Menikahi Janda Dokter

Menikahi Janda Dokter
Part 94. Makan Malam


__ADS_3

Akhirnya Jovanka sudah dapat pulang dari rumah sakit. Ia sudah kembali ceria, terlebih dirinya dan Rey akan melangsungkan pernikahan.


Rey menjemput Jovanka ke rumah sakit untuk membawanya ke apartemen.


“Sudah beres semuanya, Tan?” tanya Rey pada Meli.


“Sudah, Nak. Maaf ya, jadi merepotkan?”


Meli berbasa-basi.


“Gak papa, Tan. Tapi, maaf. Rey tidak bisa lama, karena ada jadwal penerbangan hari ini,” terang Reynand.


“Iya, gak papa, Sayang,” ujar Jovanka menimpali.


Mereka melesat menggunakan mobil hitam itu ke apartemen. Rendy tidak ikut serta menjemput Jovanka karena ia tengah sibuk bekerja.


Sesampainya di apartemen. Jo kembali dibaringkan di tempat tidur untuk kembali beristirahat agar tubuhnya semakin fit.


“Kamu istirahat, ya? Aku mau kerja dulu, untuk anak-anak kita, eh!” canda Rey sambil menutup mulut.


“Dih ... Apa-apaan sih kamu?” ujar Jovanka yang tersipu mendengar candaan dari calon suaminya.


“Tapi suka, kan?” goda Rey sambil menaik turunkan alisnya.


“Udah, ah! Kerja sana. Katanya demi anak-anak kita?” ujar Jovanka dengan wajah yang memerah bak tomat yang tengah ranum.


Cup!


Ciuman manis tersemat di kening Jovanka.


“Bye, Sayang!”


Rey berlalu pergi, meninggalkan detak jantung Jovanka yang kian mengencang, karena ciuman yang tersemat secara tiba-tiba.


Jovanka sangat-sangat bahagia, karena akhirnya ia dapat bersatu dengan Reynand, lelaki yang ia sayangi dari dulu.


Malam pun telah tiba. Tidak sabar rasanya menanti hari esok. Di mana keluarganya akan bertemu dengan keluarga Reynand. Pertemuan dua keluarga yang akan menyatu.


Ddrrrttt!


Ada pesan pada ponsel Jovanka.


[Tidur, Sayang ... Sampai ketemu esok malam ... Aku sayang kamu.]


Pesan dari Reynand.


[Iya, met malam, Sayang ... Aku tambah sayang sama kamu, Rey!]


Klik,


Send.


Jovanka menyimpan kembali ponselnya di atas nakas. Ia benar-benar tidak sabar untuk menunggu hari esok.


***


Keesokan harinya, Rey masih seperti biasa, sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Jovanka masih dalam pemulihan, ia belum masuk kerja dalam beberapa hari ini.


Rendy juga masih sibuk dengan pekerjaannya. Tinggallah, Jo dengan Meli yang berada dalam rumah.


Jo menghampiri Mamanya yang ada di dapur, “Ma?” panggilnya ketika melihat Meli sedang memasak.


Meli menoleh, “Eh ... Sayang? Udah sehat, Nak?”


Jo mengangguk, “Mama masak apa?”


“Masak ayam kecap, katanya Papamu mau makan ayam kecap nanti sore,” ujar Meli sambil terus mengaduk.


“Loh ... Nantikan kita makan di rumah Bu Nadin,” ujar Jovanka.


“Iya, tapi kan itu makan malam, Nak. Sedangkan Papa, sore hari udah pulang kantor.”


Jo mengangguk, paham.


Mereka berdua memasak bersama di siang itu. Sudah lama sekali mereka tidak pernah memasak bersama. Padahal, sewaktu masih sekolah, paling tidak seminggu sekali Jovanka ikut memasak makanan favorit mereka di rumah. Saat-saat ini menjadi momen kedekatan antara Jo dengan Meli. Di mana ada canda tawa yang menghiasi atmosfer dapur yang mulai berantakan karena aksi memasak dua wanita cantik berbeda generasi.


“Yey ... Matang!” ucap Jovanka ketika masakan sudah selesai dan siap disajikan.

__ADS_1


Meli tersenyum melihat putrinya. Hal ini yang ia rindukan beberapa tahun yang lalu. Keceriaan yang hilang kini sudah kembali. Meli mengusap rambut Jovanka.


“Mama kenapa?” Jo menatap heran.


“Gak papa, Sayang. Mama hanya rindu saat-saat seperti ini. Di mana tawa ceria itu terukir di bibirmu dan kini, Mama melihat semua itu,” ujar Meli berkaca.


Jo memeluk erat tubuh wanita paruh baya yang telah melahirkannya dua puluh tiga tahun silam.


“Sejak pernikahan dengan mantan suamimu. Mama sudah kehilangan senyum ceria dari bibirmu, Nak. Dan sekarang, Mama bahagia karena senyum itu telah kembali. Maafkan Mama, Jo. Maafkan Mama!”


Meli berurai air mata, ketika masih memeluk Jovanka.


Jo melepaskan pelukannya dan ia menatap wajah senja itu serta menghapus air yang sudah terlanjur meluncur di pipi.


“Ini semua bukan salah Mama. Ini sudah takdir Jo untuk melewati semua ini. Tuhan tau yang terbaik untuk umatnya, Ma.”


Meli mengangguk.


“Iya, Nak. Kalau saja dulu kamu tidak menikah dengan Alexy, mungkin Papamu tidak akan tau kalau ternyata selama ini dia itu bersalah, memaksakan kehendaknya sendiri!”


“Mama, jangan bicara seperti itu. Mungkin juga maksud Papa ingin membuat Jo bahagia dengan tumpukan harta dari suami Jo dulu. Jo enggak salahin Papa, kok. Udah, jangan menangis lagi. Masak lagi, yuk?” ajak Jovanka.


Meli mengangguk.


***


Malam pun tiba. Keluarga Jo sudah bersiap untuk makan malam di rumah Reynand. Jo pun tampil dengan sangat cantik menggunakan dres berwarna putih bermotif bunga yang anggun serta sepatu heels yang menyempurnakan penampilan Jo malam ini.



Tok ... Tok ... Tok ....


Pintu apartemen Jovanka diketuk.


“Biar Jo saja yang membuka, Ma!” ucap Jovanka yang ke luar dari kamar.


Ceklek!


Pintu terbuka.



“Jo?”


Rey terkesima melihat penampilan Jo yang semakin terlihat cantik. Sorot mata Rey seolah tidak berkedip ketika melihat wanita cantik nan anggun di balik pintu apartemen yang terbuka. Sehingga ia lupa dengan buket mawar putih yang sedang ia genggam.


“Ayok, Masuk!”


Rey terperanjat ketika suara Jovanka menyuruhnya masuk.


“Oh ... Iya, ini untukmu, Jo!”


Rey baru memberikan buket mawar putih ketika Jovanka menyuruhnya masuk.


Jo meraih satu buket mawar putih nan indah itu dari tangan lelaki tampan yang ada di depannya.


“Makasih ....” ujar Jo.


Ia lalu masuk ke dalam apartemen dan Rey mengekor.


“Sebentar ya, Rey? Aku mau ambil tas dulu,” ujar Jovanka yang berlalu pergi, melenggang ke dalam kamar.


Kamu tambah cantik, Jo! Aku semakin sayang sama kamu, semoga rencana pernikahan kita berjalan lancar walau tanpa restu Papamu, umpat hati Rey ketika ia memandang wanitanya yang sedang berjalan.


“Nak Rey? Udah dari tadi?” ujar Meli yang tiba-tiba ada di depan Reynand.


“Eh ... Enggak, Tan. Baru saja Rey duduk. Jo lagi ambil tas, sebentar katanya,” terang Rey.


Tidak lama, wanita cantik yang mempunyai gelar janda dokter itu pun ke luar dari kamar. Ia sudah mencantelkan tas kecil di pundaknya.


“Ayok berangkat! Nanti Mama Nadin menunggu terlalu lama,” ujar Jovanka.


“Jo, Rey, kalian berangkat duluan saja. Tante dan Om mau naik taksi,” ujar Meli.


“Kenapa gak bareng aja, Tan?” tanya Reynand.


“Emm ... Tidak apa-apa, enggak enaklah, masa bareng kalian berdua? Kan Tante juga mau berduaan sama Om Rendy,” elak Meli yang pandai beralibi, padahal suaminya sangat malu jika satu mobil dengan orang yang dulu ia benci.

__ADS_1


“Ya sudah, ayok, Rey!” Ajak Jovanka, “Ma, Jo duluan, ya?” pamitnya pada Meli.


“Iya, Sayang. Hati-hati, ya? Mama segera menyusul,” ujar Meli.


Rey dan Jo berjalan menuju luar apartemen. Di sana sudah terparkir si hitam yang terlihat mewah bergaya sporty sudah menanti tuannya.


Ceklek!


Pintu mobil dibuka.


“Silakan masuk Tuan Putri ....”


Rey mempersilakan.


Jo tersenyum, “Makasih ....”


Wajah Jo kembali memerah, ia tersanjung dengan perlakuan mesara Rey malam ini. Ia merasa spesial jika bersama Reynand.


Mobil melesat dengan kecepatan sedang menuju rumah Reynand. Di sana sudah ada Nadin dan Rhiena yang sudah menunggu.


.


Sementara di apartemen, ada Rendy yang sebenarnya merasa malu untuk menghadiri acara makan malam bersama keluarga Reynand.


“Ayok, Pa! Nanti kita telat,” ujar Meli.


“Papa bingung, Ma.”


“Bingung kenapa?”


“Papa sebenarnya malas pergi ke acara itu,” alasannya.


“Pa, jangan gitu. Papa mau nanti Jo drop lagi? Lagian, gak enak juga sama Bu Nadin kalau tiba-tiba harus membatalkan makan malam ini. Pasti mereka sudah susah payah mempersiapkan acara ini untuk kita,” ujar Meli.


Hening.


Rendy masih menimbang-nimbang untuk pergi atau untuk membatalkan. Pergi, berarti dirinya bersiap malu. Seumpama tidak berangkat, pasti Jovanka kecewa dan harus bersiap seumpama ia kembali drop. Rendy semakin pusing memikirkannya ia merasa tengah berpikir di dalam lingkaran tanpa adanya ujung yang bertepi.


“Pa!” rengek Meli yang mulai kesal.


“Iya, Ma!”


Akhirnya Rendy bersiap untuk menghadiri makan malam bersama keluarga Reynand. Mereka melesat dengan taksi malam ini.


Debar Rendy semakin kencang ketika masih ada di perjalanan menuju rumah Reynand. Ia merasa malu yang tak terhingga. Ternyata, malu itu lebih menyakitkan dari pada luka yang berdarah. Ia harus menyembunyikan wajahnya di mana? Ia begitu malu dengan Nadin yang akan menjadi besan, sekaligus pemilik dari perusahaan dari tempat ia bekerja. Hingga akhirnya, taksi itu berhenti sesuai dengan arahan dari alamat yang telah diberikan.


Ceklek!


Meli dan Rendy turun dari dalam mobil. Mata mereka terbelalak ketika melihat rumah yang menjulang tinggi dan mewah yang terhalang oleh pintu gerbang di depan mereka.


Besar sekali! Umpat hati Rendy.


Penyesalannya semakin menjadi ketika dulu ia telah menolak, bahkan menyia-nyiakan Reynand yang dengan tulus mencintai putrinya. Sekarang ia malah harus menerima pinangan untuk putrinya dari orang yang dulu jelas-jelas telah ia tolak. Berasa menjilat ludah sendiri.


Greekkk!


Pintu gerbang terbuka.


“Silakan masuk, Pa, Bu!” ujar scurity. “Ibu dan Bapak ini orang tua dari Nona Jovanka, kan?” lanjutnya.


“Iya, Pak!” jawab Meli.


Meli dan Rendy berjalan dan memasuki pintu utama berwarna cream mengkilap yang menjulang tinggi.


Mereka berjalan menuju ruang makan yang dipandu oleh asisten rumah tangga Nadin sebagai penunjuk jalan.


Ya Tuhan .... Lebih baik aku sakit hati dari pada harus menanggung malu, rasa yang lebih menyakitkan! Umpat hati Rendy ketika sedang berjalan ke ruang makan.


“Nya, orang tua dari Nona Jovanka sudah datang,” ujar asisten rumah tangganya.


Nadin tersenyum, “ Mari, Pak, Bu!”


Nadin mempersilakan duduk untuk bergabung makan malam bersama.


Lagi, hal itu membuat Rendy merasa malu.


**Fisualisasi👇

__ADS_1



__ADS_2