
Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Rey, Nadin dan Rhiena pun sudah bersiap untuk menghadiri wisuda Reynand.
Rey tampak gagah dengan setelan seragam Deraya, lengkap dengan topi pilotnya. Rhiena tampak cantik dengan kebaya modern dan make up naturalnya. Sementara Nadin juga terlihat elegan dengan kebaya yang terlihat cantik dan pas dipakai di usia senja, tidak over sehingga menarik untuk dipandang.
“Udah siap, Na?” tanya Nadin.
“Bentar, Ma. Tinggal kasih blush on biar terlihat fres,” jawab Rhiena.
Sedangkan Rey masih mematung di depan cermin. Bukan melihat betapa gagahnya ketika ia memakai seragam pilot DFS. Dirinya hanya membayangkan seandainya Jovanka yang berada di sisinya untuk mendampingi wisuda nanti.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka.
“Wahh ... Putra kebanggaan Mama udah ganteng. Udah beres, Sayang?” tanya Nadin lalu menghampiri Rey yang sedang berdiri di depan cermin.
Rey terperanjat. Ia tidak mendengar suara pintu yang terbuka, tiba-tiba suara Mamanya terdengar seketika.
“U-udah kok, Ma!” ucap Rey terbata.
“Kamu kenapa, Sayang?”
“Enggak papa, Ma. Ayok, katanya mau berangkat?” ujar Rey mengakhiri.
Ini merupakan hari bahagia Rey, karena ini adalah puncak dari hasilnya belajar di DFS. Tapi, hal itu seperti tidak ia rasakan. Sosok yang ia dambakan untuk mendampinginya ketika wisuda, mustahil akan hadir. Bahkan, kabarnya saja tidak tahu.
Sreett!
Mobil terparkir.
Rey, Rhiena dan Nadin. Serentak ke luar dari dalam mobil dan berjalan ke arah gedung yang sudah di siapkan untuk acara wisuda digelar.
Sudah banyak siswa dan siswi yang sudah datang di sana. Begitu pun dengan Vicky yang ikut serta menghadiri wisuda sahabatnya. Ini juga, awal Vicky bertemu dengan Nadin untuk kali pertama.
“Rey! Selamat ya, Bro! Gue doain lu sukses setelah ke luar dari sini!” ucap Vicky.
“Thank’s ya, Bro!” jawab Rey, mereka berpelukan.
Vicky melirik ke arah Rhiena. Ia terpesona melihat sang pujaan hati terlihat semakin cantik dengan kebaya yang ia kenakan.
“Oh, iya, Ma. Ini Vicky, dialah yang dulu masukin berkas Rey ke sini tanpa sepengetahuan Rey. Dia banyak berjasa buat Rey, sedari di Bandung dulu.”
“Hai ... Vicky, makasih ya, Nak!”
“Sama-sama, Tan. Ini semua berkat Rey sendiri, Tan. Rey memang pintar, wisudanya saja duluan. Padahal, kami masuk bareng-bareng.”
Vicky tersenyum dan menggaruk kepalanya walaupun tidak gatal.
“Hem ... Kan tahun depan, Nak Vicky juga wisuda. Semangat ya, Nak Vicky!” ujar Nadin.
“Iya, Tan. Makasih.”
“Oh ... Iya, Ma. Vicky itu pacarnya Nana loh,” ujar Rey.
“Masa? Dih ... Nana gak pernah ngomong sama Mama.”
Nadin melirik pada Nana.
“Paan sih, Ma? Masa Nana mesti bilang?”
Rhiena terlihat malu-malu.
“Ciee ... Anak Mama, malu tuh! wajahnya merah kek tomat!” goda Rey sambil menunjuk wajah adiknya itu.
“Apaan sih, Abang!”
Wajah Rhiena semakin merona.
“Udah-udah! Ayok masuk!”
.
Rey, Rhiena, Nadin dan Vicky memasuki gedung. Mereka duduk di kursi yang sudah disediakan oleh sekolah. Yang terpisah, hanya Rey. Ia duduk bergabung dengan para wisudawan yang lain.
Sambutan-sambutan pun telah berlalu. Kini tiba saatnya pengumuman sekaligus peresmian untuk para wisudawan yang dinyatakan lulus dari DFS.
Tuhan, andai ada Jovanka di sini. Sungguh, kebahagiaanku terasa sempurna, umpat hati Reynand.
“Kak Rey!”
Suara seorang gadis memanggil namanya. Gadis itu menjadi sorotan di mata para wisudawan dan tamu undangan yang hadir di sana.
“Adara?”
Netra Rey membulat. Ia menghampiri Adara yang tengah duduk di kursi roda yang di dorong oleh Tante Lidya.
“Kenapa lu ke sini? ‘kan masih sakit!”
Rey menempelkan lutut menyentuh lantai untuk menyejajarkan dirinya dengan Adara yang tengah duduk di kursi roda.
“Dara udah minta izin kok sama dokter. Dara diperbolehkan ke kuar dari rumah sakit selama satu jam,” papar Adara.
“Beneran, Tan?”
Rey menoleh ke arah Lidya, Mama dari Adara.
Lidya mengangguk.
Rey kembali ke tempat duduknya, sedangkan Adara dan Mamanya duduk di kursi bersama tamu undangan yang lain.
__ADS_1
“Tiba saatnya, pengumuman untuk pilot terbaik. Jatuh kepada Reynand Adam!”
Seketika suara dalam gedung menjadi riuh dengan tepuk tangan dari semua orang yang hadir di dalam acara tersebut.
Rey melihat Nadin, Rhiena, Vicky dan Adara yang terlihat berbahagia. Rey pun naik ke atas panggung sebagai predikat pilot terbaik.
Rey tersenyum di atas panggung serta memberikan sambutannya di sana.
Tuhan ... Terima kasih, ada Adara yang Engkau kirim untukku sebagai obat rindu pada Jovanka, umpat hati Rey ketika memandang wajah gadis itu.
Usai sudah acara wisuda dan Rey pun mengantongi predikat sebagai Pilot terbaik dan gelar yang ia sandang yakni CPL-IR (Commercial Pilot License-Instrumen Rating).
“Selamat ya, Sayang!” ujar Nadin.
“Selamat, Abang!” ujar Rhiena sambil memeluk Kakak kembarnya.
“Selamat, Bro!” ujar Vicky.
“Makasih semuanya. Mungkin Rey gak bisa seperti ini, tanpa dukungan dan suport dari kalian semuanya,” terang Rey.
Adara pun menghampiri Rey dibantu oleh Mamanya.
“Selamat ya, Kak?” ujar Adara.
“Makasih, Dar! Oh iya, Ma. Ini Adara, teman Rey. Anak dari Cap Wahyu,” ujar Rey mengenalkan.
“Hai ... Tante?” sapa Adara.
“Hai ... Sayang?” ujar Nadin lalu memeluk. Sementara Lidya hanya tersenyum melihat pemandangan ini.
Semuanya sudah membubarkan diri, karena acara wisuda telah selesai. Begitu pun dengan keluarga Rey yang berpencar. Nadin mengobrol bersama Lidya. Nana dengan Vicky dan Reynand dengan Adara.
“Kak, nanti malam Kakak ke rumah sakit ‘kan?”
“Iya. Nanti gue kabarin lagi, ya? Minta nomor ponsel lu, Dar! Biar gue save,” ujar Reynand.
Adara pun menyebutkan dua belas digit angka nomor ponselnya dan Rey sudah menyalin di buku telepon.
“Makasih ya, Dar?” ujar Reynand.
“Untuk apa?”
“Lu udah nyempatin untuk datang di acara wisuda gue!” ujar Reynand.
“Sama-sama, Kak! Aku senang bisa datang di acara wisuda Kakak.”
Mereka pun ngobrol hingga tidak terasa, Adara hampir satu jam berada di luar rumah sakit.
“Dara, udah hampir satu jam, Sayang.”
Lidya mengingatkan.
“Iya. Makasih atas waktunya ya, Dar. Nanti gue kabari lagi kalau gue mau ke rumah sakit,” ujar Reynand.
“Iya, Kak!”
Adara pun pulang bersama Lidya. Sedangkan sang suami, Cap Wahyu masih mengurus data anak didiknya.
***
Sementara Jovanka tengah bersiap menyelesaikan tugas kampusnya. Hingga tak terasa, jam kampus pun telah usai.
Semua mahasiswa dan mahasiswi telah berhamburan ke luar dari ruang tempat mereka menimba ilmu. Sementara Jo masih terlihat santai, membereskan buku.
Ia berjalan ke luar dan duduk di bangku taman.
Sepi juga, padahal baru hari ini aku terbebas dari sikap jahilnya si Davin, umpat hati Jovanka.
Ddrrtt!
Ponsel yang ada dalam tasnya bergetar. Jo merogohnya dan melihat ke layar ponsel miliknya.
[Jo, jemput gue di bengkel yang kemaren, motor gue rusak!]
“Hem ... Dasar! Orang yang paling nhebelin akan tetap nyebelin seperti ini.”
Jo menggelengkan kepalanya.
[Iya, aku berangkat sekarang. Kamu tunggu aku di luar bengkel, ya?]
[Oke!]
Jovanka pun melesat ke bengkel dimana Davin sudah menunggunya.
.
“Davin?”
Netra Jo membulat ketika melihat penampilan Davin yang terlihat rapi dan kasual.
“Kenape? Terpesona, pasti!” jawabnha tanpa ragu.
“Dih ... Siapa juga yang terpesona sama kamu?”
“Udah, jujur aja! Lu mulai terpesona sama kegantengan gue!”
“Hayah! Serah, deh! Ayok, masuk!” ujar Jovanka.
“Lu geser!” titah Davin.
__ADS_1
“Yee! Enak aja! Ini ‘kan mobil aku. Kenapa aku harus menggeser?”
“Yang tau tempatnya ‘pan gue!” protes Davin.
Jovanka berpindah posisi duduk, ia membiarkan Davin yang memegang kendali setir mobil.
Mobil melesat kencang. Suasana dalam mobil hening tidak ada obrolan sama sekali. Entah apa yang ada dalam angan mereka masing-masing.
Srreett!
Mobil berhenti, setelah cukup jauh Davin berkendara, ia mengajak Jovanka ke Jakarta untuk mengenang kenangan indahnya bersama Adara.
“Sini tangan lu?” pinta Davin.
“Dih ... Kamu mau ngapain?”
Jovanka bergidik.
“Yaelah, pikiranlu terlalu jauh, Jo! Gue cuma mau olesin ini.”
Davin menunjukkan lotion anti nyamuk.
“Oh ....” Wajah Jovanka terlihat memerah, “Sini, aku pakai sendiri,” sambung Jovanka.
“Enggak, biar gue aja!”
Tanpa menunggu persetujuan dari Jovanka, Davin pun meraih tangan putih nan halus itu.
Widiw! Halus banget tangannya! Umpat hati Davin sambil mengoles lotion itu ke tangan Jovanka.
“Udah, Ah! Kamu ngambil kesempatan, usapin tangan aku!”
Jo menarik tangannya dari lengan si jangkung Davin.
Davin tersenyum.
Yahh ... Ketahuan gue! Umpat dalam hati Davin.
Ceklek!
Pintu mobil terbuka.
Jo takjub dengan pemandangan indah yang ada di sini. Di mana Davinlah yang mengajaknya pertama kali, menemukan tempat seperti ini di Jakarta.
“Beautiful!” umpat Jovanka pelan.
Jo melangkah mendekat ke kawasan hutan mangrove. Kakinya kini berada di atas jembatan yang terbuat dari potongan bambu yang tersusun rapi. Ia menyaksikan mentari yang hampir tenggelam. Warna jingganya terpantul ke air sehingga memberi kesan soft dan syahdu memanjakan mata.
Davin mengekor dari belakang. Melihat wajah Jovanka yang seperti sedang takjub melihat indahnya sunset senja ini.
“Indah ya, Dav?” ujar Jovanka.
Davin tersenyum di samping Jovanka.
“Lu suka?” tanya Davin.
Jovanka mengangguk tanpa menoleh ke arah Davin.
Ya Tuhan ... Mirip banget sama Adara! Umpat hati Davin.
“Jo, lu ngerasa kehilangan gak seandainya kita sudah terpisah jarak?” ujar Davin.
Jovanka terdiam.
Sepertinya tanpa aku jawab, kamu sudah tau jawabanku, Dav. Umpat hati Jovanka.
“Hey? Malah ngelamun!”
Davin menyenggol tangan Jovanka.
“Dih ... Gak bakal, aku kehilangan kamu, Dav! Ge’er banget!” Jovanka berbohong.
“Sepertinya, gue memang ditakdirkan gak pernah dirindukan ya, Jo?” keluh Davin.
“Eh! Kenapa kamu ngomong seperti itu?” Jovanka menyesal telah bicara seperti tadi pada Davin.
“Emang kenyataannya ‘kan?” lirik Davin.
“Enggak! Aku sebenarnya merasa kehilangan, tapi aku malu kalau harus jujur, maaf ya, Dav?” ujar Jovanka dengan raut wajah penuh penyesalan.
“Lu bohong!” elak Davin.
Jovanka menggenggam tangan Davin dan menatap tajam kedua bola mata sipit itu.
“Walau aku sering kesel sama kamu. Tapi kamu berhasil mengalihkan perasaanku, Dav. Perasaan sepi yang kumiliki, luntur seketika aku kenal sama kamu. Tingkah kamu yang konyol berhasil membuatku tersenyum. Aku merasa kehilanganmu, seandainya kamu sudah tidak di Bandung lagi,” ujar Jovanka.
Davin menahan tawa.
“Ketahuan ‘kan, kalau lu udah mulai respek sama gue? Bilang aja lu suka sama gue!” Davin terkekeh.
Mata Jovanka membulat, “DAVINNN!”
Jo melepaskan tangannya yang sedang menggenggam tangan Davin.
Davin pun tertawa terbahak-bahak melihat semua itu, sedangkan Jovanka meninggalkan pipi merah bagaikan tomat karena malu.
Davin dan Jovanka menikmati indahnya sunset di Jakarta. Jo tidak mengira, bahwa di Jakarta masih ada tempat seperti ini.
Sekitar satu jam mereka memanjakan mata dengan suguhan indahnya sunset. Kini, tiba saatnya untuk kembali ke Bandung.
__ADS_1