
“Jo?” ucap bibir Reynand pelan.
Ia tersadar ketika Princess mulai mendekat. Rey menepis semua lamunannya. Rey mengira, bahwa yang memakai dres itu Jovanka dan ternyata ia salah lihat. Karena yang melenggang menggunakan baju dres itu adalah Princess.
Ya Tuhan, kenapa Aku malah teringat Jovanka? Apakah karena tadi aku melihat foto-foto kebersamaan kami? Apakah aku harus menghapus semua kenanganku ini? Umpat dalam hati Reynand.
“Tuh, kan! Abangku udah terpesona sama kamu, Princ!” Rhiena terkekeh.
Princess tersenyum dan tersipu malu mendengar kata-kata Rhiena barusan. Sedangkan Rey hanya terdiam.
“Ya udah, ayo berangkat! Nanti kemaleman lagi,” ujar Rhiena.
Rey, Rhiena dan Princess akhirnya ke luar rumah menaiki mobil. Seperti biasa, Rhiena yang memegang kendali mobil. Ia membuka handle pintu mobil.
“Abang mau ngapain?” tanya Rhiena pada Reynand yang sedang membuka pintu samping mobil.
“Masuk lah, mau ngapain lagi?”
“No, No, No! Abang duduk di belakang sama Princess!” suruh Rhiena.
“Enggak, ah! Ya udah, biar Abang yang bawa mobil. Kamu sama Princess duduk di belakang!”
“Gak bisa!”
Princess hanya memperhatikan Rey dan Rhiena yang malah ribut gara-gara posisi duduk dalam mobil.
“Ya sudah. Jo kamu duduk sama aku, ya? Biar Bang Rey yang menyetir mobil,” usul Princess.
Dengan berat hati, akhirnya Rhiena mau menuruti usulan dari Princess. Tetapi, rencananya terancam gagal untuk mendekatkan Rey dengan Princess.
“Na, kita mau ke mana?” tanya Reynand.
“Ke cafe langganan kita dulu, Bang!”
Rey tidak bertanya lagi. Karena ia mengetahui tempat yang Rhiena maksud. Melaju cukup kencang untuk menuju cafe itu.
Rey memarkirkan mobil di pinggir jalan.
Rhiena dan Princess berjalan lebih dulu. Sedangkan Reynand mengekor dari belakang.
“Vicky?”
Netra Rey membulat ketika melihat Vicky yang sudah stand by, duduk di salah satu meja.
Vicky melambaikan tangannya ke arah kami dan Rhiena pun menghampirinya bersama Princess.
Sialan! Si Nana bakal cabut gak ya, sama Vicky? Tanya hati Reynand.
Rey pun mendekat ke meja itu, dan benar saja, Rhiena dan Vicky akan pergi ke tempat lain. Sementara Rey terjebak bersama Princess di cafe ini.
Mau gak mau, akhirnya Rey mengobrol sambil memesan beberapa makanan dan minuman yang akan mereka pesan.
“Mbak!” pekik Rey cukup kencang.
Pelayan itu pun menghampiri meja Reynand, “Mau pesan apa, Mbak, Mas?” ujar pelayan dengan senyum yang menawan.
“Iya, Mbak. Bentar, ya? Kamu mau apa, Princ?”
“Aku mau jus melon aja, Bang!” ujar Princess.
"Makan?"
__ADS_1
"Enggak ah, makasih!"
“Ok! Jus melon satu sama hot capuchinonya satu ya, Mbak?”
“Baiklah, ditunggu ya Mas, Mbak? Permisi!” Pelayan itu pun berlalu pergi.
Tidak berselang lama, pelayan itu datang dan membawakan pesanan kami serta menghidangkannya di atas meja.
“Selamat menikmati,” ujar pelayan itu dan berlalu pergi.
“Makasih!”
.
Keadaan semakin malam. Udara semakin dingin, terasa menusuk tubuh. Minuman pun hampir habis tanpa ada yang mencairkan suasana ini. Hanya kebisuan yang terjadi tatkala kami sedang duduk berdua.
“Bang, bolehkah aku minta sesuatu sama kamu?”
Princess mencoba memecah kebisuan yang terjadi.
“Apa?”
“Kasih kesempatan untukku menjalin hubungan denganmu. Aku pasrah, andai pada akhirnya Abang masih tidak dapat membuka hati untukku. Tapi, plis ... Aku mohon, kasih aku kesempatan untuk mengisi hatimu,” ujar Princess.
Hening.
Rey masih bimbang dan bingung dengan hatinya sendiri. Ia ingin bangkit dan menjauhi bayang-bayang Jovanka.
Rey menatap netra yang penuh harap. Netra itu memandang teduh pada dirinya.
“Aku siap, walau mungkin pada akhirnya aku akan sakit hati. Aku akan mundur jikalau memang Abang akhirnya gagal move on!” Princess tertunduk.
“Ya udah, gue akan coba,” ujar Reynand.
Apakah aku salah dengar? Umpat hati Princess yang sedang tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
“Apa, Bang? Abang kasih kesempatan buat aku?” ujar Princess memastikan.
Rey hanya mengangguk samar.
Apakah keputusan yang kuambil itu salah, Tuhan? Umpat hati Reynand.
Princess merasa tak percaya, tetapi tak dapat dipungkiri kalau malam ini merupakan malam yang paling indah baginya. Perasaannya terbalas malam ini, walau itu hanya sebuah kesempatan bukan kepastian.
Lengkungan indah selalu terpancar dari bibir merah Princess. Hingga akhirnya Rhiena dan Vicky telah kembali.
“Sepertinya ada yang seneng?” goda Rhiena.
Tidak ada yang menjawab apa pun. Princess selalu tersenyum. Sedangkan Rey lebih diam, tanpa ekspresi ketika adik kembarnya menggoda.
***
Di sisi lain ada Jovanka yang masih ragu dengan hatinya. Keputusan yang ia berikan pada Alexy seperti telah menjerumuskan dirinya sendiri pada hati seseorang yang tidak pernah ia cintai.
“Om, maaf, ya. Jo belum bisa tidur satu ranjang sama Om Alex. Jo butuh waktu,” ujar Jo terdengar ragu.
“Iya, gak masalah. Aku sudah senang, kamu memberikan kesempatan untukku, Jo.”
Malam telah larut, Jo tidur di ranjang atas, sedangkan Alexy tidur di ranjang bawah tepat di samping Jovanka.
Klik!
__ADS_1
Jo mematikan lampu.
.
Ngampus again!
Pagi ini, Jo tampil cantik dengan sedikit memoles wajahnya dengan make up natural look dan baju kemeja panjang yang disertai celana jeans sebagai bawahannya.
“Cantik sekali kamu, Jo!” puji Alexy.
“Makasih, Mas!” tutur Jovanka.
“Apa? Kamu panggil aku dengan sebutan Mas?” ujar Alexy dengan rona wajah bahagia.
Jo mengangguk.
“Makasih, Jo. Ya sudah, kamu udah siap perginke kampus?
“Iya, Mas.”
Lagi-lagi, Alexy begitu gembira mendengarnya. Tubuhnya terasa melayang ketika mendengar Jovanka memanggilnya dengan sebutan Mas.
Seperti biasa, Alexy mengantar dulu Jovanka ke kampus setelah mereka selesai sarapan bersama keluarga Alexy.
Mobil meluncur dengan kecepatan sedang. Di sepanjang jalan, senyum Alexy selalu mengembang. Mungkin, hal itu merupakan kebahagiaan yang paling sempurna baginya.
.
Mobil pun berhenti di samping pintu gerbang masuk kampus.
Ceklek!
Pintu mobil terbuka.
“Om, eh! Mas, Jo masuk kampus, ya? Makasih sudah anterin aku ke kampus!"
“Sama-sama,” ujar Alexy sambil tersenyum.
Jo mengulurkan tangannya, bersedia untuk menyalami tangan Alexy. Lagi-lagi, Alexy merasakan kebahagiaan yang diberikan oleh Jovanka di padi ini.
Jo ke luar dari dalam mobil, ia melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas karena jam pelajaran dosen galak akan segera dimulai.
Ceklek!
Pintu ruang kelas terbuka.
“Selamat pagi semuanya?”
Netra Jo terbelalak tatkala melihat sosok dosen galak yang berubah menjadi Mahasiswa yang menyebalkan.
“Davin?” suara kecil yang terucap dari bibir Jovanka.
“Baiklah, saya di sini sebagai Asdos. Lagsung saja ke materi hari ini,” ujar Davin dengan lantang.
.
Materi pelajaran pun telah tersampaikan semuanya. Cara menyampaikan Davin pun gampang dipahami.
Seluruh mahasiswa dan mahasiswi telah berhamburan ke kuar dari dalam kelas.
Jo bangkit dari kursinya. Setelah ia selesai membereskan beberapa buku masuk ke dalam tasnya.
__ADS_1
Tiba-tiba dengan cepat Davin menarik tangan Jovanka hingga ia terjatuh.
“Mau apa kamu?” tanya Jovanka dengan wajah jutek.