
Prosesi wisuda telah usai. Rey masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya yang lunglai.
Drttttt!
Ponsel di atas nakas bergetar. Rey meraih ponsel itu lalu membacanya.
“Captain Wahyu?”
Rey langsung membaca isi pesan dalam ponselnya.
[Rey kamu direkrut oleh beberapa maskapai Indonesia. Kalau kamu berminat, masukan CV ke saya.]
[Baik, Cap! Besok saya usahakan selesai dan menyerahkannya pada Cap Wahyu. Makasih infonya, Cap!]
Dengan badan yang masih lemas. Rey bangkit dari tempat tidur dan segera menyusun persyaratan untuk masuk sebagai Pilot/Co-pilot seperti cita-citanya.
“Ya ampun, Nak! Istirahat dulu, itu kan bisa nanti lagi,” ujar Nadin.
“Iya, gak papa, Ma. Masalahnya, sebentar malam Rey harus ke rumah sakit. Rey sudah janji sama Adara.”
“Ya sudah, Mama bantu, ya?” tawarnya.
“Enggak usah, Ma. Mama istirahat saja,” elak Reynand.
“Ya udah, Mama ke kamar ya, Rey?”
“Iya, Ma.”
Nadin berlalu pergi, sedangkan Rey membereskan berkas yang ia butuhkan untuk hari esok. Seketika, pandangannya terasa kabur, kepalanya terasa pusing.
“Aduh, kepala gue kenapa?” keluh Reynand.
Ia membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata sejenak. Sekitar setengah jam, Rey memutuskan untuk mandi karena ia harus pergi ke rumah sakit untuk menemui Adara.
Rey meraih handuk dan bergegas mandi.
Setelah selesai, Rey membuka lemari dan mengambil baju beserta celana yang akan ia kenakan. Seperti biasa, Rey mengambil celana jeans dan kaos yang ia dobel oleh sweater.
“Kenapa masih pusing, ya?” keluhnya.
Rey tidak menghiraukan sakitnya, ia ingin memenuhi janjinya pada Adara. Gadis yang sangat mirip dengan Jovanka.
Rey berangkat tanpa meminta izin pada Nadin. Karena Nadin masih tertidur dalam kamarnya. Rhiena juga tidak terlihat, sepertinya Rhiena juga masih terlelap di kamarnya.
“Mang, kalau Mama tanya, bilang saja Rey ke rumah sakit jenguk Adara, ya?” ujar Reynand.
“Baik, Mas Rey!” jawab Scurity.
Rey melesat di bawah langit malam yang menaunginya. Sial, di perjalanan kepalanya kembali sakit. Ia merasa pusing sehingga ia tidak dapat mengendalikan laju kendaraannya.
BRUG!
Akhirnya mobil itu menabrak pohon dan Reynand pingsan di dalam mobil.
.
“Sial! Baru juga balik ke Jakarta udah kemaleman, gak ada angkot lagi!” keluh Davin yang baru tiba di Jakarta.
Davin berjalan kaki menyusuri arah rumahnya dulu, yang memang agak jauh dari jalan utama. Sehingga, apabila ia kemalaman, alamat harus berjalan kaki karena tidak ada angkot yang masuk sampai ke dalam kompleks rumahnya.
“Kalau saja motor gue gak rusak! Gak jalan kaki kek gini gue!” sepanjang jalan, Davin menggerutu kesal.
“Eh ... Tu mobil ngapain dipepetin sama pohon? Wahh ... Jangan-jangan lagi berbuat mesum lagi? Gue intipin, ah!”
Davin berjalan ke arah mobil yang terparkir berdempetan dengan pohon. Dengan mengendap-endap, ia mengintip dari kaca luar mobil.
“Dih ... Ternyata cuma ada seorang doang. Ngapain juga tu orang tidur di mobil?” selidiknya.
Tok ... Tok ... Tok ....
“Bang! Woy! Bangun! Ngapain lu tidur di mobil? Lu gak punya rumah?” cerocos Davin sidah mirip emak-emak yang lagi mengintograsi anaknya.
“Dih ... Pules banget molornya? Bang! Woy! Bangun!”
Lagi, Davin membangunkan orang yang ada di dalam mobil.
“Wah ... Apa dia korban kecelakaan, ya?”
Dengan cepat, Davin membuka paksa pintu mobil yang berwarna hitam itu. Ia mendapati lelaki yang pingsan di dalam sana.
Davin berusaha tidak panik. Sebisa mungkin ia memeriksa keadaan laki-laki yang pingsan dalam mobil hitam itu. Ia memeriksa nadi dari tangan lelaki itu.
“Masih normal!”
Davin memindahkan lelaki itu ke kursi belakang dan Davin memacu mobil itu menuju rumah sakit.
“Untung saja, mobilnya tidak rusak.”
Dengan laju mobil yang kencang, akhirnya Davin menemukan klinik kecil dan ia langsung meminta bantuan pada tim medis.
“Tolong! Ada korban kecelakaan!” ujar Davin.
__ADS_1
Tim medis pria pun langsung menurunkan korban dan memasukkannya ke IGD.
“Ini Mas, ponsel korban. Oh iya, Mas urus administrasinya, ya?” ujar perawat rumah sakit.
Jeduk!
Pintu pun di tutup.
“Gimana gue isi data korban? Kenal aja, kagak!”
Drrtt!
Hand phone yang ada dalam genggamannya bergetar. Davin pun melihat nama yang tertera pada panggilan masuk.
“Mama? Mungkin ini Ibu dari pasien.”
Dengan cepat, Davin mengangkat telepon itu, terdengar suara di dalam sana.
[Rey? Kamu di mana, Na?]
[Maaf Tante, saya Davin. Tante bisa datang ke Klinik Kencana?]
[Loh ... Memang ada apa? Ini ‘kan nomor ponsel anak saya. Kenapa bisa ada di tangan orang lain?]
[Putra Tante kecelakaan. Saya yang menemukan putra tante pingsan. Mobilnya menabrak pohon.]
[Ya udah, tolong jaga putra saya, Nak Davin! Saya segera ke sana.]
Tut!
Telepon tertutup.
***
Setelah mengurus data pasien sementara. Davin kembali duduk di ruang IGD. Tidak lama kemudian, ada seorang Ibu paruh baya dan seorang gadis cantik bersamanya, mereka mendekat ke ruang IGD.
Mungkin itu orang tua pasien yang bernama Rey, umpat dalam hati Davin sambil melirik ke arah mereka.
“Maaf, Nak Davin?” ujar Ibu paruh baya itu.
“Iya Tante, saya Davin. Tante, Ibunya korban?” tanya Davin.
“Iya. Rey anak saya. Gimana keadaannya, Nak Davin?”
“Belum ada dokter yang ke luar dari dalam, Tan. Ditunggu saja, mungkin sebentar lagi selesai penanganannya.”
Hening.
Davin melihat wajah tegang dan pucat pada wanita paruh baya itu. Begitu pun dengan seorang gadis yang bersamanya.
“Salam kenal Tan, Rhiena. Saya Davin.”
Akhirnya, pintu ruang IGD terbuka. Nadin, Rhiena dan Davin langsung menghampiri dokter itu.
“Gimana keadaan putra saya, Dok?” ujar Nadin.
“Anda keluarganya?”
“Iya. Saya Ibunya,” jawab Nadin.
“Mari ikut saya,” ujar Dokter itu dan melenggang pergi menuju ruang kerjanya.
Nadin mengikuti dokter itu sementara Rhiena dan Davin masih stay di depan ruang IGD.
“Silakan duduk,” ujar dokter itu pada Nadin.
Nadin pun duduk dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran.
“Rey belum sadar, Bu. Menurut analisis saya. Tidak ada yang harus ditakutkan karena semuanya baik-baik saja. Tapi, seumpama ia sudah sadar dari pingsannya, ada kemungkinan ia hilang ingatan sementara. Tapi, semoga saja tidak terjadi. Karena saya memeriksa keseluruhan, semua baik-baik saja. Hanya ada luka di kening yang cukup parah. Mungkin terbentur ketika mobilnya menabrak sesuatu,” ujar si dokter.
“Jadi saya harus gimana, Dok?”
“Ibu tinggal menunggu pasien siuman, semoga semuanya baik-baik saja. Kalau ia masih mengingat orang-orang di sekitarnya, berarti tidak ada yang harus di khawatirkan, Bu,” terang dokter itu.
“Baiklah, Dok. Terima kasih!”
Nadin berjalan gontai kembali ke ruang IGD. Ada rasa takut dalam dirinya, seumpama Rey amnesia.
Ceklek!
Dengan ragu, Nadin masuk ke dalam ruang IGD di mana Rey sedang terbaring.
“Rey?” sapa Nadin ketika melihat Reynand sedang mengobrol dengan adiknya.
“Mama?”
Terima kasih, Tuhan! Putraku tidak amnesia, umpat hati Nadin.
“Mama kenapa?”
Ekspresi wajah Rey heran.
__ADS_1
“Gak papa, Sayang. Kamu ingat ini siapa?” ujar Nadin menunjuk Rhiena.
“Ingetlah, Nana ‘kan adik kembar Reynand. Mama kenapa sih?”
Rey terlihat semakin bingung.
“Gak papa. Ya sudah, Rey istirahat dulu,” ujar Nadin.
“Dav, thank’s, ya? Lu udah selametin gue,” ujar Reynand.
Davin tersenyum, “Iya, santai aja, Bro! Gue balik, ya? Udah ada keluarga lu sekarang,” ujar Davin.
“Dav, gue minta nomor telepon lu. Gue hutang budi sama lu,” ujar Reynand.
“Yaelah, Bro! Sante ae, lah!”
Rey tersenyum, “Mana nomor hape lu, Dav? Jan pura-pura lupa deh!” ujar Reynand.
“Iya!”
Davin pun menuliskan nama dan nomor hand phonenya di ponsel Reynand. “Tuh, udah gue masukin, nama profilnya Davin, gue balik sekarang ,ya?”
“Oke!”
“Mari Tante, Rhiena.” Davin berpamitan.
***
Sementara di rumah sakit lain ada Adara yang sedang menunggu Reynand. Wajah kesalnya semakin terlihat tatkala dirinya sering melihat ponsel.
Gak ada kabar dari Kak Rey. Apa dia lupa, ya? Ataukah dia sibuk? Gerutu hati Adara.
“Sayang, kok belum tidur? Udah malam loh,” ujar Lidya.
“Belum ngantuk, Ma. Mama tidur duluan aja,” jawab Adara.
Lidya tersenyum.
“Kamu nungguin Reynand, ya?” goda Lidya pada putri cantiknya.
“Idih ... Mama apaan, sih?”
Terlihat rona memerah pada kedua pipi putri semata wayangnya itu.
“Itu, wajahnya merah.” Tak henti, lidya masih menggoda Adara yang semakin terlihat malu di depannya.
“Udah, ah! Dara mau tidur aja!” elak Adara sambil memalingkan wajah dari Lidya, ia pun tersenyum. Karena Mamanya ternyata tahu sikapnya ketika ia mulai malu.
Adara memejamkan mata tapi angannya masih teringat akan Reynand.
Seandainya Kak Rey gak bisa datang, kenapa gak kirim pesan? Ngapain juga dia minta nomor hapeku kemarin? Umpat hati Adara.
Dreettt!
Gawai Adara bergetar, ia meraih gawainya dan mengusap layar itu.
Nomor tak dikenal. Siapa, ya? Batin Adara.
Klik!
Adara menekan pesan dari ponselnya.
[Maaf, Dara. Gue gak ke rumah sakit untuk nemuin lu. Gue kecelakaan ketika perjalanan ke rumah sakit.]
“Kak Rey?”
Mata Adara membulat, kaget.
“Tapi, belum tentu juga ini pesan dari Kak Rey!”
Adara kembali mengetik pesan singkat untuk nomor yang tidak dikenal itu.
[Maaf, kamu siapa?]
Klik! Send, terkirim.
Bip!
Pesan baru masuk dan Adara membukanya.
[Ini gue, Reynand. Tapi, lu gak usah khawatir. Gue baik-baik saja, hanya sedikit lecet.]
[Ya Tuhan! Maafin aku ya Kak Rey? Ini semua pasti gara-gara aku!]
[Bukan, emang ini salah gue. Gue kurang berhati-hati, jadi nabrak pohon. Ya sudah, lu istirahat, gue juga mau istirahat udah malem. Night, Dara.]
“Good night, Kak Rey!” ucapnya pelan.
Adara tersenyum menerima kabar dari Reynand, tapi ia juga khawatir dengan keadaan Rey sekarang.
Adara mengintip sedikit ke arah Lidya. Ternyata Mamanya terlihat masih tertidur di atas sofa, sedangkan Papanya entah ke mana.
__ADS_1
Malam semakin larut, suasana di rumah sakit pun sudah sangat sepi. Hanya terdengar tetesan cairan infus dan detak jarum jam dinding yang masih ia dengar. Adara memejamkan matanya dengan sedikit rasa tenang, karena Rey telah menghubunginya hari itu.
Semoga kamu baik-baik saja, Kak! Umpat hati Adara sambil mendekap ponsel di dadanya.