
Lagi, sepasang mata kedua lelaki ini kembali bertautan. Kebencian yang tersirat di raut wajah Rendy semakin terlihat.
Meli menghampiri dan menyeret lengan suaminya ke luar ruangan.
“Apa-apaan sih, Ma?” ujar Rendy dengan mata membulat. “Papa enggak suka laki-laki itu mendekati putri Papa!”
Meli menatap tajam.
“Kenapa Mama izinkan laki-laki itu terus bersama Jovanka sih, Ma?” seru Rendy lagi.
Meli masih menatap tajam.
“Kenapa Mama diam saja? Jawab pertanyaan Papa, Ma!” pekik Rendy.
“Udah?” ujar Meli singkat.
Rendy mengernyitkan dahi.
“Papa tau apa yang dokter bilang?”
Rendy terdiam karena ia memang tidak mengetahui.
“Ini semua gara-gara Papa!”
Meli menunjuk ke dada suaminya.
“Maksudnya?”
Rendy mengernyitkan dahi.
“Jo itu syok! Hatinya tertekan. Dan itu semua gara-gara Papa!”
Meli memukul dada suaminya sambil menangis. Rendy mendekap Meli yang terus menangis dalam dekapan hangatnya. Berharap, Meli akan mendapatkan ketenangan darinya.
“Kata dokter, Jo akan terus seperti ini kalau ia kembali tertekan. Papa puas ‘kan udah bikin anak kita sakit?”
Meli masih menangis dalam dekapan suaminya.
Deg!
Jantung Rendy berdetak kencang yang disertai rasa sakit yang luar biasa. Ia mencangkup wajah Meli yang berada dalam dekapannya. Rendy memandang wajah yang penuh dengan air mata.
“Apa itu semua benar, Ma?” ujar Rendy mulai melemah, mendengar keadaan anaknya.
Meli mengangguk.
Kaki Rendy terayun mundur, hingga tersudut di tembok rumah sakit, kakinya semakin lemah, tongkatnya pun terjatuh karena tangan yang bergetar.
“Jika Jo hidup dalam keadaan tertekan terus, sikisnya bisa kena, Pa. Dan itu akan membuat Jovanka cepat depresi,” suara Meli parau yang disertai air mata yang meluncur di pipi.
Rendy terjatuh. Ia duduk di lantai, tangannya memegang kepala. Ingin rasanya ia berteriak, tapi ia sadar kalau dirinya berada di rumah sakit.
Kenapa ini bisa terjadi Tuhan? Apakah aku terlalu keras dengan Jovanka? Sebegitu besarkah cinta Putriku untuk laki-laki itu? Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Pekik Rendy dalam hati.
Meli mendekati Rendi. Ia mengulurkan tangannya untuk suami tercinta, “Bangunlah, Pa!” suara Meli lirih dan masih terisak.
Rendy pun meraih tangan istrinya dan segera bangkit dari lantai. Ia memeluk erat Meli, “Maafkan Papa, Ma! Maafkan Papa!” ujarnya lirih di samping telinga Meli.
Meli menggeleng, “Percuma Papa minta maaf sama Mama. Karena hati yang sedang terluka itu Jovanka, putri kita, Pa!”
Rendy melepaskan pelukannya.
“Papa harus gimana, Ma?”
Sorot tajam melihat wajah sang istri.
“Tidak perlu Mama jawab, karena Papa telah mengetahui jawabannya. Baiknya, Papa pikirkan baik-baik. Papa boleh masuk menemui Jovanka ketika Papa sudah mengambil keputusan. Sementara waktu, baiknya Papa di luar dulu sambil memikirkan keputusan apa yang akan Papa ambil!” ujar Meli yang masuk ke dalam ruang inap Jovanka.
Rendy berpikir keras tentang semua ini. Hatinya tetap bersikuku menolak Reynand, tapi ia melihat keadaan putrinya. Ia tidak ingin egois karena keputusannya.
Berkali-kali Rendy menimbang segala kemungkinan yang akan terjadi dengan keputusan apa yang akan dia ambil.
Kakinya melangkah ke kamar inap Jovanka. Di dalam masih ada Rey dan Meli yang sedang menunggu Jovanka.
Ceklek!
Pintu terbuka.
__ADS_1
Rey dan juga Meli, menatap ke arah Rendy yang sedang berjalan mendekati putrinya.
Rey bangkit dari tempat duduknya untuk memberikan kesempatan pada Rendy untuk mendekati putrinya.
“Kamu duduk saja!” perintah Rendy, matanya terlihat sembab.
“Maksud, Om?”
Rey mengernyitkan dahi.
“Kamu yang bisa membahagiakan putri saya. Saya relakan Jovanka bersamamu!” ujar Rendy walau dengan suara berat, seberat hatinya membiarkan Jovanka untuk hidup dengan laki-laki ini.
Meli tersenyum.
“M – maksud, Om?” ujar Rey merasa gugup sekaligus bahagia.
“Ya. Saya mengizinkanmu untuk menikahi putri saya tapi tidak dengan restu saya!” Rendy kembali dengan keegoisannya.
Meli kembali murung, sedih mendengar kata suaminya yang masih belum bisa merestui hubungan putrinya.
“Terserah, kalian mau menikah kapan. Saya tidak akan menghalangi,” ujar Rendy.
“Ternyata, Papa tetap saja egois!” ujar Meli.
Hening.
Hingga akhirnya Jovanka sadar. Ia memegang kepalanya, “Awww!” keluhnya di bagian kepala.
“Kenapa, Sayang?” ujar Rey.
“Kepalaku sakit!” ringkihnya.
Rey memencet tombol untuk meminta bantuan, tapi baik dokter atau perawat begitu lama menghampirinya. Sehingga Rey memutuskan untuk mencarinya sendiri.
“Sebentar ya, Jo?”
Rey berlari ke luar dari ruang inap itu untuk mencari dokter yang bisa menolong kekasihnya. Sedangkan Jovanka masih kesakitan dan terus memegangi kepalanya.
“Liat anak Papa!” ujar Meli ketus lalu mengusap-ngusap pundak Jovanka.
Rendy hanya bisa terdiam.
“Maaf, Pak, Bu. Saya terpaksa memberikan penenang untuk pasien. Karena pasien sudah masuk ke taraf depresi, sehingga ketika ia belum stabil, kepalanya akan terasa pusing. Semoga suasana hatinya semakin membaik supaya pasien juga cepat sehat,” ujar Dokter menerangkan.
“Makasih, Dok!” ujar Meli.
“Baiklah, saya permisi.”
Dokter itu pun berlalu pergi.
“Puaskan, Pa?” ujar Meli pelan, tapi wajahnya menampakkan kemarahan.
Rendy terdiam.
“Ini semua gara-gara Papa!”
Meli memukul-mukul dada Rendy.
“Sudah, Tan!”
Rey mencoba melerai.
“Biarkan, Rey! Lelaki ini memang pantas untuk dipukul supaya mata hatinya terbuka!” ujar Meli sambil menangis.
Rendy hanya diam. Ia membiarkan istrinya terus memukulnya. Sedangkan Rey terus berusaha melerai. Hingga akhirnya, Rey membawa Meli ke luar dari ruang inap menuju kantin yang ada di dalam rumah sakit.
“Mbak, teh manis anget satu, ya!” ujar Rey ketika sudah ada di kantin dalam rumah sakit.
Rey dan Meli duduk di kantin rumah sakit yang cukup ramai. Mata Meli sungguh terlihat sembab dengan rambut yang sedikit berantakan.
“Ini pesanannya, Mas!” Pelayan itu menyajikan satu gelas teh manis hangat.
“Makasih, Mbak!” ujar Reynand.
Pelayan itu pun tersenyum dan berlalu pergi.
“Minum dulu, Tan!”
__ADS_1
Rey menyodorkan gelas yang berisi teh manis hangat untuk Meli.
Meli meraih, “Makasih, Rey!”
Sedikit demi sedikt, Meli mulai meminum teh manis hangat itu. Kini ia terlihat lebih tenang.
“Maafkan Tante ya, Rey?” ujar Meli.
“Untuk apa, Tan?”
“Karena dulu, Tante ikut menyetujui pernikahan Jovanka dengan mantan suaminya,” ujar Meli.
Rey tersenyum, “Itu semua sudah berlalu, Tan.”
“Apakah kamu marah?” tanya Meli.
“Karena apa?”
“Karena dulu Jo dinikahkan dengan laki-laki lain,” ujar Meli.
“Tante sudah tau jawabannya. Tidak usah Rey jelaskan, pasti Tante sudah bisa merasakan.”
“Maafin Tante ya, Rey?”
Meli memegang tangan Reynand.
Rey menepuk-nepuk lengan Meli, “Semua sudah terjadi, Tan. Rey hanya ingin berusaha meraih separuh hati Rey yang ada pada Jovanka.”
Tes!
Air mata Meli mengalir mendengar ucapan dari Reynand.
“Tante percaya sama kamu, Rey. Tante titip Jo. Bahagiakan dia, Nak! Tante mohon,” ujar Meli yang berurai air mata.
“Tanpa Tante minta, Rey akan membahagiakan Jovanka sekuat Rey, Tan. Walau Rey tidak mempunyai apa-apa,” ujar Rey yang masih menyembunyikan jati dirinya.
Meli tersenyum, “Tante menerima kamu apa adanya, Nak. Sudah cukup kesalahan Tante dulu. Tante ingin melihat Jovanka hidup bahagia bersama lelaki yang ia sayangi,” ujar Meli.
Akhirnya Rey mendapat restu dari Meli, yang tak lain Mamanya Jovanka. Izin menikah dari Rendy pun telah dikantongi, walau belum direstui. Mungkin, seiring berjalannya waktu hati Rendy akan luluh.
.
Meli dan Rey kembali ke kamar inap Jovanka setelah keadaannya sudah tenang.
Ceklek!
Pintu ruang inap terbuka.
Di sana terlihat Jovanka yang sedang berbaring dengan wajah yang menghadap ke jendela. Tapi, Rendy tidak ada di sana.
“Jo? Kamu udah sadar, Nak? Gimana kepalanya? Apa masih sakit?” tanya Meli bertubi.
“Masih sedikit pusing, Ma. Tapi lebih baik dibandingkan tadi. Oh, iya. Papa ke mana, Ma?” tanya Jovanka.
“Papa ... Papa lagi ....” kata Meli terputus karena ia pun tidak mengetahui suaminya ada di mana.
“Papamu lagi ada urusan sebentar, Jo. Mungkin sebentar lagi pulang.”
Rey menimpali.
“Oh ....” jawab Jovanka datar.
“Sayang, cepat sembuh, ya? Aku mau ajak kamu untuk hunting baju pernikahan,” ujar Reynand.
Mata Jo membulat, begitu pun dengan Meli yang tidak kalah kagetnya.
“Ta - tapi, Papa?” ujar Jo yang kembali teringat Papanya.
“Papamu sudah mengizinkan aku untuk menikahimu, Jo,” jawab Reynand.
“Realy?” tanya Jovanka dengan netra berkaca.
Rey mengangguk serta memeluk Jovanka.
Tangis bahagia pun pecah tatkala Jovanka mendengar Papanya telah mengizinkan untuk menikah dengan lelaki yang dicintainya.
Walau restu belum di dapat. Tapi, Rey berkata benar. Karena ia bilang pada Jovanka hanya mengizinkan bukan merestui, tepat sekali. Seperti yang diucapkan oleh Rendy. Rey memang cerdik.
__ADS_1
Meli pun tak kalah bahagia melihat putrinya bisa menangis bahagia. Baru kali ini Meli melihat Jovanka bisa berekspresi seperti sekarang. Walau dirinya menangis tapi bukan air mata kesedihan yang berlinang.
Mama ikut bahagia, Nak. Semoga ini akan menjadi pernikahanmu yang terakhir dan semoga kalian bisa hidup berdua selamanya, hingga azal merenggut nyawa. Doa Mama selalu bersama kalian, umpat hati Meli sambil menitikkan air mata bahagia.