Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 81. Apartemen


__ADS_3

Jo tampil cantik pagi ini. Ia ingin terlihat menarik di depan Reynand pagi itu untuk memberikan jawaban pada Reynand, setelah semalaman ia menimbang keputusannya.


Jo berjalan menuju klinik untuk mengemban tugasnya pagi ini.


“Jo!” sahut lelaki di belakangnya.


Langkah Jovanka terhenti, ia menengok ke belakang, “Rey?” Jo menunggu Rey yang berlari ke arahnya.


“Buatmu!” Rey memberikan sesuatu.


“Apa ini?” ujar Jovanka.


“Lihat saja,” jawab Rey masih terengah.


Jovanka membuka selembar kertas, ternyata di dalamnya terdapat brosur apartemen mewah di Ibu Kota.


“Maksudnya?”


Jo mengernyitkan dahi.


“Kamu pilih salah satu, Jo. Aku tidak tega kalau kalian tinggal di kost kecil berdesakan. Tapi jangan salah sangka dulu, aku tidak ada sedikit pun niat untuk merendahkanmu, Jo. Aku hanya ingin kalian semua nyaman. Memang, untuk ditinggali satu orang, kostmu cukup nyaman. Tapi, kalau ditinggali untuk bertiga aku kira terlalu banyak orang. Izinkan aku membantumu, Jo. Kamu mau orang tuamu nyaman, kan?” ujar Reynand.


“Tapi, aku ....”


“Plisss ... Jangan menolak! Ini di luar dari perasaanku. Ini murni karena aku ingin membantumu, Jo."


Hening.


“Tapi, nanti aku bayar nyicil sama kamu, ya?” ujar Jovanka, ia merasa malu terhadap Reynand.


“Terserah. Ya sudah, selepas bekerja aku akan ke klinik menjeputmu. Nanti kita ke apartemen bersama untuk menentukan yang mau diambil. Pagi ini kamu terlihat semakin cantik,” ujar Reynand yang terpesona oleh penampilan Jovanka.


Jo tertunduk, semburat warna merah telah mendominasi pipinya pagi itu.


“Aku semakin sayang terhadapmu, eh! Sorry. Aku harus segera pergi, jam pemberangkatanku sebentar lagi,”


Rey beralasan.


Jo mengangguk, “Hati-hati!”


Rey tersenyum, ia mulai melangkah meninggalkan Jovanka.


“Rey!” panggil Jovanka yang membuat langkah Rey terhenti. “Aku sayang kamu!” sambungnya malu-malu.


Rey mematung.


Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat itu. Tubuhnya memang di situ, tapi angannya merasa terbang ke awan. Ia merasa sangat bahagia dengan jawaban Jovanka.


Apa aku mimpi? Ujar Rey dalam hati.


Jo berlari menuju tempat kerjanya, sedangkan Reynand masih mematung hingga ia dikagetkan oleh Davin.


“Woy! Ngapain lu diem aja di mari? Gak gawe, lu?” tegur Davin.


“Astaga! Gue harus berangkat sekarang, bye!” Rey berlalu pergi, meninggalkan Davin yang sedang heran dengan sikapanya.


Davin melanjutkan langkahnya menuju klinik. Lagi, ia dihadapkan dengan orang yang sedang melamun. Ia melihat Jovanka yang sedang duduk dengan senyuman yang sedikit mengembang.


Kenapa dengan orang-orang di pagi ini, sih? Umpat Davin merasa heran.


Davin mendekati Jovanka. Kini, ia tepat berada di depan sahabatnya itu, tapi Jo sepertinya tidak sadar. Terbukti, walaupun Davin sudah melambaikan tangannya di depan wajah Jovanka. Ia tidak merespon.


“Halo?” ujar Davin yang masih melambaikan satu tangannya.


“Eh!”


Jovanka kaget, ia sadar dari lamunannya.


“Lu kenapa, sih?”


“Gak kenapa-kenapa. Udah, ah! Aku mau ke toilet,” elak Jovanka dan berlalu pergi.


“Aneh!”


Akhirnya, pagi itu semua sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Jo tampak senang pagi itu, walau meninggalkan rasa heran untuk Davin. Tapi ia senang, sahabatnya kini kembali ceria. Berbeda seperti dulu. Jovanka seperti sudah menemukan kebahagiaan di hidupnya. Hingga tidak terasa, waktu tugas mereka telah selesai. Segala aktivitas hari ini membuat tubuhnya merasa lelah.


“Balik, Jo!” ujar Davin.


“Iya!”


Jo dan Davin ke luar dari klinik. Di kursi luar sudah ada Reynand yang telah menunggu.


“Cieee ....” goda Davin, “Pantesan, dari tadi ntu bibir terus mengembang? Ternyata akan dijemput oleh Pilot tampan!”


Davin menyenggol lengan Jovanka.


“Apaan sih!”


Jovanka menyembunyikan rasa bahagianya, walau jauh dari lubuk hatinya, ia bersorak bahagia ketika Rey menjemputnya senja itu.


Rey tersenyum.

__ADS_1


“Ya udah, gue balik duluan. Kata Adara, kalau ada dua orang yang sedang dimabuk cinta, orang ketiga yang berada di antara mereka itu setan. Gue gak mau jadi setan, bye!”


Davin berlalu pergi.


Sementara Rey dan Jo sedang saling pandang dan sesekali senyum pun terukir ketika netra mereka saling terpaut.


“Ayok?”


Rey mengulurkan tangannya. Jovanka pun meraih lengan hangat Rey. Lengan yang sangat ia rindukan ketika mereka berjalan sambil bergenggaman erat.


Mereka berjalan dengan tangan yang saling menggenggam, menciptakan debar pada hati masing-masing. Cinta yang sangat besar telah mereka rasakan.


Mereka meluncur ke salah satu apartemen mewah. Mencari dan akhirnya memilih satu di antara deretan apartemen mewah di dalamnya. Hingga akhirnya, proses jual beli pun terjadi sore itu juga.


“Ini kuncinya, terima kasih dan semoga memberikan kenyamanan,” ujar si perantara.


Rey meraih kunci itu, “Makasih, Pak. Esok hari, saya akan melunasinya.”


Akhirnya, setelah kunci apartemen itu diserahkan, lelaki itu pergi meninggalkan Jo dan Reynand.


“Ini!”


Rey memberikan kunci apartemen itu untuk Jovanka.


Jo meraihnya.


Sebenarnya, ia merasa tidak enak dengan Rey. Hatinya pun bertanya. Kenapa Papa gak merestui hubungan kami waktu lalu? Padahal, Rey adalah lelaki yang baik. Ia begitu tulus mencintaiku!


“Hey? Malah ngelamun!” ujar Reynand.


Jo tersenyum.


“Kenapa kita harus seperti ini Rey? Kenapa aku harus menikah dulu dengan orang lain? Kenapa aku harus hidup dulu dengan orang lain, bukan langsung denganmu saja?”


Netra Jovanka berkaca.


Rey tidak menjawab apa pun, ia menenggelamkan wajah Jovanka di dadanya. Ini kali pertama ia lakukan. Terakhir Rey berlaku seperti itu ketika malam di mana esok hari Jovanka akan menikah. Jo menangis dalam dekapan Rey, begitu pun dengan dirinya yang berurai air mata karena harus berpisah.


Semoga kami tidak akan pernah terpisah untuk yang kedua kalinya, Tuhan! Ujar Rey dalam hati.


Dalam dekapan Rey, Jovanka merasa tenang.


“Ya sudah, kita pulang, yuk?” ajak Rey.


Jo mengangguk.


Rey mengantar Jovanka ke kost sederhananya.


“Ya?”


Rey masih fokus menyetir.


“Makasih udah bantu keluarga aku, ya? Nanti aku kasih tau sama Papa tentang apartemen yang baru dibeli tadi. Pasti Papa seneng dengernya,” ujar Jovanka, berharap dapat restu dari Papanya.


Sret!


Mobil di rem.


“Gak perlu, Jo!” ujar Rey ketika mobil sudah berhenti.


“Kenapa?”


Jo mengernyitkan kening.


“Gak perlu ditau. Mereka cukup tau, apartemen itu milikmu. Kamu yang memberikannya untuk mereka.”


Jo menyipitkan matanya.


“Aku tidak ingin cari muka terhadap Papamu. Biarlah semuanya mengalir sampai Papamu merestui hubungan kita,” ujar Rey.


“Tapi sampai kapan? Papa itu keras, Rey! Ia tidak akan melunak sebelum ia mengetahui sisi baik orang itu. Aku ingin merubah pandangannya padamu. Aku ingin, Papa tau kalau dirinya sudah salah menilaimu!” ujar Jovanka.


Rey menggeleng, “Birkan Papamu mendapatkan semua itu dengan sendirinya. Hal baik tidak akan selalu tertutup, begitu pun dengan kekerasan hati Papamu. Aku yakin, suatu saat Papamu akan melunak. Ia akan merestui hubungan kita, tanpa harus kamu bela aku di depannya.”


Netra Jo memandang tajam.


Papa emang salah! Papa sudah salah menilai Rey! Umpat hati Jovanka.


.


Tok ... Tok ... Tok ....


Jovanka mengetuk pintu kostnya.


Ceklek!


Seraut wajah senja terlihat dari balik pintu.


“Jo? Rey?” sapa Meli ketika ia membuka pintu.


“Sore, Tan?” sapa Rey.

__ADS_1


Meli tersenyum, “Sore ... Mari masuk!” Meli membuka pintu dengan lebar.


Rey melangkah masuk dalam kost yang sempit. Di dalam terlihat Rendy yang sedang duduk di kursi rodanya. Wajah Rendy sangat tidak bersahabat ketika ia melihat Rey.


“Sore, Om?” sapa Rey pada Rendy.


Rendy memalingkan pandangannya.


“Maaf ya, Nak Rey? Tante mau ajak Papa Jovanka masuk dalam kamar,” ujar Meli merasa tidak enak dengan tingkah laku suaminya.


Meli masuk ke dalam kamar bersama Rendy. Sedangkan Rey dan Jo duduk di ruang tamu yang sempit. Tidak terlalu lama, Rey akhirnya berpamitan pada Jovanka.


“Jo, aku balik, ya? Mama dan Papamu mana?” ujar Reynand.


“Di kamar, mungkin Papa sedang beristirahat. Nanti aku pamitkan saja,” jawab Jo.


“Baiklah, jaga diri baik-baik ya, Jo?”


Rey mengusap pucuk kepala Jovanka.


Jo tersenyum, “Iya. Kamu juga, ya?”


Rey mengangguk dan berlalu pergi.


Jo kembali duduk di kursi ruang tamu. Tidak berselang lama, Meli ke luar dari dalam kamar.


“Mama? Papa mana? Sudah tidur ‘kah?” tanya Jovanka.


“Ada di dalam, Papamu sepertinya kesal gara-gara tadi melihat Rey,” ujar Meli.


“Ma? Papa ‘tuh kenapa sih, benci sekali sama Rey? Rey salah apa coba sama Papa?” ujar Jovanka.


“Entah, Mama juga tidak tau alasan Papamu, Jo.”


Jo membuang napas kasar.


Tidak ingin larut dalam kekesalan melihat tingkah Papanya. Akhirnya Jo menceritakan tentang apartemen itu pada Meli.


“Ma? Ini!”


Jovanka memberikan kunci apartemen baru pada Meli.


“Kunci apa ini?”


Mata Meli menyipit.


“Apartemen. Papa dan Mama bisa tinggal di sana. Tapi Jo gak bisa ikut, karena terlalu jauh dengan klinik Jo di bandara.”


Meli mengangguk, “Tapi, dari mana kamu dapat apartemen ini? Kamu sengaja sewa untuk kami?”


Jo menggeleng, “Itu apartemen dari Rey!”


“Apa?”


Mata Meli membulat.


“Ssstttt!” Jo menutup bibir, menyuruh Mamanya agar tidak terlalu kencang membahas hal ini. “Jo minta, Mama merahasiakan hal ini!”


“Tapi kenapa?” bisik Meli.


“Permintaan, Rey.”


Meli sungguh tidak menyangka ada lelaki baik seperti Rey. Padahal ia telah disakiti oleh suaminya. Tapi ia masih memikirkan untuk memberikan kenyamanan pada orang yang telah menyakiti hatinya sendiri.


.


Waktu telah menunjukkan pukul enam sore. Jo bergegas mandi. Ia pun memakai baju tidur, karena biasanya ia hanya beristirahat di dalam kost. Apalagi, sekarang ada orang tuanya.


“Ma, Pa, makan dulu, yuk?” ujar Jovanka.


Rendy dan Meli keluar dari dalam kamar. Mereka menikmati makan malam bersama.


“Maaf, ya Pa, Ma. Menu makannya sangat sederhana,” ujar Jovanka.


“Tidak apa, Sayang,” ujar Meli.


Mereka menikmati makan malam bersama. Wajah Rendy masih terlihat kesal saat itu.


Tok ... Tok ... Tok ....


Suara pintu kost Jovanka diketuk.


“Siapa itu?”


Meli bangkit dari tempat duduk.


“Biar Jo saja yang bukain pintu, Ma. Mama lanjut makan saja,” ujar Jovanka.


Jo melangkah menuju pintu.


Ceklek!

__ADS_1


Jo membuka pintu.


__ADS_2