Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 96. Dibalas Kebaikan


__ADS_3

Hari pernikahan Rey dan Jovanka pun semakin dekat. Semuanya sudah siap. Baju pengantin dan cincin pernikahan pun telah dipesan. Tapi, Rendy masih merasa ada yang mengganjal di hatinya.


“Ma, apa Papa bilang saja ke Bu Nadin kalau dulu, Papa pernah menolak putranya?” ujar Rendy meminta pendapat pada istrinya.


“Untuk apa, Pa? Mama malah takut, Bu Nadin akan marah dan membatalkan pernikahan putri kita,” jawab Meli yang seperti menyimpan cemas.


“Papa lebih gak enak lagi kalau sampai rahasia ini terungkap setelah Jovanka menikah. Papa akan lebih malu, Ma. Papa bersedia minta maaf sama Bu Nadin atas kelakuan Papa pada waktu lalu terhadap putranya,” ujar Rendy.


“Ya sudah. Terserah Papa saja. Semoga saja tidak ada perubahan dari Bu Nadin. Mama hanya takut, Bu Nadin kecewa lalu membatalkan pernikahan anak kita. Mama bisa membayangkan, betapa hancurnya hati Jovanka nanti, Pa.” Meli tertunduk.


Rendy mengusap lembut punggung istrinya, “Papa usahain, tidak akan ada perubahan untuk pernikahan putri kita,” ujar Rendy walau dalam hatinya, ia juga meragukan. “Ya sudah, Papa berangkat, Ma!”


Rendy pun berpamitan untuk pergi ke kantor.


.


Ada kegelisahan yang Rendy rasa saat ini. Konsentrasinya memudar, ketika ia hendak menceritakan masa lalu yang telah menolak Rey untuk putrinya.


Tuhan ... Apa aku salah, seumpama terus terang pada Bu Nadin? Aku takut, pernikahan putriku terancam. Tapi, aku lebih takut lagi seumpama Bu Nadin tau setelah pernikahan Jovanka. Aku terlalu takut, Jovanka kembali merasakan perceraian untuk kali kedua. Ucap hati Rendy.


Ia mencoba meneruskan pekerjaan yang menumpuk siang ini. Usahanya sia-sia, karena pikiran itu terus menghantui.


Sudahlah! Aku temui saja Bu Nadin. Aku sudah siap, seumpama ia marah dan sebagai lelaki, aku bersedia minta maaf karena telah melukai hati putranya! Batin Rendy.


Rendy ke luar dari ruang kerjanya. Melesat menggunakan taksi untuk menuju kantor Nadin. Maklum, Rendy belum mempunyai kendaraan lagi setelah usahanya bangkrut karena ditipu orang.


.


Sesampainya di kantor Nadin, ia hendak menuju ruang kerja Nadin. Tapi sayang, Nadin sedang tidak ada di tempat.


“Bapak tunggu saja dulu, sepertinya Bu Nadin kembali sebentar lagi,” ujar Resepsionis kantor itu.


Akhirnya, Rendy pun bersedia menunggu karena hatinya yang sudah merasa tidak nyaman. Ia sudah siap untuk segala risiko terburuknya.


“Pak Rendy?”


Akhirnya Nadin kembali ke kantor.


“Iya, Bu. Maaf, saya ada perlu dengan Ibu,” ujar Rendy.


“Baiklah, kita ke ruang kerja.”


Nadin berlalu dan Rendy mengekor.


Ceklek!


Pintu ruang kerja Nadin terbuka.


“Silakan duduk,” ujar Nadin.


“Makasih, Bu.”


“Ada apa?” tanya Nadin membuka percakapan.


“Saya, saya ingin berterus terang sama Ibu,” ujar Rendy terbata.


“Tentang apa?”


Ngomong gak, ya? Batin Rendy yang sebenarnya merasa ragu.


“Saya mau minta maaf.”


“Untuk apa?”


Nadin mengernyitkan dahi.


Bertambah bingung dengan ucapan Rendy yang terkesan berbelit.


Rendy begitu bingung, harus dari mana ia memulai percakapan itu.

__ADS_1


*


Di sisi lain, ada Reynand yang sudah mengurus mobil keluaran terbaru warna silver yang disuruh Nadin. Rey sudah mengurus segala pembayarannya dan ia membawa mobil itu ke kantor Nadin. Karena ia meminta diantarkan ke sana. Mobil keluaran terbaru yang berwarna silver pun telah terparkir di lobi dasar tempat parkir kantor Nadin.


Rey berjalan menuju ruang kerja Nadin.



“Siang, Pak?”


Sapaan itu terus mengalir di sepanjang koridor kantor hingga di depan ruang kerja Nadin.


Rey hendak mengetuk pintu. Tapi, ia mendengar Nadin seperti sedang berbicara dengan orang lain. Rey menahan tangannya untuk mengetuk pintu itu.


“Memang, apa salah putra saya sehingga Pak Rendy menolaknya dulu? Apa karena harta?”


Terdengar suara Nadin yang seperti marah.


Hening.


Rendy sudah siap, seumpama pernikahan putrinya terancam dibatalkan. Padahal, waktunya tinggal menghitung hari.


“Sekali lagi, saya minta maaf. Jujur, Bu. Saya menolak putra Ibu, alasan utama saya karena Rey sangat mirip sekali dengan Papanya,” ujar Rendy mengungkapkan.


Nadin mengernyitkan dahi, ia belum paham maksud Rendy.


“Dulu, Reyfan telah menabrak Ayah saya hingga meninggal. Awalnya saya tidak marah, karena saya pikir memang sudah takdir Ayah saya meninggal. Yang saya sesali, Reyfan telah menabrak Ayah saya, tapi ia seolah merasa tidak bersalah. Ia sama sekali tidak menghadiri pemakaman Ayah saya hingga hari ke tujuh pun, Reyfan tidak ke rumah kami. Yang membuat hati terluka, ia memberikan sejumlah uang sebagai rasa penyesalannya karena telah menabrak Ayah saya melalui orang lain. Jujur, Bu. Saat itu memang posisi kerja saya dan Reyfan ada di posisi yang sama, kami sedang memperebutkan kedudukan sebagai manajer di perusahaan kami bekerja sebelum kami mempunya perusahaan masing-masing.”


Nadin masih menyimak ucapan Rendy.


“Itu alasan saya menolak putra Ibu. Karena saya sakit hati pada Papanya. Saya minta maaf kalau keegoisan saya telah melukai hati Rey dan juga Bu Nadin. Saya sudah siap dengan risiko yang akan saya dapatkan. Tapi, saya mohon jangan sangkutkan dengan putri saya. Karena dia juga merupakan korban dari keegoisan saya. Maaf, Bu,” ujar Rendy penuh penyesalan.


Jadi, karena alasan itu. Om Rendy begitu membenciku? Ucap hati Reynand, yang masih ada di balik pintu ruang kerja Nadin.


Hening.


“Saya siap mengundurkan diri dari perusahaan, seumpama hal itu yang Ibu putuskan. Tapi, saya mohon, jangan sangkutkan pernikahan anak kita, Bu. Saya mohon ....” ujar Rendy memecah keheningan dengan netra yang berkaca.


Nadin tersenyum.


“Tidak, saya tidak akan melakukan semua itu,” ujar Nadin.


Mata Rendy membulat.


Dalam pikirannya berkecamuk, hal apa yang akan Nadin lakukan? Apakah ada hal yang lebih buruk, yang akan menimpanya?


“Pernikahan Rey dan Jo tetap dilaksanakan dan Pak Rendy pun masih bertanggung jawab di kantor cabang dan satu lagi ....” ujar Nadin yang terhenti.


“Apa lagi, Bu?” tanya Rendy yang penuh dengan debar.


“Sebentar!”


Nadin menyentuh gawainya, ia menghubungi Reynand.


Dddrrrttt!


Reynand terperanjat karena ponsel yang ada dalam genggamannya tiba-tiba bergetar dan terdengar nada panggilan masuk.


“Hem ... Ternyata kamu sudah ada di balik pintu, Rey?” pekik Nadin dari dalam ruangan, “Masuk, Nak!” perintah Nadin.


Ceklek!


Pintu itu pun terbuka.


“Maaf, Ma. Rey mau buka pintu tapi sepertinya Mama sedang ada yang dibicarakan, makanya Rey memutuskan untuk menunggu di luar,” elak Rey yang padahal, sudah mengetahui isi pembicaraan antara Nadin dengan Rendy.


Nadin tersenyum.


Sama sekali tidak terlihat kekecewaan pada diri Nadin setelah Rendy mengutarakan semua perselisihannya dengan Rey.

__ADS_1


Apa yang akan Mama putuskan? Ucap hati Rey.


Baik Rendy dan Rey, keduanya tengah cemas menanti keputusan yang akan disampaikan oleh Nadin.


“Rey, kasih kunci mobil itu untuk Pak Rendy,” titah Nadin.


Rey memberikan kunci mobil baru itu pada Rendy.


“Ini apa maksudnya, Bu?” ujar Rendy heran.


“Itu hadiah untuk Pak Rendy karena Bapak sudah menjadi pemimpin yang baik di perusahaan saya yang baru berdiri beberapa bulan. Tapi sudah mampu bersaing dengan perusahaan besar,” ujar Nadin.


Mata Rendy membulat.


“Tapi ... Tapi saya tidak pantas untuk mendapatkan semua ini, Bu!”


Nadin tersenyum.


“Saya menghargai kinerja kerja Bapak dan saya juga salut karena kejujuran Bapak untuk menceritakan hal yang mungkin, bisa saja akan merugikan putri Bapak. Tapi tenang, Pak. Saya tidak akan mengambil keputusan sekejam itu,” ujar Nadin.


Netra Rendy berkaca-kaca, ia begitu malu dengan Reynand dan Nadin yang sudah begitu baik pada dirinya. Rendy berdiri dari kursi dan berlutut di kaki Reynand.


“Maafkan Om, Rey!” ujar Rendy yang berlinang air mata.


“Om, bangun! Rey gak marah sama, Om. Bangunlah,” ujar Rey membangunkan lelaki paruh baya yang sedang bersimpuh di kakinya.


“Tidak seharusnya Om Rendy seperti ini,” ujar Rey.


Rendy begitu malu, ketika segala kejahatannya di masa lalu dibalas dengan kebaikan yang melimpah dari keluarga orang yang ia benci. Rasa malu tak terhingga, yang kini ia rasa.


Pelukan pun terjadi, antara Rey dan Rendy berkali-kali, Rendy meminta maaf pada Reynand dan Nadin.


***


Malam pun telah tiba. Rey masih penasaran dengan Nadin. Akhirnya ia turun dari tempat tidurnya menuju kamar Nadin.


Tok ... Tok ... Tok ....


Rey mengetuk pintu kamar Nadin.


“Ma?” panggilanya.


“Masuk, Rey!” ujar Nadin.


Jam masih menunjukkan pukul setengah delapan malam, rumah sudah sangat sepi karena Rhiena sedang ke luar rumah.


“Ada apa, Rey?” tanya Nadin setelah Reynand masuk.


“Ma, Rey mau tanya masalah yang tadi.”


“Yang mana?”


“Om Rendy. Kenapa Mama tidak marah?” tanya Reynand.


“Kata siapa Mama tidak marah?” jawab Nadin.


“Kalau Mama marah, kenapa Mama masih baik sama Om Rendy?”


Rey menyipitkan mata.


“Mama marah sama Rendy. Sangat marah dan kecewa malah. Tapi, tidak semua kemarahan harus dibayar dengan menyakiti orang, ‘kan?”


“Maksudnya?”


“Sebenarnya, dari dulu Mama sudah tau kabar kamu tidak direstui Rendy. Mama tau dari Vicky, ia teman yang baik, Rey. Ia tidak mau kamu terluka dan Vicky akhirnya menceritakan semuanya pada Mama. Awalnya, Mama begitu emosi. Tapi, Vicky membuat Mama bisa berpikir jernih. Mama hampir saja tidak merestui hubungan kamu dengan Jovanka. Mama ingin membalaskan sakit hati Mama pada Rendy, Vicky telah menyadarkan Mama, kalau kamu begitu menyayangi Jovanka. Jadi, misal Mama memisahkan kalian, itu akan melukai hati anak Mama juga. Mama tidak menginginkan hal itu.”


“Jadi?”


“Mama sengaja membalas rasa sakit hati Mama dengan kebaikan pada keluarga mereka. Di saat keluarga Rendy terpuruk, Mama merangkul untuk kembali bangkit. Hanya satu yang Mama mau. Mama ingin melihat anak-anak Mama bahagia!” ujar Nadin.

__ADS_1


__ADS_2