
Siang itu, langit begitu cerah dengan sinar mentari begitu terik menyinari Kota Jakarta. Suasana begitu panas.
Tubuh Jovanka yang mulai gemuk semakin merasa tidak nyaman, walaupun rambutnya telah diikat tetapi sepertinya masih terasa panas.
"Ya Tuhan ... panas sekali," keluh Jovanka yang sedang mengipas-ngipaskan kertas di dekat wajahnya.
Keadaan di klinik tidak seramai biasanya. Di ruangan yang cukup luas itu Jovanka benar-benar merasa tidak nyaman, terlebih roknya yang mulai terasa semakin sempit di area perut membuat dirinya semakin tidak nyaman.
Jam makan telah tiba. Davin ke ruangan Jovanka hanya untuk mengajaknya makan siang. Namun, Jovanka menolaknya karena dia memang sengaja membawa bekal dari rumah. Maklum, soal makanan dia belum normal seperti biasa yang tidak memilih-milih makanan. Setelah dia hamil, banyak sekali makanan yang menjadi tidak disukainya.
"Ya udah, aku ke kantin, ya?" ucap Davin berpamitan.
Jovanka mengangguk.
Davin berjalan mendekati pintu. Tangannya memutar kenop pintu ruang praktik Jovanka. Namun, langkahnya terhenti dan pandangannya kembali tertuju pada Jovanka.
"Gak nitip apa-apa?" tanya Davin yang masih memegang kenop pintu.
Jovanka tersenyum terlihat manis sekali.
Ah ... sial! Kenapa senyuman dia malah semakin terlihat manis? Batin Davin ketika melihat lengkung indah di bibir Jovanka.
"Enggak usah, terima kasih. Bekalku udah lebih dari cukup," jawab Jovanka.
"Oh ... ya sudah, nanti, kalau kamu mau pesan tinggal WA aja, ya?" ucap Davin dengan seulas senyum dan Jovanka mengangguk.
Davin pergi meninggalkan ruang kerja Jovanka sendirian. Sedangkan Jovanka mulai membuka tasnya, dia meraih bekal yang ada dalam wadah plastik kedap udara.
Tidak banyak yang Jovanka bawa. Hanya sedikit nasi, ayam yang goreng kering plus sambal dan buah anggur merah.
Jovanka mencuci tangannya sebelum makan. Busa sabun terlihat cukup banyak lalu Jovanka mencucinya di wastafel ruang kerjanya. Dia mengelap tangannya dan setelah dirasa kering, Jovanka mulai duduk untuk makan siang.
Di ruang kerja yang terasa sepi, dia mulai menikmati hidangan yang dibawanya. Jemari lentik Jovanka mulai menyuir daging ayam bersamaan dengan sambal. Nasi pun meluncur di mulutnya.
Baru saja suapan ke tiga, Jovanka didera mual. Nasi yang sudah ada diperut kembali dimuntahkan. Tubuhnya mulai lemah karena cukup sulit makanan masuk ke perutnya.
__ADS_1
Jovanka beralih pada buah anggur yang terlihat segar. Dia mulai memakan satu buah anggur nan merah lalu menggigitnya. Lumayan, dia merasa tidak terlalu mual. Sudah empat buah anggur yang menghuni perutnya. Namun, nasi begitu sulit untuk masuk.
"Kenapa aku enggak makan anggur ini dengan nasi, ya? Semoga saja bisa mengurangi mual nantinya."
Jovanka mulai menyuapkan buah anggur dengan nasi dan lauk, seolah buah anggur itu merupakan pengganti lalapan.
Beruntung, anggur yang terasa asam manis itu mampu mencegah rasa mual ketika nasi masuk ke mulutnya hingga nasi tinggal sedikit lagi, Jovanka menghentikannya untuk mencegah muntah.
***
Reynand yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang pilot akhirnya telah usai. Lelaki itu turun dari kabin pesawat terbang bersama copilot baru.
"Saya duluan, Bang," ujar copilot yang baru saat itu menjadi pendamping Reynand.
Reynand mengangguk. "Hati-hati," katanya dengan seulas senyum.
Reynand meraih ponsel di dalam saku celananya untuk diaktifkan. Matanya membulat ketika banyak sekali panggilan yang masuk ketika dia sedang melakukan tugasnya.
"Siapa, ya?" gumam Reynand saat memasuki ruang kerjanya.
Reynand memilih untuk duduk di kursi lalu mulai melihat nama yang mencoba meneleponnya dan membuka beberapa pesan masuk.
Reynand mencoba membuka pesan masuk dan ternyata ada nama Vicky dari salah satu pesan tersebut.
"Rey, gue minta izin sama lu untuk melamar Nana. Gue udah minta izin sama nyokap lu. Izinin gue, ya?" Isi pesan dari Vicky.
Reynand terdiam. Antara percaya dan tidak ketika membaca pesan dari Vicky.
"Serius, lu?" Reynand mengetik pesan singkat pada Vicky lalu mengirimkannya. Tidak menunggu waktu lama, Vicky pun menelepon dirinya.
Bunyi ponsel Reynand berdering.
"Halo?"
"Hahaha ...." Vicky malah tertawa.
__ADS_1
"Heh! Bukannya jawab, malah ketawa, lu? Beneran, lu mau lamar Nana?" Reynand bertanya pada Vicky karena dia tidak ingin adiknya dipermainkan.
"Lah ... iya, lah. Masa gue bo'ong?"
"Gak usah becanda, gak lucu!"
"Astaga! Harus dengan cara apa gue bicara sama lu agar percaya, Rey? Gue udah lama pacaran sama Nana. Apa gue salah, kalau ingin melamar dia?"
"Yaa ... enggak salah. Tapi satu pesan gue sebelum gue restuin lu untuk lamar adik kesayangan gue satu-satunya," ujar Reynand dengan nada mengancam.
"Paan?"
"Jangan coba-coba lu mainin perasaan dia dan jangan sekali-kali lu nyakitin dia! Satu kali saja adik gue mengeluh lu sakitin, sampe mana pun, lu akan gue kejar!"
"Uwadaw! Iya Kakak ipar. Gue janji akan jagain dia baik-baik dan enggak akan pernah nyakitin dia, sueeeerrrrr!" ujar Vicky terdengar serius.
"Oke! Gue catat dan restuin lu untuk lamar adik gue."
Percakapan pun usai tatkala Vicky telah menyetujui tentang syarat yang Reynand ajukan. Wajar saja dia begitu selektif memilih calon suami untuk adiknya. Dia tidak ingin apa yang menimpa ibunya dulu terulang pada Rhiena.
Vicky menceritakan akan melamar Rhiena secara personal. Untuk peresmiannya akan digelar setelah Rhiena benar-benar mau menerima menjadi suaminya. Sesungguhnya jam kerja Reynand sudah dari setengah jam lalu. Namun, karena mengobrol dengan Vicky, dia malah telat menjemput istrinya.
Reynand segera menelepon Jovanka untuk bersabar menunggunya. Untung saja, Jovanka juga masih berada di klinik karena temannya telat datang. Gegas, Reynand memilih untuk bersiap pulang dan menunggu istrinya di depan klinik. Dia berjalan dengan tas warna hitam yang ditenteng.
Reynand memilih untuk duduk di kursi stenlis yang ada di depan klinik tanpa memberi tahu istrinya. Dia menyandarkan punggungnya di kursi tersebut kemudian memejamkan mata sebentar.
Entah berapa lama Reynand terpejam. Hingga dia tersadar ketika jemari halus menggenggam tangannya.
Reynand membuka mata. Seulas senyum manis serta wajah yang terlihat cantik telah berada di hadapannya.
"Kamu udah dari tadi, ya? Sampe ketiduran gitu," ujar Jovanka dengan jemari yang mengusap lembut tangan Reynand.
"Eh, maaf, aku malah ketiduran. Kamu udah dari tadi?"
"Lumayan. Langit udah gelap, kita pulang, yuk?" ajak Jovanka.
__ADS_1
Reynand terperanjat. Rupanya dia baru sadar sepenuhnya ketika mentari tergelincir dan langit terlihat gelap. Sepasang matanya melihat pada arloji yang melingkar di pergelangan tangan telah menunjukkan jam enam petang.
"Astaga!" Mata Reynand semakin membulat. "Ya Tuhan ... maafin aku, ya, Sayang." Reynand merasa tidak enak pada istrinya. Harusnya, dia yang menunggu istrinya, tapi kenyataannya malah terbalik. Jovanka yang menunggu Reynand tertidur, karena ibu hamil itu tidak tega membangunkan suaminya yang terlihat lelah.