Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
121. Air Mata Bahagia


__ADS_3

Suasana malam semakin larut bersama rasa kantuk yang semakin mendominasi membuat Jovanka terlelap dalam dekapan Reynand. Aroma tubuh Reynand begitu membuatnya nyaman hingga wanita yang kini sedang berbadan dua itu pun nyenyak bersama mimpi.


Langit gelap dengan titik-titik cahaya dari atas sana kini terlihat di mata Reynand dari balik kaca jendela kamar.


Entah kenapa, Reynand belum dapat terlelap. Padahal, waktu hampir menunjukkan jam satu pagi. Pria itu turun lalu berjalan mendekati jendela. Perlahan, tangan besarnya itu mendorong jendela hingga terdengar suara engsel yang membuat jendela kamarnya terbuka.


Reynand mendongak. Menatap langit malam sebentar lalu memejamkan mata dan membiarkan wajahnya disapu lembut oleh angin malam. Dia merasa tenang ketika sang angin mengusap lembut wajah dan setengah tubuhnya.


Suara binatang malam yang membuatnya semakin tenang. Sekitar lima belas menit Reynand berdiri di depan jendela memejamkan mata. Dia tersadar ketika gumaman sang istri menyebut namanya. "Rey ...."


Sepasang mata Reynand pun terbuka lalu berjalan kembali ke ranjang di mana sang istri masih terlelap.


Reynand kembali membaringkan tubuhnya tepat di samping Jovanka. Memeluk erat lalu mengecup kening istrinya. Kini, Jovanka kembali terlelap setelah dia sempat bergumam menyebut nama Reynand.


"Sehat-sehat, Sayang. Aku semakin menyayangimu." Reynand memeluk Jovanka. Tangannya mengusap punggung istrinya dan seketika dia pun ikut terbuai dalam mimpi.


***


Mentari pagi menyapa hangat. Suara binatang malam, kini berganti oleh cicit burung kecil yang bertengger di dahan pohon flamboyan bersama seluruh ranting pohonnya tertutup oleh bunga bermekaran berwarna merah jambu dan cukup banyak juga yang terjatuh, seolah menutupi tanah pekarangan di sekitar pohon itu.


"Sayang ...." Jovanka melingkarkan tangannya di depan Reynand yang sedang bercermin. Tubuh yang telah terbalut seragam pilot itu memang sungguh terlihat gagah dan berkarisma. Ditambah wajah tampan Reynand yang semakin melengkapi membuat Jovanka seolah tidak ingin jauh darinya.


"Apa?" Rey menyimpan sisir di meja rias lalu badannya berputar menghadap pada Jovanka. Kini, mereka berdua telah saling berhadapan.


Jovanka masih melingkarkan tangan ke pinggang Reynand pun dengan pria yang telah memakai setelan kerja. Tatapan keduanya sungguh terlihat intim dan mesra.


"Pulangnya jangan lama-lama, ya? Aku enggak mau jauh dari kamu," ucap Jovanka yang terkesan manja.


Jo memang lebih manja dari biasanya. Semua itu terjadi setelah kemarin dinyatakan positif hamil. Usia kandungannya kini berjalan 9 Minggu.


"Iya. Kenapa? Tumben berkata seperti itu?" tanya Reynand dengan sorot mata menyipit.


"Entah. Aku selalu ingin dekat sama kamu. Terlebih, aroma tubuhmu ketika belum mandi," ucap Jovanka yang membuat Reynand menelan salivanya dengan susah payah.


Padahal, dulu dia cerewet sekali kalau aku belum mandi. Batin Reynand.

__ADS_1


"Oh, iya. Aku sampe lupa, Mama sama Nana udah kamu kasih tau?" tanya Jovanka.


"Astaga! Aku lupa," ucap Reynand dengan tangan mengusap tengkuk dan bibir tersenyum sehingga mata sipitnya semakin mengecil.


"Video call, yuk? Aku ingin mengabarkan kabar baik ini dan ingin lihat ekspresi Mama juga Nana ketika mendengar aku hamil," ucap Jovanka yang disertai anggukkan dari Reynand.


Jovanka melepaskan tangannya dari pinggang Reynand. Wanita itu berjalan menuju nakas di mana ponselnya tergeletak di sana. Jemarinya mulai menyentuh layar screen ponsel lalu mencari nama mama mertuanya.


'Tut ....'


Suara ponsel yang sedang terhubung.


Jovanka berjalan ke arah jendela. Mata bulatnya memandang pada pohon flamboyan. Di sana terlihat security yang sedang duduk bersama kopi hitam menemani di pos satpam serta tangan yang sedang memegang koran pagi itu.


"Hai, Sayang? Apa kabar, Nak?" sapa Nadin dari dalam ponsel. Wajah cantiknya seolah tak lekang dimakan usia. Wanita yang hampir menapaki usia lima puluh itu masih sangat terlihat cantik.


"Kabar Jo baik, Ma. Kabar Mama dan Nana gimana?" jawab Jovanka ketika Reynand berada di belakangnya dengan tangan yang melingkar di perut serta dagu yang bertengger di pundak Jovanka.


"Alhamdulillah, kami di sini baik-baik, Sayang." Nadin menjawab dengan seulas senyum.


"Halo, Ma?" Rey melambaikan tangan ke kamera ponsel bermaksud menyapa ibunya.


"Iya, Ma. Nana mana?" tanya Reynand.


"Ada, dia sedang merapikan pakaian," jawab Nadin.


"Na? Di mana kamu? Abang mau kasih kejutan buat kamu!" Reynand memanggil adiknya dengan suara cukup kencang membuat Jovanka tersenyum melihat antusias suaminya.


"Ada, Bang. Nana ada di sini!" teriak Rhiena yang entah ada di mana.


Tidak berselang lama, wajah Rhiena akhirnya tampak pada layar ponsel dengan rupa cantik seperti ibunya.


"Apa kejutannya?" tanya Rhiena ketika telah berhadapan Reynand juga Jovanka.


"Kamu suruh kasih ponakan, kan?"

__ADS_1


"Iyalah. Apa lagi? Biar keromantisan kalian berdua berakhir hahahaha ...." Rhiena tertawa kencang.


"Ish! Gak terima banget liat Abangnya romantis, Na?" ucap Reynand yang mengerucutkan bibir.


"Iya, dong. Secara, Nana, pan, belum nikah. Masa harus disuguhkan terus dengan kemesraan kalian berdua ketika video call seperti ini? Tuh ... liat aja, sekarang pun kalian gak henti-hentinya membuatku iri," ucap Rhiena.


Reynand yang sedang memeluk Jovanka pun tersenyum. Apalagi, Reynand malah sengaja mengecup pucuk kepala Jovanka karena posisinya Jovanka berada di depan, sedangkan Reynand mendekapnya dari belakang.


"Tuh, kaaann ... kalian bikin aku iri, deh," ucap Rhiena sambil mengerucutkan bibirnya membuat Reynand semakin semangat untuk menjahili adik tunggalnya tersebut.


Tak henti-hentinya Reynand menggoda Rhiena yang membuat Nadin menyunggingkan senyuman di belakang putrinya.


"Ma, liat, deh, putra pertama Mama gitu amat sama Nana?" Rhiena mengadu pada ibunya.


"Makanya, Nana juga resmiin sama Vicky. Itu anak belum mau melamar, kah?" tanya Reynand.


"Idih ... sejak kapan Abang kepo?" ujar Rhiena.


"Sejak Jovanka hamil, eh ...." Reynand keceplosan.


"Hah? Kak Jo hamil?" tanya Rhiena yang akhirnya Nadin pun ikut bertanya.


"Mama mau jadi Oma?" Nadin menimpali.


Reynand dan Jovanka sama-sama tersenyum ketika melihat ekspresi kedua wanita dari dalam layar ponselnya seolah bertanya-tanya untuk mendengar kabar bahagia pagi itu.


"Idih, malah ketawa. Abang! Jawab!" bentak Rhiena dari seberang sana.


"Iya, Na, Ma. Jovanka hamil dan usai kandungannya sekarang udah sembilan Minggu," ucap Reynand dengan seulas senyum.


Nadin dan Rhiena tersenyum dan mengucap rasa syukur. Di sana terlihat ibu dan anak yang sedang saling mendekap. Mungkin, umpama Jovanka yang ada bersama mereka sudah dipeluk hangat oleh Nadin juga Rhiena.


"Turut bahagia atas kehamilan Kak Jovanka. Nana dan Mama seneng banget dengar kabar bahagia pagi ini dari kalian berdua. Selamat, ya, Kak Jo? Ya Tuhan ... Nana pen peluk," ucap Rhiena bersama air mata kebahagiaan yang mengalir dari kedua sudut matanya.


"Iya, makasih Nana. Udah, jangan nangis, nanti Kakak juga malah nangis lagi," ucap Jovanka yang ikut berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ingin peluk Kak Jo," rintih Rhiena yang telah basah air mata di pipinya pun dengan Nadin yang terlihat mengusap air mata kebahagiaan pagi itu.


Lahhh ... dikasih kabar bahagia malah pada nangis, dasar wanita! Reynand berbicara dalam hatinya.


__ADS_2