
Ddrrrtttt!
Ponsel Rendy bergetar.
Rendy memutar kursi rodanya ke meja, karena ponsel tergeletak di sana. Ia meraih ponsel itu.
“Bu Nadin? Mau apa, ya? Perasaan, aku sudah tidak punya sangkutan apa-apa lagi sama dia,” ujar Rendy, lalu menggeser layar ponsel yang ada dalam genggamannya.
[Halo?]
Rendy menyapa lewat ponsel.
[Pak Rendy? Gimana kabarnya, Pak? Maaf, saya barusan telepon ke kantor Bapak. Tapi katanya perusahaan Bapak sudah berpindah tangan? Bagaimana ceritanya?]
[Iya, Bu. Maaf sebelumnya, saya tidak menghubungi perusahaan Ibu. Karena saya mengalami sakit waktu itu. Saya stroke, sekarang saya sedang belajar berjalan.]
[Turut prihatin ya, Pak. Semoga Bapak cepat sehat krmbali. Tadinya, saya mau Bapak untuk mengelola perusahaan baru saya yang ada di Jakarta. Karena saya tau kinerja kerja Pak Rendy sangat bagus.]
[Wahh ... Kebetulan, Saya ada di Jakarta, Bu. Tapi, saya belum dapat berjalan.]
Rendy dan Nadin berbincang banyak dalam telepon. Rendy pun menceritakan tentang keadaan pisik dan perekonomiannya. Nadin tertarik untuk memperkerjakan Rendy sebagai penanggung jawab dari perusahaan kecil yang sedang ia rintis di Jakarta.
[Ya sudah, nanti janjian di apartemen Bapak saja. Biar saya atau karyawan saya yang ke sana.]
[Makasih ya, Bu. Ibu sudah mempercayakan pada saya. Padahal saya ini cacat.]
[Jangan bicara seperti itu Pak. Saya yakin, Bapak akan kembali sehat. Nanti saya hubungi lagi ya, Pak?]
Tut!
Telepon terputus.
Rendy sangat bersyukur. Dikala kondisinya seperti itu, tapi masih ada orang yang mempercayainya untuk bekerja. Wajahnya berseri dan matanya berbinar kala kabar baik menghampirinya.
“Tumben, Papa terlihat bahagia?” ujar Meli yang membawakan secangkir kopi untuk Rendy, ia menaruh cangkir itu di atas meja.
“Iya, Ma! Hari ini Papa bahagia banget. Papa dapat kerja, Ma!” ujar Rendy dengan begitu ceria.
“Papa jangan becanda ‘ah! Mana mungkin, ada perusahaan yang mau menerima Papa dalam keadaan seperti ini?”
“Ada, Ma! Bu Nadin, pemilik perusahaan yang cukup ternama di kota ini. Waktu di Bandung, Bu Nadin yang menyuplai barang ke perusahaan kita,” terang Rendy.
Meli masih menyimak obrolan suaminya dengan seksama.
“Nanti, kalau proyek pembangunan kantor sudah selesai. Bu Nadin akan ke mari untuk membawa dokumen laporan perusahaan barunya. Papa dipercaya untuk menghandle perusahaan baru itu. Papa jadi lebih bersemangat untuk bisa berjalan lagi, Ma!” ujar Rendy dengan semangat menggebu.
“Syukurlah kalau Papa sudah kembali bersemangat. Mama siap bantu Papa untuk belajar jalan,” ujar Meli dengan lengkungan indah di bibir senjanya.
Rendy tersenyum. Sekilas, amarah Rendy telah memudar karena ia mendapatkan kabar baik.
“Ayok, Ma! Bantu Papa berjalan?” pinta Rendy.
“Baiklah. Ayok, Mama bantu?”
Meli mengulurkan tangannya.
*
Sementara ada Jovanka dan Rey yang sedang sibuk dengan pekerjaan. Hingga akhirnya, semua pekerjaan mereka telah berakhir.
Rey langsung menuju ke klinik Jovanka. Ternyata, ia sudah menyiapkan pertemuan Jo dengan keluarganya, ia sudah menyiapkan acara makan malam di rumahnya tanpa sepengetahuan Jovanka.
“Bro? Ngapain di sini? Masuklah. Pacar lu masih menyalin stok obat, dia terlalu rajin,” ujar Davin sambil tersenyum.
“Gak papa di sini aja, Vin. Gue takut ganggu pekerjaannya.”
“Hmm ... Serah lu aja deh. Oh, iya, gue balik duluan, ya?”
“Oke! Hati-hati, Vin!”
Davin pun berlalu, berganti dengan Jovanka yang ke luar dari dalam klinik. Wajah lelahnya terlihat, tatkala wajah cantik itu berhadapan dengan Rey.
“Rey? Sejak kapan kamu di sini?”
“Baru sebentar. Udah beres praktiknya?”
“Udah.”
“Jo?”
“Iya?”
“Nanti malam. Aku akan mengajakmu ke rumah, aku ingin mengenalkanmu pada Mama.”
Mata Jo membulat. Ia merasa kaget tapi tak di pungkiri, rasa bahagialah yang mendominasi perasaannya saat ini. Bagaimana tidak? Ia mau dikenalkan dengan calon mertua.
“Gimana? Bisa?” tanya Reynand.
__ADS_1
Jo mengangguk.
“Ya sudah, nanti aku jemput kamu di apartemen atau di kostmu?”
“Ke kostku aja, Rey.”
“Baiklah. Ya sudah, kita pulang sekarang yuk? Agar kamu punya cukup banyak waktu untuk bisa mempersiapkan diri.”
Jo mengangguk, “Antar aku ke butik dulu, yuk?” ujar Jovanka.
“Baiklah ....”
Jo dan Rey berjalan berdampingan ke salah satu butik yang tidak terlalu jauh dari tempat kost Jovanka. Jo mulai memilih gaun yang cantik untuk menunjang penampilannya di depan calon mertua. Wanita mana, yang tidak ingin terlihat cantik di depan mertuanya? Terlebih, ini merupakan pertemuan pertama mereka.
Jo membawa beberapa potong gaun untuk menjadi alternatif. Ia ingin meminta saran untuk memilih pada Reynand. Ia menghampiri Rey yang sedang duduk di sofa dan menggenggam ponsel di tangannya.
“Rey?”
Rey mendongak, “Iya. Gimana? Udah dapat?”
Jo mengangguk, “Menurutmu, baju mana yang cocok di pakai untukku?” Jo mengangkat beberapa potong gaun.
Rey tersenyum, “Semuanya cocok untuk kamu pakai, Sayang. Aku suka modelnya, sederhana tapi tetap terlihat cantik, tidak berlebih.”
“Lalu, aku pilih yang mana? Aku bingung. Gak mungkin juga kalau aku pilih semuanya. Uangku tidak cukup.”
“Ambil aja semuanya. Kan bisa dipakai untuk nanti lagi,” ujar Rey.
“Enggak, ah! Aku belum gajian. Lagian aku harus hemat untuk mencicil apartemen yang Papa dan Mamaku tinggali saat ini,” elak Jovanka.
“Hemmm ... Kamu anggap aku gak ada?” ujar Rey.
“Bukan. Bukan itu, Sayang. Aku tidak ingin merepotkanmu. Maaf, jangan tersinggung.”
“Ya sudah, ambil semua!”
“Tapi ....”
Kata Jovanka terpotong karena Rey mengambil alih beberapa gaun yang ada di tangan Jovanka. Ia segera ke kasir dan membayar semua gaun cantik itu.
.
“Aku balik, ya? Sampai ketemu nanti malam,” ujar Rey ketika ada di depan kost wanita itu.
Jo tersenyum, “Hati-hati ya, Rey!”
Tin!
Jo pun mencoba beberapa dres yang telah Rey belikan. Satu persatu, Jo membuka paper bag dan mengeluarkan gaun di dalamnya. Ia mulai mencobanya.
“Bagus!”
“Warnanya kalem, aku suka!”
“Terlihat imut. Tapi, aku cari yang lain deh!”
“Cantiknyaaaa!”
“Sempurna! Fix aku pakai yang ini saja!”
Akhirnya, setelah satu persatu gaun telah dicoba. Ia menjatuhkan pilihannya pada gaun cantik warna peach.
Malam pun tiba. Jo sudah mempersiapkan dirinya. Kini, gaun cantik itu sudah melekat di tubuh Jovanka. Ia menggerai rambut panjangnya dan memakai anting panjang untuk menyempurnakan penampilannya malam ini.
Tok ... Tok ... Tok ....
Jo berdiri dari meja rias lalu melangkah menuju pintu.
Ceklek!
Pintu itu pun terbuka.
Terlihat sudah, wajah cantik itu di balik pintu.
Rey terpesona. Matanya terpukau tatkala melihat wanita cantik yang berprofesi seorang dokter. Kini sudah melepas atributnya dan terlihat seperti Cinderella malam ini.
“Hai ....”
Jo melambaikan tangannya di depan wajah Rey. Karena pada saat itu Rey hanya terdiam, malah terus memandangi wajah Jovanka.
“Ha – hai ....”
Rey tersenyum lalu menggaruk kepalanya walau sama sekali tidak gatal. Ia malu karena kepergok Jovanka yang sedang memandangnya lekat.
“Mau masuk dulu, atau?”
__ADS_1
“Langsung berangkat saja. Mama dan Adikku sudah menunggumu,” ujar Reunand.
“Baiklah. Sebentar, ya?”
Jo masuk ke kamar untuk mengambil tas kecil lalu menutup pintu. Kini, Jo berhadapan dengan Rey. Lagi, Rey kepergok sedang menatap wanita cantik yang ada di hadapannya saat ini.
Rey mengulurkan tangannya, “Ayok?” ujarnya dengan suara lembut.
Jo meraihnya dan tersenyum.
Sepanjang jalan, hanya kebisuan yang terjadi di dalam mobil. Kata-kata Rey seakan habis, ia tidak mempunyai bahasan apa pun pada Jovanka. Jovanka pun hanya tertunduk malu ketika melihat Rey yang berpenampilan elegan malam ini, semakin memancarkan karisma ketampanannya malam ini.
Hingga tak terasa, mobil telah terparkir di halaman rumah Reynand.
Ceklek!
Pintu mobil terbuka.
Rey ke luar dari dalam mobil. Sedangkan Jovanka masih tertinggal di dalam.
“Ayok turun!” ujar Rey ketika ia membukakan pintu mobil Jovanka.
“A-aku gugup, Rey!”
Jo tersenyum dan pipi itu pun terlihat semakin merona.
Rey tersenyum, “Santai saja.” Rey lalu mengulurkan tangannya.
Jo pun ke luar dari dalam mobil dan melangkah bersama Reynand. Tetapi, pas di depan pintu. Jo kembali menarik tangan lelaki tampan itu.
“Ada apa lagi, Sayang?” tanya Rey sambil menatap wajah cantik yang terlihat nervous, tangannya pun sedikit bergetar.
“Aku nervous, Rey!”
Terlihat wajah gugup dari Jovanka.
Rey menggenggam tangan Jovanka. Ia menatap tajam kedua mata cantik itu.
“Tenang, kan ada aku. Mama sama Adikku baik kok,” ujar Reynand.
“Aku percaya. Pasti mereka sebaik kamu. Bahkan, bisa jadi lebih baik lagi dari kamu. Tapi, ini awal pertemuanku. Aku malu, aku grogi, Sayang!”
Tangan Jo semakin kuat menggenggam tangan Reynand.
“Percayalah. Mereka akan menyambutmu dengan hangat.” Rey tersenyum.
“Penampilanku malam ini, gimana? Apakah ada yang kurang?” ujar Jo yang masih belum percaya diri.
Rey mengangkat jempol tangannya, “Sempurna! Mau kamu memakai pakaian tidur pun akan terlihat sempurna,” bisik Rey pada Jovanka.
Jo memukul tangan Rey, “Omes kamu!” Mata Jo membulat.
Bukannya merasa sakit. Rey malah tertawa melihat kelakuan Jovanka.
“Ya sudah, ayok kita masuk! Mau, aku gendong sampai ke dalam?”
Rey mendekatkan wajahnya pada Jovanka.
Jo menggeleng.
Rey menggenggam tangan Jo dan akhirnya mereka masuk ke rumah mewah itu.
Netra Jo memandang ke sekeliling rumah mewah nan besar ini. Rumahnya lebih besar lagi dari rumah Alexy. Melihat tangga yang berkelok indah, menambah kesan elegan pada desain rumah itu.
Ya Tuhan ... Selama ini aku memiliki pacar dari keluarga kaya. Tapi, kenapa bisa Rey hidup sederhana ketika di Bandung? Aku malu sekaligus bangga dengan sikap Rey yang lebih menyembunyikan kehidupan mewahnya, umpat hati Jovanka.
Lagi, kaki Jovanka mematung.
“Kenapa lagi?” tanya Rey.
“Kenapa kamu tidak bilang, kalau kamu anak orang kaya? Kenapa kamu sembunyikan ini dari semua orang?” tanya Jo dan menatap tajam mata si jangkung.
“Agar aku mendapatkan wanita yang tidak memandang dari materi! Dan kini, aku telah menemukannya.”
“Tapi, karena kamu seperti ini, akhirnya kita terpisah.” Netra Jo berkaca-kaca.
“Tapi, aku akhirnya mendapatkan perempuan yang baik dan tulus sekarang.”
“Setelah aku menjanda?”
Rey menggeleng, “Sejak aku kenal denganmu, dan lagi, setelah kamu menerima cintaku dulu ketika aku menjadi anak kost. Yang bahkan, untuk mentraktir semangkuk bakso pun aku tidak mampu. Saat itu juga aku bertambah yakin, kamu wanita yang tidak memandang status sosial.”
Tes!
Ari mata itu luruh, membasahi pipi.
“Jangan menangis, nanti makeupmu luntur,” goda Rey yang lalu mengusap air bening yang terjatuh di pipi.
__ADS_1
“Jahat!”
Jo memukul pelan lengan Rey. Bibirnya sedikit tersenyum.