Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 85. Pertemuan


__ADS_3

Sangat terlihat jelas sekali, tatapan kebencian di mata Rendy terhadap Reynand.


“Rey?”


ujar Jovanka yang menghampiri, berusaha membuat cair suasana tegang, antara Papa dan kekasihnya.


Rey tersenyum.


“Eh ... Nak Reynand. Mari masuk,” ujar Meli yang ikut menimpali.


“Permisi ....”


Rey masuk dalam apartemen mewah itu.


Mata Rendy masih lekat menatap Reynand, bahkan tidak berkedip. Mata itu malah semakin membulat.


Jo dan Rey langsung menuju ke ruang makan. Sedangkan Rendy masih tertinggal di depan pintu bersama Meli.


“Ma, coba jelaskan sama Papa!” pinta Rendy meminta penjelasan.


“Rey itu anak baik, Pa. Dia ....”


“Stop! Papa bukan meminta penjelasan itu. Tapi, kedatangannya kemari untuk apa?” suara menggelegar yang sampai terdengar sampai ke ruang makan.


“Ssttt ... Jangan kenceng-keceng, Pa. Gak enak kalau Rey denger,” bisik Meli pada Rendy.


“Papa tidak peduli! Lagian, dia siapa? Lelaki ini yang akan melamar anak kita? Papa tidak setuju!” pekik Rendy berapi.


“Pa, Rey itu anak baik. Dia menerima putri kita walau statusnya kini ....”


Kata Meli terpotong, ketika Rey yang tiba-tiba masuk dan ikut terlibat dalam perdebatan itu. Bagaimana tidak? Namanya terseret di dalam perdebatan sengit itu.


“Maaf, Om. Tapi kenapa, dari dulu Om tidak suka terhadap saya? Dulu saya mundur, karena memang saya merasa tidak pantas untuk Jovanka. Dulu, saya masih sekolah. Sekarang saya sudah mempunyai pekerjaan, tapi kenapa Om masih melarang saya untuk mendekati putri Om?” tanya Reynand.


Sorot mata senja lelaki itu kini menatap tajam pada Reynand. Sangat terlihat sekali kebencian pada mata senja itu ketika memandang wajah Reynand.


Apa yang salah? Reynand tampan. Ia juga seorang pilot, pasti gajinya besar ‘kan? Entah, semua masih menjadi misteri.


“Tolong jawab pertanyaan saya, Om!” ujar Rey dengan menatap tajam mata senja Rendy.


“Saya membenci wajah kamu!”


Rendy menunjuk ke wajah Reynand.


Semua tercengang. Baik Jo, Rey, bahkan istrinya, semuanya tercengang mendengar alasan yang tidak masuk akal dari bibir Rendy.


“Papa ini bicara apa? Ada apa dengan wajah Reynand? Hingga membuat Papa sangat membenci ketika meliat Rey!” ujar Jovanka emosi. Karena menurutnya, alasan Papanya sangat tidak masuk akal.


“Masuk!”


Perintah Rendy, tangannya menunjuk ke salah satu kamar. Menyuruh Jo masuk ke dalam kamar.


“Tapi, Pa?”


“MASUK!” ujar Rendy masih bersikukuh.


Ia tidak mendengarkan penjelasan atau pun ucapan dari putrinya.


“Om, tolong berikan saya kesempatan untuk menjalin hubungan dengan putri Om Rendy. Saya harus berbuat apa agar Om percaya dengan kesungguhan saya?” ujar Rey.


“Kamu pulang sekarang juga!”


Rendy menunjuk pintu rumahnya.


“Baik, tapi ini bukan berarti saya menyerah. Saya akan terus membuktikan pada Om, kalau saya benar-benar serius dengan Jovanka! Selamat malam!” ujar Rey yang berlalu pergi.


Tinggallah Meli dan Rendy di depan pintu apartemen itu. Meli menatap tajam mata suaminya. Ada begitu banyak pertanyaan bahkan prasangka terhadap suaminya kala itu. Tapi, tidak mungkin baginya, apabila harus mengutarakan saat ini.


“Mama benar-benar tidak habis pikir sama Papa!”


Meli meninggalkan Rendy dan memilih menyusul putrinya di dalam kamar.


Tok ... Tok ... Tok ....


Meli mengetuk pintu kamar Jovanka.


Hening.


Tidak ada jawaban di dalam sana.


“Jo? Sayang? Buka pintunya, Nak!” ujar Meli yang masih mengetuk pintu.


“Jo? Dengar Mama ‘kan, Sayang?”


Meli masih belum menyerah. Ia masih memanggil nama putrinya dan mengetuk pintu kamar. Jovanka pun membuka pintu kamarnya. Terlihat mata sembab dari kedua mata indah itu.


“Boleh Mama masuk?” ujar Meli dengan lembut dan hati-hati.


Jo mengangguk.

__ADS_1


Jo melangkah menuju ranjang dan Meli mengekor. Mereka sama-sama duduk di atas ranjang yang cukup besar.


“Kamu habis nangis, Sayang? Kenapa?” ujar Meli yang mencoba meluluhkan hati putrinya.


“Jo benci sama Papa!”


Air mata itu tertumpah dari mata sembab Jovanka.


Meli memeluk putrinya dan membiarkan ia menangis dalam dekapan hangatnya. Meli mengusap lembut, rambut putrinya.


Tidak ada yang menyangkal, pelukan seorang ibu adalah pelukan yang paling membuat anaknya merasa tenang. Dekapan hangat itu akan memberikan kenyamanan, mungkin karena ikatan batin antara ibu dan anak. Sehingga dapat mengurangi rasa gelisah ketika ada di dalam dekapannya.


“Sabar ya, Sayang? Mama yakin, Rey tidak akan menyerah mengejar cintamu. Dia pasti berusaha untuk meyakinkan Papa,” ujar Meli sambil terus mengusap rambut panjang Jovanka.


Sentuhan hangat dari tangan sang Mama membuat Jo semakin tenang.


“Ma? Jo tau sifat Papa. Apakah mungkin, Papa akan luluh?” ujar Jovanka sambil menatap lekat mata Meli.


Meli tersenyum.


“Mama juga tidak tau, Jo. Kita sama-sama tau karakter Papa seperti apa. Hanya Tuhan yang dapat meluluhkan hatinya. Mama juga tidak habis pikir dengan alasan Papamu. Gimana bisa, Papamu beralasan karena wajah Reynand? Memang apa yang salah dengan wajah Rey? Dia tampan, menurut Mama.”


Hening.


“Ya sudah, kamu tidur ‘gih! Besok kerja ‘kan?” ujar Meli.


Jo mengangguk.


Meli ke luar dari dalam kamar lalu menutup rapat pintu kamar putrinya.


Klik!


Jo mematikan lampu kamar. Gelap.


Ia berusaha memejamkan mata. Tapi sepasang mata sendu itu tidak dapat tertidur lelap. Hatinya gelisah, karena pikirannya yang melayang entah ke mana.


“Rey? Apakah kamu akan memperjuangkan cinta kita? Atau ‘kah, kamu akan menyerah dengan sikap keras Papa?” lirih Jo yang sedang terbaring menatap jendela kamar yang sedikit terang, karena bias lampu dari luar.


Ddrrrttt!


Ponsel Jovanka bergetar. Layarnya menyala dan Jovanka meraih ponsel yang terletak di atas nakas.


“Rey?”


Jo langsung menyentuh layar ponsel itu dan membuka pesan dari Rey.


“Ya Tuhan ... Rey, kamu masih memperhatikan keadaan Papa? Kalau Papa tau, sebaik dan tulusnya hati kamu, Sayang!” ujar Jovanka yang kembali berurai air mata ketika membaca pesan dari kekasihnya.


Jo masih menangis karena terus terngiang pesan dari Rey yang ia baca.


Ddrrttt!


Ponsel kembali bergetar.


“Rey video call?”


Dengan cepat, Jo menyeka air bening yang tertumpah di pipinya. Ia lalu menyalakan lampu kamar dan mengangkat video call dari Reynand.


[Malam, Rey?]


Terlihat sudah wajah cantik dengan mata yang sembab di layar ponsel itu.


[Jo? Kamu habis nangis? Kenapa? Papamu marah?]


[Bukan,] suara serak ketika menjawab video call dari Rey.


[Lalu?]


[Aku takut, kalau kamu menyerah dengan sikap keras Papa.]


[Sayang, kan aku udah bilang. Aku gak akan pernah putus asa. Aku akan terus meyakinkan Papamu. Kamu percaya sama aku, semua akan indah pada waktunya.]


[Semoga.]


Jo tertunduk di depan layar ponselnya.


[Jo? Tatap aku!] pinta Rey.


Jo menatap layar ponselnya.


[Aku akan menikahimu!] ujar Rey meyakinkan.


Jovanka tersenyum dan mengusap air mata itu.


Seandainya kamu di sini, Jo! Akan kudekap hangat dalam pelukku dan membuatmu merasa nyaman dalam dekapan hangatku! Umpat hati Reynand, ketika melihat Jo menangis.


[Tidur, gih! Udah malem. Tidak usah memikirkan hal buruk. Aku tidak akan melepaskanmu, aku akan memperjuangkan cinta kita agar bisa bersatu!]


[Tapi aku tidak dapat tidur, Rey. Hatiku gelisah memikirkan kerasnya hati Papa.]

__ADS_1


[Mau aku nyanyi?]


[Boleh.]


[Ya sudah, ponselnya simpan dan ganjal dengan bantal, agar kamu tidak perlu memegang ponsel itu lalu mulailah memejamkan mata.]


Jo mengangguk.


[**Dengarlah bintang hatiku


Aku akan menjagamu


Dalam hidup dan matiku


Hanya kaulah yang kutuju.


Dan teringat janjiku padamu


Suatu hari pasti akan kutepati.


Aku akan menjagamu


Semampu dan sebisaku


Walau kutahu ragamu tak utuh.


Kuterima kekuranganmu


Dan kutak akan mengeluh


Karena bagiku engkaulah nyawaku.


Dengarlah bintang hatiku


Aku akan menjagamu


Dalam hidup dan matiku


Hanya kaulah yang kutuju.


Dan teringat janjiku padamu


Suatu hari pasti akan kutepati.


Aku akan menjagamu


Semampu dan sebisaku


Walau kutahu ragamu tak utuh.


Kuterima kekuranganmu


Dan kutak akan mengeluh


Karena bagiku engkaulah nyawaku.


Aku akan menjagamu


Semampu dan sebisaku


Walau kutahu ragamu tak utuh.


Kuterima kekuranganmu


Dan kutak akan mengeluh


Karena bagiku engkaulah nyawaku.


Aku akan menjagamu


Semampu dan sebisaku


Walau kutahu ragamu tak utuh.


Kuterima kekuranganmu


Dan kutak akan mengeluh


Karena bagiku engkaulah nyawaku.


Karena bagiku engkaulah nyawaku.**]


Jo menutup mata. Sepertinya ia sudah terlelap. Wajahnya terlihat tenang. Tidak ada lagi air mata yang tertumpah.


[Selamat malam Jo. Aku sayang kamu. Aku tidak akan membiarkan air mata kesedihan kembali menetes. Akan kuganti air mata itu dengan air mata bahagia.]


Tut!


Rey menutup ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2