
Davin sudah keluar dari rumah sakit satu minggu yang lalu. Ia teringat pada Jovanka, gadis cantik itu sedang terpuruk saat ini. Apalagi, dirinya belum dapat lagi kabar dari Jovanka. Terakhir ketika Davin menelepon, ponsel Jovanka sedang tidak aktif.
Siang itu pada hari kamis, Davin meminta libur dari pekerjaannya di rumah sakit. Ia memutuskan untuk pergi ke Bandung karena ponsel Jovanka tidak aktif sampai saat ini.
Ia melesat dengan sepeda motornya agar bisa bolak-balik Jakarta-Bandung dengan cepat.
Sekitar tiga jam. Akhirnya ia telah sampai di kampus Jovanka. Davin memarkirkan motor di samping pos scurity.
“Aih ... Ada Pak Dokter?” goda scurity.
Davin tersenyum, “Bisa aja, Mang! Gue tau, ujungnya minta ini pasti?”
Davin melempar satu bungkus rokok.
“Haha ... Pak Dokter paling tau, dah! Makasih, Dav!” ujar scurity itu.
Davin mengangguk, “Pa, Jovanka sudah balik?”
“Belum lah, Dav. Masih ada jam kampus kek nya. Apalagi, sebentar lagi wisuda. Pasti tambah padat tugasnya, tapi tunggu aja, kali dia balik lebih awal,” ujar scurity itu.
Tidak berselang lama, akhirnya Davin melihat Jovanka, melenggang ke parkiran. Dengan cepat Davin berlari ke arah Jovanka.
“Jo!” panggil Davin.
“Davin?” Jovanka menyipitkan mata, “Kamu ngapain di sini?”
“Gue sengaja datang buat lu. Gue khawatir, Jo!” ujar Davin.
Seketika, netra Jovanka berkaca-kaca. Ia kembali teringat Alexy apabila ada yang peduli dengan dirinya.
“Jo? Hey? Are you oke?”
Davin melambaikan tangannya di depan wajah Jovanka.
Dengan cepat, ekspresi wajah Jovanka berubah, sepertinya ia ingin belajar menyembunyikan perasaannya saat ini.
“A-aku baik-baik saja kok, Dav. Kenapa kamu ke sini? Bukannya kamu harus kerja?” tanya Jovanka mengalihkan pembicaraan.
“Iya, gue minta libur hari ini, Jo. Oh iya, makan yuk, Jo? Gue laper,” elak Davin.
Padahal dia tau banget bahwa Jovanka pasti kurang makan dari beberapa hari yang lalu.
“Ayo! Tapi aku temenin doang, ya?” ujar Jovanka.
“Iya! Naik motor gue aja, yuk? Biar cepet! Gue keburu laper.” Davin beralasan.
Jovanka dan Davin menuju pos scurity karena motor terparkir di sana.
“Naik!” ujar Davin ketika ia sudah naik di atas motor.
“Udah,” ujar Jovanka yang memang sudah naik di jok belakang.
“Oh ... Udah, toh? Kok gak meluk?” goda Davin.
“Idih! Nyari kesempatan deh!”
Jovanka memukul pundak Davin.
“Jangan salahkan saya Nona, kalau kamu nanti jatuh dari atas motor!”
GRENG!
Motor melesat dengan kecepatan tinggi.
“DAVINNNN!” pekik Jovanka yang langsung melingkarkan tangannya di perut sixpack itu.
Nah ... Meluk juga ‘kan lu! Umpat hati Davin sambil tersenyum senang.
Entah kenapa, Davin tidak ingin melihat Jovanka sedih. Ia bela-belain pulang pergi Bandung-Jakarta demi Jovanka. Padahal, ia sudah berbalikan dengan Adara. Apakah Davin mulai suka terhadap Jovanka?
No! Davin hanya care terhadap Jovanka karena ia paling tahu perasaan Jovanka saat ini. Hatinya selalu untuk Adara, gadis yang usianya berselisih sekitar enam tahun. Gadis itu yang dapat meluluhkan hati seorang Davin yang dikenal dengan sebutan raja jahil.
Davin memarkirkan sepeda motornya di sebuah air terjun. Suasananya sejuk, tidak terlalu banyak orang.
“Turun! Meluk aja!” ujar Davin.
“Eh!” Jovanka segera melepaskan tangannya yang melingkar di perut Davin, “Maaf,” sambungnya merasa tidak enak.
“Gak usah minta maaf, mau lagi juga gak papa, ayok?”
Davin merenggangkan kedua tangannya.
“Idih! Mulai deh nyebelinnya kumat!” ujar Jovanka tapi dengan pipi yang memerah.
“Idih! Tapi suka kan?” goda Davin sambil menaik turunkan alisnya, sok kegantengan.
“Udah, ah! Katanya mau makan? Kok malah ajak aku ke sini?” ujar Jovanka.
“Emang di sini gak ada yang jual makanan? Banyak keles!”
Davin masuk ke dalam objek wisata, Jo mengekor dari belakang.
“Davin! Tunggu!”
Dengan susah payah Jo mengimbangi jalan si jangkung Davin.
Davin duduk di sebuah pendopo kecil, ia pun memesan makanan cukup banyak. Tempatnya cukup indah, mereka menikmati pemandangan air terjun dari atas.
__ADS_1
“Banyak banget makanan yang kamu pesan, Dav? Habis kah?” tanya Jovanka merasa heran.
“Ya habislah!”
“Syukurlah kalau habis, takut mubazir aja. Kan sayang.”
“Kan ada lu yang mo bantuin ngabisinnya.” Davin tersenyum memperlihatkan barisan gigi rapi dan juga putihnya.
“Idihhh!”
“Hayo, dari pada mubazir?”
“Iihhhh ... DAVIN!”
Mata Jovanka membulat.
“Turun, yuk?”
“Mau ngapain?”
“Main air.”
“Ish! Kaya anak kecil aja deh!”
“Biarin! Kalau gak mau, gue turun sendiri.”
Davin bangkit dari pendopo kecil dan berjalan menuju air terjun yang cukup tinggi, Jovanka pun akhirnya mengikuti Davin dari belakang.
Mereka menikmati indahnya pemandangan air terjun. Jernihnya air dan gemercik air yang menciprati wajah dan tubuh mereka.
Sesekali Davin malah sengaja menciprati wajah cantik Jovanka.
“Davin!”
Mata Jo membulat tapi tangannya jahil juga, ia membalas cipratan air bening itu pada Davin.
“Em ... Udah mulai berani lu ya sama gue?” ujar Davin.
“Kan yang duluan kamu, weee!”
Jovanka menjulurkan lidahnya.
Ya Tuhan ... Kenapa lu makin ngegemesin sih, Jo? Walau gue anggap lu itu adek ketemu gede, tapi ingin rasanya diri ini selalu bersamamu! Umpat hati Davin.
Tiba-tiba, wajahnya diciprati air lagi oleh Jovanka. Jo tertawa melihat ekspresi kaget Davin ketika terkena cipratan air.
“Jovanka!” pekik Davin seraya memegang kedua tangan Jovanka.
Tubuh mereka hampir menempel, wajah mereka sangat dekat sekali. Jovanka membulatkan mata seraya mendongak. Sedangkan Davin merunduk, melihat kecantikan Jovanka.
Tidak, tidak! Jo sudah mempunyai suami, gue juga tau dia cinta mati pada lelaki yang bernama Rey. Lalu, kenapa hati gue bergetar ketika berpandangan seperti ini? Umpat hati Davin.
“Davin, lepasin! Sakit tau? Tau!” pekik Jovanka.
Dengan segera, Davin pun melepaskan cengkeraman tangannya pada Jovanka.
“Maaf, Jo. Gue gak bermaksud nyakitin lu!” ujar Davin.
Jovanka tersenyum.
“Iya, aku tau kok. Kamu kan care sama aku.”
“Dari mana kamu tau? Aku gak pernah ngomong apa-apa loh!”
“Liat kamu belain datang ke sini, demi aku.” Wajah Jovanka memerah. Davin pun hanya bisa tersenyum dan kembali menggenggam tangan Jovanka.
“Mau ke mana?”
“Makan, pasti makannya udah dingin!” ujar Davin.
Davin dan Jo kembali ke pendopo kecil. Benar saja, pesanan mereka sudah datang. Davin mulai mencicipi menu makanan yang ia pesan. Ada nasi sama ikan bakar lengkap dengan sambal dan lalapnya.
“Mau?”
Jo menggeleng.
“Kenapa?”
“Gak laper,” elaknya.
Padahal, ada rasa ingin mencicipi tapi Jovanka merasa malu. Apalagi, wangi yang menggoda dari aroma ikan bakar yang sudah diberi bumbu.
Davin menghabiskan satu porsi nasi dan ikan bakarnya. Giliran menyantap porsi yang satu. Davin melirik ke arah Jovanka. Tapi, dengan cepat, Jovanka memalingkan pandangannya.
Krruuukkk!
Terdengar suara perut yang lapar.
Davin tersenyum, “Laper ‘kan lu?”
“Eng-enggak! Aku gak laper!” elak Jovanka.
Davin mendekat, “Tau gak?” ujar Davin.
“Apaan?”
“Kemarin, ayam tetangga gue mati karena menahan lapar!” bisiknya di telinga Jovanka.
__ADS_1
“Davin! Kamu ngeledek aku?”
Mata Jovanka membulat.
Davin tersenyum.
Kembali, bunyi perut terdengar. Bahkan lebih nyaring.
Haduh, perut! Kamu tuh gak tau kondisi banget sih? Gerutu hati Jovanka.
“Udah, makan aja deh. Enak kok!” ujar Davin.
“Enggak!” bantah Jovanka karena terlanjur malu ia sudah menolak dari awal.
Tiba-tiba, piring yang berisi nasi dan ikan bakar itu di dekatkan pada hidung Jovanka.
Sumpah! Davin ngeselin banget! Mungkin, sebenarnya dia tau kalau aku sedang menahan rasa lapar, umpat hati Jovanka.
Davin mengambil sedikit ikan bakar itu lalu memakannya di depan mata Jovanka, “Emm ... Enaaaakkk!”
Suara Davin begitu menjengkelkan di telinga Jovanka karena sesungguhnya ia pun mau.
“Yaudah, aku mau,” ujar Jovanka yang merasa kalah dari Davin.
“Gitu, dong! Sini, gue suapin.”
“Enggak! Aku mau makan sendiri!” elak Jovanka.
Iyalah, lu makan sendiri Jo. Gue takut jatuh cinta sama lu, kalau gue yang suapi, lu! Umpat hati Davin.
Davin melihat Jovanka makan dengan lahap, karena memang ia sudah jarang sekali makan ketika mendengar kabar dari Papa Michael.
Cukup lama mereka menikmati keindahan alam di air terjun. Hingga tak terasa mentari pun mulai meredup.
“Pulang yuk, Dav?” ajak Jovanka.
Davin mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya.
“Dav?”
“Hem?”
“Makasih, ya? Lagi-lagi, kamu yang menghibur hati aku.”
“Iya!”
Davin mengacak sedikit rambut Jovanka.
***
Sementara di Jakarta, ada Adara yang sibuk menghubungi nomor lama Davin. Ia tidak tau kalau Davin sudah berganti nomor hand phone.
“Kak Davin ke mana sih? Nomornya gak aktif-aktif!” keluh Adara ketika ia berada di depan salah satu mal.
Selepas Rey pulang kerja, Rey melihat Adara yang sedang memegang ponsel dengan bibir yang meruncing.
“Dara? Ngapain lu di sini?” tanya Rey ketika kaca mobilnya diturunkan.
“Aku mau menghubungi Kak Davin tapi nomornya gak aktif-aktif. Aku khawatir sama Kak Davin,” ujar gadis ABG itu.
Wajar memang. Adara masih belia sedangkan Davin sudah berusia matang.
“Yaelah, si Davin udah gede ini. Gak mungkin juga ada yang culik, Dar. Yang ada lu yang diculik kelamaan nongkrong di sini. Ayo! Gue antar balik,” ajak Rey.
Tanpa ada ucapan, Adara pun membuka pintu mobil Rey dan duduk di samping Reynand dengan bibir yang meruncing.
Lucu juga liat wajah si Dara kalo lagi gini, cute cute gima gitu. Berasa pen nyubit! Umpat hati Reynand.
“Kok diem aja? Katanya mau anter Dara pulang?” ujar Adara yang membuat Rey tersadar dari lamunannya.
Rey hanya tersenyum dan berusaha menyembunyikan rasan kagetnya.
Rey melaju dengan mobil hitamnya. Melesat ke rumah Adara. Ternyata, Mamanya sudah menunggu Adara di luar.
Ceklek!
Pintu mobil terbuka. Adara dan Rey ke luar dari dalam mobil.
“Dara? Kamu dari mana saja? Beli buku kok lama banget?” tanya Mamanya dengan wajah panik.
“Maaf, Ma. Tadi Adara ....” ucapnya terhenti.
“Adara kenapa, Sayang?” tanya Lidya.
“Dara ... Em ... Itu ....” terulang terputus. Sebenarnya Adara sedang berpikir alasan untuk Mamanya.
“Tadi Adara malah asyik baca buku, Tan. Maaf tadi Rey yang ajak buat baca buku dulu,” bela Reynand.
“Oh ... Ya sudah, Mama tenang kalau ada Rey bersama Dara, masuk dulu, yu?” ajak Lidya.
“Maaf, Tan. Mungkin lain waktu Rey mampir. Rey udah ditunggu Mama di rumah,” tolak halus Reynand.
“Oh ... Ya sudah, makasih ya, Rey?” ujar Lidya.
“Iya, Tan. Mari?”
Rey kembali masuk dalam mobil dan meluncur kembali ke rumah.
__ADS_1