Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 70. Hari Pertama


__ADS_3

Sudah lebih satu bulan, Rhiena hilang kontak dengan Princess. Sebagai sahabat, Rhiena merasa khawatir karena nomor sahabatnya sudah tidak aktif.


“Na, Abangmu di mana?”


“Entah. Masih di kamar mungkin.”


“Coba susul, gih! Nanti kesiangan,” ujar Nadin.


Rhiena bangkit dari kursi tempat duduknya. Baru saja mau melangkah, Rey sudah terlihat menuruni anak tangga.


“Pagi semua ....” sapa Rey yang langsung menarik kursi dan duduk.


“Kamu kenapa, Rey? Wajahmu pucat,” ujar Nadin.


“Enggak papa, Ma. Mungkin karena kurang tidur aja.”


“Gak usah berangkatlah. Kamu kan sudah jadi pilot. Bahaya, Rey!”


“Karena sudah jadi pilot, tanggung jawab Rey bertambah, Mam. Ya sudah, Rey berangkat, ya?”


Rey mencium pipi Mamanya.


“Bang? Pipi Nana gak dicium juga?” goda Rhiena.


“Gak, nanti kamu dicium sama Vicky aja!”


“Dih, Abang!”


Rey terkekeh dan berlalu pergi mengendarai mobil hitamnya.


.


Rey langsung duduk di kursi kerjanya. Memegangi kepala yang terasa semakin berat. Kepalanya pun mulai terasa berputar.


“Lu kenapa, Bro?” tanya Elang menepuk pundak Reynand.


“Gak tau, Bang El. Kok kepala gue pusing banget, ya?”


“Gak usah terbang. Bahaya buat lu dan penumpang lain, Rey!”


“Tapi gue harus bertanggung jawab dengan pekerjaan gue, Bang.”


“Iya, tapi saat ini tidak memungkinkan juga buat lu bisa mengendarai pesawat, Rey!”


“Entah, Bang El. Gue makin pusing.”


“Ya udah ke klinik, yo? Gue anter,” ujar Elang.


Waktu penerbangan masih cukup lama. Elang sudah mengurus izin tidak terbang hari ini untuk Reynand dan ia memapah Rey ke klinik yang ada dalam bandara.


Pandangan Rey semakin berputar, lambat laun pandangannya menjadi kabur dan menghitam.


Bruk!


Akhirnya tubuh jangkung itu ambruk tidak sadarkan diri, ketika ia hampir sampai di klinik.


“Tolong!”


Dengan cepat, petugas klinik datang dan membawa brankar. Rey langsung dinaikkan ke brankar dan di dorong ke klinik.


“Dok, tolong teman saya,” ujar Elang ketika dokter sudah datang.


“Iya, Pak!”


“Tapi, maaf saya tidak bisa menemaninya karena harus terbang sebentar lagi,” ujar Elang.


“Oh ... Iya, silakan,” jawab dokter itu ramah.


Elang bergegas pergi setelah mengantarkan Rey ke klinik dan dokter itu mulai memeriksa pasiennya yang terbaring pingsan.


“Rey?”


Davin masih mengingat Reynand walau sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Ia mulai memeriksa keadaan Rey. Kebetulan, klinik masih sepi. Mungkin karena masih pagi. Davin menunggu Rey yang sedang tak sadarkan diri. Tidak berselang lama, Rey pun terbangun. Ia sadar dari pingsannya.


“Di mana ini?” ujar Rey ketika matanya sedikit terbuka. Ia pun melihat setiap sudut ruangan yang tidak terlalu besar itu.


“Lu di klinik bandara, Rey!” ujar Davin.


Rey menoleh, “Davin?” Rey masih memegang kepalanya, sepertinya ia masih pusing.


“Iya. Tadi Bang Elang yang bawa lu ke mari. Oh iya, makan dulu nih! Nanti minum obat,” ujar Davin.


Rey pun makan sedikit nasi karena perutnya terasa mual. Mungkin karena kepala yang terasa berputar-putar.


“Udah, Dav. Eneg gue kalau makan,” elak Reynand.


Davin tersenyum, “Ya udah, lu minum obat dulu. Oh iya mana nomor ponsel nyokap lu? Biar gue hubungin.”


“Enggak usah, Dav. Gue gak papa kok, nanti bisa pulang sendiri,” elak Reynand.


“Oh ... Ya sudah.”

__ADS_1


Rey pun meminum obat yang diberikan oleh Davin.


“Sebenarnya gue sakit apa, sih? Kepala gue rasanya muter-muter. Sekarang juga masik kek gini,” tanya Rey.


“Lu kena vertigo, Rey. Memang terasa seperti itu. Tapi gue udah kasih obat. Semoga rasa muter-muter itu berangsur hilang dan kembali sehat.”


“Bisanya berapa lama? Terasa muter-muter kek gininya, Dav?”


“Semoga cuma bentar, karena menurut analisa gue lu bukan vertigo karena keseimbangan. Biasanya berselang satu atau dua jam juga hilang. Ya udah lu istirahat aja, kalau ada apa-apa, panggil gue aja, ya?” ujar Davin.


Rey mengangguk, “Thank’s, Dav.”


Davin ke kuar dari dalam ruangan kecil itu menuju meja kerjanya.


Krringggg!


Bunyi telepon di meja kerja Davin.


[Dav, esok hari akan ada dokter muda/KOAS yang membantu kamu di klinik.]


[Baik, Bu! Namanya siapa?]


[Dokter Naura, ia baru lulus kuliah kedokteran dua bulan yang lalu. Tadinya mau Ibu masukan di rumah sakit. Tapi sudah terlalu banyak. Jadi Ibu putuskan untuk membantu kamu di klinik bandara.]


[Masuk mulai kapan?]


[Besok pagi.]


[Oke!]


Telepon pun terputus.


Davin menangani pasien yang mayoritas penumpang pesawat atau kalangan masyarakat yang dekat dengan bandara tersebut.


Rey terlihat keluar dari dalam kamar rumah sakit.


“Lu udah sehat?” tanya Davin.


“Lumayan. Gue balik ya, Dav?”


“Jangan! Biar gue antar.”


“Gak usah, ngerepotin! Lu kan lagi kerja,” tolak Reynand.


“Santai, ada yang bisa handle kalau sebentar. Paling cuma beberapa menit udah sampai ke rumah lu. Mane kunci mobilnya?” pinta Davin.


Rey pun memberikannya pada Davin.


***


“Yakin, Ma. Jo mau bangkit dari keterpurukan. Semoga saja dengan Jo beraktivitas, rasa ingat pada Mas Alexy bisa teralihkan,” jawab Jovanka sambil mengemas baju-bajunya.


“Ya ... Mama hanya bisa doain, semoga apa yang kamu ambil itu yang terbaik ya, Sayang.” Meli memeluk putrinya, air mata itu pun luruh dari kedua mata senjanya.


Jo pun membalas pelukan hangat dari sang Mama.


“Ya sudah, Jo berangkat ya, Ma? Jo juga udah pamit sama Mama Nadia lewat telepon. Jo belum berani ke rumah Mama Nadia, masih sangat jelas bayangan Mas Alexy di rumah itu,” terang Jovanka.


“Baik, Sayang. Hati-hati!”


Meli tidak mengantar Jovanka karena Jo menolak, ia sudah memesan taksi online katanya.


Tidak berselang lama, taksi itu sampai di depan rumah Jovanka. Jo memeluk erat tubuh senja sang Mama lalu bergegas masuk dalam mobil taksi itu. Jo berangkat ke Jakarta disertai doa dan tangis sang Mama.


Menjelang malam, akhirnya mobil telah sampai di bandara. Jo sengaja memilih kost yang dekat dengan bandara. Mungkin hanya sepuluh menit apabila ia berjalan kaki menuju bandara.


Jo melangkah masuk ke dalam kost yang cukup nyaman dan bersih. Kedatangannya pun disambut hangat oleh pemilik kost.


“Malam, Bu?” sapa Jovanka.


“Malam juga, Nak. Nak Naura ini yang pesan kamar kost via internet, ya?”


“Iya, Bu. Maaf kalau saya kemalaman datangnya.”


“Iya, tidak apa-apa Nak Naura. Mari Ibu antar ke kamarnya.”


Jovanka mengangguk dan mengekor Ibu pemilik kost dari belakang.


“Ini dia kamarnya,” ujar Ibu kost ketika ia membuka pintu kamarnya. “Semoga kerasan tinggal di sini ya, Nak Naura?”


“Iya, Bu. Malasih.” Jo tersenyum.


“Ya sudah, istirahat dulu. Ibu permisi, selamat malam.”


“Malam, Bu!”


Pemilik kost sudah kembali ke rumahnya dan Jovanka pun masuk ke dalam kamar yang cukup bagus. Fasilitas yang ada dalam ruangan itu pun cukup lengkap. Ada satu kamar, kasur, tivi, lemari baju kecil, ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Hanya ukurannya saja yang tidak besar, jadi berasa sempit bagi Jovanka yang biasa tinggal di rumah yang cukup mewah.


Akhirnya, setelah Jo membersihkan wajahnya. Ia bergegas tidur untuk mempersiapkan esok hari bekerja.


Klik!

__ADS_1


Lampu kamar mati.


***


Pagi itu, Jo bangun dari tidurnya. Ia teringat akan Alexy. Tak terasa, sudah empat puluh hari lebih, Alexy meninggalkannya.


Jo langsung bergegas mandi dan memakai kemeja berwarna pink polos dan bawahan celana panjang. Ia bergegas ke bandara untuk bekerja. Di hari pertamanya, ia tidak ingin telat.


Waktu menunjukkan pukul enam pagi, Jo berdiri di terminal tiga bandara sambil mengenakan masker yang menutupi sebagian wajahnya.


Ia berdiri lebih dari saru jam di sana. Untuk apa? Ia teringat pada Alexy yang meminta dijemput si bandara itu.


Setelah jam delapan kurang. Ia pun berjalan menuju klinik di mana ia bekerja.


“Klinik sudah buka? Mati aku!” gerutu Jovanka.


“Pagi, Pak! Maaf saya telat,” ujar Jovanka.


“Lain kali, kamu datang lebih awal. Masa kalah pagi dengan dokternya?” ujar Davin yang tidak mengetahui kalau dokter muda itu orang yang ia kenal. Karena dirinya sedang sibuk menyusun berkas yang ada di lemari. Posisinya membelakangi Jovanka.


“Iya, Pak. Maaf!” seru Jovanka dengan suara menyesal.


“Lalu, apa yang harus saya lakukan saat ini?”


“Bantu saya untuk menyusun data klinik ini,” jawab Davin.


“Baik, Dok!”


Jovanka mulai membereskan berkas yang berserakan di atas meja kerja Davin. Tapi, tiba-tiba perutnya berbunyi karena ia belum sarapan.


Krriiuukk!


Bunyi perut Jovanka terdengar jelas di telinga Davin. Davin tersenyum mendengar bunyi perut dokter mudanya itu.


“Kamu lapar?” tanya Davin tanpa melihat wajah Jovanka.


“Hehe ... Saya belum sarapan, Dok,” jawabnya dengan malu-malu.


“Ya sudah, tinggalkan pekerjaannya. Kita makan dulu, saya juga biasanya makan jam segini. Kamu mau pesan apa?” tanya Davin menoleh ke arah Jovanka.


“Davin?”


Netra Jovanka membulat ketika melihat dokter itu ternyata merupakan orang yang ia kenal, malah orang yang paling menjengkelkan baginya.


Davin mengernyitkan dahi, karena saat itu wajah Jovanka masih tertutup masker. Jo membuka maskernya dan terlihat sudah wajah cantik di balik masker itu.


“Jo? Ternyata elu? Yaelah, katanya namanya Naura?” ujar Davin tak menyangka.


“Lah ... Kamu pikir aku namanya siapa?”


“Jovanka.”


“Iya, lengkapnya Naura Jovanka,” ujar Jo.


“Etdah! Gue baru tau!” Davin menggaruk kepalanya. “Ya sudah, lu mau pesan apa?”


“Apa aja, yang penting ada nasinya. Aku laper dari semalem belum makan,” jawab Jovanka polos.


“Kebiasaan lu, itu! Ya sudah, gue kirim pesan dulu. Nanti biar mereka antar,” ujar Davin.


“Baik Pak Dokter.” Jo terkekeh.


“Dasar lu, ya? Ledekin gue terus!” ujar Davin ketika ia sudah memesan menu sarapan pagi untuk mereka.


“Gimana? Udah ketemu camer belum? Katanya kalau udah jadi dokter, bakal ngelamar dia?”


“Hehe ... Belum, Jo. Gue masih nabung. Iya kali gue ngelamar kagak bawa apa-apa?”


“Iya juga, sih.”


“Lagian, pacar gue masih sekolah, nanti ajalah setelah gue punya tabungan yang cukup. Gue akan ke rumahnya untuk meminta putrinya untuk mendampingi hidup gue.”


“So sweet!”


Jo memegang kedua pipinya, ia merasa kagum akan sosok Davin.


“Heleh! Lu mau?”


“Mau, tapi entahlah. Aku masih belum terima kenyataan, Dav.”


“Sabar ya, Jo! Gue selalu doain yang terbaik buat lu!”


Davin menepuk punggung tangan Jovanka.


“Thank’s ya, Dav?”


Davin tersenyum.


Tak berselang lama, akhirnya pesanan pun datang. Ada nasi dan potongan daging ayam yang dibalur dengan tepung terigu dan mempunyai sensasi keriuk ketika gigit, etdah! Otor terasa lagi iklan! Lanjod.


Mereka pun menikmati sarapan di pagi hari dengan menu nasi dan ayam yang dibalur terigu.

__ADS_1


__ADS_2