
Jo memasukkan hand phone hitam itu ke dalam tasnya. Ia sudah bersiap ke kampus. Begitu pun dengan Alexy.
“Ma, Pa. Kami berangkat, ya?” ujar Jovanka pada orang tuanya.
“Iya, hati-hati, Nak!” ujar Mamanya.
Jo dan Alexy meluncur dengan mobil mewah milik Alexy.
Mobil melesat cukup kencang, hingga tak terasa sudah sampai di kampus Jovanka.
“Maksih ya, Om?” ujar Jovanka pada Alexy.
“Sama-sama!”
Jo pun ke luar dari dalam mobil dan melenggang masuk ke dalam kampus. Alexy menunggunya, sampai tubuh Jovanka sudah tidak terlihat di matanya.
.
Ternyata, Davin sudah ada di depan kelas Jovanka. Ia tersenyum ketika melihat Jovanka mendekat ke arahnya.
“Ngapain kamu?” tanya Jovanka.
“Nungguin, lu!” sambil tersenyum menyebalkan.
Jo mengeluarkan hand phone berwarna hitam itu dari dalam tasnya.
“Ini kan yang kamu mau?” ujar Jovanka sambil menyodorkan ponsel hitam itu.
“That’s right!” Davin mengambil ponsel yang masih terbungkus rapi dengan dus, dari tangan Jovanka. “Thank’s, Baby!” Lagi, Davin memegang dagu Jovanka dengan cepat dan berlalu pergi.
“DAVINNN!!!” pekik Jovanka.
Langkah kaki Davin terhenti dan menoleh ke arah Jovanka. Ia malah tersenyum, membuat Jovanka semakin kesal melihatnya.
“Jan kesel sama gue! Nanti lu cinta!” pekik Davin yang telah jauh darinya.
Cih! Aku gak bakal jatuh cinta sama kamu! Pekik hati Jovanka dengan bibir yang meruncing.
***
Tanpa Jo sadari, dirinya sudah satu minggu tinggal di rumah. Kini, Jo harus pergi meninggalkan rumahnya untuk mengikuti suaminya.
Jo sudah selesai mengemas baju-bajunya. Tetapi, Jo masih duduk di atas ranjang. Matanya memutar ke kamar yang nyaman dan memberikan ketenangan baginya sedari kecil. Kini, ia harus meninggalkan kamar indah itu. Terasa berat, hati Jovanka untuk meninggalkannya.
“Jo?” panggil Alexy. “Kamu kenapa?” sambungnya.
Jo menggeleng, “Enggak apa-apa, Om!” Jo merundukkan kepala dan air bening itu akhirnya terjatuh jua.
“Kamu sedih meninggalkan rumah ini, ya?” tanya Alexy yang duduk di sampingnya. “Tenang saja. Kapan pun, kamu bisa kok main ke rumah ini. Aku gak akan pernah larang kamu. Bahkan, untuk menginap kapan pun di rumah ini aku tidak akan pernah melarangmu,” sambung Alexy lagi.
“Beneran?”
Jo mendongak dengan netra sendunya.
Alexy mengangguk. “Iya! Lagian, kita pindah rumah, bukan berarti rumahmu tidak boleh dikunjungi lagi, Jo.”
Untuk kali pertama, Jo memeluk tubuh laki-laki yang usianya dua kali lipat dari dirinya. Ada debar di dada Alexy ketika kali pertama ia dipeluk oleh gadis cantik yang kini menjadi istrinya.
__ADS_1
Apakah ini awal hubungan kami akan membaik Tuhan? Ucap dalam hati Alexy.
Jo melepaskan pelukannya, “Maaf, Om!” kembali, ia merundukkan kepalanya.
“Gak masalah, udah siap kan?” tanya Alexy.
“Iya!” jawab Jovanka.
Alexy membawa koper yang cukup besar. Mereka berdua menuruni anak tangga, lalu berpamitan pada kedua orang tua Jovanka. Tangisan pun pecah. Terutama Jo dan Mamanya.
“Udah, Ma! Jovanka kan hanya tinggal dengan suaminya. Kapan pun, Jo bisa kembali menginap di sini bersama kita,” ujar Papanya.
“Iya, Ma. Kapan pun, Alex bisa anter Jo ke rumah ini. Bahkan, kapan pun Mama dan Papa mau bertemu Jo di rumah. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk Mama dan Papa,” ujar Alexy yang menimpali.
Akhirnya, pelukan mereka pun berakhir dan Jo masuk ke dalam mobil Alexy. Lambaian tangan pun terjadi. Derai tangis yang mengiringi kepergian Jovanka dari rumah, tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan di rumah itu.
***
Mereka pun tiba di rumah yang besar dan mewah. Jo dan Alexy ke luar dari dalam mobil dan berjalan memasuki rumah yang megah dan berdiri kokoh di tengah kota.
Sambutan hangat pun di dapatkan Jovanka dari keluarga besar Abinaya. Terutama dari bocah kecil yang bernama Maynard Olsend, yang tak lain merupakan ponakan dari suaminya.
“Tante!”
Anak laki-laki itu berlari dan memeluk Jovanka.
Jo pun menyambut dengan pelukan hangat untuk anak laki-laki itu.
“Hai ... Olsend, gimana kabarnya? Udah lama gak ketemu ya, Sayang!” ujar Jo yang merundukkan badannya.
“Baik, Tan! Dimulai hari ini, Tante tinggal di sini, ya?” tanya bocah laki-laki itu.
“Asyikkkk! Olsend punya Mama dua,” ucapnya girang.
“Olesnd, itu Tante Jo bukannya Mama,” ujar Angel, Mama dari Olsend.
“Biar saja! Mama kan selalu sibuk di rumah sakit. Jadi, Olsend anggap Tante Jo seperti Mamanya Olsend!” pekik bocah lelaki itu.
Jo tersenyum, “Iya, panggil Mama juga boleh kok.” Jo mengusap lembut pipi bocah laki-laki itu.
“Yeay!” teriak girang Olsend.
“Ya udah, biarkan Mama Jo istirahat di kamarnya dulu ya, Olsend?” ujar Alexy.
“Iya, selamat istirahat, Mama!” ujar Olsend.
Jo pun melenggang menuju kamar bersama Alexy setelah berpamitan dengan kedua orang tua Alexy, Tante dan ponakannya yang disebut Olsend.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka.
Netra Jo terbelalak tatkala melihat kamar yang begitu besar. Mungkin, tiga kali lipat dari besar kamar yang ada di rumahnya.
“Ayo, masuk!” ujar Alexy.
Jo masuk dalam kamar. Di sana terdapat ranjang yang super besar, dua lemari yang besar dan masih banyak lagi isi kamar mewah di dalamnya.
__ADS_1
“Kalau mau mandi, kamu masuk ke sana saja, ya? Kamar mandinya ada di sana.”
Alexy menunjuk ke salah satu sudut.
Jo mengangguk.
“Tapi ....” kalimatnya tertahan.
“Kenapa?” tanya Alexy.
“Jo tidur di mana, Om?”
“Ya di sana.”
Alexy menunjuk ke ranjang.
“Lalu, Om Alex tidur di mana?”
Jo mengernyitkan keningnya.
“Di sana juga.”
Alexy menunjuk ke ranjang yang sama.
“What?”
Netra Jo membulat.
Alexy berjalan ke arah ranjang besar itu dan ia menarik ranjang besar yang sebenarnya ada dua. Ia menarik ranjang dari bawah hingga akhirnya terlihat kasur yang ke dua.
“Nanti aku tidur sini. Tenang aja, aku gak bakal ngapa-ngapain kamu,” ujar Alexy.
Jo tersenyum, ada rasa sedikit tenang di hatinya. Tidak mungkin juga baginya kalau menyuruh Alexy untuk tidur di kamar lain. Nanti, yang ada juga semua orang mencurigai mereka.
“Gak papa kan? Kalau kamu keberatan nanti aku tidur di kamar lain,” ujar Alexy.
“Enggak, Om. Gak papa, Jo percaya kok sama Om Alex. Makasih ya, Om?” ujar Jovanka.
Alexy tersenyum.
“Oh iya, sengaja aku membelikan lemari baju itu untuk baju-baju kamu. Jadi, walau satu kamar, kamu masih punya privasi sendiri di kamar ini,” ujar Alexy lagi.
“Makasih, Om!” Jo tersenyum.
“Sama-sama. Ya sudah, kamu mandi aja dulu, habis itu baru istirahat di sini. Aku mau ke bawah dulu, berkumpul dengan keluargaku,” ujar Alexy.
Jo mengangguk.
Alexy melangkahkan kaki dan ke luar dari kamar itu. Sedangkan Jo bersiap mandi. Ia mengambil handuk dan pakaian ganti, lalu masuk dalam kamar mandi yang tadi ditunjuk oleh Alexy.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, alangkah terkejutnya Jovanka ketika melihat kamar mandi yang mungkin ukurannya seperti kamar yang ada di rumahnya, yang dilengkapi dengan perlengkapan kamar mandi yang super mewah.
Ia membenamkan tubuhnya di dalam bathtub yang terisi penuh dengan air dan busa di dalamnya. Relax.
Ia lalu meraih handuk dan segera memakai baju ganti di kamar mandi itu. Ia melangkahkan kaki ke luar dari kamar mandi. Membuka pintu kamar yang mengarah ke balkon. Ia sengaja membukanya untuk menikmati hilir angin di sore hari. Jo pun naik ke atas ranjang.
__ADS_1
Ya Tuhan ... Dengan segala kemewahan yang kudapat sekarang, mestinya aku bahagia, karena tidak ada kurangnya sama sekali. Tapi, kenapa hati ini masih terasa sepi? Padahal di rumah ini banyak sekali orang. Hatiku ke mana? Hatiku kenapa, Tuhan? Umpat hati Jovanka sembari menutup mata.