Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
115. Memalukan


__ADS_3

Jovanka tersenyum melihat Reynand yang terlelap kala itu. Dia hanya menyelimuti tubuh Reynand lalu memilih untuk pergi ke dapur.


Kaki jenjangnya menuruni anak tangga, dia berjalan menuju tempat yang difavoritkan oleh kaum Hawa ketika berjibaku memasak menu yang mereka sukai. Namun, malam itu Jovanka bukan untuk memasak. Melainkan mencari makanan yang bisa mengganjal perutnya.


Nasi memang selalu tersedia di magicom. Namun, waktu yang menurutnya sudah larut malam melarangnya untuk mengkonsumsi makanan berat. Jovanka mencari alternatif lain dan dia melihat mie instan dalam kemasan.


"Yailah, ini sama aja karbohidrat," ucap Jovanka ketika melihat bungkus mie instan berwarna putih.


Wanita cantik itu beralih pada lemari es dan dia menemukan cukup banyak buah-buahan yang terdapat di dalam sana. Jovanka mengambil satu buah apel berwarna merah lalu menuju meja makan.


Jemari lentiknya meraih pisau tajam lalu mulai mengupasnya pelan. Namun, entah karena mengantuk atau memang teledor, akhirnya pisau itu malah menyayat jemari telunjuk sebelah kiri.


"Oh ... astaga ...." Mata Jovanka membulat ketika melihat cairan merah mulai keluar dari jarinya, bahkan menetes.


"Astaga, Sayang, kamu kenapa?" tanya Reynand yang ternyata sudah ada di belakang kursi yang di duduki Jovanka.


Jovanka menoleh, tangan kanannya masih memegang tangan kiri dengan darah yang masih menetes pelan.


"Eehh ... Sayang––" Jovanka terlihat heran karena Reynand malah seperti mau pingsan. "Bibi! Toollooongg!!" pekik Jovanka memanggil asisten rumah tangganya.


Reynand lemas melihat tetes demi tetes darah yang keluar dari telunjuk istrinya. Yaelah, dikira mau ada adegan manis ketika jari Jovanka teriris pisau. Ternyata Reynand malah hendak pingsan karena dia phobia darah.


Untung saja asisten rumah tangganya segera datang. "Ya Allah, Gusti!" Mata asisten rumah tangganya membulat. Namun, langkahnya cukup cepat untuk berjalan mengambil kotak P3K. Tidak seperti Reynand yang malah terduduk di lantai.


"Sini, Non, Bibi bantu," ujar asisten rumah tangganya. Dia segera membuka kotak P3K tersebut, lalu meraih obat cair, perban dan plester.


"Tidak usah pakai perban, Bi. Langsung plester aja, sepertinya tidak terlalu dalam, kok," pinta Jovanka.


Hal yang menegangkan malah menjadi lucu ketika melihat Reynand yang malah terduduk di lantai. Dia tidak pingsan. Namun kakinya begitu lemas hingga akhirnya tidak dapat menopang lagi tubuh jangkungnya.


Asisten rumah tangganya tersenyum kala melihat suami yang harusnya menolong istrinya ketika terluka, dia malah duduk di lantai dan hanya dapat melihat jari istrinya yang meneteskan darah dari luka yang teriris pisau buah.

__ADS_1


"Ada lagi yang bisa Bibi bantu, Non?"


"Sepertinya udah cukup, Bi. Terima kasih. Oh, iya, tolong ambilkan pisau itu lalu bersihkan lantai, ya, Bi. Suami saya sepertinya phobia darah," ucap Jovanka dengan seulas senyum hangat.


"Baik, Non."


Asisten rumah tangganya mulai membersihkan darah yang tercecer di keramik berwarna putih. Sementara Reynand masih duduk mematung tanpa bicara. Masih mending dia tersadar. Biasanya juga pingsan kala melihat darah.


"Sayang." Jovanka memanggil Reynand dengan sentuhan lembut di pipinya.


Reynand pun tersadar kala jari lembut istrinya menyentuh pipi.


"Sayang, maafin aku. Aku––" ucap Reynand terhenti. Dia merasa malu akan phobianya terhadap darah.


Sungguh memalukan! Reynand merutuk kesal dalam hatinya.


"Tidak apa-apa, maaf, aku juga baru tau kalau ternyata kamu phobia darah."


Reynand sedikit menceritakan phobianya terhadap darah dimulai kecil ketika dia bermain dengan Rhiena lalu dia terjatuh dengan banyak darah di kakinya. Dari sanalah, Reynand merasa ngeri ketika melihat darah.


"Kamu sebenarnya mau apa, sih? Kok, malah ada di dapur?" tanya Reynand.


"Aku laper, makanya aku mencari makanan," ucap Jovanka dengan suara lirih.


Reynand melihat apel merah yang dikupas sedikit karena jari Jovanka malah teriris pisau buah.


"Kamu mau makan ini?" tanya Reynand ketika meraih apel merah yang ada di meja makan.


Jovanka mengangguk.


Reynand meraih pisau, dia mulai mengupas pelan lalu mengirisinya kecil. "aaaa ...." Reynand menyuruh istrinya untuk membuka mulut.

__ADS_1


Jovanka pun membuka mulutnya lalu potongan apel pun kini meluncur di mulut istrinya. Perlahan, potongan-potongan apel tersebut telah berpindah pada perut sang istri. Akhirnya, ada juga adegan manis yang dapat diperankan oleh Reynand ketika drama phobianya yang begitu memalukan.


"Lagi?" tanya Reynand ketika satu apel telah habis dimakan Jovanka.


"Cukup. Yang penting aku udah enggak laper lagi," jawab Jovanka.


Langit memang telah pekat tanpa bintang atau pun bulan karena malam begitu mendung, cahaya terang rembulan kini tergantikan oleh kilatan petir yang mengerikan. Nampaknya akan turun hujan.


"Sudah selesai, kan?" tanya Reynand yang dijawab dengan anggukkan oleh Jovanka.


Reynand bangkit dari tempat duduknya lalu menggendong tubuh Jovanka. Hal kecil itu membuat Jovanka bahagia. Sepele, hanya dengan mengangkat tubuhnya saja, Jovanka sudah bahagia. Ternyata, kebahagiaan wanita itu sederhana. Mereka akan bahagia tatkala pasangan hidupnya memperlakukan istimewa. Bukan hanya dari materi, mereka akan bahagia ketika hal-hal kecil dilakukan dengan ikhlas, seperti aksi Reynand yang suka sekali menggendong tubuh Jovanka.


Reynand melangkah, dia menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Rumah sudah semakin sepi di tambah kendaraan yang mulai hening, tidak ada yang melewati jalanan di depan rumah mereka. Keadaannya kini tampak lengang.


Reynand membaringkan tubuh Jovanka. Meraih selimut untuk menyelimuti istirnya. Rey kembali turun untuk mematikan saklar lampu kamar. Sedangkan Jovanka menyalakan lampu tidur yang ada di atas nakas.


Cahaya lampu berwarna oranye redup membuat keadaan menjadi hangat. Di tambah wajah Jovanka yang terlihat begitu menggoda di mata Reynand.


Pria itu mendekat lalu ikut masuk pada selimut yang cukup tebal berwarna biru bermotif bunga. Reynand begitu tergoda kala bibir merah muda Jovanka tersenyum manis.


Tangan Reynand menelusup pada helai rambut hitam Jovanka. Jemari itu terhenti tatkala sudah berada di kepala belakang Jovanka.


Reynand mengecup lembut bibir istrinya. Hal itu pun semakin dalam hingga lenguhan-lenguhan kecil dari Jovanka terdengar parau. Rey semakin membara, dia begitu menikmati permainan yang disambut hangat oleh Jovanka. Hingga akhirnya mereka berada di fase yang begitu sulit untuk diterangkan. Di mana tubuh mereka telah bersatu hingga berakhir dalam buaian kenikmatan dunia. Apakah hal itu yang dinamakan surganya dunia?


Reynand mendekap erat tubuh Jovanka ketika keduanya berada di dalam selimut dengan tubuh yang polos. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuh mereka berdua.


Rey mengecup pelan pucuk kepala Jovanka. Dia begitu bahagia karena telah memiliki Jovanka seutuhnya.


"Terima kasih untuk malam ini, Sayang," bisik Reynand yang diiringi kecupan hangat.


Jo tidak menjawab, dia hanya mengangguk lalu memeluk tubuh suaminya seolah tidak ingin terpisah. Memeluk erat dan semakin erat.

__ADS_1


__ADS_2