
Selesai makan bersama, Nourma kembali melanjutkan materi les yang diberikan Rey. Nourma mengerjakan dengan sedikit mencuri pandang kepada guru les-nya.
Rey sebagai guru les, tidak mengetahui anak didiknya mulai jatuh cinta pada dirinya.
“Abang?” ucap Nourma manja.
Rey masih fokus dengan gawainya.
“Bang!” Nourma memanggil agak kencang.
Hening. Rey tidak menyadari kalau Nourma memanggilnya.
“OM REY!!!” Nourma memanggil yang ketiga kalinya.
Rey mendongak, “Apa?”
“Ish! Abang, ni! Nourma udah panggil yang ketiga kalinya, tau!” Bibir Nourma mulai meruncing, kesal.
“Sorry, Om belum terbiasa disebut Abang sama Nourma. Tadi memanggil kenapa? Ada yang susah soalnya?” Rey mendekat.
Perasaan Nourma senang bercampur debar yang semakin kencang, ketika Rey mendekatinya. Wajah Rey kini berada di dekat pipinya. Nourma semakin grogi dengan keadaan ini.
Ya ... Tuhan, ganteng banget sih, Abang Rey! celetuk dalam hati Nourma yang terus memandang wajah pria tampan di sampingnya.
“Nourma?” ucap Rey memanggil.
Nourma terperanjat, hingga tak sadar kalau pensil yang ia pegang telah jatuh karena kaget.
“Iya, ada apa, Bang?” Nourma mulai salah tingkah.
“Tadi panggil Om, kenapa?” Kata itu terulang untuk yang kedua kalinya dari bibir Rey.
“Ini, soal yang nomor lima sulit banget!” Keluh Nourma.
Rey mengambil soal yang telah ia buat.
“Mulai sekarang, Nourma panggilnya Abang aja, ya? Gak Om lagi. Entar Abang malu kalau Nourma sebut Om.” Pinta Nourma.
“Ya udah, iya. Dari awal kan udah dibilang senyamannya aja.” Pungkas Reynand.
“Kalau Sayang?” Celetuk gadis kecil itu.
“Hah?” Rey mengangkat pandangannya yang tengah khusuk melihat soal yang dianggap sulit oleh Nourma.
“Hehe ... Enggak, Bang. Cuma bercanda.” Pungkas Nourma yang wajahnya kini memerah.
Rey mengajarkan soal nomor lima yang tadi Nourma tanyakan. Dengan sabar, Rey membimbing Nourma sampai ia mengerti cara mengerjakannya.
Berbeda dengan Nourma yang semakin asyik memandang wajah tampan yang kini berada di sampingnya. Mata yang sipit, kulit yang putih, hidung yang mancung, Rey sempurna di mata Nourma.
“Gimana? Udah ngerti?” tanya Rey yang telah menjelaskan cara mengerjakan soal yang Nourma anggap sulit.
“Udah, Sayang! Eh, Abang.” Nourma keceplosan.
“Kamu sakit?” tanya Rey sambil mengecek kening Nourma.
Perasaan Nourma semakin melambung bak bola bekel ketika menyentuh lantai. Rasa bahagianya yang tak dapat digambarkan ketika seorang laki-laki tampan telah memegang keningnya. Debar dalam dada ABG ini semakin menjadi.
Tuhan, selandainya Dia jadi milikku, pekik dalam hati Nourma.
“Normal kok, Kamu baik-baik aja. Ya udah, ayok di lanjut. Kakak mau ke Klinik,” ucap Rey mengembalikan buku latihan milik Nourma.
“Loh ... Bukan Kakak, Abang aja, ya?” Pinta Nourma.
“Ya udah, iya!” ucap Rey mengakhiri.
Nourma kembali mengerjakan soal-soal yang diberikan Rey. Sebenarnya, Nourma sudah mulai mengerti sedari awal Rey memberikan materi. Karena, Rey mengajarkan dengan sabar dan simpel. Jadi mudah dimengerti. Namun, karena Nourma mulai jatuh cinta. Makanya ia beralasan sulit agar Rey mengajarkan di sampingnya.
Akhirnya, semua soal telah Nourma kerjakan. Rey juga langsung melihat dan memberi penilaian terhadap soal yang di kerjakan anak didiknya.
“Bagus, semuanya benar Nourma. Kamu tambah pintar!” Rey mencubit gemas hidung Nourma.
Rey menganggap, Nourma adalah adiknya. Namun, berbeda dengan Nourma yang mempunyai perasaan lebih untuk Rey. Perasaan cinta yang mulai Nourma pupuk hingga ada rasa ingin memiliki.
“Nourma, Abang balik, ya? Mau ke Klinik,” ucap Rey.
__ADS_1
“Iya. Hati-hati, Bang.”
Rey membereskan buku-buku yang ada di atas meja. Nourma juga membereskan bukunya yang ada di meja. Entah sengaja atau tidak. Lengan Nourma menggenggam lengan Reynand. Sontak, Rey menatap wajah Nourma. Nourma masih menggenggam tangan Rey.
“Nourrrmaaaa,” ucap Rey.
“Hem?” Gadis itu masih menatap guru les-nya.
“Lengannya lepasin, Abang mau ke Klinik.” Mata Rey memandang ke lengan yang masih digenggam Nourma.
“Oh ... maaf!” Rona Nourma semakin memerah.
Rey langsung menuju klinik, tempat Vicky dirawat. Rey tidak langsung berpamitan kepada tante Emi karena sedang mandi. Rey hanya pamit kepada Nourma saja.
Perjalanan rumah tante Emi ke klinik tempat dirawatnya Vicky, lumayan jauh. Dengan kondisi malam minggu, jalan semakin padat oleh pengendara motor yang lebih mendominasi.
Sesampainya di klinik, Rey langsung memarkirkan motor dan bergegas masuk dalam ruangan Vicky dirawat.
.
Vicky terlihat sedang tidur. Mungkin karena pengaruh obat yang membuat matanya jadi mengantuk. Rey menyimpan tas-Nya pelan, takut mengganggu istirahat Vicky.
“Rey?” ucap Vicky membuka mata.
“Eh, sorry! Jadi keganggu istirahat Lu, Vic,” ujar Rey.
“Gak papa, Gue udah capek tidur terus, Rey! Gimana tentang kapten basket? Lu, ke pilih?” tanya Vicky.
“Gak, Vic! Gue gagal,” ucap Rey.
“Kok, bisa? Padahal, waktu lalu Gue melihat yang paling bagus di antara yang lain, Lu yang paling the best, Rey!” Vicky mengernyitkan dahi, heran.
“Itu kan, penilaian Lu sebagai sahabat Gue, Kuya!” elak Rey.
“Asli! Gue serius! Ini pasti ada yang gak beres!” timpal Vicky.
“Jangan su’udzon, Lu! Ganti topik lah. Gimana keadaan Lu sekarang, Bro?” Rey mengalihkan pembicaraan.
“Mendingan, sekarang udah gak panas dingin,” jawab Vicky.
“Typus.”
***
Rey melihat dokter Alexy sedang menelepon di ruangannya. Kebetulan, Klinik sedang sepi. Rey melihat oper sif antara dokter yang berjaga pagi dengan dokter Alexy. Maklum, klinik ini baru buka awal merintis, jadi masih minim dokter yang bertugas.
Dokter Alexy Abinaya adalah pemilik dari klinik yang lumayan besar dan lengkap ini.
Tak berselang lama ketika dokter Alexy/Alex menelpon. Terlihat wanita hampir seumuran dengannya, sudah ada dalam ruangan dokter Alex.
Rey melihat wanita itu telah ada di dalam ruangan dokter Alex, ia menyangka wanita itu pacarnya dokter Alex, karena usianya seperti tidak jauh beda. Ruangan tempat Vicky di rawat, berhadapan dengan ruangan dokter Alex yang sebagian ruangannya memang terpasang kaca sebagai dindingnya. Hanya ruang pemeriksaan yang memakai tembok.
.
“Sepertinya, sahabatku ini sedang kasmaran?” ucap dokter Alex.
“Idih! Tau dari mana?” tanya Emillia.
“Waktu Kamu ngobrolin berondong ganteng di hand phone barusan.” Dokter Alex terkekeh.
“Entahlah.”
“Kok entah? Kenapa?” tanya dokter Alex.
“Secara, Dia baru aja masuk SMA,” ucap Emillia/tante Emi.
“What?” Terlihat dokter Alex kaget dengan ucapan Emillia.
Emillia menganggukkan kepalanya.
“Tapi, kalau sudah cinta mau gima ya, Emi?” Goda dokter Alex.
Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Akhirnya Emillia pamit untuk pulang. Karena ia meninggalkan putrinya sendiri di rumah. Emillia memang hidup sederhana, dengan rumah yang mini malis yang ia tinggali. Ia beralasan, agar bisa mengurus rumahnya sendiri tanpa adanya pembantu di rumahnya.
Sifat Emillia keras seperti kakak kandungnya yang bernama Rendy, yang tak lain papa kandung dari Jovanka.
__ADS_1
Ikatan rumah tangga Emillia kandas karena sikap kerasnya untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Padahal, waktu lalu Nourma yang tak lain anak Emillia dan mantan suaminya telah lahir.
Emillia adalah sosok wanita yang cerdas dan pintar. Memang, tidak ada yang salah dengan profesi dokter, malah pekerjaan itu merupakan pekerjaan mulia. Namun, ketika itu Emillia yang kekeh untuk mengenyang pendidikannya di luar negeri. Padahal, di dalam negeri juga masih bisa untuk menyelesaikan pendidikannya.
Dari situlah, keretakan rumah tangga Emillia terjadi. Ketika telah ditinggal suaminya. Emi baru sadar telah kehilangan figur suami yang baik. Yang selalu ada untuknya. Namun, rumah tangganya terlanjur hancur akibat sifat keras kepala Emillia.
***
Menjelang malam, Vicky kembali merasakan panas dingin, kakinya ia gesek-gesekan ke kasur untuk mendapat rasa hangat.
“Lu kenapa, Vic?” Rey terbangun.
“Diiinnnggggiiinnnn.” Suara Vicky terdengar parau.
Rey mengecek badannya yang terasa panas, namun telapak kaki Vicky teramat dingin.
“Bentar, Vic. Gue beli minyak kayu putih.” Tanpa persetujuan dari Vicky, Rey berlalu pergi.
Dengan cepat, Rey membawa motor Vicky dengan kencang ke apotek yang buka 24 jam.
.
Rey kembali tancap gas ketika telah mendapatkan minyak kayu putih. Motor melaju kencang dan Rey segera masuk ke kamar tempat di rawatnya Vicky.
Vicky masih terlihat menggigil. Dengan cepat, Rey membalurkan minyak kayu putih ke telapak kaki Vicky.
Berulang kali, Rey membalurkannya ke telapak kakinya Vicky. Hingga Vicky kembali tertidur. Rey melihat jam yang ada di dinding klinik. Waktu telah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Rey merebahkan kembali badannya di sofa yang ada dalam ruangan itu.
Baru juga terlelap. Alarm dari hand phone-nya telah bergetar. Rey mengambil hand phone-nya dari dalam saku celananya. Matanya yang masih lengket ia buka, ternyata sudah jam lima pagi.
“Rey, Lu pulang aja. Gue udah baikkan kok,” ucap Vicky di pagi hari.
“Enggak! Gue mau jagain, Lu di sini,” ucap Reynand.
“Enggak usah. Gue udah mulai membaik, kok!” ucap Vicky yang terlihat lebih fres.
“Lu yakin?” tanya Rey menyipitkan satu matanya hingga seperti merem.
“Jangan pasang muka kek gitu! Lu kek mau genitin Gue, Bro!” Vicky terkekeh.
“ANJER! Gue hanya menyipitkan satu mata, Kuya! Bukan mengedipkan satu mata,” jawab Reynand.
“Lu nyadar gak sih, Bro? Mata Lu udah sipit! Ya, kalau Lu menyipitkan mata, mata Lu kagak keliatan, Bro! Hahaha.” Vicky tertawa puas.
.
Drett ... Drett ....
Gawai Rey bergetar. Rhiena video call.
‘Iya, Dek. Ada apa?’ jawab Rey dengan latar gorden klinik/rumah sakit.
‘Loh, Abang lagi di rumah sakit? Sakit apa? Pasti Abang telat makan, ya? Yang jagain siapa?’ jawab Rhiena khawatir.
‘Satu-satu, Na! Abang jadi pusing.’ Rey terkekeh.
‘Jawab aja, sih!’
‘Na, Gue yang sakit bukan Abang, Lu.’ Vicky terlihat dalam layar gawai.
‘Loh ... Kak Vicky sakit apa?’ tanya Rhiena.
‘Typus, tapi udah hampir sehat berkat Abangnya Nana yang jagain Kak Vicky.’
‘Syukurlah, ternyata Abangnya Nana baik juga, ya?” Rhiena terkekeh menutup mulutnya dengan satu tangan.
‘****! Emang Abang gak baik sama Nana?’ Rey menjawab video call adiknya.
“Hahaha ... Iya, iya. Abangnya Nana orang yang paaaalliinnggg, baik.” Rhiena terkekeh.
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁