.]
[Motornya terjatuh, Mama gak usah ke sini. Ini sudah larut malam, Mama istirahat aja. Biar Rey yang tungguin dia di sini, karena besok Rey libur, Ma.]
[Oh, gitu? Ya sudah, salam saja buat Davin. Mungkin Mama ke sana besok untuk jengukin dia.]
[Baik, Ma, nanti Rey sampaikan. Ya sudah Mama istirahat. Rey kembali masuk temenin Davin]
Tut!
Telepon ditutup.
Rey kembali masuk ke dalam ruang UGD. Terlihat Davin sedang menghubungi seseorang tapi sepertinya wajah Davin kesal.
“Kenapa ‘tuh muka?” tanya Rey yang menghampiri Davin.
“Gue telepon dia, tapi nomornya gak aktif!”
“Yaelah, lu mau ngaduin keadaan lu ke dia?”
“Bukan, gue khawatir karena dia mempunyai masalah besar di sana,” jawab Davin.
“Oh ....” jawab Rey datar karena ia merasa bukan urusannya.
Davin menyimpan ponselnya ke atas nakas di samping ranjangnya karena nomor Jovanka tidak aktif-aktif ketika ia hubungi.
“Udah malem, Rey. Lu gak balik?” tanya Davin.
“Gue mau temenin lu di sini.”
“What? Gue bisa sendiri kok,” elak Davin.
“Gak papa, besok gue libur kerja kok,” ujar Rey.
“Oh iya. Makin ganteng lu udah pakai pakaian pilot. Selamat, ya? Cewek lu pasti bangga,” ujar Davin sambil menepuk lengan atas Reyand.
Rey hanya tersenyum, ia masih menyembunyikan perasaannya.
__ADS_1