Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
120. Rey Ngidam?


__ADS_3

Suasana hati Reynand begitu bahagia ketika Jovanka mengabarkan kehamilannya. Saat membahagiakan seperti dulu ketika dia menikah dan memiliki Jovanka dalam hidupnya. Hal yang sangat indah dan begitu sempurna baginya.


Reynand masih mendekap erat tubuh istrinya dan tidak henti mengucap rasa syukur atas kehadiran nyawa yang dititipkan pada rahim sang istri. Buah cinta mereka berdua, penyempurna hidup yang akan mengeratkan keduanya.


Jovanka yang masih ada dalam dekapan Reynand pun begitu bahagia. Dia memiliki suami yang begitu menyayanginya. Usia bukan tolak ukur untuk mengukur kedewasaan seseorang. Reynand yang berusia dua tahun lebih muda pun bisa membimbing Jovanka dan dapat memberikan kebahagiaan padanya.


Suasana indah dalam kamar masih begitu terasa, ketika mereka berdua masih saling memeluk dengan rasa cinta dan syukur pada Tuhannya.


Langit berwarna jingga, kini berubah menjadi hitam. Terlihat rembulan dari kaca jendela kamar dengan sinar begitu indah. Cahaya perak yang begitu terang sangat menyejukkan pandangan.


"Udah, tidur, gih. Jangan capek-capek, ya?" pinta Reynand dengan kecupan manis di pucuk kepala Jovanka. Kecupan hangat dan cukup lama itu membuat Jovanka bahagia. Saat itu, Jovanka seolah menjadi wanita paling bahagia di dunia ketika Tuhan menitipkan janin dalam rahimnya dari lelaki yang dia cintai.


"Aku akan jadi ibu, Rey?" ucap Jovanka yang masih memeluk suaminya.


"Iya, Sayang. Kamu akan menjadi ibu. Jaga kesehatan dan kandunganmu, ya? Terlebih, kamu beraktivitas di klinik."


Jovanka mengangguk.


"Kamu masih mengijinkan aku untuk bekerja, kan?" tanya Jovanka dengan tatap redup ketika tubuhnya telah terbaring.


Reynand tersenyum. Dia mengusap lembut rambut Jovanka lalu mengusap pipinya.


"Selagi kamu bisa menjaga kandungan, aku tidak akan melarangmu."


Jovanka tersenyum. Wajahnya berbalik lalu bibirnya mencium jari Reynand yang sedang berada di pipinya. Keduanya tersenyum. Sungguh, pemandangan yang membuat orang-orang merasa iri kala melihat kemesraan keduanya.


"Rey?" panggil Jovanka ketika melihat Reynand beranjak dari tepi ranjang.


"Iya?"


"Aku ingin tidur di dekapanmu," ucap Jovanka yang membuat Reynand tersenyum.


Pria itu pun kembali duduk, dia masuk ke dalam selimut bersama istrinya. "Tidurlah," titah Reynand ketika kepala Jovanka telah bersandar di pundaknya.


Sepasang mata bulat itu kini terpejam. Reynand mengusap tangan Jovanka yang menggenggam erat seakan tidak mengijinkan jauh darinya. Bibir Reynand tersenyum ketika menatap dalam wajah polos istrinya yang mulai terlelap.


"Tidurlah, istirahat. Aku akan selalu bersamamu untuk menjaga anak kita, Sayang. Semoga aku bisa menjadi suami siaga untukmu. Walaupun aku sadar, tidak akan bisa menjagamu 24 jam. Doaku selalu bersamamu, Sayang." Rey mengecup pucuk kepala Jovanka lalu memejamkan mata.


**


Entah berapa lama Reynand ikut terlelap. Dia terbangun ketika perutnya merasakan lapar.

__ADS_1


Tentu saja rasa itu ada karena sepulang bekerja Reynand tidak makan apapun. Reynand menggeser posisi tidur Jovanka perlahan. Untung saja tindakannya tidak mengganggu istrinya yang sedang terlelap. Perlahan, kakinya menuruni ranjang lalu berjalan.


Reynand memutar kenop pintu lalu menutupnya perlahan. Pria itu kini menuruni anak tangga mengarah ke dapur. Suasana dalam rumah sangatlah sepi, terlebih ibu dan adiknya tidak ada di rumah. Bahkan, asisten rumahtangganya pun sepertinya telah terlelap karena waktu menunjukkan hampir jam dua belas malam.


"Apa yang mau dimakan?" Reynand bergumam ketika ada di dapur.


Reynand membuka pintu kulkas, di sana hanya ada buah-buahan segar dan pastinya sayur mayur mentah. Pria itu pun kembali menutupnya karena dirasa tidak ada yang bisa dia konsumsi.


Reynand kembali melanjutkan aksinya. Dia membuka lemari yang ada di dapur. Di sana banyak makanan instan yang siap masak. Mie atau pun makanan lain yang cukup mengenyangkan perutnya.


Namanya juga pria, kebanyakan inginnya tinggal makan saja tanpa memasak. Namun, Reynand sadar betul istrinya tidak mungkin dibangunkan karena memang kondisinya yang masih lemah di usia kehamilannya yang masih muda.


Reynand memutuskan untuk memasak mie instan sendiri. Dia mencari cabai rawit dan telur di dalam kulkas.


"Kamu lagi apa?" Suara seseorang cukup mengagetkan Rey ketika kepalanya berada dalam kulkas. Perlahan, lelaki itu pun menoleh.


"Jo?" Mata Reynand menyipit ketika melihat istrinya berjalan mendekat ke arahnya.


Jovanka tersenyum melihat suaminya yang berjongkok di depan pintu kulkas yang terbuka.


"Cari cabai," kata Rey dengan sorot mata yang masih heran. "Tidur, gih. Malah ke sini."


"Aku hanya kebangun."


Jovanka menggeleng. "Enggak."


"Lalu?"


"Aku mau tidur seperti tadi."


Reynand tersenyum. "Ayok, aku temani kamu tidur," ajak Reynand.


"Enggak. Kamu makan dulu aja, aku tunggu. Buat apa cari cabai? Kamu mau masak apa?"


"Mau masak mie, Sayang. Perutku lapar," kata Reynand.


"Sini, biar aku yang masakin. Cabainya segimana? Jangan banyak-banyak nanti sakit perut," ucap Jovanka.


Reynand tidak menjawab. Dia hanya memberikan hampir satu genggam cabai rawit yang membuat mata Jovanka membulat.


"Sayang? Kamu enggak salah masak mie cabainya sebanyak ini?" tanya Jovanka yang kaget melihat cabai yang kini ada di telapak tangannya.

__ADS_1


"Enggak. Aku ingin makan mie yang super pedas," kata Reynand dengan seulas senyum. Apakah calon ayah ini mengidam?


"Tapi nanti sakit perutmu, Sayang. Bukannya besok harus bekerja?"


"Masakin aja, nanti anak kita ileran," kata Reynand sambil mendorong pelan tubuh istrinya menuju depan kompor.


Jovanka hanya menghela napas panjang lalu mengempaskan perlahan. Merasa bingung dengan sikap suaminya yang menjadi aneh.


Jovanka mulai meraih panci lalu mengisinya dengan air bersih. Kompor pun kini telah menyala di atas panci yang telah terisi air.


Jovanka memasukkan cabai itu terlebih dahulu. Hingga dirasa matang, dia mengangkat cabai lalu memasukkan telur yang di susul dengan mie ke dalam panci. Jovanka menghaluskan cabai tersebut di dalam mangkuk yang cukup besar.


Kini, bumbu dan cabai telah siap di dalam mangkuk. Jovanka memasukkan mie dan telur yang ada di panci itu dalam mangkuk.


Wangi pedas dan mie beraroma kari membuat perutnya begitu mual. Padahal, mie saja belum diaduk olehnya.


Jo berlari ke toilet dan Rey menyusul ketika mendengar suara Jovanka yang terdengar muntah-muntah.


"Jo? Kamu kenapa? Sakit lagi?" tanya Reynand sambil mengetuk pintu toilet yang ada di dapur.


"Aku gak papa, Sayang. Makanlah dulu. Aku baik-baik saja, hanya sekedar mual ketika mencium aroma mie kari itu."


"Yakin?"


"Iya. Cepatlah habiskan. Aku tidak kuat mencium baunya," pinta Jovanka yang masih ada dalam toilet.


Walau pun sedikit ragu. Reynand melangkah menuju kompor. Karena mie masih ditaruh di dekat kompor oleh Jovanka. Rey mengaduknya hingga tercium wangi mie super pedas yang membuatnya semakin lapar.


"Wangi kayak gini dikata bau. Dasar aneh," gumam Rey yang membawa mie tersebut menuju meja makan.


Suara Jovanka pun kini menghilang berganti dengan suara keran di dalam sana. Entah, wanita itu sedang apa? Rey hanya mencoba menghabiskan satu mangkok mie pedas rasa kari.


Keringat pun kini mengalir di dahinya. Begitu pedas dan ah, mantap! Tidak dapat digambarkan lagi kenikmatan yang dia rasakan.


Kini perutnya telah terisi mie dan pintu kamar mandi pun terbuka ketika suara air dari wastafel terdengar mengalir.


"Udah habis?" tanya Jovanka yang berada di depan pintu kamar mandi.


"Udah. Mau tidur sekarang? Atau, kamu mau makan dulu?" tanya Rey.


"Aku mau tidur aja, Sayang."

__ADS_1


"Baiklah," ucap Rey yang langsung menggendong tubuh Jovanka dan melangkah menuju kamar.


__ADS_2